Kisah Perjalanan

Kisah Perjalanan
Lamunan Berandal di Ujung Trotoar


__ADS_3

Seperti biasanya, mendung masih berkuasa. Mengirim lapisan demi selimut tipis gerimis meski tak mampu sepenuhnya mendinginkan udara panas pulau pusat pariwisata ini. Mencoba sekuat tenaga untuk membuat jalan raya antar propinsi yang membelah Badung Selatan itu agak sepi dari para penikmat wisata meski tanpa hasil. Jalan itu tetap saja hiruk pikuk dengan beragam kendaraan yang terus berlalu-lalang, memuat beragam ras dan suku bangsa manusia dengan berbagai tujuan, meski rata-rata, memiliki wajah penuh senyum dan semangat antisipasi akan petualangan dan relaksasi wisata. Jauh berbeda dengan sosok pemuda yang duduk di salah satu sudut trotoar, yang terlindung dari gerimis karena naungan atap minimarket tempat ia keluar sebelumnya. Wajahnya yang penuh dengan pesona jantan seorang pria muda tampak penuh dengan entah apa dalam pikirannya. Dahinya terus berkerut, hingga alisnya yang tebal seakan bergabung menjadi satu garis lurus.


Terisolasi dari dunia, pemuda itu hanya duduk disana tanpa memperhatikan apapun. Tidak pada hiruk pikuk para wisatawan, tidak pada hujan, bahkan tidak pada abu rokok yang jatuh di pahanya. Pikirannya terus memutar beragam hal yang terjadi padanya sejak ia menginjakkan kaki di pulau dewata ini. Pada benda kutukan yang harus ia temukan keberadaannya, tentang arwah gadis ber-scarf merah jambu, tentang Pangky dan kawanan bar-barnya, dan khususnya, pada kejadian yang terjadi semalam.


Topan menghela nafas berat ketika ia merasa dadanya seakan diikat erat-erat. Ia merasa terlalu banyak hal baru yang ia alami, dan beberapa kejadian akhir-akhir ini, bahkan membahayakan nyawa lebih dari berbagai ekspedisi kegiatan ekstrim yang pernah ia jalani.


......................


Tak perlu diceritakan lagi, mesin motor langsung menyala tanpa gangguan. Diiringi oleh Pangky, Topan mengambil gambar Andini dan kembali ke Piramid, meski hatinya masih terasa tak karuan. Hanya saja kali ini, Topan menghentikan langkah Pangky yang bergegas hendak bergabung dengan yang lain ketika mereka sampai kembali ke Piramid. Ada terlalu banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada pemuda itu, dan ia tak ingin mendengar bully-an yang pasti datang dari kawanan bar-bar ini sekarang.


Ketika mendengar permintaannya, sejenak pemuda itu terdiam dan mengangguk setelah beberapa waktu berlalu. Dengan pandangan mata tanpa daya, ia menunjuk area helipad yang terletak di samping bangunan Piramid.


"Ngobrol di sana aja. Lumayan terang tempatnya. Sanalah dulu, aku ambil kopi." jawabnya, yang dibalas dengan anggukan lemah Topan.


Pikiran pemuda itu terus terganggu dengan bermacam hal sejak sampai di sini. Dan sayangnya, banyak diantaranya benar-benar menggulingkan banyak hal lain yang pernah ia yakini sebelumnya. Topan berar-benar merasa ia berada di tebing kegilaan...


......................


Pangky menyenderkan kepalanya pada pagar pembatas yang melingkari area helipad tempat mereka berbicara. Matanya jauh menatap rangkaian bintang yang bertebaran macam pasir di pantai. Mendengar beragam kisah perjalanan dari pemuda konyol di sebelahnya ini, mau tak mau ia teringat sosok seorang pemuda yang sama, sebelumnya akhirnya ia bertemu dengan orang itu, pria hebat yang akhirnya mampu mengubah pemuda itu hingga menjadi sosoknya yang sekarang, dirinya sendiri.


Ia menghela nafas panjang, menghembuskan asap rokok yang lama ia tahan didadanya, baru kemudian ia mulai bicara.


"Aku akan menceritakan sebuah kisah padamu, Pan. Supaya paling tidak kau bisa memahami, dan jika mungkin, akhirnya menerima semua itu. Bukan setan, jin, perewangan, demit, siluman dan kawan-kawannya yang menakutkan, Pan, tapi kita, Manusia-lah yang lebih dari semuanya, menakutkan lebih dari yang bisa dibayangkan..."


