
Keluarga Prameswara, sebuah keluarga besar yang menguasai lahan seluas bukit tempat rumah mereka didirikan. Konon katanya, sang pendiri keluarga melakukan jasa besar kepada keluarga Keraton Surakarta, dan mendapatkan bukit itu sebagai hadiahnya. Bahkan bisa dibilang kalau si kakek, Pak Hardiman itulah yang menjadi pemukim pertama di daerah ini, yang kemudian, disusul oleh banyak pemukim lain hingga membentuk desa kecil. Hal itu menjadikan Pak Hardiman diperlakukan seperti tetua di situ, meski fakta dimana ia juga terkenal sebagai jawara tanpa tanding mungkin juga memberikan pengaruh. Lahan yang luas, dengan kekayaan berlimpah, masih ditambah kemampuan linuwih Pak Hardiman, membuat keluarga Prameswara diperlakukan seperti raja kecil, yah, mungkin juga karena memang Pak Hardiman sendiri memang masih memiliki hubungan dekat dengan keraton, membuat hal itu wajar dilakukan.
Sejak kecil, Prameswara memang tak seperti anak sebaya lainnya. Ketika banyak yang lain asyik bermain, ia akan menjalani berbagai latihan bela diri dan spiritual, yang membuatnya menjadi pribadi yang agak tertutup. Ia tak mempunyai terlalu banyak teman. Hanya Anton dan dua teman lainnya yang seringkali berbicara dengannya. Namun seiring kemampuan Prameswara menguat, yang membuatnya seringkali tengah berbicara dengan udara kosong, membuat kedua teman mereka ketakutan dan mulai menjauhinya. Sementara Anton, memilih tak perduli dan menjadi satu-satunya teman bocah aneh itu. Hingga akhirnya, Mr. Alfons membawanya pergi dari tempat ini dan memberikan kesempatan akan hidup yang saat ini bisa ia nikmati. Mau tak mau, rasa khawatir muncul di hatinya. Pops adalah sosok yang sangat ia hormati, dan sejauh ini, cuma teman dari masa lalu yang hilang kontak 15 tahun lalu inilah satu-satunya harapan yang ia miliki. Jika Prameswara tak ingin membantunya, ia benar-benar tak tahu mesti berbuat apa lagi. Bayangan kejadian dalam video itu tak mau lepas dari kepalanya.
"Bogang?"
Mendengar suara ini, Anton menoleh. Sosok pemuda tampan dengan badan atletis berdiri di sana. Dengan celana jeans dan baju turtle neck, yang tak mampu menyamarkan badannya yang liat, pemuda itu memandangnya dengan intens. Hanya sesaat kemudian, senyum terkembang lebar muncul, membuat wajah tampan dengan potongan rambut ala militer modern itu melembut dalam keriangan kenangan ketika sapaannya berkembang menjadi teriakan riang.
"BOGANG!!! Kau benar-benar Bogang!!!" teriaknya riang ketika langkahnya bagai terbang dan meraih sahabatnya, sosok yang menghilang sejak 15 tahun lalu ini.
Kehangatan yang pahit mengalir mengisi hati Anton ketika Prameswara larut dalam berbagai pertanyaan dan candaan serta kenangan yang pernah mengisi hari mereka dulu. Nyata bahwa Prameswara tak pernah melupakan sosok sahabatnya, meski yang terakhir mungkin tak akan pernah muncul jika saja tak ada kejadian ini.
Sobat macam apa aku ini. Aku bahkan muncul disini cuma karena membutuhkan bantuan, batin Anton getir.
"Kau, kakak besar, setelah sukses sama bapak bule itu, sekarang ingat pulang ya?" candanya setelah euphoria yang melandanya sedikit mereda.
__ADS_1
Anton tertawa kecil. Prameswara selalu memanggilnya kakak besar. Dulu, meski bocah aneh itu menguasai berbagai jenis ilmu bela diri, ia tak pernah mau membalas ketika dipukuli, yang akhirnya membuat Anton akan selalu berdiri untuk membelanya. Hingga dalam salah satu perkelahian, gigi depan Anton lepas karena tinju salah satu lawannya. Dari situlah nama Bogang itu muncul.
