
Terry sudah mulai merasa menyesal akan keputusannya untuk tinggal. Rombongan Mr. Alfons sudah pergi beberapa saat yang lalu, dan mungkin saat ini, mereka sudah mendekati bandara dan bersiap untuk kembali ke Amerika. Sebelumnya, mengingat atasannya itu menjanjikan uang jasa yang sangat besar untuk ia dan Debora, salah satu perawat Mr. Alfons, untuk tinggal disini dan menunggu "the voodoo guy" kembali dari entah apa yang tengah ia lakukan, ia mau untuk melakukannya. Tapi sudah hampir 5 jam berlalu, dan orang itu belum nampak.
"Deb, are you awake?"
Perempuan muda yang saat ini tengah asyik dengan handphone canggih di tangannya itu mendongak. Wajahnya yang cantik nampak ceria.
"Calm down, Terry. Kita cuma perlu menunggu sebentar lagi sampai pria itu datang. Kenapa kau tampak sangat tegang?" ujarnya ketika melihat pria yang ia kenal sejak bertugas merawat konglomerat besar itu nampak sedemikian gelisah. "Bukannya kita mesti tinggal disini selamanya kok. Anyway, have you check how much bos pay us for stay behind?"
"Nope. I told Mr. Alfons to send the money to my mother. She need it more than I do. Entah kenapa, aku merasa sangat tidak nyaman. Seakan ada sesuatu yang sangat berbahaya tengah mengawasi kita." jawabnya.
Perempuan itu menghela nafas sambil mencibir. Rekannya ini pernah bertugas di pedalaman dalam sebuah misi anti ******* yang berujung tragis. Rekan satu tim-nya mati satu persatu akibat perburuan dari kawanan ******* yang seharusnya mereka buru. Terry bahkan nyaris tak selamat dari itu dan tampaknya, kejadian itu meninggalkan bekas pada dirinya.
"Please calm down, Terry, ini bukan seperti kita dalam misi di peperangan atau apa..." sahut Debora pelan.
Tapi pria berbadan tegap akibat pelatihan rutinnya itu tak membalas. Ia bahkan tak menghiraukan nada celaan berselaput ejekan itu. Sejak waktu itu, ia selalu mengandalkan nalurinya untuk bertahan hidup. Dan saat ini, nalurinya mengatakan padanya untuk segera bergerak cepat dan meninggalkan tempat ini tanpa menoleh ke belakang.
Melihat pria itu tampak semakin tegang, Debora berdiri dari kursi yang ia duduki dan mendekati pria itu dan menyodorkan handphone-nya.
"Check this out, Bro. Bos mentransfer hampir satu juta dollar ke rekeningku! Can you imagine that?"
What, one million dollar for stay a bit longer in this middle of nowhere?
Sialan, aku benar-benar harus segera pergi dari sini!
"Yeah, mungkin aku yang terlalu paranoid, Deb. Sorry. and thank you for your support. Aku ke toilet dulu." balas Terry tenang.
Pengalamannya di ketentaraan mengajarkannya untuk semakin tenang ketika kondisi berkembang semakin mencurigakan. Ia memutuskan untuk menjaga nyawanya. Percuma memiliki satu juta dollar jika kau bahkan tak bisa menikmatinya. Meski tak tahu apa yang akan terjadi, ia memutuskan untuk bersiap akan apapun yang akan datang. Langkahnya menguat ketika kewaspadaannya meningkat ke level tertinggi. Pistol semi otomatis yang terpasang rapi di balik jas yang ia kenakan sudah tak terkunci dan siap digunakan. Ia memilih untuk membunuh jika perlu. Perlahan, ia bergerak dan menyembunyikan diri. Lokasi ia bersembunyi ini akan mampu memberikan jarak pandang yang bagus dan jika memang terjadi sesuatu, ia akan bisa menjaga Debbora dari bahaya. Jika memang instingnya yang salah, itu akan baik, tapi ia tak ingin mengambil resiko.
Tak lama kemudian, pria itu kembali. Dari tempatnya bersembunyi, Terry bisa melihat kalau pria itu sama sekali tak tertarik untuk membuka amplop berisi check yang nilainya mungkin tak akan mampu ia habiskan itu. Ia hanya melemparkan amplop dan kemudian mengeluarkan botol yang meski sebelumnya Terry yakin kalau botol itu terbuat dari batu giok, namun sekarang berwarna coklat kusam, dan menaruhnya di meja periksa. Hanya saja, hal yang terjadi selanjutnya, benar-benar membuat Terry bahkan tak mampu bergerak.
__ADS_1
Madre de Dios!!!
