Kisah Perjalanan

Kisah Perjalanan
Truth, at least part of it, finally...


__ADS_3

Rumah kecil itu sepi. Seakan tak ada lagi mahluk yang menghuninya, meski di ruang tamunya, 2 insan tampak duduk disana. Kay larut dalam lautan rasa bersalah. Melihat Rayna yang masih terisak, dan melemparkan pandangan ketakutan dari waktu ke waktu, membuat pemuda itu makin menyesali ketidak-mampuannya dalam mengendalikan diri. Untung saja Andini masih berada di sekolah. Kalau saja dia turut menyaksikan kejadian hari ini, Kay tak tahu harus bersikap seperti apa. Andini sangat dekat dengan Rayna...


"Kalian mau diem-dieman sampai kapan?"


Tanpa menolehpun, Kay tahu siapa yang berbicara. Setan tua menyebalkan yang tak mau memberitahu apapun dengan jelas, tapi mengharapkan semua orang bersikap dan bertingkah seperti mengetahui segala hal, Arborite. Dan untuk kali ini, Kay sepenuhnya mengalihkan semua kesalahan yang sudah ia lakukan pada setan tua itu. Pemuda itu diam. Ia bahkan tak memandang ke arah Arborite sedikitpun. Kay marah...


"Eh, Bocah? Kau juga tak bicara padaku?!" lanjutnya lagi sambil menegakkan tubuhnya di kursi yang ia duduki, yang kembali tak mendapatkan respon. Pemuda yang ia ajak bicara itu malah membuang muka.


"Oiii, Bocah?!!"


"Diaaam!!!" sergah Kay murka. Nafasnya terengah-engah dalam balutan beragam emosi dalam hatinya.


"Lho, kok marah sih?" balas Arborite dengan menunjukkan wajah yang menjengkelkan. Tampaknya ia benar-benar berniat untuk memprovokasi Kay habis-habisan, dan sayangnya ia berhasil.


Kay murka. Badannya mulai mengeluarkan hawa panas yang samar membakar udara, apalagi ketika ia melihat senyum penuh ejekan di wajah tampan pemuda yang tengah duduk bersilang kaki dengan santai itu. Arborite bahkan masih tampak sedemikian santai ketika sosok Kay mulai berdiri, menjulang didepannya dalam amarah.


"Kau! Setan tua tak berguna! Ini semua karena kamu!!!" sentaknya sambil menuding wajah penuh senyum ambigu yang masih santai itu. Didorong rasa bersalah yang terus mengembang dalam hatinya, Kay mulai menjadi tak masuk akal. Ia bahkan tak mengindahkan Rayna yang memintanya untuk berhenti mengkonfrontasi Arborite.


"Owh, okey. Lalu bagaimana itu bisa jadi salahku?" balas Arborite lembut. Pemuda tampan itu masih tersenyum dengan aneh meski Kay tampaknya sudah hampir kehilangan kendali atas kemarahannya sendiri.


"Kau punya pengetahuan ini. Kau mengerti tentang semua hal busuk ini. Tapi tak sekalipun kau punya keinginan untuk memberitahu aku apapun." geram Kay ganas. Tampaknya ia merasa menemukan rasa lega dengan melimpahkan kesalahan ini pada Arborite, sementara yang terakhir tampak tak terprovokasi sama sekali. Meski tanpa disadari oleh Kay, udara yang menghangat oleh amarahnya, terkontaminasi oleh hawa kuat yang lain. Hawa yang menghadirkan tekanan yang kuat, mengancam untuk menghancurkan setiap keberadaan, seakan terseduh di ruang tamu itu.


"Kay, sudah. Ray cuma kaget kok. Maaf ya Kay, Ray agak..."


"Tidak, Ray. Ini bukan kesalahanmu." potong Kay cepat.


"Orang tua ini, menyeret kita berdua dalam hal ini. Mengajarkan hal tak lengkap, tak mau menjelaskan apapun, tapi berharap semua berjalan baik tanpa kesalahan. Sungguh arogansi seorang dewa yang memandang kehidupan lain macam eksistensi tanpa arti. Ini kesalahan mahluk tua ini!".


"Bukan, Kay... Abo..."

__ADS_1


"Arborite, Rayna sayang, Arborite..." potong Arborite sambil tertawa kecil, perilaku yang rupanya makin membuat Kay jadi kalap. Badannya mulai mengeluarkan api hitam yang menyelimuti seluruh inchi keberadaannya, menghantarkan panas mengerikan ke udara.


Sialan memang setan tua ini. Sama sekali tak memiliki rasa bersalah sedikitpun!!!


