Kisah Perjalanan

Kisah Perjalanan
I'll Keep Dancing on My Own (III)


__ADS_3

"Hmmm, sekarang tempat ini layak disebut sebagai rumah" gumam Kay senang.


Butuh waktu lebih dari seminggu untuk merapikan dan membuat rumah ini kembali terlihat pantas untuk ditinggali manusia. Apalagi dengan keberadaan dua entitas tak jelas yang kini mengembangkan kebiasaan aneh dalam memunculkan diri kapanpun mereka suka, mencari bantuan dari orang lain hampir bisa dibilang tak mungkin. Berbagai cerita seram sudah beredar dan tak ada manusia waras di sekitar tempat ini yang mau membantu. Jadi memang bisa dibilang, Kay mengerjakan semuanya sendiri. Tapi rupanya berbagai kesibukan dan interaksi itu yang nampaknya justru membantu kewarasan pemuda itu dalam memahami takdir apa yang terpaksa ia masuki. Kay mulai berusaha menerima bakat yang selalu ia anggap sebagai kutukan itu, dan mulai melatihnya dengan serius. Meski proses belajar itu tak semulus yang ia harapkan, namun Kay tak pernah menyerah. Ia benar-benar mencoba meneruskan langkah, seperti yang diminta almarhum ibu.


Dan berbagai catatan dalam buku-buku peninggalan ayah, sungguh menjadi pembuka mata yang sangat baik.


Ayah, sosok seorang dosen yang selalu mengedepankan penelitian dan pembuktian faktual, ternyata menyimpan berbagai jenis pengetahuan yang mengejutkan. Berbagai catatan kuno tentang beragam ilmu kanuragan dan kebatinan, yang bahkan mungkin pernah terdengar namanya tanpa muncul wujudnya, bertumpuk rapi di laci dan rak ruang kerjanya. Koleksi berbagai jimat, benda kuno dalam bentuk senjata, rajah dan bermacam tulisan mantra tertata rapi pada lemari kaca tinggi menutupi nyaris seluruh dinding ruangan.


"Ayahmu hebat juga, Bocah. Catatan dan kumpulan pusaka di tempat ini nyaris mengalahkan tempat tinggal seorang Empu besar di jaman Gajah Mada masih berperang untuk Majapahit." celetuk Arborite tanpa mampu menyembunyikan seklumit rasa kagum dalam suaranya.


"Bo, kamu itu sudah jadi konsentrasi padat energi metafisik, ada baiknya kau kendalikan keinginan duniawimu itu. Benar kan ya, Kay, konsentrasi padat energi metafisik. Ngomong ampe ke jaman majapahit segala, kayak ngerti aja."


"Gadis kecil konyol yang mati karena ditipu pacar, huh, ngerti apa kamu, Nduuuk?" gelak Arborite tanpa berusaha membalas provokasi Rayna sedikitpun. Nampaknya ia telah belajar sesuatu seiring waktu interaksinya dengan hantu centil itu.


"Kaaaaay, tuh, Abo jelek ini ngomong gitu lagi..." rajuknya yang setengah tertutup gelak tawa Arborite.


Kay hanya menghela nafas. Pertengkaran keduanya sudah menjadi semacam pengisi tetap di dalam kepalanya. Semacam frekuensi radio khusus pertengkaran-percakapan yang selalu membuat kepalanya tak pernah sepi.


Hal-hal yang ada masih terasa mengejutkan bagi Kay. Belum lagi tentang surat dari almarhum ayah, memasuki ruangan ini saja sudah menjadi kejutan yang sangat ironis bagi Kay..


Andai saja surat ini tak perlu ada, Nak...


Kau pasti akan membenciku ketika surat ini kau temukan, tapi sungguh aku berharap akhirnya kau bisa mengerti kenapa ayah melakukan hal-hal itu padamu dulu.


Kita berdua adalah korban dari dosa leluhur, Nak...


