Kisah Perjalanan

Kisah Perjalanan
Manusia Aneh


__ADS_3

Makin sering ia berbicara dengannya, makin Topan tak bisa memahami pemuda itu, tak perduli bagaimana ia berusaha. Pandangannya tentang kehidupan sangat aneh, dan tampaknya, pemuda itu selalu memiliki jawaban atas semua pertanyaan-pertanyaan Topan, meski seringkali nyaris tak mendekati harapannya sedikitpun. Dari Lombo dan Gudel, Topan mengetahui kalau Bang Pangky, sosok yang selalu tersenyum, gemar bercanda dan selalu terbahak-bahak ketika tertawa itu pernah memiliki kehidupan yang mengerikan, sebelum akhirnya insaf dan bekerja dengan jujur seperti saat ini. Cara hidupnya yang liar dan semaunya, membuatnya mencoba segala hal, baik yang biasa-biasa saja sampai kehidupan super gelap hingga akhirnya ia bertemu seseorang yang membuatnya ingin menjadi manusia yang sedikit lebih bertanggung jawab. Namun meski ia tak pernah marah, akan lebih baik untuk tidak melanggar garis bawahnya. Pemuda itu super gila kalau membalas mereka yang mencari masalah dengannya. Tak perduli siapapun, bahkan mahluk gaib!


Konon, pemuda itu bahkan pernah mengobrak-abrik kerajaan mahluk gaib yang ada di sebuah tempat wisata alam pegunungan di Tretes, Jawa Timur, karena mahluk-mahluk itu mengganggu kegiatan outbond dan survival game dimana ia adalah penanggung jawab acara itu.


"Huh, aku disana saat itu, Pan. Bang Pangky itu gila, kau tahu? Mungkin benar aku tak bisa melihatnya, tapi kalau kau disana waktu itu, bahkan kau akan bisa tahu kalau memang benar dia sedang berkelahi dengan sesuatu!" sergah Lombo keras ketika Topan menyangsikan ceritanya.


"Rombongan anggota peserta outbond itu kesurupan satu persatu. Kau kira macam acara di tv-tv itu? Huh, nggak sama sekali. Aku lihat dengan mataku sendiri, cewek, badannya cuma sekecil lidi, lari secepat kilat macam hewan, lalu meloncat naik ke dahan pohon setinggi 8 meter dari tanah!" lanjutnya dengan antusias.


"Wah, kisah tragedi Tretes ini pasti."


Topan menoleh ketika dilihatnya Gudel yang mendekat sambil meringis. Tampaknya bocah satu ini barusan selesai turun dan menyelesaikan bagian kerjaannya. Badannya yang gempal tampak masih mengenakan harness jumbo kebanggaan yang khusus dia pesan dari luar negeri itu.


"Nha, tanya ini nih. Ini salah satu korban." sahut Lombo sambil tertawa. Gudel ikut tertawa sambil melepas peralatannya dan duduk.


"Korban apa, Del? kamu kesurupan juga?"


"Wah, setannya yang ogah nyurupin Gudel, Pan, males. Bau!" gelak Lombo lagi setelah gagal menghentikan Gudel yang menyerobot gelas minumannya.


"Asu!" dengusnya sambil mencebikkan bibir. Tangannya aktif mencomot rokok dan menyalakannya ketika ia memandang Topan.


"Aku dilemparkan cewek dengan ukuran badan cuma mungkin sepertigaku, Bro. Nggak tanggung-tanggung, hampir 10 meter. Kalo nggak ada Bang Pangky waktu itu, habis tulang-tulangku, wong aku terlempar ke arah pohon gede!" lanjutnya sambil bergidik. Tampaknya pengalaman itu masih menempel di ingatannya dengan jelas.


"Peserta outbond waktu itu mayoritas cewek, Pan. Model yang lembut-lembut macam sutra gitu. Cuma mereka semua jadi gila! Ada yang badannya goyang mulu macam ular, ada loncat ke pohon, ada yang teriak-teriak bagero bagero dengan suara cowok. Wah pokoknya macam pasar malam-lah, cuma pasarnya horor." tambahnya lagi.


