
Kay tercabik oleh rasa sedih dan penyesalan yang hebat. Suasana menenangkan padang rumput yang sudah ia kunjungi beberapa kali inipun tak mampu meringankan rasa tak berguna yang berkecambah dan tumbuh dalam hatinya.
Masalah yang seharusnya bisa ia atasi dengan mudah, berkembang menjadi bencana. Kay bahkan tak yakin akankah Arborite mau memaafkan dirinya. Belum lagi Rayna...
Apalagi ketika ia memikirkan Andini...
"Kau tahu, kau ini sangat memalukan!"
"Iya. Dia memang sangat memalukan. Lha terus kita gimana ya Kang?"
"Huh, pukul saja kepalanya dengan keras. Biasanya orang bodoh akan jadi agak pintar ketika dipukul."
"Hahaha, bukannya kalau dipukul kepalanya malah akan jadi bodoh Kang?"
"Biarkan saja, lagipula dia memang sudah bodoh!"
Mendengar percakapan ini, Kay mendongak. Sejenak ia lupa pada kesedihan yang berkuasa dalam dirinya. Meski sempat memikirkan kemungkinan siapa yang akan berbicara seperti itu, tapi ketika ia mendongak, Kay mendapati bahwa mereka bukan salah "saudara" yang sudah ia temui sebelumnya.
"Maaf, kalian siapa?"
"Kau dengar, Di? Pertanyaan bodoh. Malu aku terlahir sebagai kakak."
Jawaban dari sosok yang memiliki badan besar ini mengagetkan Kay. Memang, meski tak semirip keempat "saudara"-nya sebelumnya, pemuda itu sepantaran dengannya. Badan pemuda itu besar, benar-benar besar. Memiliki kulit berwarna putih pucat bercampur warna kemerahan, yang seakan berkilat oleh cairan. Nada suara yang ia miliki getas dan keras. Ujung mulutnya seringkali membentuk seringai yang terlihat kejam. Kontras dengan sosok lain yang memiliki badan kecil, berkulit hitam kemerahan dan matanya memancarkan sifat baik yang terkombinasi dengan keceriaan seorang bocah. Mulutnya selalu menyunggingkan senyum dan selalu mengawali kalimatnya dengan tawa.
"Dia baru sekarang ketemu kita, Kang. Wajar kalau tanya." jawab pria bertubuh kecil itu sambil tertawa kecil.
"Aku adikmu, Kay, dan dia adalah kakakmu. Itu menjawab pertanyaanmu?" lanjutnya lagi, yang makin membuat Kay terkejut.
Kakak? Adik? 4 Saudara???
__ADS_1
Lha selama ini, kemana mereka semua??!
Melihat kebingungan yang muncul di wajah Kay, keduanya-pun memiliki reaksi yang benar-benar berlawanan. Pemuda berbadan besar itu mendengus kasar dan menggumamkan sesuatu yang terdengar seperti makian atas kebodohan Kay, sementara pemuda berbadan kecil itu tertawa kecil sambil menutupi mulutnya ketika kemudian ia mendekati Kay, dan duduk disebelahnya.
"Setiap manusia, akan lahir bersama dengan 4 saudara kembar, satu kakak dan satu adik, Kay. Harusnya kau sudah tahu saudara kembarmu, kan?"
Meski sedikit skeptis dengan arah percakapan ini, menimbang kebaikan yang terpancar dari pemuda kecil itu, Kay mengangguk.
"Dan sekarang kau bertemu kami. Dia adalah kakakmu, Kakang Kawah, lahir mendahuluimu, memastikan semuanya aman sebelum kau muncul ke dunia. Meski dia kasar, seluruh keberadaan penciptaan seorang Kay dilindungi olehnya." ucapnya sambil tersenyum ketika menunjuk ke arah Kawah.
"Huh, aku sudah merasa menyesal melakukan itu sekarang!" tukas Kawah getas, yang segera ditimpali tawa kecil lagi.
"Aku, penghubung pertamamu dengan kehidupan. Aku lahir paling akhir, memastikan kau tetap aman setelah kau muncul di dunia. Aku Ari-ari, Kay. Mungkin kau pernah mendengar kata-kata, kakang kawah, adi ari-ari, sedulur papat lima pancer Rah lan tali puser?"
???!!!
Lagi-lagi, kebenaran tentang diri pribadi sejati... Ah, betapa sebelumnya aku tak memiliki pengetahuan apapun...
......................
Hal yang muncul ketika ia tersadar adalah rasa sakit. Badannya seakan remuk redam. Setiap inchi keberadaannya berada dalam siksaan rasa sakit yang kuat, sementara kepalanya berdenyut-denyut dengan menyakitkan.
Waktu memandang ke sekeliling, ia menyadari kalau ia mengenal tempat ini. Meski tak menemukan siapapun disisinya saat ini, hatinya merasa hangat.
Paling tidak, mereka memindahkanku ke kamar. Semoga saja mereka berdua mau memaafkanku.
Meski masih merasa gamang, Kay tersenyum. Ia tahu kalau nanti, ia masih harus menghadapi kemarahan Arborite dan menenangkan Rayna. Tapi percakapannya dengan kakak dan adiknya beberapa waktu lalu menenangkan pikirannya. Pemuda itu sudah memantapkan hatinya untuk terus berjalan di jalan ini, dan ini tak akan menyenangkan tanpa kehadiran mereka berdua. Apapun yang terjadi, ia akan tetap menghadapinya
......................
