
Tak banyak insiden terjadi, meski mungkin ada diantara para pengunjung kolam renang mewah yang memiliki pemandangan langsung ke laut itu sedikit bertanya, tentang bagaimana seorang gadis kecil yang tak henti tertawa, mengambang di air dan bergerak dengan cara melawan semua teknik berenang yang ada di bumi, semuanya terbilang baik-baik saja.
Topan, yang rupanya menyadari kalau bala bantuannya muncul, segera turun dan bergabung, yang memberikan waktu untuk Kay untuk kembali ke hotel dan merapikan diri. Dan ketika nyaris seluruh pengunjung terdiam dalam penantian, ketika sang raja langit menuju peraduan dan mulai disambut oleh cakrawala dalam haribaan beragam warna penuh pesona, sekawan bar-bar yang kini bertambah anggota seorang pemuda dan gadis kecil itu berderet di pagar area helipad, turut larut dalam simponi warna gubahan sang Pencipta.
Entah, meski hanya sesederhana matahari tenggelam, seakan semua orang yang hadir setuju, moment ini layak penghormatan. Hanya ketika lembayung itu menggelap, barulah seakan dunia kembali mendapatkan kehidupan dengan beragam celotehan wisatawan, yang mulai beranjak dan meninggalkan pantai yang mulai kembali menggelora dalam angin sore itu.
......................
Genggaman tangannya kuat. Meski nada tegas yang muncul darinya kuat, tapi suaranya menyembunyikan kelembutan. Sama seperti mata tenang, yang seakan menyimpan seluruh rahasia dunia di dalamnya itu. Wajah dengan garis yang kuat, namun terbingkai oleh rambut lurus sebahu yang tampak seperti rambut cewek, membuat Kay sedikit bingung, bagaimana menggambarkan pria berbadan tegap itu.
"Kay, harusnya cowok tu begini. Sopan, baik, tutur kata halus, tapi bisa diandalkan. Coba kau lihat lengan dan bahunya itu, seakan bisa menahan beban dunia saja layaknya."
"Brisik, Ray!"
"Ih, serius kok. Cowok nih harusnya begini. Uh, idaman banget kalau yang begini. Tuh, Andin aja langsung nempel aja."
Kay cuma menggerutu. Sosok tegap dengan baju coverall merah yang robek di bahu kanannya itu memang tak kurang mempesona. Meski sekuat tenaga ia mencari celah, tak mampu ia melawan perkataan Rayna sedikitpun. Cowok berambut gondrong, yang saat ini tengah tertawa-tawa sambil menggandeng tangan Andini dalam perjalanan mereka menuju warung makan yang terletak di ujung parkiran itu memang hampir bisa dibilang sempurna. Meski Andini juga bukanlah sosok yang sulit bergaul, tapi gadis cilik itu bukan pula orang yang mengijinkan siapapun menggandengnya seperti itu. Naluri dasarnya mengajarkan kewaspadaan tinggi terhadap siapapun karena pengalaman masa kecilnya, tapi tampaknya itu tak berfungsi untuk pemuda itu, Bang Pangky. Hanya butuh sekitar 30 menit untuk membuatnya mempercayai pemuda itu dengan hatinya. Meski enggan, Kay sedikit merasa iri akan hal itu.
"Habis otakmu percuma kalau memikirkan orang itu, Kay."
Kay menoleh dan terkekeh pelan. Sorot mata penuh pemujaan juga ia temukan di mata pemuda berhati keras yang liar itu. Tampaknya Topan pun tak kebal dengan pesonanya sama sekali.
"Kau tak akan menemukan model orang kayak dia dimanapun, Kay. Limited edition dia itu." lanjutnya sambil terkekeh.
"Owh, tampaknya sudah ada yang jatuh cinta nih. Ray, lu ada saingan nih."
"Asu." sembur Topan di tengah gelak tawa yang lepas berderai.
"Ayo, aku udah bikin kopi. Sambil nunggu Bang Pangky, kita ngobrol disana aja." lanjutnya lagi sambil menunjuk ke teras helipad.
Kay hanya mengangkat bahu dan mengikuti Topan menuju tempat itu. Dan tampaknya memang dari semua tempat, lokasi yang dipilih Topan memang memiliki pemandangan terbaik ke berbagai sudut lokasi.