Kakekmu berjalan terlalu jauh ke dalam dunia yang bukan menjadi tempat kita, Manusia. Keinginannya untuk menjadi manusia linuwih, membawa berbagai hal tak terelakkan yang sangat kubenci, dan mungkin kau merasakan itu juga sekarang. Segala hal yang ia lakukan dulu, meninggalkan bekas padaku, dan nampaknya itu semakin dalam padamu...


Ayah berpikir dengan semua pengetahuan dan ilmu pengetahuan manusia, akan bisa membuatmu terbebas dari kutukan ini, namun nampaknya hal itu tak terjadi seperti yang kuharapkan. Jika kau menemukan surat ini, berarti besar kemungkinan kalau ternyata kutukan ini menempel lebih kuat padamu.


Dan jika memang demikian kejadiannya, ayah akan berharap pada ampunanmu...


Kau akan menemukan pintu tingkap yang tersegel dalam kertas mantra di bawah meja kerja ayah, dan ketika hatimu sudah siap, buka dan masuki tempat itu..


Ayah sadar seberat apa beban yang kuserahkan padamu, Nak, tapi aku tak mampu menyelesaikan semua ini sendiri lagi.


Selamat tinggal, Nak, selamat jalan...


Isi surat itu juga yang mendorong Kay untuk memasuki ruang kerja ini. Tempat dimana almarhum ayahnya menghabiskan sebagian besar waktunya dulu ketika ia di rumah, tanpa mengijinkan siapapun memasukinya tanpa kecuali.


Dan kini, Kay menatap nanar pada sebuah pintu tingkap yang tertanam pada lantai dalam ornamen sebuah simbol penyegelan kuno, yang menyaru sempurna dengan ornamen yang tergambar pada sekat penutup kaki meja, menyamarkan bentuk pintu itu menjadi sebuah hiasan ornamen lantai yang apik.


Riak gelombang di udara sedikit menyadarkan Kay ketika sesosok wajah cantik muncul dari ketiadaan di belakangnya.


"Kay, kok diem sih... Abo itu makin jahat aja sekarang lho..."


"Rayna, berhenti disitu!"


"Ah, Abo, apaan sih!" balas Rayna sengit ketika ia tak menghiraukan kemunculan Arborite yang coba menghentikan langkahnya mendekati Kay yang berdiri di atas simbol.


Namun semua terjadi begitu cepat...


Arborite melayang dan menarik Rayna, setengah melemparkannya ke belakang, menjauhi pola ornamen di lantai, namun hal itu membuat badan padat perwujudan Arborite terhuyung maju dan memasuki pola ornamen itu sendiri. Kay sempat melihat senyum sedih muncul di bibir sosok tampan berambut gondrong itu sebelum dinding cahaya berpendar terang dan menarik Arborite masuk ke dalam lingkaran simbol.


"ABOOOOO!!!"

__ADS_1


"Diam disitu, Ray!"


Kay hanya mampu terperangah kaget ketika dinding cahaya yang berpendar terang dan sempat mengaburkan keberadaan Arborite sebelumnya, menghilang secepat datangnya, menyisakan sosok Arborite yang meringkuk di bawah meja dengan mengangkat kedua tangan menutupi wajahnya.


"Bo.. Bo! Kamu kenapa?"


Arborite nampaknya juga tidak terlalu memahami apa yang sebenarnya terjadi ketika teriakan Kay menyadarkannya.


"Sialan, kupikir Cakara Magilingan beneran... Kaget aku!" ujarnya sambil berdiri, tanpa mampu menyembunyikan jejak rasa takut hebat yang muncul dari dirinya.


"Itu apa, Bo?"


"Ray, tetap di tempatmu! Aku tak tahu kenapa, tapi seharusnya simbol ini sangat berbahaya bagi mahluk seperti kita."


Mendengar nada khawatir yang muncul dari mulut Arborite, langkah Rayna tersurut mundur. Perlahan, Kay melihat bahwa cahaya terang yang muncul sebelumnya ternyata tidak sepenuhnya menghilang. Ornamen di lantai yang membentuk sebuah simbol aneh dalam bidang lingkaran sempurna itu berpendar dengan cahaya lembut yang nyaris tak tertangkap oleh mata.


