
'Ibu, semoga kau tak kecewa memilikiku. Anakmu yang tak berguna ini hanya bisa seperti ini..'
Topan masih terus terpekur diam. Matanya menutup dan doa terus terucap dalam diam. Meski fajar telah mulai mengintip dan menyepuh seluruh daratan yang dicapai sinarnya dengan warna emas, meski alam mulai menghadirkan pemandangan surgawi yang indah tanpa tanding, ia masih hanya diam.
****
Selepas kemarahanku reda, Arborite mendekat dan mengajak kami berjalan bersamanya. Sikap jerih yang sebelumnya muncul, hilang tak berbekas. Arborite sungguh berubah menjadi teman perjalanan yang menyenangkan, meski entah orang lain bisa melihatnya atau tidak, bagiku perjalanan ini lumayan bisa dinikmati.
"Kay, temenmu ini siapa sih? Kok tahu-tahu muncul, songong ngajak berkelahi, eh sekarang ketawa-ketawa begini?" omel Rayna dalam bisikan.
"Aku bisa mendengar bisikanmu, Wanita!"
"Wanita, wanita. Namaku Rayna. Aku punya nama, Cowok Jelek!" balas Rayna sengit.
Aku terkikik melihat Arborite yang cuma bisa menahan kejengkelannya. Kedua orang ini terus saja cek cok sepanjang perjalanan, tapi aku tak merasa punya keinginan untuk melerai mereka. Lumayan sih sebenarnya, bisa jadi hiburan.
"Kay! Kamu kok malah ketawa gitu sih?" sergah Rayna lagi sambil mendorong lenganku.
"Nggak, nggak papa. Jangan bikin aku ngomong sama kamu, Ray. Banyak orang lihat nih..."
'Kamu belum kasih tau dia kalo dia sebenernya udah mati ya, Bocah?'
Aku cuma tersenyum kecut mendengar suara jengkel yang berhembus kencang dalam pikiran.
'Pada akhirnya kamu harus lakukan itu, Bocah. Terlalu banyak mewujud seperti ini di duniamu tak baik untuknya'
'Maksudmu apa, Rite*?'
'Tersirat seperti yang tersurat, Bocah. Dunia manusia memiliki energi positif tinggi, berbeda dengan dunia arwah yang lebih banyak mempunyai energi negatif. Jika arwah gadis ini terlalu banyak berada di duniamu, dia takkan pernah bisa kembali pada-Nya, kecuali jika ia jadi arwah jahat...'
Penjelasan Arborite ternyata benar-benar menciptakan badai dalam hatiku.
'Jelaskan lebih jauh, Rite...'
'Terlalu lama sendirian bikin otakmu susah mencerna informasi, Bocah?'
Ejekan itu pahit menghantam dengan kecepatan mengagumkan. Aku tersenyum lagi, meski hanya rasa dingin yang membekukan perasaan semakin kuat menyelimuti pikiran. Sebaris mantra yang mengakibatkan lapisan api roh tipis muncul menyelimuti telapak tangan berkumandang di kedalaman hati, dan cepat, tanganku menampar bagian belakang kepala Arborite dengan keras. Namun bedanya, sekarang pukulan itu tak lagi menembusnya, kepala Arborite terdorong kedepan karena tamparanku.
"Kamu minta mati, Bocah??!"
"Kalau nggak mau jelasin, nggak usah ngomong. Bikin emosi aja!" sahutku sengit sambil terus melanjutkan langkah, tanpa sedikitpun berusaha menanggapi reaksi Arborite yang murka sambil mengelus-elus bagian belakang kepalanya yang aku yakin, akan berdenyut menyakitkan sepanjang hari.
"Kalian ini temen atau apa sih?"
"Tak perlu kau perdulikan, Ray..." jawabku pelan sambil terus melangkah. Badai dalam pikiranku semakin sarat dengan rasa dingin yang seakan mulai mengubah hati menjadi sebongkah batu es.
****
Topan bergegas turun dari puncak dengan cepat. Badai yang sebelumnya nampak di kejauhan mendekat dengan kecepatan luar biasa. Tapi ia hanya menemukan sebuah Carrier tergeletak tanpa pemilik tergeletak di tempat pemuda yang meminjamkan tali ini padanya. Dan badai yang mengancam di belakangnya, nampaknya tak akan menjadi ramah sedikitpun. Topan tak mampu menunggu, hanya sebuah harapan berkembang, semoga pemuda itu mampu menemukan shelter ketika badai itu datang, dan Topan mulai mempercepat perjalanannya.
Perjalanan ini akan sangat melelahkan, pikir Topan sambil mulai berlari di sepanjang jalan setapak menurun yang terjal.
Setelah nyaris 3 jam penuh dalam perjalanan turun, yang hampir keseluruhan prosesnya ia lalui dengan berlari, pintu basecamp yang terletak di desa terakhir di kaki gunung mulai nampak ketika rintik hujan yang membawa air sedingin es mengguyur dalam selimut angin berkekuatan tinggi.
