
Desau angin perlahan menguat menjadi kesiuran yang mengancam seiring daras mantra yang mengalir dalam keheningan batin. Empat bait kalimat yang ditorehkan oleh Arborite dalam bentuk aksara Purwa ke kulitku seakan membara, seiring denyut energi murni yang menguat, jauh didalam inti diri.
Alam seakan turut melolong dalam derita ketika tekanan itu menguat, mengurung kesadaran dalam kesakitan maha hebat yang menghunjam jauh ke dalam kepala. Posisiku duduk semakin condong, sarat oleh beban energi maha hebat yang seakan berusaha menghancurkan setiap sel ditubuhku, ketika angin semakin menggila dalam pesta liar tenaga batin.
Duh, Gusti, keluhku lelah dalam hati ketika tak mampu lagi menahan ikatan yang seakan meremukkan sangkar dadaku. Kegelapan total menyergap dalam sekejab, ketika kesadaranku lenyap dalam kehampaan...
********
Berkas sinar matahari yang jatuh pada kanopi daun di tempat ini, selalu menciptakan pemandangan yang spektakuler. Larik cahaya yang menimpa timbunan embun, menciptakan pendar kemilau berlian hingga akhirnya mengabur bersama menuanya pagi. Kicau beraneka burung bersaing merebut perhatian dalam bingkai simponi kericik aliran pancuran kecil yang airnya berasal dari sebuah mata air, tak berapa jauh dari pondok tempat Arborite membawaku beberapa hari yang lalu.
Perjalanan kami tak lama. Meski tak punya jam, tapi aku yakin, tempat ini tak berapa jauh dari rel kereta tempat aku bertemu dan berseteru dengannya. Namun entah kenapa, aku merasa kalau tempat ini bukanlah bagian dari dunia tempat aku bertemu dengan orang aneh itu, entah dimanapun dia berada saat ini.
Dan soal kata-katanya hendak mengajariku tentang bagaimana menggunakan 'kutukan' ini?!
Setan gondrong itu cuma membual saja nampaknya...
Rembang petang menua ketika kami sampai di tempat ini. Arborite semakin pendiam ketika bayangan pondok kayu itu semakin nampak jelas dalam pekat kegelapan. Seakan tak ingin membuang waktu, ia mendorong pintu kayu pondok dan menghilang kedalamnya, lalu muncul lagi dengan beberapa botol kecil di tangannya.
"Lepas pakaianmu, dan masuklah ke dalam kolam itu. Apapun yang terjadi, jangan pernah kau langkahkan kakimu keluar dari kolam itu sebelum kusuruh"
Sekuat tenaga, kutahan keinginan untuk membantah dan melakukan perintahnya, meski hawa antisipasi mulai terasa bergejolak.
Sial, pasti akan dingin, pikirku sambil perlahan memasuki kolam.
Air tenang dan bening yang menyambutku ternyata tidaklah sedingin yang kukira, bahkan malah terasa hangat dan menyegarkan.
Hmmm, mungkin akan nyaman ini. Nampaknya juga udah lumayan lama nggak mandi, pikirku senang.
Berkas cahaya mulai menerangi ketika botol yang ternyata adalah sejenis pelita sederhana itu menyala. Arborite mulai menaruh pelita-pelita ini di empat sudut kolam, yang kuperhatikan, mengikuti pola arah mata angin.
__ADS_1
"Kau sudah siap merangkul anugrahmu, Bocah?"
Namun suara yang keluar dari mulut itu bukanlah suaranya. Suara itu tua, ringkih dan sarat peringatan akan bahaya. Suara itu menakutkanku lebih daripada apapun.
"Huh, anak Adam... Tolol dan tak berguna. Entah kenapa Gusti Pangeran berkenan memberikan sesuatu seperti ini padanya." ujarnya lagi.
Perlahan, Arborite berjongkok di pinggir kolam dan memasukkan tangan kirinya ke dalam air dan alunan nada dalam bahasa kuno mulai mengalir keluar dari mulutnya, menjadi sebuah tembang yang sarat kekuatan mistis. Api kecil dari pelita mulai bergerak dalam tarian magis-mengecil dan membesar, mengiringi denyut yang seakan muncul dari alam. Seiring lantunan tembang dari mulutnya, angin mulai bergerak, turut larut dalam simphoni gubahan Sang Khalik, menggoyang dahan, ranting, bahkan batang pohon dalam satu tarian ritmis yang mengancam. Mengajak malam menggelap dalam balutan awan gelap yang datang entah darimana. Ketika rasa takutku mulai merayap naik, rasa panas itu datang...
Secara perlahan, panas yang membakar muncul dari telapak kaki yang setengah terbenam pada pasir di dasar kolam dan merambat naik.
"Rite, kok panas ya?"
Pertanyaanku menggantung sia-sia di tengah kericuhan tarian berbahaya dalam pesta pora tenaga mistis. Tembang terus mengalir dari mulut Arborite, menguat seiring dengan kerosak dan kesiuran angin yang terasa mulai mengancam sementara di langit, utas petir mulai terlihat, seakan enggan tertinggal dalam perayaan akbar pertunjukan kekuatan semesta ini.
