
Mengamati beragam simbol yang tercetak di lantai, rahang Topan terasa nyaris lepas dan jatuh di lantai. Ia tahu dengan pasti kekuatan macam apa yang dibawa simbol-simbol ini, dan mau tak mau, mengagumi siapapun yang memiliki pengetahuan sedemikian tinggi hingga bisa memadukan beberapa rajah segel hingga membentuk formasi segel seperti ini. Tanpa sadar, ia menerobos masuk ke dalam ruangan hanya supaya ia bisa melihat keseluruhan bentuk segel itu. Matanya terus berpindah dari satu simbol ke yang lain, mencoba mencari tahu fungsi formasi sebesar ini. Dan ketika tanpa sadar, matanya menyentuh pemasangan cermin bagua segi delapan yang identik di langit-langit ruangan, ia tak mampu lebih terkejut lagi.
Astaga, ini formasi pemurnian... Sejahat apa barang yang membutuhkan formasi segel sekuat ini???
Pemuda itu menghela nafas berat ketika ia membalikkan badan dan mendapati Kay tetap berada di depan pintu tanpa ada keinginan untuk masuk kedalam ruangan sedikitpun.
"Ini formasi pemurnian, Kay, peta pembalikan langit dan bumi. Biasanya digunakan untuk menyegel dan perlahan, menyucikan keberadaan jahat yang sangat kuat supaya tidak membahayakan manusia. Apapun yang membutuhkan kehadiran formasi ini, sama sekali bukan sesuatu yang boleh diremehkan, Kay..." ujar Topan pelan. Tampilan horor muncul di wajahnya tanpa mampu ia tahan. Tampaknya keluarga pemuda ini sama sekali tak sederhana. Mau tak mau, ia sedikit berharap kalau apa yang Kay ceritakan sebelumnya itu tidak nyata, meski jika melihat formasi ini, kecil kemungkinan harapannya terwujud.
"Apa kau yakin, Pan?"
"Kau lihat simbol yang berada di tengah ruangan itu?" sahut Topan sambil menunjuk ke rajah besar yang sebagian tertutup oleh meja kerja dari kayu. "Itu disebut Sutra Makuta Rama. Aku hanya menggunakan bentuk segel itu saja untuk membuat siluman pohon yang memiliki kemampuan untuk menggerakkan angin dan berbagai bagian pohon tak berkutik. Sementara disini, bahkan ada kaca bagua, yang akan menekan mahluk jahat yang mampu membantai orang sekampung dengan lambaian tangan-pun, akan jadi sekedar kentut ketika dia dibawahnya. Selain itu, rajah-rajah penguatan lain disekitarnya..." lanjutnya pelan.
Astaga... Benar-benar warisan yang sangat bermakna. Fix, kakek itu figur yang oke sekali, desis batin Kay masam.
Tapi belum lagi pembicaraan mereka sempat berlanjut, dering suara Andini terdengar dari depan. Yang segera membuat kedua pemuda itu terburu-buru bergerak.
...----------------...
Anton memutuskan untuk kembali. Hati nurani tak mengijinkannya untuk tenang sama sekali, meski ia tak memberitahu siapapun akan apa yang terjadi pada Debora dan Terry. Ia bukanlah orang relijius, tapi apa yang ia saksikan benar-benar membuatnya merasa berdosa.
__ADS_1
Tak mengindahkan desakan Mr. Alfons dan keluarga, yang larut dalam kebahagiaan atas kesembuhan penyakitnya, Anton segera beranjak pergi. Ia perlu mendamaikan dirinya sendiri. Dulu, sebelum akhirnya Mr. Alfons membawanya pergi, ia memiliki seorang kawan yang mempelajari hal-hal seperti ini dari kakeknya dan nampaknya, mungkin waktu inilah yang terbaik baginya untuk berkunjung. Hanya saja, tampaknya hal-hal sudah berubah sedemikian banyak sejak Anton meninggalkan tempat ini 15 tahun yang lalu.
Rumah kawannya itu, dulu memang berdiri di sebuah lahan luas yang terletak di sebuah bukit, di area yang tak jauh dari kaki gunung Lawu. Sementara di bawahnya, rangkaian rumah penduduk desa tersebar dalam jalinan yang tak rapi, termasuk diantaranya, rumah reyot tempat pernah Anton tinggali sepeninggal kedua orang tuanya. Tapi apa yang menyambutnya sekarang adalah lahan pariwisata terpadu yang elit, yang memiliki hotel bintang lima, restaurant besar dan berbagai atraksi wisata. Jalan aspal halus menggantikan berbagai jalur semen, dimana banyak mobil-mobil super mahal melewatinya.