Menampakkan sudut utama piramid dalam tampilan segitiga sempurna, sementara di bawahnya, kolam bertingkat ke bawah, dengan sisi laut di arah sebaliknya. Dan ketika cangkir plastik berisi kopi kental yang masih mengepul itu tersaji, semuanya benar-benar terasa sempurna.
"Sejujurnya, aku bingung mesti bicara apa saat ini. Andai saja kau tahu, Kay, sebelumnya, sebelum aku bertemu denganmu, aku merasa dunia ini tidak adil. Tuhan tidak adil. Segala hal bejat dan tak bermoral meraja lela, sementara hati manusia penuh berisi kebusukan dan hal-hal menjijikkan. Lalu aku bertemu denganmu..." ujarnya sambil kemudian ia mengambil sebatang rokok dan menyalakannya, namun Kay hanya terdiam dan menunggu pemuda itu melanjutkan tanpa menanggapi apapun.
__ADS_1
"Hal yang kau alami, dan peninggalan busuk di ruang bawah tanah rumahmu, malah membuatku makin yakin. Manusia itu busuk. Pantas kalau kita diusir dari taman Tuhan."
Mendengar nada keras dalam suara Topan, Kay tetap bergeming. Ia cuma menyeruput kopinya pelan, dan menyalakan rokok.
"Dan ketika awal.aku disini, aku ketemu beberapa praktisi ilmu hitam, nyaris kehilangan nyawa, dan makin yakin kalau manusia itu benar-benar busuk! Tapi entah kenapa, seiring waktu, aku tak lagi merasa begitu..." lanjutnya lagi.
"Tampaknya, hidupmu penuh pengalaman baru, Bro." kekeh Kay pelan sambil menghembuskan asap dari dadanya kuat-kuat.
"Kau percaya kalau ternyata, ada entitas astral yang tak bisa kulihat, Kay?"
"Eit, entitas astral? Kau tidak kesurupan kan Pan?" sahut Kay sambil melebarkan matanya takjub, sementara tangannya reflek memegang jidat Topan, yang segera ditepis dengan cepat.
"Ih, apaan sih. Iya, entitas astral. Puas lu?!!"
Kay terkikik. Topan selalu penuh cibiran dan ejekan ketika sampai pada istilah ini. Menurutnya, setan ya setan aja, ngapain mesti diperhalus juga bahasanya.
"Yah, dunia Tuhan selalu memiliki beragam hal yang tak masuk ke akal kita, Bro. Bukannya ketika Ray atau Abo sedang tak ingin muncul, kaupun tak bisa melihat mereka kan Pan?"
"Aaaaahhh, iya juga ya?" sahut Topan ketika mendengar analogi ini sambil memukul jidatnya. "Aku sama sekali tak berpikir kesana sama sekali..."
"Bang Pangky itu sakti ternyata. Dia punya kemampuan hampir seperti yang kamu kuasai. Hanya saja, ketika kamu macam gadis kecil yang malu-malu, dia itu macam pendekar tua yang udah melalang buana tahunan di dunia persilatan aja layaknya. Ketemu praktisi ilmu hitam yang suka sembarangan ninggal badan, yang dia sebut sebagai penjual organ tubuh itu aja, nyantai banget!"
Dan rupanya, pemuda itu sudah benar-benar tak mampu menahan untuk menceritakan segala hal yang ia alami selama berada di tempat ini. Dari mulut Topan, mengalirlah beragam kisah tentang sosok yang mulai ia kagumi dengan hati itu, sementara Kay, bahkan Rayna, tak berkesempatan sedikitpun untuk berbicara.
"Dan ternyata, justru karena dialah, aku sekarang bisa menerima kalau memang pada dasarnya manusia itu mempunyai pilihan, menjadi baik atau buruk, meski sayangnya, aku sering ketemu yang busuk." ujarnya sambil terkekeh.
"Ehm, terus?"
"Dan juga, menurut dia, barang yang kita cari itu bukan barang yang terkontaminasi kekuatan jahat, Kay, tapi memang sengaja dibuat..."
???!
Pernyataan Topan ini terdengar bagai halilintar. Meledak dan mengguncangkan dasar pemikiran Kay kuat-kuat.
*Sengaja dibuat?