Dan semakin ia bercerita, semakin ia terkejut akan kisah hidup pemuda disebelahnya ini.


Berawal dari garis darah, pemuda itu mewarisi kemampuan unik yang turun dari generasi ke generasi, yang dibilang, pemuda ini memiliki kisah yang hampir sama dengan Kay. Hanya bedanya ketika Kay menyangkalnya, Pangky digembleng oleh kakeknya sendiri sejak usia muda ketika kakeknya menyadari kalau bakat mengerikan itu muncul padanya. Ia memiliki kemampuan untuk melihat dan berkomunikasi dengan mahluk-mahluk gaib dan terkadang ketika kemampuan itu tak terkendali, Pangky kecil bahkan mampu menyeberang ke alam gaib itu sendiri.


Sejak kemampuan itu bangkit, bocah yang waktu itu masih berusia 6 tahun itu segera saja menjadi akrab dengan beragam jenis puasa dan tirakat, yang seakan dipaksakan oleh kakeknya dengan membabi-buta. Perjalanan napak tilas ke puncak gunung mistik, tapa kungkum (bertapa dengan berendam dalam air), hingga pati geni (ritual puasa tanpa tidur dalam ruangan gelap tanpa cahaya) adalah hal yang biasa. Belum lagi pelatihan ilmu bela diri dan fisik tanpa henti menghiasi hari-harinya. Yang ternyata, pelatihan keras disertai berbagai tirakat dan wejangan-wejangan itu hanyalah sebuah awal. Di usianya yang ke 13, kakeknya memberikan sebuah benda yang berbentuk seperti senjata yang sering ia lihat pada gambar wayang Kresna. Terbuat dari benda seperti besi dengan telapak tangan tertangkup di kedua ujungnya, benda itu melesat masuk kedalam tubuh segera setelah ia menyentuhnya.

__ADS_1


"Aku bahkan tak mengetahui nama benda ini sampai sekarang, Pan. Kakek meninggal 3 tahun setelah benda itu berdiam di tubuhku tanpa pernah mau memberitahu apa namanya." katanya sambil tertawa kecil. Entah kenapa, sosok pemuda itu terkesan mengeluarkan hawa penuh ejekan pada nasib yang seakan mempermainkan banyak orang.


"Dari sejak benda itu manjing ke dalam tubuhku, sifatku berubah. Apatis, cuek, tak punya perasaan, dan susahnya, amat sangat pemarah. Entah kenapa, keinginan untuk bersaing dengan orang lain yang menguasai hal sejenis berkembang menjadi seperti obsesi. Untung aku tinggal bersama Kakek dan Nenek waktu itu, kalau tidak, entah apa yang akan dilakukan orang tuaku dengan semua masalah yang kuciptakan." kekehnya lagi. Tapi Topan tetap diam. Ia hanya menunggu sosok itu untuk terus bicara. Interaksinya dengan orang ini membuatnya sedikit banyak memahami, bagaimana cara untuk mendapatkan informasi yang ia inginkan. Biarkan saja dia berbicara sampai benar-benar selesai, kalau tidak, pokok pembicaraan akan bisa melenceng entah kemana.


"Dan semua makin memburuk ketika aku mulai belajar ilmu yang menyertai benda itu, Prana Lima Unsur. Keahlian khusus yang ternyata memang difungsikan untuk melengkapi kutukan darahku. Memberikanku perlindungan sekaligus kemampuan untuk menjadi seorang manusia super, yang bahkan tak mempan dibacok atau ditembak! Dan baju ini, aku yakin kau bisa melihatnya, kan? Tak banyak mahluk yang mampu bertahan ketika aku menggunakannya, Pan." ujarnya ketika tiba-tiba saja, tubuhnya mengeluarkan api merah gelap, yang kemudian membentuk baju seperti sisik yang sebelumnya sempat ia lihat, sebelum baju itu menghilang kembali, meninggalkan Topan yang makin terpana.


