Kisah Perjalanan

Kisah Perjalanan
Botol Minyak Urut Tujuh Urat


__ADS_3

Setelah lebih dari 7 jam perjalanan dengan berbagai moda transportasi, yang bahkan mampu membuatnya, sosok dengan tingkat kesehatan dan kebugaran di atas rata-rata ini saja mengeluh lelah, Anton tak mampu bahkan untuk sekedar menghela nafas kecewa.


Rumah itu, atau mungkin lebih tepat untuk disebut pondok, selain kecil, juga sangat sederhana. Tempat itu bahkan hanya terdiri dari sebuah rumah petak. Lalu dimana "penyembuh" ini akan mengobati pasien jika ruangan saja tidak ada?


Tapi sesinis apapun isi kepala Anton, sama sekali tidak berpengaruh pada Mr. Alfons sama sekali.


Bule berbadan besar itu nampak sangat berseri, seakan hanya dengan melihat tempat ini saja, kesehatannya bagai langsung membaik. Dengan langkah lebar, ia segera mendorong pagar sederhana yang terbuat dari potongan bambu, memasuki halaman dan langsung mengetuk pintu.


"Selamat Sore. Saya Alfons, Pak. Menurut kawan saya, Bapak bisa menyembuhkan orang?"


Mendengar hal ini, sosok wajah pria setengah baya yang membuka pintu dan menyambut bule itu melebarkan senyum.


"Owh, Pak Alfons. Silahkan masuk. Saya sudah menunggu kedatanganmu."


Huft, dasar tukang tipu! Coba kalau pops nggak memperkenalkan diri...


Entah kenapa Anton makin merasa sebal ketika melihat tingkah ramah pria paruh baya yang segera melebarkan pintu dan mempersilahkan tamunya masuk itu. Berbagai pengetahuan, riset dan obat-obatan yang sudah teruji ini ditukar dengan kesempatan konyol tanpa arah penjelasan!


Tapi demi pops, Anton memaksa diri untuk diam dan mengikuti langkahnya. Dokter muda ini hanya berharap untuk dapat membongkar kedok manusia rendah ini dan membuat pops sadar kalau ia hanya ditipu.


Tapi nampaknya, hari ini sudah ditakdirkan untuk menjadi kekalahan dunia kedokteran modern.


Pria setengah baya dengan wajah penuh senyum itu segera mengeluarkan botol minyak urut, yang tampaknya terbuat dari giok, setelah ia mempersilahkan Mr. Alfons untuk melepaskan pakaian dan berbaring di meja periksa sederhana di tengah ruangan rumah sederhana itu. Jemarinya dengan cekatan, segera melakukan pijat urut sederhana dengan menggunakan minyak dari botol itu.


Hanya saja, apa yang muncul kemudian benar-benar mengubah pandangan jijik penuh penghinaan yang muncul di mata Anton menjadi sorot takjub berselimut ngeri.


Mengesampingkan wajah penuh rasa lega yang muncul di wajah Mr. Alfons, yang biasanya hanya muncul ketika ia mendapat suntikan penghilang rasa sakit dosis tinggi, cairan berwarna merah kehitaman mulai merembes keluar dari pori-pori kulitnya, seiring pijatan yang dilakukan oleh pria setengah baya itu. Tapi itu belum seberapa...


Seiring dengkur halus yang muncul dari Mr. Alfons, yang tampaknya telah tertidur oleh rasa nyaman yang ia rasakan, pria itu tampak seperti menarik sesuatu dan entah bagaimana caranya, tiba-tiba saja ia memegang gumpalan daging tak beraturan yang masih basah, lalu dengan santai membuangnya ke ember yang ada di kaki meja periksa itu. Ia melakukan hal itu beberapa kali. Memijat, mengurut dan menarik gumpalan daging basah dari berbagai bagian tubuh Mr. Alfons, dan membuangnya ke ember. Ia hanya berhenti setelah tampaknya, "gumpalan daging jahat" yang terus ia ambil dari tubuh lelap di meja itu sudah tak bersisa. Perlahan, ia menghela nafas, mengusap dahi yang penuh keringat dengan punggung tangan dan mengambil botol minyak urutnya. Pandangan kecewa sejenak muncul darinya ketika ia menyadari kalau minyak di botol itu hanya tersisa sedikit.


"Saya tahu kalau mas tidak memiliki kepercayaan atas apa yang saya lakukan," ujar pria itu sambil tersenyum, ketika matanya memandang Anton dengan tenang.


"Tapi bagi saya, semua kesembuhan penyakit datang dalam berbagai cara, tak perduli cara lama atau baru, mas."

__ADS_1


"Bukan maksud saya untuk menyinggung bapak, cuma saja..."


Tapi pria setengah baya itu tertawa kecil dan mengangkat tangannya, memotong perkataan Anton.


"Tak apa, mas dokter. Bapaknya sudah sembuh. Tolong penuhi saja perjanjian yang sudah ia sepakati sebelumnya. Silahkan pergi setelah Bapaknya bangun, saya masih harus ke sawah..."


Dan ia pergi begitu saja...


...****************...