"Tapi akhirnya Bang Pangky ngamuk. Kita sempet mikir kalau dia juga kesurupan awalnya, taunya, wuuuh, ampun dah!" timpal Lombo dengan tatapan melamun. Tampaknya ia mencoba menghidupkan ingatan akan apa yang terjadi di malam itu.


"Kata Pak Wahyu, juru kunci sekaligus Jagawana disitu, badan Bang Pangky memakai semacam baju besi dari api hitam gitu. Dan dia berkelahi, dikeroyok banyak mahluk gaib. Di mataku, dia emang bergerak tanpa ada musuh, cuma ahh, pokoknya aku tahu kalau dia memang berkelahi dengan sesuatu!"

__ADS_1


"Asu! Merinding lagi aku, Mbo!" sahut Gudel sambil tertawa ketika ia mendorong bahu sahabatnya itu.


"Tapi kalau kau disana, Pan, kaupun akan tahu kalau tak ada satupun yang terjadi malam itu hanyalah sebuah aksi roman murahan. Bekas luka panjang di punggung Bang Pangky itu didapat disana. Tanpa tahu bagaimana caranya, tiba-tiba saja bajunya terkoyak, tercabik oleh sesuatu yang tajam. Dan 4 luka memanjang macam cakar itu muncul entah darimana!" tukas Lombo tanpa mampu menyembunyikan rasa ngeri atas pengalaman yang terjadi waktu itu.


Topan tercenung mendengar hal ini. Ia sama sekali tak pernah mengira kalau kejadian dengan skala mengerikan seperti itu bisa terjadi. Hanya saja, dua orang yang masih asyik berceloteh di depannya ini adalah saksi hidup kejadian itu. Omongan satu orang mungkin bisa diragukan, tapi bagaimana kalau dua?


"Owh, kau ingat waktu Mas Eko ngomong pake bahasa Jepang sama cewek yang terus petentengan itu, Mbo?"


"Wakakaka, Asu! jangan cerita yang itu ah, udah malam ini. Nanti kita pulang ke kos lewat hutan tau!" balas Lombo ketika mereka berdua tertawa-tawa, tampaknya meski pengalaman mereka sedemikian mengerikan waktu itu, tak menghalangi mereka untuk menjadikannya bahan candaan saat ini.


Okey. So Mas Eko juga disana. Fix, group sableng ini mengalami kengerian itu bersama, dan tampaknya masih ada panitia lain yang belum kukenal selain 3 orang ini. Beneran ngeri orang itu!


Melihat sosoknya yang kukuh, yang saat ini tengah turun dari motor dengan 2 ember cat 20 kg di kedua tangannya, mau tak mau, rasa segan tumbuh di hati Topan. Ia tahu apa yang diperlukan untuk bisa melakukan apa yang menjadi pokok cerita dua orang di dekatnya ini. Bukan hanya sekedar pengetahuan yang diperlukan, tapi mental, keyakinan dan hati yang kuat dan tak kenal takut adalah dasar utama.


Mungkin lebih baik jika aku minta bantuan padanya. Orang ini sekutu yang hebat. Aku yakin Kay tak akan keberatan, batin Topan ketika melihatnya mendekat dengan 2 ember cat yang berat itu, sementara dibelakangnya, teriakan Mas Eko yang menyuruh supaya mereka turun dan membantu membawa cat yang tersisa berkumandang dengan garang.


Sementara dia?


Meski ia tahu kalau cincin mutiara terkutuk itu ada di sini, tapi Topan bahkan tak tahu mesti mulai mencari dari mana. Gambar Andini, yang terlipat dengan rapi dan tersimpan di tasnya, hanya menunjukkan kalau benda itu melayang di tangan sosok mirip dewa dalam pewayangan.


Kemana ia mesti mencari..?


