Kisah Perjalanan

Kisah Perjalanan
Tidak Semudah Itu, Ferguso!


__ADS_3

Terry nyalang menatap rerimbunan di sekitarnya dengan terengah-engah. Mahluk itu terus memburunya sejak ia mengetahui kalau ia direkam. Dalam beberapa kesempatan, mahluk itu hampir menangkapnya, tapi entah kenapa, ia selalu lolos pada detik terakhir. Pistol glock-45 yang menemaninya sejak ia pensiun dari ketentaraan, hanya menyisakan 1 peluru dalam magazin-nya, iblis itu tak mati ketika ia benamkan hampir 9 butir peluru padanya. Ia memutuskan untuk menggunakannya untuk menembak kepalanya sendiri ketika kondisi sudah tidak memungkinkan dirinya lepas dari mahluk iblis itu, dan tampaknya waktu itu tak akan lama lagi. Ia sudah tak memiliki tenaga tersisa. Jas yang ia pakai sudah compang-camping, penuh noda getah tumbuhan dan tanah, yang ia tabrak ketika berlari untuk hidupnya. Sementara derak cabang terinjak yang disertai suara benda berat yang mengeleser itu terdengar tak terlalu jauh.


Sialan, rupanya iblis ini sengaja membiarkan aku lari sebelumnya. Ia menggiringku jauh ke dalam hutan untuk menghabisiku. Setan ini, rutuk pikiran Terry. Ia benar-benar berharap bisa lolos dari mahluk bertubuh ular itu sebelumnya, tapi kenyataan yang pahit menggema dalam pikirannya. Jantungnya berpacu dalam gelora, mencoba memompa adrenalin ke dalam darah. Ketika derak cabang-cabang kering yang patah itu semakin mendekat, ia beranjak keluar dari persembunyiannya dan mulai berlari. Hanya saja, belum lagi langkahnya berakselerasi, denyut menyakitkan muncul di lutut kanannya. Benda runcing mencuat, menembus kakinya, yang membuat Terry terpelanting.


"Hihihi, lari lagi, Nak. Dagingmu perlu dilembutkan, ayo lari lagi..." ujar suara bercampur desisan itu pelan. Ternyata benda runcing yang menancap di kaki Terry adalah ujung ekor mahluk itu.


Setan sialan. Aku takkan mengijinkanmu melakukan hal sesukamu!


Deraan rasa takut berlebihan berkepanjangan, nyaris menghilangkan akal sehat pensiunan tentara khusus itu. Ia berbalik dan menggerakkan kakinya yang tertembus hingga lepas, meski ledakan rasa sakit nyaris membuatnya pingsan, tapi ia bertahan. Pisau Swiss army pesanan khusus yang selalu menempel pada sabuk pisau di kakinya, tercabut dengan cepat dan ia hunjamkan kuat-kuat pada ekor mahluk itu. Tapi meski jeritan kesakitan bercampur geraman murka yang muncul dari mahluk itu terdengar, Terry tak berhenti sama sekali. Ia berencana untuk mengambil pistol dan menembakkan peluru yang tersisa itu ke kepalanya. Sayang, mahluk itu melihat rencananya. Menggoyangkan tubuhnya yang besar, ekor runcing yang robek dan menampakkan daging putih dalam baluran darah berwarna hitam itu melesat dan memukul tangan Terry, menghilangkan harapan terakhirnya untuk mati dengan cepat ketik pistol di tangannya terlontar jauh karena pukulan itu.


"Semut keparat. Aku akan menikmati dagingmu perlahan. Kupastikan kau tetap hidup untuk waktu yang lama! Sialan!" desis mahluk itu ketika melihat ekornya yang terbelah. Rupanya, ia memaksa untuk menarik ekor yang dipantekkan ke tanah oleh Terry dengan pisaunya itu


Dalam kemurkaan akibat luka yang dideritanya, mahluk itu melecutkan ekornya beberapa kali dan menghantam Terry kuat-kuat. Perlahan, menghilangkan kesadaran lelaki kuat itu dalam rasa sakit yang menyiksa. Hanya saja, ketika semuanya nyaris tak tertahankan, dalam pandangan kabur Terry, tiba-tiba saja sosok tegap berdiri di depannya, dan seakan melindunginya. Dalam bayangannya, sosok pria tegap yang berdiri membelakanginya itu seakan menggunakan setelan baju militer Jepang jaman Perang Dunia Ke-II, dengan celana khaki yang menggembung pada betis, dan strap peluru dari kulit sintetis melintang di punggungnya. Bahkan tampaknya tentara itu menyandang pedang panjang di pinggang.