"Aku tak cocok jadi kakak besar, Mes. Wong kakak kok ngilang." jawabnya lemah tanpa mampu menahan rasa malu hati yang muncul, sadar bahwa tujuannya datang cuma karena membutuhkan bantuan.
"Haish, omongan apa itu. Buatku, Bogang ya Bogang. Kakak besar yang tak surut melindungi adiknya, meski harus jadi bogang akhirnya." sahut Prameswara sambil tertawa.
"Asu, ya wong adikku payah kok. Segala karate, jiu jitsu, sampai pencak silat mahir, lha kok malah milih jadi bola. Yo aku ga terima." balas Anton sambil tertawa lepas, tanpa sadar kembali kedirinya yang dulu. Sosok tak terkendali yang sedikit tertutup oleh pendidikan dan budaya tempat ia menghabiskan waktunya selama ini. Belenggu tak nyaman yang mengikat hatinya terlepas perlahan ketika mereka berdua larut dalam nostalgia. Tapi belum lagi Anton sempat mengutarakan masalah yang menyebabkan kedatangannya, tiba-tiba saja pemuda yang sebelumnya masih bercerita dan tertawa-tawa itu berdiri. Wajahnya mengeras ketika tatapan matanya tajam mengarah ke pintu yang terbuka.
"Siapa yang kau cari disini." katanya tegas, yang mau tak mau, membuat Anton sedikit gentar ketika setelah terdiam, mata Prameswara melirik ke arahnya sebelum ia kembali menyalak garang ke pintu yang tak berisi siapapun.
"Itu pilihanmu sendiri. Jangan salahkan aku jika aku bertindak kejam." katanya lagi, tapi kali ini, ia menggumamkan kata-kata yang tak mampu Anton mengerti. Bersamaan dengan itu, tangan kiri pemuda itu bergerak cepat, seakan tengah mencengkeram leher seseorang ketika tangan kanannya membentuk telapak dan mengarah ke arah yang sama dengan tangan kirinya.
Lha, sialan. Bocah ini makin parah aja..., keluh Anton kelu. Hanya saja, sekarang ketakutan mulai mengisi hatinya. Dulu ia pernah punya pendapat kalau Prameswara hanya sebuah contoh klasik kasus gangguan kejiwaan ringan akibat tak memiliki teman, tapi setelah melihat isi video kiriman Terry, ia tak lagi terlalu yakin.
"Mas Bardi, Mas?!"
__ADS_1
Menanggapi panggilannya, sosok kekar tadi segera tergopoh datang.
"Saya minta tolong ya Mas, carikan dlingo benglay dan lawe. Biasanya di pasar tawang mangu ada. Tolong ya Mas."
"Nggih, Mas!". jawab pria itu cepat. Dan tampaknya, Mas Bardi, si petugas keamanan itu tak menganggap hal ini aneh. Ia melirik ke tamu tuannya dengan pandangan maklum, mengangguk dan segera berlalu dengan efisiensi yang tak kalah dengan seorang anggota kesatuan elit.
Melihatnya berlalu, Prameswara berbalik dan menatap Anton dengan pandangan aneh. Meski ia tak menanyakan apapun, Anton merasa kalau pandangan pemuda itu seakan mampu melihat seluruh rahasia yang ia simpan. Sejenak kemudian, pemuda itu menghela nafas, mengeluarkan rokok dari saku celana dan duduk kembali.
"Barusan, seorang wanita yang marah datang. Ia bilang kalau Mas yang membuat ia terbunuh, dan dia ingin Mas mati. Mas di Amerika bunuh orang?" tanyanya pelan. Sama sekali tak ada tuduhan disana, hanya keprihatinan nampak muncul di matanya.
"Lho, lha aku ini dokter terkenal di sana, Mes. Aku nggak mungkinlah bunuh orang sembarangan. Aku bukan gangster!" sahut Anton meradang.
Ya kalau dia ini penjahat, lha bukan lho? Lagian, sejak ia terkenal di dunia kedokteran, jumlah pasien mati di tangannya bisa dibilang tidak ada. Ini adalah kebanggaannya!
"Lha tapi wanita tadi itu bule lho, Mas. Katanya namanya Debora..."
__ADS_1
Good Lord God!!!