
Kitab itu sangat sederhana, jika tak boleh dibilang bulukan atau setengah hancur. Mungkin hanya terdiri dari sekitar 10 lembaran daun nipah yang disatukan dengan jalinan benang hitam yang memiliki tekstur yang sangat lembut, dan tergeletak begitu saja di atas sebuah meja sederhana dengan sebuah alat penerangan yang hanya sedikit lebih modern dari obor di sebelahnya. Isi pondok ini bersih, meski tak memiliki perabotan macam-macam. Hanya sebuah meja kayu dan kursi reyot yang diletakkan tepat di tengah ruangan dan sebuah dipan dari bilah-bilah bambu yang usianya mungkin tak terpaut jauh dengan pondok ini sendiri. Penasaran, kudekati kitab dari daun lontar itu dan mencoba mencari tahu apapun yang diributkan Arborite dalam gerutuannya.
"*Lamun sira jalma manungsa, tan kena lali marang dangka nira. Ora wutuh tanpa ngerti pecah, ora apik tanpa weruh ala. Eling marang liyan tanpa lali awak kudu bali..."
(Kamu wahai manusia, tak boleh lupa akan asal mula-mu. Tak utuh tanpa tahu pecah, tidak bagus tanpa mengerti jelek. Ingat akan sesama tanpa lupa diri harus kembali*...)
Sebaris tulisan dalam bahasa Kawi Kuno tertera jelas di halaman terdepan lontar itu. Meski tak pernah sekalipun belajar atau bahkan melihat bagaimana bentuk dan cara membaca huruf dalam kalimat itu, entah kenapa aku tahu semua yang tertulis disana. Dan bahkan tanpa sadar, aku sudah tenggelam dalam berbagai pengajaran yang tertera di kitab itu.
Sedikit demi sedikit, pikiranku terbuka. Lembaran daun lontar berjilid yang sebenarnya tak layak disebut kitab karena tipisnya itu menjelaskan sedemikian banyak hal yang sebelumnya hanya bagai sebuah dongeng pengantar tidur atau hanya layak menempati malam disamping api unggun bersama dengan berbagai cerita roh dan hantu gentayangan.
Perlahan, aku mulai belajar mengenai hal itu. Bagaimana akhirnya aku belajar untuk mengendalikan kekuatan yang tertidur di dalam diri dan terbangkitkan oleh kalimat kunci yang dibakarkan ke kulitku oleh Arborite dengan kekuatannya sendiri, kutukannya. Dan semakin lama mempelajari berbagai hal yang tertulis di kitab itu, membuatku semakin merasa kasihan pada Arborite.
Bagaimana ia harus terkatung-katung di antara dua dunia sampai waktu yang diberikan selesai hingga akhirnya ia bisa pulang kepada Sang Pencipta. Tak terikat waktu dan dimensi namun juga tanpa kemampuan untuk menikmati ataupun merasakan apapun yang berasal dari masing-masing dunia, dimana ia memang bukan merupakan bagian dari keduanya. Dan untuk rasa sakit yang harus ia rasakan ketika menembus selubung tipis yang diciptakan oleh-Nya untuk memisahkan mahluk ciptaan-Nya yang terbuat dari api dari dunia manusia, yang harus dilakukannya sebagai konsekuensi dari semua kesalahan semasa hidupnya.
Sungguh jika mampu memilih, aku yakin ia bahkan takkan pernah berpikir untuk menjalani hal semacam ini. Namun sebagaimana nasi tidak pernah mendahului beras, penyesalan selalu akan datang setelah semuanya terlambat. Pikiranku melayang jauh bersama darasan mantera yang kupelajari dalam meditasi yang semakin dalam ketika di luar pondok, kekuatan alam mulai bergejolak dalam diam.
Aku mulai kehilangan jejak waktu ketika mantera membawaku makin jauh dalam meditasi. Setiap indra yang kumiliki tertutup sekaligus menguat tanpa bisa kumengerti. Lirih desau angin menyapa telinga ketika sebagian dari diri mengerti hal itu tak mungkin terjadi mengingat di luar pondok, angin sudah menggila bersama hujan badai dengan petir dan guntur yang menulikan siapapun. Atau padang luas tempatku berdiri saat ini, tempat dengan keluasan luar biasa tanpa ada bangunan yang menghalangi pandangan sementara aku tahu pasti jika aku masih bersila di dalam sebuah pondok reyot.
