Kisah Perjalanan

Kisah Perjalanan
I'll Keep dancing on my own


__ADS_3

Topan menghela nafas berat. Kondisi keuangannya sudah terlalu mengkhawatirkan. Perjalanannya ke gunung yang membuahkan insiden kecil dengan roh hantu pendaki kasmaran beberapa waktu sebelumnya benar-benar nyaris menghabiskan isi rekeningnya. Rombongan gadis 'mantan' pacar si hantu nekat dan bersikukuh untuk mengajak Topan ke kota mereka untuk berziarah ke makam Reva. Mereka memang membayar nyaris semua pengeluarannya selama waktu itu, tapi jelas tak ada kemungkinan bagi mereka untuk memberikan ongkos pulang untuk Topan, dan ia masih belum jadi sedemikian tak tahu malu untuk memintanya. Jadi sekarang, bisa dibilang ia lumayan bangkrut...


'Huft, nampaknya harus mulai cari kerja lagi ini...'


Sudah beberapa lama pemuda itu bertahan dengan cara seperti ini. Berpindah dari satu kota ke kota lainnya, mencari dan mengunjungi berbagai tempat yang menurut orang layak dikunjungi. Dengan karakternya yang tak kenal malu dan pantang menyerah, Topan belajar berbagai macam hal dari setiap pekerjaan yang ia dapatkan, dimanapun ia berada. Meski ia belum mampu melanjutkan pendidikan formal dan menjadi sarjana seperti keinginan ibu, tapi paling tidak ia tak berhenti belajar.


Langkahnya terhenti di sebuah bangunan berarsitektur modern yang sekilas memberikan gambaran akan usaha jenis apa yang dilakukan di tempat itu. Topan sama sekali tak perduli, ia hanya memperhatikan tanda bertuliskan "open vacancy" yang terpasang pada salah satu jendelanya, dan ia segera melangkah masuk.


'Kerja apa juga, yang penting dapet duit deh...' batinnya senang.


...----------------...


Seiring malam yang semakin larut, klub malam itu semakin ramai, sementara sosok atletis berambut panjang yang biasanya berantakan itu nampak sedemikian sibuk dengan berbagai pekerjaan di belakang counter bar yang sedemikian ramai dengan para penikmat malam, lengkap dengan baju yang rapi dan rambut yang terikat.


"Rook, potong lemon-nya agak lebih tipis..."


"Rook, ambil yang old fashion. No 17 minta dry on the rock!"


"Rock, slice aja kulitnya memutar..."


Seiring denyut music yang mengiringi pengunjung yang coba menikmati malam dalam balutan musik, bisikan perintah tegas bartender terus bergema dengan berbagai istilah yang baru ia pelajari sesiangan dan sekuat tenaga, Topan berusaha keras untuk mengingat semua yang ia pelajari dengan penuh semangat. Menurut owner sekaligus bartender utama klub ini, tugas Topan di saat klub buka adalah seorang Bush Boy, yang tugas utamanya memastikan setiap kebutuhan area belakang counter bar terpenuhi, dan ternyata tugasnya lumayan menyenangkan. Terlalu banyak hal yang bisa ia pelajari di tempat ini, dan Topan sangat suka belajar.


"Jadi Bartender bukan berarti hanya menjadi tukang bikin minuman keras, Rook, tapi lebih pada bagaimana menyajikan dan memastikan seni minum minuman keras yang berkelas. Dan tentunya, memastikan semua yang datang padamu, bisa menikmati apa yang ingin mereka nikmati tanpa mendapatkan terlalu banyak masalah setelah mereka sadar. Dan yang pasti, punya telinga yang terbuka lebar dan mulut yang terbuka dengan aturan ketat. Ingat Rook, tak ada orang yang suka rahasia mereka terbongkar, apalagi ketika mereka dalam kondisi yang tak sadar karena minuman keras..." ujar Pak Budi tadi siang ketika akhirnya ia merasa puas dengan calon pekerja baru yang datang entah darimana ini.

__ADS_1


"Tempat ini lebih seperti oasis pribadi bagi beberapa orang, dan memang tidak terlalu terbuka untuk semua orang. Jadi, apapun yang kau dengar, akan lebih baik jika kau simpan untuk dirimu sendiri." tambahnya ketika Topan menganggukkan kepalanya.


"Dan aku tak pernah menahan ilmu dan ketrampilan yang aku bisa, Rook. Seberapa banyak kau belajar, kau dipersilahkan. And when u are ready, feel free to learn and try to make one. So, ada yang mau kamu tanyakan mungkin?"


"Anu, ehm, saya kurang bisa bahasa Inggris, Pak. Apa nggak papa?"


Dan Pak Budi tertawa terbahak-bahak setelah melewati periode panjang dengan mulut terbuka. Panjang lebar ia menjelaskan berbagai hal pada pemuda gondrong kumal ini dan pertanyaannya hanyalah apakah akan jadi masalah jika ia tak bisa bahas Inggris?


"Mandi, Pan. Habis itu temui saya di ruang Klub. Saya akan jadi gurumu kalau kau mau belajar dengan serius." ucapnya setelah tawanya terkuras habis dan meninggalkan pemuda yang dianggapnya menarik itu.