Topan terpekur diam. Matanya terus berkeliling waspada. Otaknya terus berputar kencang dalam mencari jawaban atas apa yang nampak dalam penglihatannya saat ini. Fluktuasi energi kuat yang sebelumnya muncul, memaksanya menarik Andini yang masih belum menyelesaikan makanan dan tampaknya, letupan energi kuat tadi berasal dari tempat ini. Hanya saja, tampaknya tidak ada yang aneh disini, dan inilah tepatnya yang membuat Topan semakin waspada.


Tak menghiraukan protes Andini, yang masih menyesali piring yang isinya baru habis separuh, Topan terus mengawasi rumah kecil itu. Entah kenapa, tapi Topan merasakan seklumit keakraban yang muncul dari aura yang muncul dari rumah yang tampaknya baru saja dibersihkan ini.


"*Kak, kita mau ngapain sih?"


"Shhhh!"


"Emang ini rumah siapa sih Kak*?"


"Mas e kenapa celingak-celinguk begitu? Mencurigakan!"


Dan suara lembut itu ternyata mampu menimbulkan efek yang luar biasa...


Topan yang tidak mengira ada orang yang akan memperhatikan gerak-geriknya, terlonjak kaget dan jatuh terduduk, ketika dalam kekagetannya ia memutar badan dan kehilangan keseimbangan. Hanya saja, tampaknya kelakuannya terlihat sedemikian konyol bagi si penanya, ketika perempuan cantik berambut lurus sebahu itu tertawa melihatnya.


Astaga, apakah ini malaikat Tuhan tersesat dan tak tahu jalan pulang? Bagaimana ceritanya ada mahluk secantik ini dibumi, desis batin Topan ketika tanpa sadar, ia terpana melihat sosok yang masih tertawa itu.


"Kak. Kakak! Ih, malu-maluin deh! Kakak! Duh, dia bengong!!!" desis Andini sambil berusaha mengguncang lengan Topan, mencoba menyadarkan pemuda itu dari keterkejutannya.


Merasakan guncangan di lengannya, Topan tersadar, tapi ia tak mampu menjawab apapun. Pikirannya kosong ketika dengan panik, nada gagap yang muncul dari mulutnya makin membuat gadis itu makin terpingkal.


"Ehm, anu... Bukan, saya.. eh, saya tidak, ehm, Aduh!"

__ADS_1


"Malu-malu'in aja ih Kakak ini!" sahut Andini. Jemari kecilnya sudah mendarat di lengan Topan dan mencubitnya keras-keras, mencoba menghentikan kekonyolan kakaknya, yang tampaknya sudah kehilangan setiap ketenangan yang biasanya ia miliki.


Sementara perempuan itu terus tertawa, mengumandangkan suara merdu yang menggoda. Kelakuan dua orang ini memang sangat konyol baginya. Hanya saja dentingan suara pagar yang terbuka, menyerap perhatiannya.


"Kamu ganggu siapa lagi, Ray?"


"Ih, apa sih? Ray tuh barusan datang. Mas ini yang di depan rumah kita, celingukan mencurigakan, tau! Waktu Ray tanya, dia jatuh. Ray nggak ganggu kok. Tanya aja adik cantik ini, ya Dik?" sergah Ray cepat, tak terima dengan tuduhan Kay, yang barusan keluar ketika mendengar ribut di depan rumah.


Mendengar ini, Andini, yang masih berusaha membuat Topan bangkit, segera menghentikan perbuatannya dan menjawab dengan cepat.


"Iya kok, Kak. Kakak cantik cuma tanya, tapi Kakak Andini kaget dan jatuh. Maaf ya Kak, kami hanya lewat saja kok!"


Eh, Kakak cantik?


Anak kecil ini bisa melihat Rayna???


Dan melihat arah pandangannya, tampaknya pemuda ini juga bisa melihat Rayna.


Tapi Kay segera bergerak tanpa menghiraukan berbagai pertanyaan yang berputar dalam otaknya. Ia segera membantu pemuda itu untuk berdiri.


"Saya Kay, ini rumah mendiang orang tua saya. Kalian mau masuk dan istirahat di dalam?" katanya sambil mengulurkan tangan setelah pemuda itu berdiri.


Dua orang berdiri di depan rumah, dan keduanya bisa melihat Rayna. It is gotta mean something...


Sejenak pemuda itu ragu, tapi ia segera meraih tangan yang terulur dan menjabatnya dengan erat.


"Saya Topan, dan ini adik saya, Andini. Kalau Saudara tidak keberatan, kami akan sedikit merepotkan."


"Tak perlu terlalu kaku, Bro. Panggil saja saya Kay." balas Kay sambil mempersilahkan kedua orang itu untuk masuk. Meski tak mengenal keduanya, bagi Kay, semua orang yang bisa melihat Rayna layak diajak berteman!


Tapi tampaknya pemuda itu agak ragu ketika langkahnya sampai didepan pagar. Ingatan tentang letupan energi gaib sebelumnya masih mengganggu pikirannya. Tapi Andini sudah melenggang melewatinya dan memasuki halaman tanpa menunggu. Mulutnya berceloteh riang dengan kakak cantik yang menemani langkahnya.


Aduh, bocah! Tobat kalau sudah begini, batin Topan gamang.

__ADS_1


Mau tak mau, ia menguatkan diri dan melangkah, mengikuti Andini yang tampaknya benar-benar tenggelam dalam candanya dengan "kakak cantik" yang barusan ia kenal itu.


Sialan, kepalang tanggung. Apa yang akan terjadi, terjadilah!


__ADS_2