Hebat. Seorang perwira tentara kerajaan Matahari Terbit muncul dan melindungiku. Mungkinkah aku sebenarnya anak kaisar Jepang? Sialan, sejauh aku lari dari dunia tentara, malah mati di tempat tak jelas ini, desah batin Terry sinis ketika harapan menghilang dalam kabut ketidaksadaran. Ia akhirnya menyerah atas deraan rasa sakit yang menghantam tubuhnya dan jiwanya berkali-kali...


......................


Jajaran beragam pemandangan yang berlari di luar jendela tak mampu mengalihkan perhatian Anton sedikitpun. Sejak meninggalkan King's Residence, ia tak mampu tenang sedikitpun.


"Tenanglah sedikit, Mas. Putus syaraf kau nanti kalau kau tegang begitu."


Mau tak mau, Anton membuang pandangan geram ke pemuda yang tampak sangat santai itu. Dalam mobil berkecepatan tinggi ini, pemuda itu masih sibuk dengan cangkir kopi dan rokoknya.


"Tidak ada syaraf putus karena tegang. Kau kira karet gelang apa?" cibirnya sebal yang segera disambut gelak tawa dari pemuda di sebelahnya itu.


"Iya Pak Dokter hebat yang terkenal ke seantero ujung jagad raya." balas Prameswara sambil tertawa.


Namun, mendengar candaannya tentang dokter hebat, semangat Anton kembali meredup. Sedikit warna yang sempat muncul di wajahnya menghilang dengan cepat ketika ia menghela nafas dengan berat. Prameswara yang juga menangkap perubahan ini, turut menghela nafas.


"Sorry, Mas. Mas harus tenang. Temanmu akan baik-baik saja..." sahutnya lembut. Ia sedikit banyak tahu bagaimana sifat Anton, yang selalu terganggu ketika temannya terancam.

__ADS_1


"Bukan itu, Mes. Aku ngerasa sia-sia aja. Dokter macam apa aku ini? Aku bahkan sempat berfikir untuk mengadaptasi metode pengobatan iblis itu sebelumnya! Percuma sudah semua ijasah dan penghargaan yang pernah kuterima itu." ujarnya sambil kembali menghela nafas berat.


"Bukan tak mungkin untuk belajar pengobatan seperti itu, Mas. Uh, bukan yang sama seperti itu, maksudku. Main melotot aja!" sahut Prameswara cepat-cepat mengkoreksi jawabannya ketika melihat Anton memelototinya dengan garang.


"Ada tehnik tradisional yang menggunakan telur sebagai media pemindahan penyakit, Mas. Ini akan membutuhkan metode khusus yang harus di pahami oleh-ehm, apa ya istilah yang enak supaya bisa kau terima, owh, castor. I will use this word, Castor." jelas Prameswara lagi, yang segera disambut dengan dengusan keras.


"So, you tell me to learn voodoo? Magical medicine?" Are you out of your mind?" balas Anton sambil mendelik garang, meski lagi-lagi dibalas dengan gelak tawa.


"Mas tentunya sudah tahu kalau dulu, petir dan api dianggap sebagai mistik kan Mas? atau bagaimana Curare dianggap sebagai tanaman iblis?" tanya pemuda itu sambil tersenyum.


"Maksudmu?" sahut Anton, yang sedikit banyak menebak arah dari pembicaraan pemuda nyentrik ini.


Jika memang ada metode pengobatan secanggih itu, yang mampu menghilangkan kemungkinan kematian pasca operasi akibat berbagai hal terkait pembedahan, bukankah itu akan mengerikan?


Seakan bisa membaca isi pikiran sahabatnya itu, Prameswara tertawa terbahak-bahak.


"Jangan berpikir yang enggak-enggak. Tidak semudah yang ada dalam pikiranmu, Bro."


"Mas pasti akrab dengan cabang ilmu psikologi dan metafisika?"


"Pertanyaan yang berbelit-belit, tapi demi kelancaran komunikasi, akan kujawab. Iya, dan apa hubungannya dengan mistik and all of this mamboo jambo voodoo things?" tanya Anton tak puas. Bocah ini terlalu bertele-tele.


"Lalu apa pendapat Mas tentang Noetic Science?"


