Kisah Perjalanan

Kisah Perjalanan
Dunia Apa Ini Sebenarnya?


__ADS_3

Bersama dengan meredupnya sinar matahari, mobil yang ditumpangi oleh Anton dan Prameswara kembali memasuki lokal King's Residence setelah meninggalkan Terry yang nyaris kehabisan darah karena luka di kakinya ke rumah sakit. Hanya saja untuk kali ini, mobil rental itu langsung terparkir dengan manis di halaman luas sebuah restaurant mewah yang berdiri megah tepat di tengah-tengah bukit. Mengambil posisi terbaik, bangunan dalam ada tradisional Jawa itu menyajikan pemandangan luas yang mencuri nafas siapapun yang memiliki kemampuan untuk makan di tempat ini. Bahkan dalam kondisi lelah badan pikiran, Anton tak mampu menahan untuk mengagumi kemampuan si pembangun tempat ini.


"Ayo, Gang. Ngopi dululah. Tak kenalin cewek cakep. Masih jomblo to?"


"Matamu!" jawab Anton sambil nyengir, mengikuti langkah Prameswara yang terus tertawa.


"Keluargamu makin kaya aja, Mes? Sialan, tau gini, ngapain aku jauh-jauh ke Amerika?" dengus Anton ketika mereka memilih tempat duduk, yang hanya dibalas dengan tawa kecil dari Prameswara ketika ia memanggil seseorang dan memesan minuman darinya.


"Potong omong kosong. Sekarang, tanyakan apapun yang hendak kau tanyakan, Mas. Kuusahakan jawab sebisanya." ujar pemuda itu sambil menyalakan rokoknya.


"Yah, kalau begini sih, aku juga bingung mesti tanya apa. Bukannya apa, terlalu banyak soalnya..." ujar Anton pelan. "Pernah nggak sih ngerasa semua hal yang kamu rasa kamu tahu, ternyata salah? Semacam kayak yakin sesuatu itu tak ada, dan ternyata, setan datang mengetuk pintumu?" lanjutnya lagi ketika pemuda yang ia ajak bicara hanya memandangnya, seakan menunggu ia meledak.


"Sejak lama sejak aku tak lagi percaya hantu, setan, demit, genderuwo dan kawan-kawannya itu, Mes. Dracula itu cuma ada di Amerika, Hollywood khususnya, bersama Van Helsing, Captain Amerika dan yang lain. Bahkan sempat terlintas dalam pikiranku sebelumnya, Big T mengirim penggalan shooting film horror karena iseng ditinggal sendirian. Dan kemudian, badanku bergerak sendiri dalam cara yang tak pernah kuketahui bisa kulakukan. Beragam pengetahuan dan ingatan yang tak kutahu pernah kumiliki, muncul seakan ada usb yang ditancapkan ke otakku. Dan tahu-tahu, voilaaa, mahluk Gorgom, musuh satria baja hitam muncul didepan mata. Belum lagi ketika aku melihatmu dari tubuhku yang tak bisa kukendalikan sendiri sementara ia bergerak, kau berkelahi dengan mahluk bertubuh ular dan berkepala manusia, dan KENAPA KAU MALAH SENYAM-SENYUM, BANGSAT?!"


Gelak tawa Prameswara malah membahana tanpa kendali ketika tampaknya, sobatnya itu emosi dengan ekspresinya.

__ADS_1


"Asu! Males aku! Sudahlah, lupakan saja..."


"Hilih, ngambeg." sahut Prameswara sambil terkikik. Tapi ia hanya mengangsurkan cangkir kopi yang diantarkan kemeja oleh seorang pramusaji yang cantik itu ke sahabatnya.


"Maaf, Mas. Sorry. I really am. Okey, aku serius sekarang." ucapnya lagi ketika dilihatnya Anton benar-benar marah.


"Aku tak tahu lagi, Mes... Dunia yang kukenal runtuh dan hancur berantakan. Aku tak tahu mana yang nyata dan ilusi. Bahkan sekarang, aku seperti melihat ada seseorang duduk di sebelahmu. Tampaknya aku mulai gila..." keluh Anton lesu.