"Aku tak tahu apa yang dikerjakan ayahmu, Kay, tapi Rajah ini bukan sesuatu yang boleh untuk main-main..."


"Apa maksudmu, Bo?"


Arborite mencoba berjalan keluar dari lingkaran ketika langkahnya terhenti oleh dinding cahaya lembut di batas terluar ornamen di lantai.


"Huh, sialan. Ini segel penguncian arwah.. Hebat, sungguh sangat hebat. Pertama, aku harus mengajari bocah tolol tak tahu terima kasih tanpa adat bagaimana cara menggunakan anugrah yang dimilikinya. Lalu ada hantu perempuan konyol yang susah jaga kelakuan, yang ngambeg tiap jam, dan sekarang, PENJARA LAGI?!! DAMN IT!!!"


Tanpa mampu menahan diri, Arborite terus meneriakkan berbagai jenis kata makian yang benar-benar layak dikagumi. Getar ketakutan yang sebelumnya sempat muncul dari suaranya benar-benar sirna, tergantikan sosok Arborite yang dulu, saat pertama kali jalan mereka bersinggungan. Namun entah kenapa, melihat Arborite yang masam dan sinis serta tengah murka itu malah membuat Kay sedikit merasa terhibur. Senyum kecil sedikit muncul dari bibir yang tak berhenti menghela nafas berat oleh berbagai kejutan tak menyenangkan yang nampaknya sangat sering muncul akhir-akhir ini.


"Dan kau bocah setan, kenapa malah kau tersenyum bagai orang kurang waras begitu??!"


"Kayyy, Ray takut... Abo bikin ngeri..."


Dan akhirnya pemuda itu tak mampu lagi menahan tawa ketika sosok mahluk yang terpenjara tanpa sengaja itu nampak sedemikian frustasi, meneriakkan kekesalannya sambil mengacak-acak rambutnya sebal tanpa mampu berbuat apa-apa untuk melampiaskannya pada apapun.


...----------------...


Topan masih memastikan setiap persiapan dan peralatan yang ia butuhkan untuk melayani setiap tamu yang datang malam ini tersedia pada tempatnya ketika lelaki itu melangkah ke meja bar. Dandanannya tak pernah berubah sedikitpun. Jas ala barat dengan potongan yang pas dengan badannya yang lumayan terpelihara dengan baik, yang menunjukkan pesona seorang pria paruh baya dalam masa kejayaannya. Meski nampak terlalu rapi untuk ukuran sebuah club, lelaki itu nampaknya tidak perduli. Rambutnya yang sudah menumbuhkan uban di beberapa tempat, sama sekali tidak mempengaruhi sosoknya. Tamu satu ini, yang biasanya selalu duduk di meja 13 tanpa pernah mendekat ke Bar, kali datang dan menghampiri Topan.


"Selamat malam, Pak. Meski senang melihat bapak sesore ini, namun kami belum buka, Pak..."


Lelaki itu tersenyum lebar mendengar hal itu, tapi nampaknya ia sama sekali tak perduli.


"My favorite Bartender.. Same kind of mine, on my table, okey?" ujarnya dengan senyum yang tak lepas dari bibir, yang dibalas Topan dengan cibiran.


"Ya ya ya, saya paham apa itu artinya. Meja 13, Double Bourbon, Old fashioned, on the rock." ujar Topan masam, yang disambar dengan tawa berkepanjangan tamu itu ketika ia beranjak menuju meja favoritnya.


Setelah beberapa waktu bekerja di tempat ini, Topan mulai mempelajari berbagai hal dengan lumayan cepat. Dan melihat bagaimana ia bahkan mampu mengingat banyak hal tentang berbagai minuman yang disukai oleh tamu-tamu langganan, Pak Budi mulai membuatnya menjadi bartender utama, yang otomatis, membuat banyak tamu semakin akrab dengannya, dan salah satunya adalah tamu meja 13 ini.