__ADS_1
Pria itu mungkin berusia sekitar awal 40-an. Dalam balutan jas hitam rapi yang pasti dijahit khusus untuknya, menunjukkan badan yang terawat baik dalam bentuk yang menarik perhatian banyak pandangan lawan jenis yang kebetulan berpapasan dengannya. Tingkah lakunya yang sopan, bahkan ketika menyerahkan kunci mobil mewah yang ia kendarai kepada petugas valet, menunjukkan standard moral yang tak tercela. Sementara senyum santun yang tak lepas dari wajah menarik yang ia miliki, benar-benar menjadi alat mematikan untuk menarik perhatian siapapun yang ia inginkan.
Mr. Jardo Sinclair, sebenarnya adalah seorang pria kelahiran Jawa yang besar dan menjadi sedemikian kaya karena usaha perdagangan barang antik di sebuah negara di Eropa. Muncul entah darimana, pria itu membangun jaringan perdagangan barang antik yang sangat sukses. Setiap event yang ia selenggarakan, akan menjadi rebutan setiap kolektor-kolektor benda antik dari seluruh penjuri dunia. Dan kali ini, pria itu kelihatannya akan menyelenggarakan perhelatan besarnya di sini, tanah kelahirannya.
Tapi nampaknya untuk kali ini, Mr. Jardo tampak sedang dalam kondisi kurang sehat. Wajahnya kadang-kadang akan berkeriut tak nyaman, sementara keringat mulai mengalir di dahinya, yang tak henti terus ia lap dengan sapu tangan yang mengeluarkan bau harum yang memikat hidung. Namun meski demikian, ia terus mempertahankan keramahan dan senyumnya meski kadang, tampilan penuh rasa sakit akan muncul di wajahnya ketika ia bergegas menuju kamar hotel tempat ia menginap.
Segera setelah pintu kamar Penthouse itu nampak, pria itu mempercepat langkahnya. Keriut di wajahnya seakan menunjukkan seberapa besar rasa sakit yang tengah ia alami saat ini. Tangan kanannya terus berada di kerah baju yang terikat rapi dengan dasi yang harganya setara dengan harga motor yang tak terbeli oleh banyak orang kecuali jika mereka menggunakan sistem kredit ketika tangan kirinya tampak sedikit gemetar saat menempelkan kartu untuk membuka pintu kamarnya.
Pria itu berusaha melepaskan dasi dan kemeja yang ia pakai, segera setelah pintu menutup. Tanpa ragu, ia segera menariknya saja dengan kuat, membuat kancing button out itu terlepas dari jahitannya dan terjatuh di lantai kamar yang terlapis karpet bulu tebal itu. Menampakkan badan atletis yang saat ini, tampak dipenuhi dengan luka dalam berbagai bentuk dan ukuran. Kulit di sekitar luka-luka yang terbuka itu terlihat seperti bekas lilin yang meleleh, seakan kulit itu pernah mengalami luka bakar yang parah. Tak heran jika pria itu tampak sedemikian kesakitan sebelumnya.
Berdiri didepan cermin, Mr. Jardo tampak bernafas dengan berat ketika tangannya sibuk mencari sesuatu, dan ketika botol parfum antik, yang menggunakan bola dari karet untuk media semprotnya itu ia temukan, ia segera menyemprotkan parfum itu ke badannya. Anehnya, ketika cairan berbau harum itu menyebar, luka-luka itu mulai menutup dengan cepat, bahkan kulit yang seakan meleleh itu mengerut dan mengencang. Sementara itu, wajah Mr. Jardo tampak seperti sedang mengalami kenikmatan yang sangat melegakan.
Tak butuh waktu lama, tubuh yang sebelumnya rusak dan cacat oleh berbagai jenis luka itu, menampakkan wujud tubuh yang mempesona. Kulit kecoklatannya sempurna membalut badan atletis dengan otot-otot proporsional, yang pasti akan mempesona banyak wanita muda tanpa kecuali. Wajah Mr. Jardo tersenyum ketika melihat bayangan tubuhnya di cermin, tapi ketika ia melihat ke arah botol parfum kuno yang masih ia pegang, ia menghela nafas panjang.
Sudah tinggal sedikit. Tampaknya aku harus mencari tambahan untuk memenuhinya lagi. Sayang botol ini sedemikian kecil. Andai saja aku bisa mendapatkan botol lebih besar, tentu aku tak perlu mencari saripati isinya terlalu sering seperti sekarang, desahnya dalam hati sambil menggoncang botol parfum kuno itu di depan matanya.
Tapi pria itu segera kembali tersenyum ketika melihat bayangan tubuh sempurna di cermin itu. Hatinya kembali berdesir dengan banyak hal ketika selintas pikiran muncul dan membuat senyumnya makin lebar.
Ah, jadi kenapa kalau setiap bulan aku harus mencari perawan untuk mengisinya? Kayak susah aja mencarinya. Dengan semua yang diberikan isi botol ini, harta dan wanita bukanlah sesuatu yang perlu dipikirkan...
Memberikan pandangan terakhir ke arah cermin untuk kembali mengagumi badannya yang sempurna, Mr. Jardo membalikkan badan dan beranjak menuju lemari pakaian. Ia perlu bertemu dengan calon pengisi botol itu malam ini...
......................
"Ray, menurutmu, penulis kejam nggak sih?" tanya Arborite ketika dilihatnya gadis itu tengah sibuk dengan gelas kopi kosong yang baru saja ia ambil dari kamar penulis.
"Tanya sendiri. Dia baru ngambeg. Nggak ada yang kirim hati atau apapun. Katanya dia baru mempelajari hal baru untuk kirim hantu ke pembaca yang nggak mau like tulisannya." sahut Rayna sambil ngeloyor ke dapur.
"Eit, buset!"
__ADS_1