Dan segera, Topan mendapat mendapatkan julukan baru. Rook, nama yang disematkan dengan semena-mena oleh Pak Budi, kependekan dari Rooky, atau anak baru. Pak Budi dulunya adalah seorang Captain Bar di salah satu kapal pesiar ternama di jalur laut Karibia, yang entah karena apa, akhirnya memutuskan berhenti dan mendirikan klub malam kecil ini. Tapi berkat kemampuannya, pengunjung tempat ini nampaknya sama sekali tidak sedikit, meski memang seperti yang ia bilang, kebanyakan dari pengunjung tempat ini adalah wajah-wajah akrab yang akan mudah untuk diingat setelah satu atau dua minggu saja.


Dan sejauh ini, meski bahkan malam habis berlalu, Topan benar-benar menikmati kegiatan barunya. Seiring dengan berlalunya waktu, ketika gelas semakin banyak beredar dan alcohol mengalir melalui berbagai tenggorokan, Topan tenggelam di dunia baru..


...----------------...


'Kau mau aku bicara apa? Apa kamu lupa kalau mulutku suka menyalak dengan berbagai kata sesuka hati, Ray?'


'Tapi apa kamu nggak kasihan dengan Kay, Bo? He seem need someone to talk to right now...'


'Ada kalanya, Lelaki harus menanggung semua sendiri, Ray, dan kupikir, ini adalah salah satu waktu itu. Kay emang harus menghadapi semua ini sendirian*...'


Hantu cantik yang lembut hati itu cuma bisa menghela nafas berat. Ia tak tahu apa yang terjadi ketika Kay memasuki rumah kecil itu, namun dari fluktuasi energi kuat yang muncul, ia tahu kalau Kay telah berurusan dengan arwah kedua orang tuanya. Meski setelah itu, pemuda yang dimaksud keluar dari rumah dengan wajah kuyu dan hampa. Dan sudah hampir lebih dari setengah hari ia lalui dengan menatap hampa ke kejauhan sambil berulang kali menghela nafas berat.

__ADS_1


'*Dan Ray, namaku Arborite, bukan 'Bo' seperti yang selalu kau teriakkan dari mulut kecilmu itu!'


"Bodo!*"


...****************...


Perjalanan hidup manusia berat, Kay sadar hal itu. Banyak hal yang tak bisa diungkap dan terkadang, bahkan pada orang terdekatmu sendiri. Kay benar-benar paham akan konsep seperti ini. Namun untuk saat ini, Kay benar-benar merasa kehilangan semua hal yang ia pernah ketahui sebelumnya. Gelombang pengetahuan dan ingatan yang tertinggal dari arwah kedua orangtuanya membawa berbagai beban yang seakan bahkan tak tertanggungkan dan sedikit banyak merubah serta mencemari kenangan Kay terhadap mereka berdua. Ia bisa mengerti ketika hal itu berkenaan dengan ibu. Semua pengertian wanita lembut hati itu terhadap 'kutukan' yang dimiliki Kay dan semua kalimat penguatan dan dukungan mental untuk merangkul bakatnya.


Tapi ayah???


Dia yang terus berusaha membuat Kay menekan dan menyangkal seluruh hal yang ia lihat dan dengar, mencoba menggantinya dengan berbagai pendekatan dari ilmu pengetahuan yang terukur dan terbuktikan dengan angka dan eksperimen?!


Sosok yang terus membuat Kay merasa kalau ia tak normal, bahkan gila, hingga mencoba untuk mencari berbagai macam cara untuk menjelaskan dirinya sendiri???


Sialan!


Malam makin menua ketika Kay terus merutuk dan bertengkar dengan dirinya, terus mencoba mencari pendamaian diri atas apa yang ia ketahui hari ini, tanpa menghiraukan sosok-sosok transparan yang nampaknya juga tengah berdebat diantara mereka sendiri. Pandangannya jauh melampaui segala sesuatu ketika pikiran dan hatinya terus memutar berbagai ingatan dan kenangan...


...----------------...


Sebuah bangunan dari kayu yang seakan tersembunyi dari pemukiman lain, seakan muncul entah dari mana ketika gadis kecil itu berbelok dari jalan ber cor semen yang ia lewati sebelumnya dan mulai memasuki jalan setapak kecil yang nyaris tersembunyi oleh semak belukar. Rambutnya yang berkepang mengepak bagai sayap burung ketika ia tahu kalau ia sudah dekat dengan tempat tujuannya. Tanpa terganggu oleh kegelapan malam yang nyaris pekat karena tak ada lampu jalan yang bisa mengirim sedikit cahaya ke tempat itu, sedikit senyum muncul dari bibirnya ketika tangannya meraih pagar bambu yang nyaris tumbang di depan pondok itu.


"Nenek, Ade pulang..." ujarnya sambil membalikkan badan dan menutup pintu pagar bambu ketika tanpa ia ketahui, pintu pondok di belakangnya terbuka, menampakkan kegelapan pekat yang suram tanpa seseorangpun terlihat membuka pintu itu.

__ADS_1


Namun senyum di wajah gadis itu mengembang semakin lebar ketika ia berbalik, seakan menemukan seseorang yang ia sayangi tengah menunggunya di depan pintu ketika langkahnya semakin cepat menuju kegelapan yang menunggu dalam pondok dan memasukinya.


Perlahan pintu itu kembali menutup rapat, seakan menyegel semua. Meninggalkan ratapan serangga malam yang lirih dan desau tangisan angin yang tak berhenti mengalir.


__ADS_2