Kisah Perjalanan

Kisah Perjalanan
Gadis Ber-Scarf Merah Jambu


__ADS_3

Gerimis masih terus turun, merinai dalam birai tirai air yang jatuh, menyelimuti dan mendinginkan bumi yang meradang oleh sinar matahari bumi pulau dewata yang ganas, meski tak lagi cukup berkuasa untuk menghalau balutan awan mendung putih yang perkasa. Meniupkan simfoni kesedihan yang dibawa angin dalam balur dingin, menorehkan kesedihan di sudut hati. Apalagi ketika masih melihatnya disana, duduk sendiri dengan wajah penuh pengharapan, tersentak untuk melihat sosok lelaki yang ia kira datang untuknya, hanya untuk kecewa. Tak tega rasanya melihatmu disana, tergugu dalam sepi, terhisap dalam duniamu sendiri.


"Kau masih disini?"


"Aku ada dimana itu bukan urusanmu!" jawab gadis itu ketus. Rambut ikal panjang yang disemir emas di beberapa titik itu sedikit tertutup oleh scarf warna merah jambu yang ia kenakan. Kakinya yang sewarna lobak, segera terlipat erat dalam upayanya membuang wajah dari pemuda usil itu. Sementara si pemuda hanya tersenyum maklum. Tangannya menyisir rambut yang terpotong pendek, menampakkan pesona maskulin wajah yang sedikit memancarkan kesedihan. Perlahan, langkahnya berlanjut dan memasuki mini market dimana di terasnya, gadis ber-scarf merah jambu itu kembali dengan aktifitasnya sendiri.


......................


"Rokok yang itu, satu bungkus, Mas." pinta Topan pada pemuda yang berdiri di balik konter itu, sementara tampaknya, si kasir, tampaknya malah tengah melihat-lihat keluar. Tatapannya nyalang menembus dinding kaca mini market yang terletak di pinggir jalan provinsi itu. Bahkan ketika ia mengangsurkan sebungkus rokok sesuai permintaan Topan, ia masih sibuk dengan tatapannya, entah apa yang ia lihat.


"Anu, maaf, Bli. Tadi Bli di luar bicara dengan siapa?" kata pemuda itu akhirnya. Sepertinya ia tak mampu lagi menahan rasa penasaran dalam hatinya. Ia sudah bertemu pemuda ini beberapa kali sekarang, dan setiap kali, ia akan berhenti di sana, berbicara sedikit dan berlalu. Hanya saja, tak ada apapun kecuali kursi dan meja yang disediakan untuk pengunjung yang hendak duduk menikmati suasana pesona alam pula dewata ini.


Topan menoleh dan dilihatnya, gadis ber-scarf merah jambu itu tengah melirik ke arahnya sebelum cepat-cepat kembali mengarahkan wajahnya ke jalan. Lalu ia tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya. Secercah kesedihan muncul dan mengisi hatinya.


"Nggak ada kok, Bli. Hanya melihat dan berencana duduk, tapi nggak jadi." jawabnya dan berlalu, meninggalkan pemuda kasir mini market itu dalam perasaan tak puas.


Ya kalau cuma sekali, Bli... Lha ini tiap kali kesini selalu begitu kok!


Untung saja ini cuma terlintas dalam pikiran pemuda itu, kalau tidak, mungkin Topan akan tertawa jika mendengarnya.

__ADS_1


......................


Setelah memutuskan untuk tinggal, Topan benar-benar berencana untuk minimal, membuat hal-hal yang mengganggu hatinya menghilang. Keputusan ini juga termasuk diantaranya mengatur kembali keadaan keuangan dari berbagai perusahaan yang ditinggalkan oleh ayah Kay. Dan karena tak terlalu paham akan apapun tentang usaha dan manajemen perusahaan, pemuda berhati keras itu memutuskan untuk mempelajarinya dari sebuah usaha kecil tapi solid, yang selama ini dijalankan oleh beberapa anak muda, yang usianya kebetulan terpaut tak terlalu jauh dari mereka.


Tugas pertama yang ia dapatkan adalah survey lokasi gedung yang meminta penyediaan jasa perawatan bangunan dinding luar mereka, dan inilah yang membawanya ke pulau pusat pariwisata ini, Bali.


Setelah mengalami beragam kesulitan di bandara, mengingat ini adalah kali pertama ia naik pesawat, yang melibatkan beragam kejadian memalukan, pemuda itu mendarat dengan sukses dan menuju lokasi. Untung, sopir taksi yang ia tumpangi lumayan informatif, yang menyelamatkannya dari bermacam kerepotan yang mungkin muncul dan terjadi pada new-comer macam dirinya.


Mendengarkan celotehan sopir taksi yang bersemangat memberikan penjelasan tentang berbagai daerah yang dilewati, meski hanya beragam "oh", "wow", dan "wah" yang muncul dari mulutnya, mau tak mau semangat berkembang dalam hatinya.


Seru juga sih, bisa klayapan gratis. Untung aja nggak bareng Kay, kalau nggak bisa diledekin habis-habisan aku, ujar Topan dalam hati sambil tak mampu menahan cengiran. Wajah cantik pramugari yang tersenyum maklum sambil menenangkannya ketika terjadi goncangan di pesawat yang ia tumpangi tadi masih tercetak di pikirannya. Ia sempat berteriak-teriak ketakutan saat turbulensi melanda dan menggoncang pesawat hingga mengagetkan penumpang lain. Yang akhirnya, membuat sang pramugari datang dan menenangkan dirinya diiringi pandangan kesal penumpang lain.


