
Hanya dengan sekilas pandang, semua orang akan bisa mengatakan kalau gadis berkacamata itu tak nyaman berada disana. Duduk di bagian ujung sebuah sofa besar yang mampu "menelan" seluruh badannya, gadis tampak gelisah ketika ia terus mengarahkan pandangan ke berbagai sudut lobby hotel yang sangat megah itu. Ia sudah berulang kali melihat ke jam tangan sederhana yang ia pakai sebelum kemudian mengarahkan pandangannya ke pintu lift yang menurutnya, bahkan lebih mewah dari rumah yang sudah ia tinggali selama 19 tahun, untuk kemudian membetulkan kacamata-nya dengan gugup dan kembali mengedarkan pandangan matanya ke seluruh ruangan.
Nama gadis itu Erina, dan akan sangat wajar jika ia bertingkah seperti itu. Seumur hidup, hotel paling mewah yang pernah ia kunjungi hanyalah hotel bintang 2 dalam field trip sekolahnya beberapa tahun lalu, dan jika dibandingkan dengan tempat ini, bangunan mewah itu hanya akan serupa dengan rumah kos sederhana.
Hingga saat ini, gadis itu masih tak bisa mempercayai keberuntungannya. Kecintaannya akan barang-barang kuno dan bersejarah, yang selalu mendapat cibiran dan ejekan dari banyak orang termasuk orang tuanya, akan mampu membuatnya berada disini, di lobby hotel yang sangat mewah ini. Tanpa ia sengaja, ia bertemu dengan seorang grandmaster, atau guru besar, atau kepala, atau sebut saja sesukamu, yang jelas, pria ini benar-benar seorang yang sangat terkenal di bidang barang-barang kuno dan benda bersejarah, bahkan di dunia. Dan Mr. Jardo Sinclair, nama pria itu, yang kebetulan membutuhkan assisten untuk even yang akan dia selenggarakan di Indonesia, menawarinya untuk bergabung. Tanpa memandang nilai pembayaran jasa dengan enam angka di belakang lambang Euro, yang mungkin akan setara dengan akumulasi gaji ayahnya selama 40 tahun bekerja jika ditukar mata uang Indonesia, hanya untuk bekerja selama 25 hari, Erina lebih merasa bersemangat ketika mengingat akan kesempatannya untuk bersentuhan dengan dunia barang-barang antik dan benda bersejarah di level ini. Inilah yang lebih dari semuanya, membuatnya tak mampu merasa tenang, seakan ada burung yang berkicau dan melompat-lompat tanpa henti di dalam hatinya. Apalagi ketika sosok simpatik dengan senyum manis itu tampak muncul dari pintu lift yang tak henti ia perhatikan sejak 10 menit yang lalu. Erina segera berdiri ketika dilihatnya pria setengah baya yang tampan itu melihatnya dan berjalan mendekat. Setelan jas hitam mewah membalut badannya, sementara tas tangan kecil yang ia bawa, malah menjadikan tampilannya semakin elegan. Tatapan dan senyum meminta maaf muncul di wajahnya ketika pria itu merentangkan tangan untuk menjabat tangannya.
"My dear Mademoiselle, very pleased to meet you. Please forgive my savage behavior to let such a beautiful lady like you to wait for me like this..." ujarnya dengan lembut.
"Ehmm.. A.. It okey, Pak. Not long waiting, kok. Ehm, anu..." sahut gadis itu dengan panik. Kemampuan berbahasa asingnya jauh dari bagus, dan sayangnya, semua hal yang ia latih untuk pertemuan ini berantakan kemana-mana.
Pria itu tersenyum simpatik, nampaknya ia maklum. Ia menepuk tangan gadis itu dengan lembut, berusaha menenangkannya dan mempersilahkannya untuk duduk.
"Seperti yang Nona Erina sudah ketahui, saya membutuhkan seorang assisten untuk even pelelangan yang akan saya selenggarakan. Waktunya sekitar 25 hari, dan biaya jasa yang akan dibayarkan adalah € 250,000,-. Hanya saja, kalau boleh saya ingatkan, pekerjaan ini akan menuntut banyak waktu dan tenaga dari Nona, dan ketika kontrak kerja ditandatangani, Nona Erina tidak bisa mundur darinya. Apakah ini bisa diterima?" ucapnya dalam bahasa Indonesia yang fasih, meski beberapa aksen "bule"-nya tetap tertinggal di beberapa kata.
Mendengar ini, Erina makin terlihat bersemangat.
250,000 Euro untuk 25 hari kerja!
Dan itu untuk sesuatu yang ia suka!!!
"Ah, ehmm, I..."
"Saya juga fasih menggunakan bahasa Indonesia kok, Nona Erina. Lagipula evennya di Indonesia kok." sahut pria itu sambil tertawa kecil ketika melihat gadis polos yang duduk didepannya itu tampak bingung hendak menjawab seperti apa.
__ADS_1
"Ah, apa nggak papa kalau saya kurang pintar berbahasa asing, Pak?" tanya gadis itu dengan wajah memerah, yang segera disambut dengan suara renyah tawa menenangkan pria itu, yang rupanya juga menarik perhatian banyak wanita yang ada di lobby itu.
"Bukan sebuah masalah yang tak terpecahkan, Nona. Saya yakin Nona Erina bisa menggunakan pembayaran jasa yang saya bayarkan untuk mengembangkan diri sendiri dalam prosesnya, termasuk baju dan gaya dandanan Nona saat ini." jawab Mr. Jardo simpatik, sementara si gadis makin tenggelam ke dalam kursi yang ia duduki dengan wajah makin memerah, sementara pikirannya terbakar oleh keinginan untuk menjadi lebih baik dengan uang jasa itu.