__ADS_1
Badai itu kuat, cepat dan nampaknya membawa kekuatan penghancur yang besar ketika ia benar-benar datang. Topan benar-benar berharap pemuda itu selamat dalam kondisi ini, ketika secepat mungkin ia memasuki rumah sederhana itu, mencoba secepat mungkin berlindung.
Tapi keinginan Topan untuk segera beristirahat setelah mengganti baju nampaknya harus tertunda ketika serombongan pemuda dan pemudi turut memasuki Basecamp dan mulai ribut dengan berbagai celotehannya. Meski biasanya ia sangat menyukai berhubungan dengan banyak orang, namun tidak kali ini. Topan bahkan tak terlalu perduli dengan berbagai kegiatan yang terjadi di rombongan itu. Pikirannya masih terus mengingat dan tak berhenti menghawatirkan pemuda gondrong yang meminjamkan tali padanya kemarin. Topan bahkan tak memperhatikan pertengkaran kecil yang terjadi di rombongan itu. Kalau bukan karena salah satu diantara mereka mencoba untuk keluar dalam badai, ia takkan memperhatikan rombongan itu sedikitpun.
"Bi, jangan gila dong! Badai ini nggak main-main. Salah-salah malah kamu ikutan mati nanti!"
'Eh?!'
"Bram, kalau kamu takut, silahkan tinggal disini. Aku hapal jalurnya. Aku bisa kesana sendiri!" balas gadis berperawakan kecil yang nampaknya memaksa untuk melanjutkan perjalanan.
Dan nampaknya, sekuat tenaga gadis itu mencoba untuk keluar, yang tentunya, tak ada satupun anggota rombongan itu yang mengijinkan.
Topan mengerutkan kening, dan ketika perlawanan dan teriakan gadis itu terlihat semakin kuat, ia mendekat dan dengan lembut menekan titik darah yang terletak di pangkal leher gadis itu. Tak butuh waktu lama, gadis itu langsung kehilangan kesadarannya.
"Tenang, Mas dan Mbak semua, dia hanya tertidur kok," jawab Topan sambil sedikit terkekeh melihat sedemikian banyak orang melihatnya dengan ternganga.
"Seriusan yo Mas?" sahut salah satu pemuda yang sebelumnya dipanggil Bram itu. Sorot mata khawatir jelas terpetakan di matanya.
"Iya, Mas. Serius. Lha saya aja ngeri lihat badainya kok, cewek kecil begini mau nekat aja terjang beginian. Kayak nggak ada hari lain aja..." gelak Topan sambil membantu mengangkat badan gadis itu dan membaringkannya.
"Saya Bram, Mas. Ini Arimbi, adik saya." sahut cowok itu lagi sambil mengulurkan tangan.
"Topan, Mas. Itu tadi titik akupuntur, Mas, bikin orang tertidur tanpa menyakiti pasien. Adiknya ngapa Mas, kok yang semangat amat?"
Bram hanya menghela nafas berat, dan nampaknya, banyak dari anggota rombongan yang seakan menarik diri dalam keheningan yang mencekik.
"Ngopi, Mas." sahut salah satu anggota rombongan itu sambil mengangsurkan secangkir kopi yang masih mengepul.
Tapi keheningan nampaknya tak hendak berakhir dan tak ada seorangpun yang memiliki keinginan untuk menjawab pertanyaan sederhana Topan. Bram bahkan hanya menghela nafas berat dan meneruskan usahanya menyelimuti tubuh adiknya dengan Sleeping Bag yang ia ambil dari Daypack-nya.
Dan entah bagaimana caranya, pintu depan basecamp yang tertutup rapat dan diganjal, tiba-tiba menjeblak terbuka dengan suara keras, namun Topan hanya berdiri melihat tanpa berusaha membantu mereka yang berjuang menutup pintu itu kembali.
"Uh, sial. Badainya gila amat ya?"
"Eh, sejak kapan lu disini?"
Pemuda itu cuma cengar-cengiri sambil mengibaskan rambut gondrongnya yang basah, melemparkan butiran air kemana-mana, lalu menyodorkan tangannya.
"Nama gua Reva. Gua udah dari tadi disini. Elu sibuk sih, ga lihat gua masuk" sahutnya.
"Terserah elu aja dah. Yang jelas emang elu kayak hantu, ga tau kapan datang. Dan gua ga liat..." sahut Topan, yang cuma disambut tawa terkekeh Reva.
"Itu rombongan yang di depan lagi pada ngapain ya, Bro, sepi amat?"
"Auk, lagi pada sembayang, mungkin" sahut Topan cuek.
"Ah, iya. Tali elu gua bawa tuh. Thanks ya Bro, kalo lu ga bilang, mungkin cilaka gua kemarin" lanjut Topan lagi.
Reva hanya melambaikan tangannya santai dan tak perduli. Pandangannya terpaku pada sosok wanita mungil yang terbaring di dipan beberapa meter di depannya. Kilat kesedihan nampak berkilas sejenak di matanya.