Jeritan sunyi bergema menggoncang pikiran Terry ketika sosok pria tampak mencoba untuk merobek kulitnya sendiri. Darahnya mengalir turun dari luka yang dibuat oleh tangan yang sekarang tampak memiliki kuku setajam pisau bedah, mengungkap badan gilig yang terbungkus dalam sisik keras, yang perlahan merentangkan dirinya hingga kepalanya hampir menyentuh langit-langit rumah. Mengibaskan kulit manusianya, mahluk yang kini berwujud ular berkepala manusia itu segera meraih Debora yang tercengang dan nampaknya hanya mampu menjerit dengan histeris melihat kengerian yang muncul dihadapannya ketika sosok itu menyerang dan membenamkan gigi ke lehernya, lalu melilitkan tubuhnya yang kuat, membungkus seluruh tubuh wanita malang itu. Sementara diluar, Terry gemetar tak terkendali dalam teror, yang membuatnya tak mampu melakukan apapun selain membisikkan doa tanpa henti ketika derak tulang patah terus terdengar dari dalam rumah kecil itu. Wanita malang itu bahkan tak mampu menjerit ketika seluruh cairan dalam tubuhnya diperas kuat-kuat oleh mahluk mengerikan itu dan dituangkan ke dalam botol kusam, yang semakin lama, seiring masuknya cairan yang membawa kehidupan Debora kedalamnya, mebuat botol itu bersinar dalam warna hijau yang cantik.
Ketika tampaknya botol itu sudah kembali penuh, mahluk itu melonggarkan lilitan tubuhnya, menjatuhkan tubuh termutilasi Debora ke tanah. Hanya saja, tampaknya wanita itu belum sepenuhnya mati. Mahluk iblis itu menyeret tubuh setengah mati itu keluar rumah dan entah kenapa, posisinya terlihat jelas dari tempat Terry bersembunyi. Kemudian, mahluk itu mulai menggigit dan memakan daging Debora tanpa menghiraukan erang sengsara yang muncul dari mulut wanita itu. Melihat adegan mengerikan ini, syaraf Terry tak mampu lagi bertahan. Perlahan, dunia menggelap ketika kesadaran mulai meninggalkan dirinya. Sepenggal harapannya tergantung pada utas doa yang tak ingin ia lepas, meski bisikan lirih yang membuat tulangnya menggigil dalam ketakutan hebat terngiang jelas dalam benaknya.
"Sayang perjanjiannya hanya satu untuk ganti satu. Aku pasti akan lebih menikmati memakan jiwa dan dagingmu daripada tubuh kotor pelacur ini. Huh, sayang sekali..."
...****************...
Topan tak mampu menenangkan dirinya. Segala hal yang ia lihat sejauh ini sangat normal. Ia bahkan nekat merapal mantra dalam batin untuk mencari entitas gelap atau anomali apapun yang mungkin saja muncul dari tempat ini, tapi sejauh ini, yang ia dapatkan hanyalah perasaan samar akan kehadiran kekuatan gelap yang kuat, tapi tak jelas dimana lokasinya. Dan sekuat apapun ia berusaha, pemuda itu tak mampu menemukan apapun. Inj benar-benar membuatnya frustasi. Sementara ia tak punya nyali untuk bertanya pada Kay, atau Ray, yang saat ini tengah asyik bercanda dengan Andini sambil menikmati hidangan malam yang mereka pesan dengan layanan online sebelumnya. Bahkan, melihat mereka bertiga yang tengah menghadapi hidangan mereka, Topan merasakan ada kejanggalan yang kuat, tapi ia sama sekali tak bisa menemukan keanehannya.
Sialan, apa sih yang sebenarnya terjadi di tempat ini???
Seiring waktu, Topan terus tenggelam dalam rasa frustasi tanpa akhir, mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri. Ia tak pernah terbiasa untuk mengacuhkan perasaannya sendiri, tapi ia tak mampu menemukan apapun, hingga akhirnya ia memilih untuk menganggap perasaannya terpengaruh oleh banyak hal dan khususnya, kejadian ledakan energi gaib beberapa waktu lalu itulah yang mempengaruhi dirinya. Hanya saja, celotehan riang Andini bagai memukul kepalanya dengan palu godam.
"Kak Rayna, dari tadi makan kok nasi dan lauknya nggak habis-habis sih? Ajarin dong caranya, kan jadi bisa hemat. Beli makanan, dimakan nggak habis-habis!"