"Saat ini, saya hanya menyiapkan kontrak dalam bahasa Inggris. Jika Nona tidak keberatan, biar saya ubah ke bahasa Indonesia dan membiarkan Nona mempelajarinya dulu sebelum menandatanganinya. Saya tidak ingin gap bahasa menimbulkan kerugian untuk Nona kedepannya." lanjut pria itu dengan lembut.
Erina segera mengangguk dengan bersemangat.
Kapan lagi menemukan bos sebaik ini?
Mau tak mau, ia sedikit menyesali pikiran buruk yang sempat muncul sebelumnya. Ia sudah berpikir kalau Mr. Jardo hanya menginginkan untuk tidur dengannya dan menipunya untuk datang kesini. Dan sekarang, pria itu bahkan tak mengundangnya ke kamar dan hanya menemuinya di Lobby dengan sedemikian banyak orang yang hadir seperti ini. Lagipula, dengan sedemikian banyak wanita cantik yang "sederajat" dengan Mr. Jardo yang bersliweran dan tampaknya penuh pandangan lapar ke arah pria tampan itu, Erina merasa sedikit "out of match" dan menyingkirkan pemikiran konyol ini.
"Okey, if it so, saya akan revisi kontraknya, dan saya akan mengharapkan kedatangan Nona Erina kembali dalam dua jam jika Nona tidak keberatan?"
"It is not nice to let such a beautiful woman to waiting alone in a place like this." balasnya sambil tersenyum.
Ah, mungkin sekarang orang ini akan mengundangku ke kamarnya dan menunjukkan akal bulusnya, cibir pikiran Erina ketika sedikit implikasi dari perkataan pria ini, tapi ternyata perkiraannya salah lagi.
Pria itu meraih tas tangannya dan mengeluarkan segepok uang dan menyerahkannya pada gadis yang nampak bingung itu.
"Silahkan gunakan uang ini. Saya mengharap bertemu nona asisten saya dalam tampilan yang lebih elegan dari sekarang," ucap pria tampan itu ketika dilihatnya gadis polos itu makin bingung. "Maaf, ada lembar yang ternoda darah saya, semoga itu tidak membuat Nona merasa tidak nyaman."
"Ah, anu, Eh, maksud Bapak?"
__ADS_1
"Silahkan gunakan uang ini untuk beli baju dan atau ke salon. Saya mengharapkan penampilan yang lebih pantas dari assisten saya. Jadi, saya akan bisa menjumpai Nona lagi dalam dua jam?" jawab pria itu, masih dengan senyum simpatik, meski sedikit ketidaksabaran mulai muncul dari suaranya.
"Ah, Baik Pak. Saya akan berpenampilan lebih baik dalam dua jam." sahut gadis itu cepat, meski dengan gugup, meraih tumpukan uang yang diletakkan di meja.
"Baik. Silahkan, saya akan menunggu kehadiran Nona." ujarnya sambil berdiri dari kursinya dan menjabat tangan gadis itu, dan beranjak meninggalkan gadis berkacamata yang masih berdiri dengan rasa bingung makin berkembang.
Aih, belum juga mulai kerja, dan sudah dapat duit...
Memandang uang di tangannya, Erina tak bisa menahan rasa gembira. Semua hal buruk yang ia pikirkan tak ada yang terjadi. Gadis itu beranjak meninggalkan tempat itu, tak mampu mempercayai keberuntungan yang ia dapatkan. Langkahnya ringan mencari salon dan butik untuk membelanjakan uang ditangannya. Hatinya dipenuhi semangat. Ia sama sekali tak memperhatikan sosok pemuda yang menggunakan jumper gelap yang datang dari belakangnya dan berjalan lurus ke arahnya. Pemuda itu tiba-tiba berlari dengan kencang dan menabrak Erina yang masih tenggelam dalam kebahagiaan akan keberuntungan yang ia dapatkan, mendorongnya ke arah persimpangan jalan yang ramai oleh kendaraan.
Erina bahkan tak sempat terkejut.
Senyum masih belum menghilang dari bibirnya ketika tubuhnya melayang dan disambut oleh mobil yang melaju kencang. Derak teredam tumbukan terdengar dengan keras, ketika Erina seakan bisa mendengar bunyi derak tulang-tulangnya yang patah, merobek daging dan menusuk organ dalamnya. Dengan cepat, mengeringkan kehidupan dari tubuhnya. Selintas pikiran sempat muncul ketika sudut matanya menangkap wajah pemuda mengerikan yang menggunakan jumper gelap itu.
"Kenapa wajah pemuda itu mengerikan sekali? ah, aku belum lagi sempat beli baju..."
Senyum gadis itu bahkan tak sempat menghilang dari wajahnya ketika perlahan kehidupan menghilang darinya.
......................
"Gadis ini tak terlalu manis rasanya. Aku hanya mampu menghasilkan sedikit wewangian untukmu. Coba kau carikan yang lebih muda, Do..."
Sosok pemuda berjumper gelap itu masih terus asyik mengunyah dari sesuatu seperti daging tangan manusia berwarna transparan. Sebuah jam tangan sederhana melingkar di pergelangan tangannya, sementara air liurnya tampak menetes dari pinggir mulut. Sementara pria tampan yang biasanya bersikap sedemikian sopan itu tampak penuh perhatian, memastikan air liur dari sosok pemuda itu tertampung dengan sempurna di botol parfum kuno. Ia sama sekali tak memperhatikan omongan mirip desisan dari pemuda berjumper gelap itu. Sorot matanya serakah, memastikan tak ada air liur yang tertumpah di lantai...
__ADS_1
......................