Derak kemarahan Kay mengisi setiap sel pikirannya. Mengaburkan pikiran dan akal sehatnya. Ia bahkan tak menyadari kilat berbahaya yang muncul di mata pemuda yang kembali mengarahkan pandangan padanya setelah berbicara dengan Rayna, yang tampaknya makin ketakutan tapi tak memiliki keberanian untuk mendekati salah satunya. Kay bahkan tak menyadari semilir angin yang menyembunyikan kengerian dalam tekanan kekuatan yang muncul dan berputar di ruangan itu. Ia hanya ingin melepaskan semua kemarahan akibat rasa bersalah dalam hatinya, dan Arborite adalah satu-satunya sasaran yang ada.


"Apa gunanya keberadaanmu ini sebenarnya? Percuma kau hidup aeon tahun. Percuma kau mengetahui beragam ilmu berbahaya. Percuma semua ratapan dan keluhanmu. Kau bahkan mengetahui bagaimana cara membatalkan mantera yang kuucap. Kau bahkan tahu akibat mengerikan yang mungkin terjadi dari itu," sergah Kay keras tanpa henti. Ia bahkan tak mengijinkan siapapun memotong omongannya lagi. Jarinya lurus menuding wajah Arborite, yang mulai menarik senyumnya, menjadikan wajah mempesona itu makin menarik, meski juga makin tampak mengerikan.


"Tapi tidak bagi tuan Arborite yang terhormat. Kau terlalu tinggi untuk menjadi mentor semut tak jelas macam aku ini. Biarkan saja si bodoh Kay berbuat semaunya, marahi dia kalau salah. Buat apa repot-repot ngajari seekor kecoak! Benar kan tuan Arborite yang terhormat?!"


"Ada benarnya, khususnya di bagian "kecoak"." sahut Arborite santai.


Jawaban ini yang benar-benar membuat Kay sedikit terpana, bergema dalam benak pemuda itu seakan seperti ledakan bom yang meledakkan kesadarannya. Kay sama sekali tak memperhatikan wajah penuh rasa takut milik Rayna, yang rupanya menyadari kalau Arborite murka dan berusaha sekuat tenaga untuk mengendalikan diri. Gadis itu tahu pasti sekuat apa Arborite. Meski selama mereka berinteraksi hingga saat ini, setan tua itu tak pernah menampakkan apapun kecuali sifat slebornya, Rayna tahu pasti Arborite bukanlah keberadaan yang sama sekali bisa di provokasi.


"Huh, seperti yang kukira. Wajar kalau kau dikutuk oleh Tuhan untuk..."


Tapi semuanya sudah terlambat...


Tekanan kekuatan yang sudah sejak lama tersembunyi dalam udara, memunculkan diri dalam bentuk gelombang kekuatan yang mengguncang rumah kecil, jauh lebih mengerikan dari kekuatan mantra yang diucapkan Kay sebelumnya. Sementara itu, pemuda tampan itu mulai berdiri. Rambut panjangnya yang hitam seakan meretih oleh kekuatan yang mengerikan. Pupil mata yang biasanya terisi sinar jahil, tak menampakkan warna lain selain hitam pekat. Gelombang demi gelombang kekuatan terus memancar dari tubuhnya, perlahan mendorong Kay yang mencoba melangkah maju tanpa hasil, seakan angin yang sangat kuat mendorong tubuhnya terus menerus.


Tapi anehnya, kekuatan itu sama sekali tak mempengaruhi Rayna. Gadis itu terus berusaha berbicara pada Arborite, membuatnya memaafkan Kay yang tengah marah, tapi sia-sia. Kay berhasil menyentuh titik sakit Arborite.


"Tidak, Rayna sayang. Kecoak ini sudah keterlaluan. Sudah waktunya ada yang menyadarkan dia kenapa mahluk dimensi ke-10 ditakuti oleh manusia. Bahkan oleh model penuh modifikasi macam yang satu ini." ucapnya lembut sambil menggelengkan kepalanya, menjawab permintaan Rayna.


"Kau, kecoak tak berguna, yang hanya tahu merengek dan mengeluh, sama sekali tak berhak mengataiku." ucapnya pada Kay yang masih berusaha untuk tetap berdiri di tempatnya semula dengan nyaris sia-sia. Deraan gelombang kekuatan yang muncul dari Arborite terus menggerus Kay tanpa henti.


"Kau diberi semua ini oleh Sang Pencipta, dan hanya tahu menikmati semua hasil tanpa tahu bagaimana mengusahakannya ada. Sama sekali tak memiliki kapasitas untuk mengatur bagaimana aku harus ada." ucapnya lagi sambil menjentikkan jari ke arah Kay, yang seakan menciptakan pisau tajam dari ketiadaan, menciptakan luka yang tiba-tiba saja terbuka dan memercikkan darah Kay ke ruangan dan lantai.


"Arborite, please. Sudah, maafkan Kay, dia cuma..."

__ADS_1


"Diam, Wanita!" sergah Arborite keras, memotong permohonan panik Rayna yang makin ketakutan melihat badan Kay yang terluka oleh konsentrasi kekuatan Arborite.


Sial, aku lupa semengerikan apa setan tua ini sebenarnya...