"Elu napa, Bro? Jangan mikir aneh-aneh. Abangnya di depan tuh, bareng ama rombongan. Dipukulin abis lu" canda Topan.
Reva hanya menghela nafas berat, dan kembali duduk. Kegembiraan yang ditunjukkan barusan bagaikan dihisap surut ke dalam bumi.
__ADS_1
"Bro, gua boleh minta tolong nggak?"
"Boleh" sahut Topan.
"Gua nitip, tolong tali itu lu kasih ke gadis itu ya. Carier gua masih ketinggal di atas.." sahut Reva.
"Itu kawan-kawan elu? ngapa nggak lu samperin?"
"Cewek itu cinta mati ama gua. Mendingan gua nggak ketemu mereka. Gua nitip aja tali itu, sama tolong lu kasih ini ke Bram ya..." lanjut Reva pelan sambil mengulurkan beberapa batang bunga Eidelweiss ungu yang diikat dengan ikat rambut.
"Bilang aja Reva minta maaf..."
Dan pemuda itu berlalu ke pintu belakang begitu saja tanpa menunggu jawaban apapun.
"Oiii, setan, lu mau kemana?" sergah Topan gusar.
"Kencing! ngapa, mau ikut?" balas Reva sambil ngeloyor pergi ke belakang, meninggalkan Topan yang setengah jengkel setengah geli dengan polahnya.
Huft, sok misterius.. gua kerjain lu, pikir Topan sambil melangkah ke depan.
"Bram, gua bangunin adik lu ya. Harusnya dia udah bisa tenang sekarang." kata Topan sambil mendekat, yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Bram.
Perlahan, Topan mengurut beberapa titik akupuntur di tubuh Arimbi, dan perlahan gadis itu mulai siuman.
"Nah, minum teh hangat dulu ya, ada titipan dari kawanmu." ujar Topan.
Arimbi memandangnya dengan aneh ketika Topan berjalan ke belakang dan kembali dengan tali panjat dan sesuatu dalam tangannya.
"Tadi temen elu, namanya Reva, bilang untuk nitipin tali ini ke elu, dan edelweiss ini. Pesennya, Reva minta maaf gitu." lanjutnya sambil mengulurkan bunga dan tali itu.
Tapi cengiran Topan berangsur lenyap. Wajah gadis didepannya ternganga dalam ketidakpercayaan, sakit dan kesedihan yang nyata. Air mata mengembang dan menderas cepat ketika menerima bunga dan memeluknya dalam kesedihan yang hebat.
"Eh??! apa ini?!"
"Bro, gua nggak kenal elu siapa, dan bagaimana elu kenal sama Reva, tapi cara elu bercanda bener-bener keterlaluan!" sergah Bram sambil dengan garang, mendorong Topan menjauh. Kemarahan benar-benar tercetak nyata di wajahnya.
Namun teriakan setengah histeris yang muncul dari Arimbi menghentikan langkah Bram dan banyak wajah marah lain dari anggota rombongan mereka.
"Bang, maaf, Abang ketemu Reva dimana?" kata Arimbi di tengah sedu dan air mata yang terus deras mengalir. Tangannya nampak gemetar ketika berusaha membelai seikat bunga yang erat digengamnya.
Bingung dengan perkembangan situasi yang terjadi, Topan melangkah lebar menuju Kamar Kecil yang berada di bagian belakang rumah dan sekuat tenaga menyentakkan pintu, dan bersiap untuk menyeret pemuda gondrong itu ke depan. Tapi tempat itu kosong...
"Reva meninggal 100 hari yang lalu, Bang..." bisik Arimbi, yang rupanya menyusul langkah Topan ke belakang.
Namun bisikan lemah di tengah badai yang menggila itu terdengar sangat jelas di telinga Topan, mengguncang setiap keberadaannya dengan penyesalan yang tumbuh dalam hati atas cara penyampaian tak bijaksana yang barusan dilakukannya...
'Sialan, kalau tau bakal begini, aku nggak mau diajarin aneh-aneh sama kakek tua sialan itu!' sesal batin Topan.
"Maaf ya, Mbak, saya beneran minta maaf... Saya nggak tahu.."
Meski Arimbi berusaha tersenyum, namun justru senyum yang muncul itu terasa bagai pisau tumpul berkarat yang mengiris hati Topan pelan-pelan.
"Reva bilang apa aja, Mas? Saya mohon, tolong ceritakan..." ujar Arimbi sambil sekuat tenaga menahan isak.
__ADS_1
"Mungkin akan lebih baik jika kita kembali ke depan.. Saya akan ceritakan semuanya, tapi hanya setelah Mbak tegar dan tabah ya. Saya kurang begitu bisa menahan perasaan ketika melihat wanita menangis.." desah Topan lesu, yang hanya dibalas dengan anggukan lemah oleh Arimbi.
'Hantu sialan! Emang sih elu nolong gua, tapi juga nggak begini amat dong caranya, Setan!' kutuk hati Topan sambil melangkah ke ruangan depan. Langkahnya berat, seberat hatinya yang bingung untuk menghadapi hal tak terhindarkan ini...