__ADS_1
Lha, bukannya kalau seperti itu, semua hal yang terjadi beserta semua kemungkinan-kemungkinan dan banyaknya nyawa yang hilang itu disengaja*?
"Jangan main-main, Pan. Apa maksudnya itu sengaja dibuat?" sergah Kay sambil berusaha menenangkan pikiran yang mulai menggelora dalam kepalanya.
Jika memang benar adanya seperti itu, dosa sebesar apa yang ditanggung oleh garis keluargaku, desah batin Kay kelu.
Tapi sayangnya Topan tak memperhatikan suara Kay yang sedikit bergetar dalam kekalutan itu. Ia terlalu bersemangat untuk membagikan pengetahuan baru yang ia dapatkan dari Pangky.
"Iya, Kay. Bang Pangky bilang kalau ia bahkan bisa mempertemukan kita dengan penghuni cincin mutiara itu! Menurut dia..."
"Pan, tolong berhenti bicara sebentar... Kay, are you okey?"
Dering komunikasi mental dari Rayna yang menyadarkan Topan dan menghentikan ocehannya. Perlahan, riak muncul di udara ketika sosok cantik Rayna menembus batas dan mewujud. Perlahan, Rayna duduk dan memeluk Kay yang nampak kehilangan diri dalam pikirannya sendiri, sementara badannya mulai gemetar tanpa kendali.
"Kay, come back to me, dear... Kay, dengarkan suaraku... Meski mungkin begitu, tapi kamu bisa mengakhiri semua ini. Kay, listen to my voice.. Come back to me, dear, Kay..."
Bisikan lembut Rayna terus berdering tanpa henti, mencoba untuk menarik kesadaran Kay dari jurang kegilaan akibat rasa salah diri yang akhir-akhir ini, kerap muncul dan membuat pemuda itu lepas kendali.
Tak hanya sekali Arborite harus menekan kesadaran pemuda itu ketika kondisi perasaan pemuda itu memburuk dengan cepat, dan merubahnya menjadi sosok berselimut api jiwa yang mengerikan, dan sayangnya, saat ini tidak ada Arborite. Pertengkaran mereka yang terakhir telah membuat hantu tua itu marah dan enggan muncul hingga detik ini sekalipun.
"I'm sorry Ray... I'm okey now." desah Kay pelan. Suaranya terdengar tua dan lelah, lemah oleh deraan rasa bersalah yang menggayuti pikirannya.
"Aku disini, Kay. Juga Topan dan Andini. Kamu nggak sendirian. Abo tua jelek itu juga, meski nggak bisa dibilang dia ada disini sekarang, tapi, ah, kau tahu maksudku."
Mendengar ini, mau tak mau, Kay tertawa lemah. Kesalahannya juga yang membuat Arborite marah beberapa waktu lalu, dan bahkan ia nyaris melakukan hal yang mengerikan pada saat itu. Bekas luka torehan di kedua lengannya itu akan selalu ia jadikan pengingat akan ketololan yang bisa saja merengut Rayna untuk selamanya.
"Maafkan aku, Ray..."
Hantu cantik itu hanya mempererat pelukannya tanpa menjawab apapun, meninggalkan Topan yang tampaknya juga bingung mesti berbuat apa. Kesepian yang meraja di tengah desir angin yang tak henti berhembus, membawa dingin dan riuh debur ombak yang tak henti menyapa karang tak terpecah. Hanya ketika detak langkah dan canda ceria Andini yang tampaknya tak terfilter dengan kakak barunya itu terdengar, kegelapan yang suram dan mengikat mereka tampaknya sedikit terangkat.
Kay tak mampu mengangkat kepalanya. Sekuat tenaga, ia berusaha menjadikan tangan dingin Rayna yang memeluknya erat sebagai pelampung bagi kesadarannya yang terus digoncang oleh rasa bersalah. Pemuda itu terus berusaha menjaga kewarasannya dalam dering komunikasi mental dari suara lembut gadis itu, yang tak henti terucap, bagai litani yang terus menghangatkan pikirannya yang terancam untuk terjerumus dalam jurang kegilaan.
*Kakek, haruskah aku mengutukmu?
Atau haruskah aku memintakan ampunan untukmu pada Tuhan?
__ADS_1
Duh, Gusti, aku mesti gimana*??!