Tapi mulutku tak berhenti mendaraskan mantra tanpa berusaha melawan apapun yang muncul hingga akhirnya, nampak sosok-sosok yang muncul dari kejauhan dan nampaknya mereka berjalan ke arahku dari 4 penjuru.
"Salam, Kay. Akhirnya kau datang dan mau menemui kami"
__ADS_1
"Maaf, apakah aku mengenalmu?"
Sosok yang ternyata memiliki kemiripan luar biasa denganku itu tersenyum. Bisa kulihat kalau ia adalah aku, atau iyakah demikian?
"Kami adalah engkau, sebagaimana kau adalah perwujudan dan gabungan dari kami.. Kami adalah 4 nafsu besar yang kau miliki sebagai Pancer di dunia manusia. Kami bertempat di 4 sisi mata anginmu dan akan selalu mendampingimu jika kau berniat merengkuh hak lahirmu..."
"Aku hanya ingin bisa menenangkan Ayah dan Ibu..." jawabku pelan.
Salah satu sosok itu tersenyum ketika melihat seberkas air mata meleleh dari mataku.
"Kami juga merasakan sakitmu, Kay. Pada waktunya kau akan belajar dan mengenal kami. Ketika kau mengenal nama kami, seluruh kekuatan kami akan jadi milikmu. Dan kau tak membohongi siapapun dengan perkataanmu barusan, Kay..."
Tangisku meledak dalam isak ketika menyadari itu semua. Bagaimana ada sedemikian banyak jiwa-jiwa tersesat yang tak mampu kembali pada Sang Pencipta dan aku tak melakukan apapun ketika aku bisa membantu mereka.
"Mutmainah mungkin penuh kasih dan dengan mudah memberikan namanya, Kay, tapi tidak denganku."
Nada suara yang kukenali sebagai suaraku itu terdengar dalam geraman. Wajahku yang memandang balik itu terkesan gelap dan garang.
"Ketika kemarahan dan angkara meracuni jiwamu dan kekuatanmu tak cukup, Selatan adalah rumahku. Panggil namaku dan kekuatanku akan menjadi milikmu, namun takkan kuberikan itu dengan cuma-cuma, Bocah."
Entah apa aku pernah menampakkan wajah seperti wajahku yang garang itu, namun seringai yang muncul di bibirnya sebelum ia mengabur dan menghilang tadi sungguh sangat akrab dalam ingatanku, mimik yang biasa muncul di wajahku ketika aku memandang rendah terhadap seseorang atau sesuatu.
__ADS_1
"Amarah memang selalu dramatis ya, Kay?"
"Apakah kau juga akan memberikan kekuatanmu padaku?"
Namun menjawab pertanyaanku, kedua sosok yang tersisa ini hanya tersenyum dan perlahan mengabur dalam ketiadaan dengan meninggalkan bisikan yang nyaris tak terdengar
"One at a time... Until we meet again, Kay..."
Dan keluasan padang itu mulai menggelap dan perlahan, angin badai yang mulai kehilangan tenaganya di luar pondok mulai memasuki pendengaranku dengan intensitas luar biasa.
"Badanmu masih badan manusia yang butuh istirahat, Tolol."
Celingukan, kucari suara masam yang beberapa waktu sudah mulai terlupakan itu.
"Kubawakan sesuatu untuk kau makan. Istirahatlah. Tak ada gunanya kau bertemu 4 saudaramu dalam satu sesi meditasi jika kau harus mati dalam prosesnya." ujarnya lagi.
"Kukira kau sudah malas bertemu denganku, Arborite?"
"Jangan banyak omong! Makan dan istirahatlah." sahut sosok mahluk astral itu masam.
Sekuat tenaga, kusembunyikan senyum yang muncul. Lebih baik diam dan makan saja. Aku lebih memilih dia masam daripada harus melihatnya merajuk seperti waktu sebelumnya.
__ADS_1
"Usahakan pelan-pelan. Kau sudah melewatkan 5 hari dalam meditasimu." ujarnya lagi.
Pikiranku terhenyak bagai terhantam kereta berkecapatan tinggi ketika spektrum cahaya mulai beriak dalam gelombang pintu dimensi. Arborite melangkah kembali dalam dimensi ketiadaan, meninggalkan aku bersama kecamuk pikiran yang tak berkesudahan