Aneh. Apa keluarga raja kecil itu akhirnya tertindas dan tersingkir oleh kemajuan jaman?
Tapi sopir mobil rental yang mengantarnya dari bandara itu berkeras bahwa memang Prameswara Residence ada disini. Dan disinilah dia berada sekarang.
Bukit tempat rumah itu berada tetap sama. Hanya saja, sekarang ada tembok berundak yang menjulang, membentengi lahan asri didalamnya dari mata pengunjung. Sementara itu, di sebelah pintu gerbang masuk yang terbuat dari besi tempa berulir dalam pola rumit, berdiri kantor keamanan, yang tampaknya juga dilengkapi dengan panel monitor untuk memantau seluruh area itu. Yang mana tampaknya, mereka menjalankan tugas dengan sangat serius, ketika salah satu petugas keamanan itu memberhentikan mobil yang ditumpangi Anton.
"Selamat siang, Pak. Selamat datang di King's Residence. Ada yang bisa saya bantu?"
Mengerutkan kening, Anton sedikit terpana mendengar salam sopan ini. Melirik sopir mobil yang sebelumnya berkeras kalau keluarga Prameswara tinggal di tempat ini, ia memutuskan untuk keluar dari kendaraan, meski pikirannya sedikit agak merasa kurang nyaman.
"Ehm, maaf, Pak, nama saya Anton, dan saya mencari rumah teman saya. Seingat saya, dulu dia tinggal di sini."
"Owh, kalau boleh tahu, siapa nama teman Pak Anton, mungkin saya kenal. Kebetulan saya asli daerah sini, Pak, dan memang mayoritas penduduk desa ini sekarang tidak lagi tinggal disini." balas sosok berbadan kekar itu dalam sikap sopan yang tak bercacat.
"Nama teman saya itu Prameswara, Pak. Ehm, Christoporus Caesaric Prameswara." jawab Anton agak kecewa. Tampaknya keluarga raja-pun tak mampu bertahan dan terpaksa harus pindah.
__ADS_1
Tapi mendengar ini, sikap petugas itu berubah total. Jika sebelumnya ia mempertahankan sikap profesional standard, kali ini seakan ia berhadapan dengan kesopanan yang berlebihan.
"Owh, teman Bapak Mas Prames to? Monggo Pak, pinarak di dalem saja. Anu, Bapak sampun menghubungi Mas Prames?" sambutnya dalam bahasa yang bercampur dengan bahasa Jawa halus sambil mempersilahkan Anton untuk segera masuk ruangan tunggu yang terletak di samping ruang keamanan itu.
"Belum, Pak. Apakah saya bisa dibantu, Pak?"
"Bisa, Pak. Monggo pinarak dulu. Biar saya panggilkan. Monggo Pak." sahut petugas itu cepat dengan sikap hormat yang belebihan.
Meski agak bingung, Anton beranjak ketika petugas itu tengah mengarahkan sopir untuk memarkirkan kendaraannya di samping.
Sialan, tampaknya makin kaya keluarga ini, batin Anton kagum, karena bahkan lahan seorang land lord, yang juga seorang Senator di Virginia saja tak semegah ini.
Bukit yang asri, lahan yang ditanami dengan pinus dalam tatanan yang simetris, sementara tanahnya tertutup selimut rumput hias yang terawat. Sementara di seberang jalan aspal halus yang cukup dilewati 3 mobil bersamaan dan tampaknya membentang hingga ke puncak bukit, terserak bungalow-bungalow yang mengadaptasi corak bangunan modern yang bercampur bangunan adat Jawa dengan kolam renang pribadi di setiap halamannya, tertata dalam susunan yang seakan diciptakan untuk membuat tampilan bukit itu lebih indah.
"Anu, Pak, maaf. Kalau Mas Prames nanya, Pak Anton siapa gitu gimana ya?"
Ternyata pria kekar itu sudah kembali.Tangannya membawa nampan berisi cangkir kopi dan perlengkapannya, lalu menaruhnya di meja.
"Bilang saja, Anton bogang. Semoga ia masih ingat. Saya teman sekolah dari Sd sampai SMP kelas 2 dulu, Pak." jawab Anton.
__ADS_1
"Silahkan diminum dulu, Pak. Saya segera kembali." jawab pria itu dan berlalu.
Gila, keluarga Prameswara makin gila aja. Ini sih bukan raja kecil lagi kelasnya, kikik batin Anton geli. Mau tak mau, ia teringat sosok rekan kecilnya itu. Entah sehebat apa dia sekarang...