"Tapi semakin aku belajar, semakin sifatku lepas kendali. Sombong, arogan, sebut semaumu, semua sifat jelek manusia berkumpul didiriku. Tak beda dengan jaman Wiro Sableng dan Pitung masih hidup, aku berkeliaran kemana-mana, menantang siapapun yang kudengar memiliki kesaktian." lanjutnya ketika senyum kecil penuh rasa penyesalan diri memunculkan diri di wajahnya tanpa mampu ia tahan. Tampaknya masa Jahiliyah itu menanamkan rasa tak nyaman baginya.


"Lha sekolahmu gimana, Bang?" sahut Topan tanpa mampu ia tahan, meski kemudian sedikit ia sesali.


"Wah, meski aku nakal, otakku itu benar-benar rejeki dari Tuhan, Pan. Dan sekolahku waktu itu, hahaha, surga untuk anak bandel yang pintar macam aku ini. Bagi para guru hebat itu, tak masalah kemana anak didiknya selama hasilnya tak kurang dari standard minimum. CBSA kata mereka, Cara Belajar Siswa Aktif, yang bagiku, seperti mempersilahkan siswa untuk mencari jalan untuk belajar sendiri." jawabnya sambil tertawa terbahak-bahak.


Sialan, salah aku nanya, gerutu Topan dalam hati.


"Di waktu inilah aku bertemu sedemikian banyak orang, Pan. Dari sekadar tukang jual organ tubuh seperti yang tadi kamu temui, atau mereka yang membutuhkan darah manusia untuk meningkatkan ilmunya, atau mereka yang bahkan bisa bunuh bayi di dalam kandungan ibunya untuk kepentingannya sendiri dan banyak lain macamnya. Meski tak semua seperti itu juga sih."


Astaga, tukang jual organ tubuh katanya... Ini setan lho ini!


"Kelakuannya yang mengungguli setan, Pan. Ini manusia tulen, yang menuruti nafsu pribadi dan akhirnya terjerumus ke jalan yang ditawarkan setan!" jawab Pangky dengan tegas.


"Ah, manusia yang belajar ilmu hitam gitu Bang?"


"Tak ada yang namanya ilmu hitam dan ilmu putih, Pan. Kau pikir semacam lukisan saja. Yang ada orang yang mempelajari ilmu untuk berbuat kejahatan dan sebaliknya..." jawabnya pelan.


"Sama seperti barang yang kau cari itu. Itu lebih parah lagi. Pembuat barang itu, mencari mutiara khusus, lalu menangkap dan menyegel mahluk gaib untuk kepentingan dan kesenangannya sendiri. Sekarang katakan padaku, bisakah setan dan demit yang sering jadi bahan makian itu lebih celaka dari manusia?"


"Eh, maksud Abang, barang ini...?"


"Tersirat seperti yang tersurat. Pencipta barang itu menangkap mahluk yang memiliki kemampuan untuk memikat dan menggoda nafsu, lalu menyegel mahluk itu untuk kesenangannya! Kau mau tahu kenapa aku tahu? Aku bahkan bisa mempertemukan dirimu dengan mahluk yang disegel di mutiara itu sekarang!"

__ADS_1


??!


......................


Isi percakapan itulah yang membuat Topan bagai terdampar di depan mini market itu, di sudut trotoar yang terlindung dari hujan. Isi kepala Topan berantakan bagai dihantam tornado level 5. Hal-hal yang diceritakan Pangky membuat kepalanya tak berhenti berpikir sejak tadi pagi. Fakta bahwa cincin mutiara terkutuk itu ternyata diciptakan, entah oleh siapa, sungguh mengejutkannya.


Ia terlanjur berpikir kalau mungkin saja barang itu terkontaminasi kejahatan. Siapa yang mengira kalau cincin itu sengaja diciptakan dan sayangnya, untuk tujuan bejat??!


Sialan, buruan datang, Kay! I really don't know what to do...


......................


Sore hari di ruang kerja penulis.


"Kay, minta duit dong?"


"Mau buat apa, Ray?"


"Beliin kopi penulis. Kasihan dia, kayaknya belum ngopi..."


"Ah, biarin aja Ray. Tar kalau dia mau pasti juga bikin sendiri kok."


"Aaaaaa, kemarin dia paksa aku minta like sama dukungan dari pembaca, Ray...!"


"Hah? masak sih?"


"Iya. Terus katanya, kalau nggak sukses, aku mau dimatiin lagi... Huaaaaaaaa!!!"


Eit buset??!

__ADS_1


Pembaca, tolong bantu Rayna dong. Klik like, and support 🤢


__ADS_2