Tak pernah diketahui kapan datangnya, ia selalu akan berada di meja nomor 13, dengan dandanan yang sama dan pesanan yang tak pernah berubah. Namun dengan banyaknya tamu yang datang dan pergi, hampir mustahil untuk memastikan kedatangan seseorang di tempat ini, jadi wajar saja ketika ia tak pernah melihatnya. Hanya saja, setelah mengetahui kalau Topan tidak bisa berbahasa asing, lelaki satu ini mulai sering berbicara dengan menggunakan berbagai bahasa selain bahasa Indonesia hanya untuk menggodanya. Dan inilah yang terutama membuat Topan sering merasa sebal. Lelaki yang mengaku bernama Ronald itu bahkan pernah membuatnya harus menuliskan beberapa kalimat pada kertas order untuk ditanyakan pada Pak Budi, supaya pemuda itu mengerti apa yang ingin dipesannya.


Sisi baiknya memang Topan lalu berusaha memaksa dirinya sendiri untuk mencoba dengan sekuat ia mampu, belajar bahasa asing, hanya supaya ejekan tersirat Ronald sirna.


Sialan, awas ya kalo ketemu di luar... Tak polesss rambutmu yang klimis itu, gerutu Topan dalam hati sambil mulai membuat pesanan Robert dan mengantarnya ke meja secepat ia bisa. Pak Budi kurang suka tempat kerja yang berantakan ketika Club baru mau buka. Tanpa menghiraukan ajakan Ronald untuk duduk dengannya sambil menunggu waktu Club buka, Topan bergegas menuju tempat kerjanya di balik counter Bar.


Namun langkahnya terhenti ketika ia melihat Pak Budi, yang biasanya rapi dengan setelan, saat ini tengah duduk di salah satu meja. Sebuah botol Burgundy dengan sebagian isinya berada di gelas old fashioned di atas meja.


Ia nampak sedemikian jauh, tak tersentuh. Alunan lagu sedih yang dinyanyikan seorang pendatang baru, yang terkenal dari sebuah talent show mengalun lembut, membawa sedikit rasa tak berdaya yang seakan mengambang dan menginfeksi udara.

__ADS_1


œ


"I'll keep dancing on my own... Entah aku harus tertawa atau menangis, Bud..."


Sosok pria setengah baya itu sudah berdiri di samping Topan ketika berbicara, yang sedikit mengagetkan.


"Bapak tahu lagu ini?"


"Aku bahkan tahu lagu apa yang akan diputar setelah lagu ini berakhir, Nak..." balasnya pelan di tengah tawanya, meski entah kenapa, tawa yang ia lontarkan terasa sangat menyedihkan.


Namun Topan berusaha untuk mengacuhkan apapun yang ia rasakan ketika langkahnya beranjak, bermaksud mendekati sosok kesepian yang tengah melamun di meja itu.


"Jangan dekati dia..." ujarnya. Tangannya kuat mencekal lengan Topan. Kuat, tak tergoyahkan dan terasa sedingin baja.


"Apa maksudnya ini?", rengut Topan keras sambil bermaksud menepis tangan yang kuat menahan langkahnya itu, tapi pria itu nampak sangat sedih ketika ia mengangkat tangannya yang lain dan menunjuk ke arah sosok di meja itu.


Bagai terhipnotis, Topan menoleh dan melihat arah yang ia tunjukkan, ketika samar, sosok lain nampak duduk bersama dengan Pak Budi sekarang. Sosok wanita elegan dengan gaun malam yang cantik telah duduk di sana, asyik dengan lamunannya sendiri, dan terkadang, wanita itu akan melihat jam tangan manis yang terlingkar di tangannya. Namun entah bagaimana, seakan ada selubung tipis yang memisahkan kedua orang yang duduk bersama ini. Mereka berdua seakan tak berada dalam dunia yang sama...


"Aku yakin kau bisa melihat mereka berdua, melihat begitu lama kau mau diam di tempat ini." ujar pria itu lagi sembari melepaskan cekalan tangannya.


Topan masih terpana tanpa mampu bicara melihat pemandangan yang ada. Batinnya terus berusaha mencerna pemandangan ini.