"Andin, menjauh!" teriaknya ketika tangan pemuda itu sontak bergerak dengan pola ritmis yang cepat, membentuk rangkaian mudra. Dering daras mantera yang terpercik dalam kesadarannya mulai menyulut alam dalam keriangan pesta gaib, menggoyang rumah kecil itu dalam gempa tenaga astral yang terkumpul dengan cepat. Meski sebersit rasa tak rela sejenak muncul ketika sosok cantik didepannya itu terpana dalam rasa takut yang tampak jelas, Topan menguatkan hati dan meneruskan langkah.
"BERHENTI, BOCAH!!!"
Tapi belum lagi selesai rangkaian mantera terucap, kesadaran pemuda itu terganggu oleh teriakan yang seakan meledak di telinganya, memutus konsentrasi dan meniadakan kekuatannya, ketika tiba-tiba saja, sosok pemuda lain muncul dihadapannya. Memiliki dandanan serupa dengannya, wajah pemuda itu memiliki ketampanan setan yang bercampur dengan pesona malaikat yang memikat. Berdiri menjulang didepannya, tangan pemuda itu tampak seperti memegang udara kosong, yang sepertinya, ia melakukannya untuk mencegah Topan melakukan apapun.
"Datang bertamu ke rumah orang, dan menyerang pemilik rumah. Dimana sopan santunmu, Bocah?!" dengusnya tajam sambil menatap Topan yang terus berusaha untuk membebaskan diri dari kekangan.
"Sialan. Lepaskan aku, Setan!!!" umpat Topan kesal. Ia makin meradang ketika menyadari tak ada satupun usahanya yang berhasil.
"Kau itu setan! Emakmu setan, bapakmu setan, seluruh keluargamu setan! Tak punya sopan santun! Bertamu, serang empunya rumah, masih maki-maki! Kau mau mati, Bocah?" sentak Arborite murka. Udara mulai berderak dalam tekanan mengerikan ketika rambutnya yang biasanya indah dan hitam berkilau, mulai meretih dalam alunan gelombang kekuatan yang mengerikan.
__ADS_1
Duh Gusti Pangeran, beri aku kekuatan menghapus kejahatan ini, keluh Topan dalam batin ketika ia menyadari kalau sosok yang meradang di depannya ini tak mampu ia sakiti.
"Kejahatan gundhulmu itu! Gusti Pangeran juga nggak semena-mena macam kamu itu! Apa kamu pikir kami semua itu jahat? Hiiih, mungkin kamu beneran perlu jadi arwah biar tahu rasanya!!!"
Astaga, sekuat apa mahluk ini? Dia bahkan bisa mendengar pikiranku!
Topan benar-benar putus asa. Sosok didepannya ini benar-benar kuat. Tekanan yang ia keluarkan benar-benar bisa membuatnya tak mampu bergerak. Seakan tubuhnya ditindih dengan lempengan besi seberat ratusan kilo. Nampaknya kali ini ia benar-benar celaka. Dering teriakan histeris Andini bercampur nada jernih milik Rayna yang meminta sosok itu untuk berhenti menyakitnya, sayup terdengar, tapi Topan sudah benar-benar tak mampu bertahan lebih lama lagi. Tekanan kekuatan orang ini benar-benar mengerikan...
Hanya saja, tepat sebelum kesadarannya runtuh, suara derak yang mirip suara tamparan terdengar, ditingkahi suara mengaduh dan makian serta omelan terdengar dan mengangkat tekanan kuat yang nyaris menghancurnya.
"Sialan, Kay! Kau memukulku! Apa maksudmu, Bocah?!"
"Kau ini masih aja berbuat sesukamu, Bo! Kalo sudah ya sudah, keterusan aja main gencet orang! Orang tua tolol!"
"Iya nih, Abo. Udah tua kok suka bully anak muda. Huh, cemen!"
"Lha, aku ini selamatin kamu, Ray, lagi! Kok malah ikut marah sih?!"
"Yeeeee, pokoknya Abo jelek! Jahat! Tukang bully!"
Apa sih ini maksudnya???
Dan pertengkaran itu berlanjut, dan kini malah ditambah dengan dering tawa dari Andini?
Tak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi, Topan berusaha bangkit. Tapi nampaknya penindasan yang datang dari sosok yang disebut Abo itu benar-benar menimbulkan akibat yang serius baginya. Topan limbung dan nyaris terjatuh. Untung saja sosok lain menangkap dan menyeimbangkan dirinya.
"Duduklah dulu, Bro. Tenangkan dirimu dan duduklah dulu. Abo tolol itu sangat kuat, tapi dia tidak jahat. Aku akan jawab semua hal yang ingin kau ketahui, tapi kau harus tenang dulu, okey?"
Topan agak terpana mendengar ini. Tampaknya Kay ini sama sekali tidak sederhana...
__ADS_1
Sialan, terjebak dalam kondisi apalagi aku ini....