
Aroma wangi nasi goreng dan kopi yang kuat, menyapa dan menggelitik hidung Kay ketika ia memasuki rumah, yang mau tak mau, membuat pemuda itu lumayan bertanya-tanya. Hanya saja, sosok gadis kecil yang tengah asyik menghadapi piring di meja makan yang biasanya sepi itu sedikit menjawab pikirannya. Andini, sudah mandi dan mulutnya tak henti bergoyang dengan semangat tinggi. Kakinya yang bahkan tak sampai ke lantai ketika ia duduk di kursi makan itu, bergoyang tanpa henti. Dan ketika ia melihat Kay, matanya yang indah dan berbinar dengan sorot polos itu seperti tersenyum menyambutnya. Sementara mulutnya yang penuh dengan nasi goreng itu, mengumandangkan kalimat yang sama sekali tak mampu dicerna.
"Kaakahk, mmahan dulk! (Kakak, makan dulu!)"
"Apa?" tanya pemuda itu tanpa mampu benar-benar menahan tawa ketika melihat gadis cilik itu seakan berjuang untuk mengajaknya makan.
"Khak Pan mosak!" (Kak Topan masak!)
Hadeh, anggap rumah sendiri sih anggap rumah sendiri, cuman bukan berarti begini juga kali ya, batin Kay geli. Agak ajaib juga pasangan kakak adik yang terdampar ini.
"Andin, inget apa yang kakak ajarin kemarin kan?" sahut sosok berambut gondrong yang memunculkan kepalanya dari ruangan dapur, dan ketika ia melihat si pemilik rumah yang masih cengar-cengir bloon melihat tamunya sudah terkesan menginvasi rumahnya ini, Topan sedikit terkekeh.
"Kopi, Kay. Hopefully you like what i make. Dan maaf, aku sembarangan. Sebentar lagi sarapanmu siap. Nasi goreng tak enak kalau tak pedas, dan Andini tak suka pedas." lanjutnya.
Kay hanya tertawa dan beranjak menuju meja makan. Sudah lumayan lama ia tak mengalami kondisi yang "normal" seperti ini. Sejak kepergian Bapak dan Ibu, interaksi akrabnya hanya dengan berbagai entitas yang tak butuh makan makanan manusia.
"Kakak, terima kasih ya. Rumah Kakak nyaman dan hangat. Terima kasih sudah ngebolehin Andin dan Kak Topan menginap. Kak Ray bilang kalau mau makan, suruh masak sendiri, makanya Kak Topan masak..."
Dan Andini tak henti bicara. Setelah menelan makanannya, ia tak henti mencoba menjelaskan setiap hal yang terjadi. Tampaknya ia tak ingin Kakak yang baik ini marah lagi karena mereka berlaku sesuka hati, bahkan sampai menggunakan berbagai hal yang ada di rumah seperti saat ini.
Rasa hangat terus mengalir dalam hati Kay. Melihat gadis kecil yang mungkin umurnya belum seberapa itu berusaha menjelaskan segala kelakuan yang menurutnya, mungkin kurang layak dilakukan, membuatnya tersenyum.
Bocah, cantik, tau sopan santun. Boleh juga gondrong kumal itu didik adiknya, kikik batin Kay sementara gadis kecil itu terus berbicara. Kakinya yang tak sampai di lantai bergerak makin aktif. Nampaknya rasa gugup benar-benar menguasai perasaannya.
"Sssst, Andin, kalau di meja makan, makan. Ngobrolnya nanti. Habiskan dulu makannya ya." kata Ray lembut. Senyum lembut yang biasanya jarang tampak, muncul di wajahnya.
__ADS_1
"Kak Kay nggak marah?" tanya gadis polos itu takut-takut, yang segera meledakkan tawa Kay.
"Elu juga makan nih." sahut Topan, yang melangkah dari dapur dengan nasi goreng yang menguarkan aroma nikmat, dan memberikan salah satu piring di tangannya pada Kay.
"Woow, kesan pertama bolehlah, semoga rasanya tidak menipu." balas Kay sambil tertawa, yang dibalas dengan celotehan riang Andini dan gerutuan canda Topan. Tanpa sadar, suasana di meja makan itu menghangat dengan sendirinya. Entah kenapa, kedua orang yang datang entah dari mana ini mampu membawa rasa akrab, dan untungnya, pagi yang cerah ini tak terganggu oleh ulah siapapun. Tampaknya bahkan dua hantu nyentrik itu sadar diri dan memutuskan untuk tidak menimbulkan kekacauan. Bahkan hingga ketika mereka selesai makan dan Topan membereskan meja, tak nampak jejak dua mahluk konyol itu.
Aku tak keberatan memiliki banyak pagi seperti ini, desah batin Kay pelan. Senyum tak lepas dari bibirnya. Sarapan pagi yang enak, kopi yang mantap dan teman bicara yang menyenangkan. Sungguh pagi yang sempurna!. Hanya saja, pertanyaan Andini beberapa saat kemudian, segera mengembalikan Kay ke dunia nyata.
"Ehm, kalau yang di foto itu siapa Kak? Semalam, Andini mimpi ketemu mereka..." ujarnya sambil menunjuk foto besar yang terpasang di dinding.