"Namaku Ronald, Budi itu teman baikku.." ujarnya lagi sambil menghela nafas yang nampaknya menyumbat dadanya.


"Ini yang hantu yang mana, Pak?" sahut Topan getir tanpa mampu menyembunyikan nada bodoh dalam suaranya. Pikirannya bercampur antara jengkel, marah, tertipu dan banyak hal lain. Berulang kali ia terjebak dalam situasi konyol berkaitan dengan dunia arwah tai kucing ini setiap kali.


"Budi terlalu mencintai wanita itu. Bertahun-tahun ia selalu berusaha mendapatkan hatinya, namun sayang, wanita itu lebih memilih sahabat Budi sendiri. Dan ketika ia tahu hal itu, Budi tetap memilih mendukung mereka, menyembunyikan semua cinta yang ia punya. Sayang, wanita bodoh itu nekat bunuh diri ketika lelaki yang ia pilih meninggal dalam sebuah kecelakaan. Lagu ini adalah lagu yang selalu ia putar di hari peringatan kematian wanita itu..." desah Ronald pelan.


"Owh, begitu. Sedih mendengarnya. Tapi kok Bapak tahu semua ini?" balas Topan perlahan meski hampir tak mampu menyembunyikan sedikit rasa lega dari suaranya.


Minimal Pak Budi masih manusia, pikirnya.


"Tapi kesedihan tak pernah mampu menghilang dari hatinya. Budi meninggal beberapa waktu setelah 2 tahun wanita itu meninggal. Ia menenggelamkan dirinya dengan alkohol setiap hari, menyesali berbagai hal dan keputusan yang ia buat ketika itu..."


Nada perlahan dari Ronald menghadirkan guntur dalam telinga Topan. Lha kalau Pak Budi sudah mati, beberapa waktu ini, dia dimana???


"Siaaaalan! Lagi-lagi begini. Setan alas!!!" rutuk Topan pelan. Sedikit pemikiran yang sebelumnya ia tahan dan sedikit memudar, segera memenuhi kepalanya dengan berbagai makian tanpa henti.


"Dan kuduga, kau adalah suami wanita itu, Pak?" sergah Topan sengit. Sungguh, ia benar-benar muak terjebak dalam situasi menyebalkan seperti ini. Tanpa tahu bagaimana caranya, ia "tersesat" ke dalam dunia yang dihuni sisa keinginan orang yang sudah mati!


Namun ledakan tawa dari pria yang mengaku bernama Ronald itu mengejutkan berbagai pikiran penuh amarah dan kejengkelan yang berkelindan dalam pikirannya.


"Bukanlah. Aku cuma teman baik Budi yang kasihan dengan berbagai jiwa tolol seperti dirimu yang kadang tersesat masuk kedunianya ini. Meski aku bisa melihat, tidak sepertimu, aku tak bisa berinteraksi dengan dunia mereka sepertimu, Orang Aneh..." sahutnya di tengah gelak yang tersembur tanpa mampu ia tahan.


"Serius, Pak?" tanya Topan sangsi.


"Seriuslah. Ayo, kubawa kau keluar dari tempat ini." ucapnya lagi.


"Tapi..."


"Sudahlah, kita bicara di tempat lain. Jalan keluar tempat ini tak berada di sana untuk waktu yang lama, dan aku tak ingin menghabiskan waktu lama di tempat seperti ini." lanjutnya lagi sembari membalikkan langkahnya.


"Biarkan yang mati berada di tempat mereka, Nak, kau memiliki hidupmu sendiri..." sahutnya lagi ketika ia melihat Topan masih terpaku melihat pemandangan yang terkesan sangat menyedihkan di sana.


Mendengar itu, Topan hanya mampu menghela nafas berat. Kesedihan melintas dalam hatinya. Gema suara Scott Callum masih mendayu, mengiringi langkah Topan yang terkesan berat, mengikuti langkah pak Ronald...

__ADS_1


"So far away, but still so near, the light come on the music dies.. but you don't see me standing here..."


__ADS_2