Hantaman demi hantaman kekuatan mulai menarik Kay dari kegilaan amarah tak masuk akal yang merasuki pikirannya. Melihat sosok Arborite yang murka sedikit mengingatkan awal waktu mereka bertemu. Saat itu, setan tua itu juga seperti ini, mengerikan tak tergambarkan...


"Aku bukan pembantumu, Nak. Bukan pengawal atau mentormu. Tugasku hanya meneruskan pengetahuan sejauh yang diijinkan untuk kulakukan. Dan kau bilang aku menyeret kalian berdua dalam hal ini? KALIAN??!" dalam kemurkaannya, Arborite melambaikan tangannya ke arah Kay dengan ringan, mengirimkan hawa kekuatan yang tak terbendung dan melemparkan Kay yang sudah bertahan dengan susah payah ke dinding ketika teriakan penuh amarah itu bergemuruh dalam benak Kay.


"Kau-lah yang mengacaukan semuanya dan menyeret jiwa yang seharusnya sudah beristirahat di sisi-Nya dan menjalani hidup konyol ini denganmu! Kau, yang tak pernah mau bertanya atau bahkan berniat mempelajari apapun dengan otak dan bakat yang diberikan Tuhan padamu! Kau, yang tanpa pertimbangan matang, melakukan apapun yang kau mau sesukamu! Dan kau menyalahkan aku?!!" geram Arborite dengan berbahaya. Mata hitam pekat itu terpaku pada Kay yang menempel di dinding tanpa bisa bergerak, ditekan oleh kekuatan maha dahsyat yang seakan bertujuan untuk menggencetnya sampai mati, sementara udara berderak dalam balutan nuansa kegelapan yang mengerikan.


"Abo, please... pleasee, sudah... Abo..."


"JANGAN PANGGIL AKU DENGAN NAMA ITU!!!"


"Abo, pleasse. Hancurkan saja jiwaku, Bo. Please, sudah... Maafkan Kay..." ratap Rayna terus menerus. Gadis itu bahkan tak lagi memperdulikan dirinya sendiri. Waktu yang ia lewati bersama keluarga baru ini menyenangkan, dan ia tak mau itu hilang lagi. Melihat Kay yang tergencet tanpa bisa bergerak sementara darah bahkan mulai mengalir dari hidung dan mulutnya, menakutkan gadis itu lebih dari apapun.


Bahkan jika keberadaan masih tetap ada, apa gunanya jika tak ada mereka?


Melihat Rayna yang terus berusaha mendekatinya meski sorot penuh rasa takut memancar di balik mata yang mirip pesona bintang pagi, yang juga dipenuhi oleh uraian air mata yang membasahi wajahnya yang cantik, dan beragam kalimat ratapan yang mulai tersamar oleh isak dan tangis panik itu, Arborite menghela nafas panjang.


Ah, ternyata aku masih belum belajar apapun. Ada benarnya juga omongan bocah itu, percuma waktu yang sudah kuhabiskan di bumi ini. Aku masih saja tergoda untuk melakukan kesalahan serupa tanpa henti. Rupanya Kau masih tetap yang terhebat, Tuhan, desah Arborite dalam batin ketika penyesalan berkembang dalam hatinya, membuat udara tiba-tiba saja kehilangan tekanan yang ia miliki sebelumnya.


Tanpa tekanan yang mendukungnya, Kay segera terjatuh ke lantai. Kesadarannya berkelip sebelum pemuda itu jatuh ke dalam ketidaksadaran. Kay tak lagi menyadari bagaimana Rayna terus berusaha mengguncang badannya untuk membuat dirinya sadar, atau jeritan-jeritan histeris yang gadis itu keluarkan ketika menyadari, apapun yang ia lakukan, Kay tak bangun-bangun. Bagaimana gadis itu dengan panik, berusaha membuat Arborite "bertanggung-jawab" atas apa yang terjadi pada Kay, atau bagaimana tangis penuh rasa lega muncul dari gadis itu ketika akhirnya Arborite memberitahunya kalau Kay hanya pingsan.


Kay sudah tak mengerti ini semua...


Pemuda itu sudah berada di sebuah padang rumput yang indah, membentang sejauh mata memandang. Semilir angin lembut membelai tubuh, membawa aroma manis tumbuhan dan segar air. Kay sudah tak lagi menyadari keberadaan tubuhnya, meski rasa berat dalam hatinya berkembang makin kuat. Kesedihan akan perlakuan yang ia tunjukkan pada Arborite mengancam untuk menguasai dan menghancurkan dirinya.


Di padang rumput yang indah itu, kesekian kalinya ia berada disini, kembali Kay terjatuh dalam kesedihan yang mengancam kewarasan pikirannya ketika perasaan yang menyesak di dalam dada ia lepaskan dalam jeritan pedih dan ratap penuh rasa sakit...

__ADS_1


__ADS_2