"Maafkan aku, Mas. Kalau ini bisa menenangkanmu, aku bilang memang ada seseorang yang duduk disebelahku saat ini." jawab Prameswara lembut sambil menghela nafas berat. Ia tahu bagaimana perasaan Anton saat ini. "Namanya Dipo, arwah seorang pendaki yang kehilangan nyawanya dalam sebuah ekspedisi di gunung itu" lanjutnya sambil menunjuk ke arah badan gunung Lawu yang tegar di kejauhan, sementara sosok transparan dalam balutan kemeja flanel dan celana pendaki lusuh itu mengangkat tangan, memberi salam sambil tersenyum pada Anton yang berjenggit ketakutan.


"Apa yang terjadi padamu sebelumnya adalah aku membuka salah satu "lobang" di tubuhmu supaya jiwa lain bisa masuk dan menggunakan tubuhmu, Mas. Kau tahu kondisinya tadi. Tanpa itu dilakukan, Terry mungkin tak akan bisa diselamatkan..." desah Prameswara pelan.


"Jelaskan lebih jauh, Mes." ujar Anton mencoba tenang meski getar masih muncul dalam suaranya.


"Mas sudah tahu, praktisi yang kalian datangi adalah manusia yang terkontaminasi jiwa jahat. Sebagai imbalan kemampuan yang didapatkan, dia harus memberikan tumbal kepada siapapun yang ia ajak kerja sama sebelumnya. Dalam hal ini, botol ini medianya." jelas pemuda itu sambil mengeluarkan sebuah botol giok tembus pandang, dengan ornamen tujuh bintang di pangkalnya.

__ADS_1


Melihat botol ini, Anton bergidik. Ia tahu apa isi botol itu. Ia melihat proses pengisiannya dari video yang dikirim oleh Terry.


"Aku tak akan bisa mengambil botol ini jika aku mengejar dan menyelamatkan Terry, sementara hanya ada kita berdua tadi. Padahal, kau sama sekali tak memiliki pengetahuan yang dibutuhkan dalam hal ini, makanya aku terpaksa melakukannya, Mas. Dan selama botol ini tak lagi ditangannya, mahluk itu akan berhenti membunuh." lanjutnya tanpa mampu menyembunyikan rasa bersalah. Hal yang dia lakukan pada Anton benar-benar tidak bisa dibatalkan.


"Aku tak perduli dengan itu, Mes. Aku sudah membuat pilihanku saat itu. Aku hanya perlu penjelasan tentang apa ini sebenarnya."


"Dalam pengetahuan yang kupelajari, sederhananya, kondisimu saat ini disebut sebagai Parogo, Mas. Semacam mediator yang memungkinkan mahluk tak beraga bisa berinteraksi dengan orang biasa. Biasanya, Parogo hanya bisa memungkinkan arwah atau jiwa yang meminjam badannya untuk sekedar berinteraksi, tapi kondisimu sedikit istimewa... Ah, anu, bukan, dengar aku dululah." jawab Prameswara buru-buru ketika ia melihat Anton yang mulai meradang.


"Meski jiwa yang meminjam badanmu bisa menggunakannya, tanpa ijinmu, mereka bahkan tak akan bisa mendekat, Mas."


Sialan... Yah, tapi mesti bagaimana lagi, bukan salah dia juga sih sebenarnya, desah batin Anton kelu.


"Kalau kau mau, Mas, aku bisa mengajarimu banyak hal terkait dunia yang aku tahu. Siapa tahu, mungkin dengan otak dalam kepalamu, kau bisa berdamai dan menjadi ilmuwan Noetic Science sebagai praktisi..." lanjut pemuda itu takut-takut. Mungkin rasa bersalahnyalah yang mendorongnya untuk berusaha mencari kompromi atas apa yang sudah ia lakukan.


Meski sedikit sebal, mau tak mau Anton tertawa mendengar hal ini. Biar bagaimanapun, ia yang menyetujui apa yang Prameswara lakukan, dan tanpa hal ini, mungkin saat ini, suasana tidak akan seringan ini rasanya. Meski sosok-sosok transparan yang terbang, melayang, atau sekedar berjalan mulai banyak ia lihat, minimal nyawa Terry terselamatkan.

__ADS_1


Yah, paling tidak, untuk saat ini semua sudah selesai. Siapa yang tahu, kali aja aku bisa jadi paranormal terkenal kedepannya. Huft, let's just take the bright side up, what more could possibly worst than this? batin Prameswara ketika perasaannya berkembang semakin ringan. Seiring matahari yang semakin rendah di ujung barat, Anton mulai bisa sedikit tersenyum ketika candaan dari teman masa lalunya ini mengalir.


Hanya saja, ini bukanlah akhir seperti yang Anton kira...


__ADS_2