"Kita sudah sampai, Bli. Tempat ini dibangun tepat di depan area Dreamland Beach, pantai dengan cuaca terpanas di sini. Apa saya perlu menunggu, soalnya agak susah mencari transportasi kembali ke Bandara kalau dari sini, Bli."


"Owh, iya Pak. Kalau boleh, saya ditunggu saja Pak. Tapi kalau agak lama, apa ndak papa, Pak?"


"Aman, Bli. Saya beri harga khusus deh, nanti seharian saya nungguin Bli juga nggak papa." jawabnya senang. Triknya jadi seorang pemandu wisata gadungan ini selalu membuahkan hasil.


Topan tersenyum, pikirannya masih terbawa banyak hal baru yang ia alami hari ini. Rasa penasaran menguat ketika harapan akan beragam kejadian yang mungkin ia bisa alami. Meski ketika langkahnya yang ringan tergerak bersama hatinya yang bersemangat oleh pengalaman baru, horror muncul dan mengempiskan harapan yang berkembang dalam hatinya.

__ADS_1


I knew it, it is surely too easy and too good to happen too smootly like this!, maki pemuda itu dalam hati


Bangunan yang berdiri dihadapan Topan itu tak memberikan perasaan lain selain megah. Jalan masuk berupa koridor berundak dengan canopy yang ditopang tiang-tiang besar di kiri dan kanan, sementara kolam indah, dengan bunga teratai dan gerak luwes ikan koi besar di dalamnya, mengapit jalan masuk itu. Menambah keindahannya, air mancur menimbulkan perasaan tenang ketika berpadu dengan suara ombak yang menabrak pantai di belakang bangunan megah itu. Hanya saja, bangunan berbentuk piramid di akhir jalan masuk itu yang benar-benar menangkap matanya. Bentuk bangunan yang sama dengan apa yang ada di dalam gambar Andini.


Sialan, belum juga jadi bersemangat. Trip naik pesawat pertama kali, dan pertama kali pula aku berkunjung ke pulau ini, dan aku tepat berlari pula ke setan nomor 1!


Mau tak mau, beragam makian dan sumpah serapah menyembur tanpa mampu terucap ketika pemuda itu mengeluarkan handphone-nya dan menelpon Kay, menceritakan penemuan figur bangunan menyebalkan itu. Ia tak terlalu memiliki kepercayaan diri akan apa yang mungkin dihadapi jika sendirian.


Setelah memastikan Kay akan menyusulnya, Topan menghela nafas ketika tiba-tiba saja, kakinya menjadi sedemikian berat untuk melangkah dan melanjutkan tugas awalnya di tempat ini. Pemuda berhati keras itu lumayan gentar dengan beragam kemungkinan yang mungkin terjadi. Tapi mau bagaimana lagi, calon pengguna jasa sudah mengkonfirmasi pertemuan mereka hari ini. Berusaha menguatkan diri, Topan melangkah dengan gagah, meski tak terlalu yakin dengan dirinya sendiri.


......................


Dan saat ini, sudah hampir seminggu sejak ia pertama kali datang ke pulau ini. Janji Kay untuk segera datang tak terealisasi karena hampir tak mungkin meninggalkan Andini sendiri, meski gadis kecil itu tak keberatan. Kay harus menyewa orang untuk menjaga rumah dan Andini selama beberapa waktu, yang dengan kondisi rumah saat ini, sungguh bukanlah sesuatu hal yang mudah. Belum lagi, calon pengguna jasa setuju dengan semua term and service yang diajukan, yang membuat Topan terpaksa harus tinggal dan menunggu team pekerja untuk datang.


Dalam penantian inilah, Topan melihatnya. Gadis berambut panjang, yang di beberapa titik disemir dengan warna emas, yang kadang tertutup scarf merah jambu yang ia kenakan di lehernya. Gadis itu akan berdiri dari waktu ke waktu, jika ada sosok lelaki, yang mungkin mirip dengan seseorang yang ia tunggu dari kursi di depan mini market tempat ia selalu berada, untuk kembali duduk dengan kekecewaan di wajahnya.


Sebenarnya mungkin hal seperti itu tidaklah istimewa, hanya saja, setelah beberapa waktu Topan melihatnya disana, dalam kondisi yang tak pernah berubah, ia menyadari apa sebenarnya gadis itu. Tampaknya, gadis ini adalah salah satu dari entitas yang dibilang oleh Kay, arwah yang tak menemukan jalan untuk pulang kepada Sang Pencipta.


Dan sayangnya, setelah melihatnya selama beberapa waktu, rasa penasaran akan apa yang terjadi dan menyebabkan gadis itu tertahan di alam manusia ini, berkembang menjadi rasa iba yang kuat. Melihat wajahnya yang penuh pengharapan, hanya untuk kembali kecewa berulang kali, sungguh membuat hati Topan terasa pedih. Pemuda itu membayangkan bagaimana perasaannya jika sosok yang ditunggu-tunggu, yang bahkan tak bisa melihatnya disana meski apapun yang gadis itu lakukan sampai muncul...

__ADS_1


Andai Kay ada disini, dia pasti tahu apa yang harus dilakukan... Duh, Gusti, paringana kawelasan dateng sedaya jalma in donya


******* batin Topan nyaring terlontar dalam doa yang larut bersama angin, berharap Tuhan bersedia memberikan jalan bagi semua mahluk yang berharap kembali pada-Nya. Seiring gerimis yang enggan berhenti, menggemakan rasa sakit dan iba yang tak terkatakan untuknya, gadis ber-scarf merah jambu itu...


__ADS_2