Sementara, beberapa waktu lalu, Kay sudah memberi tahu kalau ia belum bisa datang sebelum liburan sekolah Andini dimulai. Ia tak bisa menemukan siapapun untuk menjaga rumah dan Andini. Sementara jika ia pulang sekarang supaya Kay bisa menggantikannya untuk mencari benda terkutuk itu, Topan merasa tak mempunyai kulit muka yang sedemikian tebal untuk kembali tanpa hasil. Minimal jika ia tinggal disini, Topan merasa kalau paling tidak, ia tak hanya menghabiskan uang orang lain dengan sia-sia.


Ah, sudahlah. Mending aku ke kos dulu untuk ambil gambar itu. Semoga Bang Pangky bisa bantu mencari atau minimal, mungkin dia bisa tanya "mereka" , pikir Topan lagi.


Tapi ketika ia beranjak, suara Pangky menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Kau mau kemana, Pan?"


"Ke kos bentar, Bang. Ambil sesuatu sekalian beli rokok, nanti balik sini lagi."


"Nanti saja. Aku sudah beli nasi bungkus. Makan dulu." balasnya tegas tanpa menyisakan ruang untuk perdebatan sama sekali.


Mendengar nada getas ini, emosi Topan sedikit tersulut. Ia bahkan tak memperhatikan keanehan tingkah laku pemuda yang biasanya tak pernah mengeluarkan nada kasar itu. Sambil mengerutkan kening dan berusaha menahan marah, Topan mendengus.


"Iya, Bang. Cuma sebentar aja kok. Nggak bakal basi juga kalau cuma ditinggal ke kos bentar." tukasnya ketus.


Mendengar nada ketus yang muncul dari lawan bicaranya, Pangky sedikit terpana, meski kemudian tatapan matanya melembut ketika senyum maklum muncul di bibirnya.


"Kau coba dengarkan baik-baik. Selain suara ombak, kau dengar apa lagi sekarang?"


Menekan rasa marah dalam hati, Topan mencoba untuk kembali memperhatikan lawan bicaranya, dan memang ia mengakui, meski suasana sore adalah pertunjukan keaktifan dan keramaian yang layak akan sebuah tempat tujuan wisata terkenal, suasana malam adalah sesuatu yang benar-benar berbeda. Sebelumnya Topan tak pernah memperhatikan ini, tapi rasanya malam terlihat sedemikian suram dan gelap.


Angin yang kadang bertiup membawa rasa dingin yang menelusup jauh ke dalam tulang, meski saat ini ia mengenakan kaos dan celana pendek di balik coverall yang menutupi tubuhnya. Suara ombak yang datang menghantam pantai seakan diperbesar puluhan kali di tengah rasa sepi, meski kadang terpecah oleh gurauan 3 sekawan di samping piramid. Sinar lampu penerangan jalan dan taman yang biasanya mampu menaklukkan kegelapan, kali ini seakan diselimuti kabut tipis yang meredupkan sinarnya ketika samar-samar, suara lolongan anjing mulai terdengar bersahutan. Awalnya terdengar sangat jauh, tapi seiring waktu, bahkan anjing-anjing yang berada di bukit di sebelah pantai turut mulai melolong dan tak butuh waktu lama, bahkan 3 sekawan bar-bar di atas, yang sudah mendengar lolongan menyayat dari hewan-hewan ini, mulai tampak terkendali ketika rasa takut mulai muncul dari mereka.


"Owh, iya sih Bang. Tapi takut apa coba, lha disini anjing banyak kok. Dan wajar kalau mereka saling membalas lolongan gitu." jawab Topan ketika menyadari apa maksud dari perkataan pemuda di depannya ini.


"Ehm, gitu. Iya deh." jawab Pangky sambil tertawa kecil. Ia tak lagi mencoba menghentikan pemuda itu dari apapun yang ia coba lakukan. Ia hanya menyuruh Topan untuk berhati-hati, dan beranjak menuju kawan-kawannya. Tapi nampaknya ia sedikit berubah pikiran ketika tiba-tiba langkahnya terhenti dan ia berbalik ke arah Topan yang sudah menaiki motor.


"Usahakan ketika mereka berhenti melolong, kau tak berada di jalan ya, Bro."


Usai mengatakan itu, ia meneruskan langkahnya tanpa memperdulikan Topan lebih lanjut.


Astaga!!!

__ADS_1


__ADS_2