Semakin lama, panas itu semakin tak tertahankan. Air yang meredamku hingga ke dada tak mampu memupus rasa sakitnya.
Aku hendak berbalik dan naik dari kolam celaka itu ketika riak dan kecipak air seakan menyadarkan Arborite dari apa yang hendak kulakukan. Sekilas rasa takut terlihat dari matanya yang indah, sebelum mata itu mengeras dalam tatapan membunuh yang pernah ia tunjukkan sebelumnya. Tangan kanannya terangkat ke arahku, dan entah apa yang ia lakukan, badanku seakan diikat erat.
Dalam kepanikan, sekuat tenaga aku berusaha memberontak, namun apapun yang kulakukan sia-sia. Sejenak kemudian, selintas pikiran menenangkan rasa panik yang melanda di tengah panas yang semakin menyiksa, meski tersaput kesedihan, aku belum mampu membebaskan arwah kedua orangtuaku yang terpenjara di dunia...
"Lakukan itu lagi, Bocah, kuhancurkan kepalamu!"
Hardikan itu terdengar jelas di dasar kepala, sama seperti bisikan dan teriakan ibu dulu. Dan ketika pandangan mata kami bertemu, aku menyadari kalau Arborite yang berbicara melalui pikiranku.
"Bocah tolol tak tahu diuntung! Kalian anak Adam ini memang cuma cacat di dunia sempurna Sang Pencipta. Lakukan itu lagi, dan aku takkan perduli jika Dia menghukumku hingga akhir masa!"
Tanpa tahu bagaimana mencoba berkomunikasi dengan seluruh bagian tubuh terkunci dalam balutan kekuatannya, termasuk mulutku, kucoba berkata dalam pikiran.
"Maafkan ak..."
__ADS_1
"Tak perlu bicara, Belatung! Nikmatilah saja, ini akan selesai sebelum kau sempat mati!"
Aku meringis. Kemarahan dalam perkataan itu terasa bagai raungan dalam pikiranku.
Jika memang aku harus mati, kupasrahkan semua padamu, Tuhan...
"Begitu lebih baik..." sahutnya lagi.
Namun rasa itu makin tak tertahankan lagi. Panas itu terasa membakar jauh kedalam tubuh, meski kurasakan jika panas itu secara perlahan, mulai terpusat pada empat titik di bagian siku dan tulang belikat kiri dan kanan, hingga akhirnya, dalam satu kedutan panjang yang sangat menyakitkan, yang kurasakan seperti menghentikan jantungku, tiba-tiba saja rasa itu hilang.
Tak seperti datangnya, angin dan kehebohan alam berhenti tiba-tiba, meninggalkan kesepian total yang mencekam dalam rona cahaya bulan yang terkuak. Satu-satunya suara yang terdengar hanya tinggal tembang yang mengalun pelan dari mulut Arborite, yang kini sedikit banyak kumengerti artinya...
"Lamun Bayu nira ning sawala, murbeng ing jagad tanpa wasesa.. Amba tan duraka nyuwun gunging pangatsama..."
Dan tanpa sadar, air mataku meleleh...
Setan gondrong ini juga terjebak dalam samsara-nya sendiri, pikirku sedih.
"Keluarlah, Nak. Sudah selesai..." suara itu terdengar letih sekarang, terkuras dan lelah. Suara yang seakan telah menderita selama berabad-abad dalam derita yang sama seperti banyak yang lainnya, mereka yang terjebak dalam nafsu pribadi semasa hidup dan terikat di bumi manusia ketika ajal menjemput.
Isakan mulai menyesak dalam dada ketika entah dari mana, pengertian muncul dari ketiadaan, mengalir masuk kedalam pemahamanku.
Bagaimana mereka tak bisa pulang dan bersatu dengan Sang Pencipta dan selamanya terlunta dalam alam antara, menunggu belas kasih dan orang yang bisa menunjukkan jalan bagi mereka untuk pulang. Sama seperti Ibu dan Ayahku.
"Tak perlu kau menangisiku, Bocah. Istirahatlah dulu, besok kita bicara lagi." katanya lagi sambil beringsut menjauh, masuk ke dalam kegelapan dan ketiadaan dalam riak dan gelombang cahaya.
Perlahan, dalam kesunyian dan kesendirian, kesedihan nyata mulai menghantam pikiranku dengan kekuatan penuh. Lunglai, aku mulai menaiki pinggiran kolam, mengeringkan badan dan mulai berpakaian ketika menyadari, ada sebaris aksara Purwa yang tertorehkan pada pangkal siku kanan dan kiriku.
Sialan, nampaknya ini permanen, pikirku ketika mencoba menghilangkan tulisan itu dengan menggosoknya, tapi kurasa aku takkan memperdulikan itu. Otakku terlalu lelah untuk memikirkan apapun dan dunia merayap kedalam kegelapan total begitu aku membaringkan badan dan menutup mata.
__ADS_1