Sinar yang muncul di mata Prameswara itu terkesan seperti ejekan bagi Anton. Siapa yang tak kenal dengan cabang ilmu eksperimental versi pengarang terkenal itu?


"Kau berbicara tentang hasil karangan penulis buku terkenal itu, Nak? aduh, itu hasil fiksi lho?" cemoohnya garang. Namun entah kenapa Prameswara masih tersenyum.


"Berarti Mas nggak tahu kalau di tahun 1973, The Institute of Noetic Science, didirikan oleh Edgar Mitchell, dengan studi program penelitian terhadap berbagai kemampuan 'mistis' manusia, termasuk diantaranya Healing Energy..." jawab Prameswara puas tanpa menyembunyikan nada kemenangan dalam suaranya.


"Jadi maksudmu, Noetic science yang digunakan dalam memverifikasi metode itu?"

__ADS_1


Mendengar nada sangsi yang muncul dalam suara Anton, mau tak mau Prameswara sedikit menekan antusiasmenya. Agak beresiko ketika pengetahuan seperti ini disalahartikan.


"Aku hanya mengatakan kalau metode seperti itu memang ada, dan sudah diteliti oleh dunia yang kau yakini, Mas. Menjadi praktisi bukan berarti harus jadi iblis seperti yang kalian temui sebelumnya, Mas." jelas Prameswara tenang.


"Ilmu yang kupelajari seumur hidupku, tidak terlalu jauh beda dengan yang kau pahami, Mas. Hanya saja, saat ini, mayoritas orang masih menyebutnya sebagai mistis, gaib, tak masuk akal, ajaib, dan sebagainya. Mereka hanya belum melihat korelasinya, dan Noetic science yang berusaha untuk membuatnya masuk akal. Jadi, ini juga Science" lanjutnya sambil menunjuk gelang yang melingkar di tangan Anton.


Pemikiran ini belum pernah menyentuh Anton sedikitpun. Sebelumnya, ia selalu meremehkan berbagai hal seperti ini. Ia selalu menganggap hal yang tak bisa dibuktikan atau tanpa data penelitian bukanlah sesuatu yang layak diperhatikan. Tapi jika memang apa yang disampaikan tentang bocah itu terkait Noetic Science adalah benar, tentunya mungkin bahkan meja operasi dan berbagai peralatannya tidak akan diperlukan lagi.


"Kau tahu caranya, Mes? Ajari aku!" desak Anton bersemangat. Jika ia tak perlu jadi iblis dan bisa melakukan pengobatan penyakit setingkat penyakit Pops bahkan tanpa operasi, maka paling tidak, rasa bersalah ini sedikit akan dapat terdamaikan.


Tapi tiba-tiba saja raut wajah Prameswara mengeras. Pandangan matanya menerawang jauh ketika mulutnya menggumamkan kata-kata aneh. Dan entah kenapa, rasanya AC dalam mobil terasa 4 kali lebih dingin dari sebelumnya. Melihat ini, Anton mengurungkan niatnya untuk mengguncang bahu pemuda itu dan memilih untuk menunggu. Beberapa saat berlalu ketika Prameswara kembali menyadari lingkungan tempat ia berada, hanya saja, wajahnya masih terselaput mendung.


"Bilang ke driver untuk lebih cepat. Nyawa temanmu dalam bahaya. Saat ini, Takahasi sudah menemukannya, tapi dia tak yakin mampu menahannya lebih lama."


*Sialan, Mes!!!


...----------------...


Arborite meradang. Kelakuan Rayna makin tak terkendali. Ia terpaksa mencari Kay untuk menenangkan hantu cewek konyol itu.


"Kay, ada baiknya kau tertibkan Rayna itu."


"Lho, emang kenapa, Bo?"


"Katanya mau minta like, and comment dari pembaca, lha kubilang supaya minta vote dan share sekalian, lha kok malah minggat. Kan kurang ajar?"


"Qqqqq, cieee Abo ngadu sama Kay, cieeee. Sono minta like and comment pembaca aja, Bo. Ngapain juga ngadu sama Kay coba?" sambar Rayna yang muncul entah darimana, yang malah membuat Kay terbahak-bahak melihat kelakuan dua hantu konyol itu.


"Uh, sialan. Ya udah, tolong comment dan like ya pembaca, tolong. Capek gua dibully hantu centil iti terus*..."


"

__ADS_1


__ADS_2