Dan Kay tercekat ketika ia menyadari kalau gadis kecil itu menunjuk foto Bapak dan Ibu. Dalam kebingungannya, ia sama sekali tak mampu bicara. Hanya saja, Andini tak menyadari akibat pernyataannya ini. Ia terus saja berceloteh riang.
"Mereka baik. Andin diajak duduk di kursi ayunan depan itu. Om itu bilang kalau Andin boleh sering main kesini, terus katanya Kak Kay nggak boleh nyepelein surat dan buku jurnal. Kakak..."
Tapi Kay sudah tak mampu mendengar lanjutan dari celotehan gadis kecil itu. Segala hal yang ia bicarakan adalah hal-hal yang tak mungkin ia ketahui. Jadi gadis ini tak mungkin berbohong!
Kedua kaki Andini yang menggantung diatas lantai, tiba-tiba saja bergetar kuat. Tangan kecilnya menggebrak meja dengan kuat. Wajahnya menunduk saat celotehannya menghilang, tergantikan suara nafas keras, kasar dan bercampur sedikit geraman. Sementara Kay dan Topan terlonjak kaget, dan ketika menyadari apa yang tengah terjadi, keduanya spontan merapalkan mantera dan bersiap untuk yang terburuk.
"Sialan, siapa ini yang datang dan mengganggu?!" desis Topan garang. Dengan cepat, ia berusaha meraih tangan Andini untuk melakukan pengusiran, tapi Kay mencegahnya.
"APA MAKSUDMU INI, KAY?!" sentaknya keras, tapi Kay bertahan.
"Gunakan pikiranmu dengan benar! Kita berdua bisa melihat mereka, Pan. Sekarang kau katakan padaku, apa ada yang lain di Andini, karena aku tak melihat apapun!" desis Kay, yang segera membawa kesadaran pada Topan. Memang, saat ini, hanya gadis kecil itu yang berada di kursi. Tak ada bayang, mahluk atau entitas lain.
Hanya saja, deru nafas kasar dan geraman yang muncul darinya ini apa?
__ADS_1
Tapi belum lagi mereka berdua mampu melakukan apapun, Andini mengangkat wajahnya, menampakkan mata yang sepenuhnya putih. Bibirnya yang mungil sedikit terangkat, menimbulkan ilusi senyum yang tak terlihat seperti senyum sama sekali. Sejenak, gadis kecil itu seakan memindahkan pandangannya ke arah dua sosok pemuda yang menjulang tak jauh darinya ini dan suara yang tercampur, seakan beberapa orang berbeda kelamin berbicara dialog yang sama, muncul darinya.
"Duuuh, jiwa-jiwa pandhita sing durung oleh pepadhang Gusti, kudu kepasrahan ngrangket jalma durjana!
Melasono duh Gusti..."
(Duuh, jiwa-jiwa pendeta yang belum tercerahkan, terpaksa harus berurusan dengan penjelmaan jahat! Berbelas kasihlah duh Gusti...)
Kay dan Topan terpana. Gadis kecil yang biasanya sedemikian aktif untuk bergerak dan berbicara sembarangan, saat ini berbicara dengan lembut. Sikapnya berubah, seakan ada seorang putri keraton yang terdidik dalam sopan santun keras ala kerajaan menggantikan dia disitu. Dan belum lagi Kay dan Topan sempat melakukan apapun, gadis itu mengarahkan pandangannya kepada Kay.
"Jalma durjana nyaru njaluk tumbal nyawa. Cah bagus, mara a nang tlatah daha. Botol sarira pitu dudu nggone kamanungsan..."
(Penjelmaan jahat menyamar minta tumbal nyawa. Anak ganteng, datang ke daerah daha. Botol sarira tujuh bukan milik manusia...)
Dan secepat datangnya, setelah mengatakan hal ini, tiba-tiba saja tubuh gadis kecil itu lemas. Untung saja, Kay bertindak dengan sangat cepat dan meraih gadis itu, sebelum Andini jatuh ke meja. Segera ia menggendong gadis kecil itu dan membaringkannya di sofa panjang.
"Apa itu tadi, Kay?!" sergah Topan gusar. Sepanjang pengetahuannya, ia tak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Sementara yang ditanya hanya menghela nafas berat sambil mengangkat bahu.
"Sejujurnya? Aku tak tahu..."
"Ini rumahmu, dan tadi kau menghentikanku. Pasti ada yang bisa kau jelaskan dari semua ini, Kay. Baru kali ini aku mengalami hal seperti ini!" desis Topan garang. Ia benci keadaan tak terjelaskan seperti ini!
"Kondisi seperti ini, aku juga baru kali ini mengalaminya, Pan. Aku benar-benar tak tahu apa itu tadi. Meski kalau soal apa yang ia bicarakan, mungkin aku sedikit punya dugaan." jawab Kay pelan.
"Jelaskan kalau begitu..." sergah Topan lagi.
__ADS_1
"Kau mungkin mau duduk. Akan lebih nyaman ketika kau tahu semuanya sejak awal dan kisah ini mungkin agak panjang, Pan..."