
Ketenangan yang ditunjukkan oleh Prameswara terasa bagai aliran endorphin yang menyuntikkan rasa tenang pada syaraf Anton yang kalut dan kacau. Menerima benda-benda yang dibawa oleh Bardi, ia segera meninggalkan ruangan itu untuk mempersiapkan "jimat" seperti yang sebelumnya ia sampaikan. Tak butuh waktu lama, ia kembali dengan sebuah gelang tali lawe yang dihiasi dengan bulatan-bulatan benda berbau rempah yang kuat dan memberikannya pada Anton.
"Pakai ini dulu, Mas, setelah itu, biar diantar Bardi ke salah satu bungalow di sebelah. Istirahatlah dulu selagi aku bersiap. Kalau kau hendak makan, ujung jalan ke atas ini adalah restaurant. Mereka akan tahu kalau kau adalah tamuku."
"Tapi bagaimana dengan Terry, Mes? Bukankah sebaiknya kita bergegas?" sahutnya ketika menerima dan segera memakai gelang aneh itu. Dokter muda terkenal itu bahkan tak berkomentar sedikitpun tentang gelang, yang mungkin biasa ia sebut sebagai "hocus pocus mambo jambo" yang sebelumnya selalu ia kritik dengan keras itu.
"Dia akan baik-baik saja, Mas. Takahasi sangat kuat, dan sementara waktu pasti akan mampu melindungi temanmu, meski ia tak bisa melihatnya. Aku butuh persiapan untuk menghadapi mahluk seperti ini." jawabnya, yang segera memupus bantahan yang nyaris terlontar dari mulut Anton. Biar bagaimanapun, pemuda didepannya itu lebih paham akan situasi yang tengah ia hadapi saat ini.
Tanpa daya, Anton mengikuti Bardi yang terus mengucapkan permintaan maaf padanya dalam perjalanan mereka menuju tempat Anton bisa beristirahat, tanpa perduli meski Anton sudah bilang kalau ia tadi hanya bereaksi spontan, dan tidak memikirkan apapun secara serius. Sementara Prameswara segera menghilang dari tempat itu dengan membawa motor Bardi untuk memulai persiapan yang ia butuhkan.
Yah, sesukamu deh, Bro, lagian hari ini memang menguras tenaga. Akan lebih baik jika aku bisa mandi dan tidur dulu. Semoga saja Prameswara benar, desah batin Anton lelah ketika sinar matahari jatuh dan menghangatkan tengkuknya, membawa pergi sedikit rasa dingin yang mengganjal perasaannya sejak kemarin malam.
......................
Ketika Kay dan Topan sampai di ruang tamu, ternyata gadis kecil itu tidak sendirian. Dua sosok lelaki dan perempuan yang memiliki tampilan mempesona tengah menemaninya. Rayna, yang tampak seperti bidadari dalam siraman cahaya matahari yang terkadang seperti menembus tubuhnya, yang alih-alih menimbulkan rasa ngeri, justru menimbulkan rasa keindahan tak terperi, duduk di samping Andini sambil menghadapnya. Hantu cantik itu asyik mendengarkan celotehan si gadis kecil dengan antusias. Matanya yang indah kadang memunculkan kilau ketertarikan yang polos. Sementara bibirnya yang merah ceri itu kadang akan mengembang dalam senyum manis dan tawa kecil yang indah. Sementara si setan gondrong itu, mengambil sosoknya sebagai pemuda tampan dengan setelan bad boy-nya yang biasa, duduk di sandaran kursi seperti layaknya seorang raja sedang melihat putri-putrinya bercengkrama. Sosoknya yang tampan kadang akan turut tertawa kecil menanggapi ocehan Andini. Dan entah kenapa, pemandangan itu membuat kedua pemuda itu sejenak menghentikan langkah, seakan enggan mengganggu pemandangan indah di depan mereka ini.
"Kakak! Kakak malah bengong disitu!"
Panggilan ceria Andini-lah yang mengembalikan kesadaran kedua pemuda yang sejenak tertegun itu. Senyum lebar segera muncul di bibir Kay. Baginya, semakin banyak orang, semakin bagus. Dan melihat Rayna yang tampaknya baik-baik saja setelah kejadian semalam, semakin meningkatkan mood Kay.
"Abo, duduk yang baik kenapa sih? udah tua kok bloon, cara duduk kursi bukan seperti itu!" tegur Rayna, yang hanya dijawab dengan cibiran oleh Arborite. Habis seluruh waktu di dunia jika mesti menanggapi setiap hal yang muncul dari mulut Rayna. Ia hanya mengangkat dua jari dan membuat salut hormat yang ia arahkan pada Topan dan Kay, ketika sosoknya bergidik dan menghilang dari tempat itu.
"Ih, dasar. Dinasehatin kok marah. Dasar Abo jelek!" cela cewek itu sambil mencebikkan bibirnya, yang sontak membuat Andini tertawa terbahak-bahak.
"Sulit memang menahan keindahan seperti itu ya, Kay?" canda Topan ketika melihat sorot mata penuh kekaguman yang berkerlip di mata Kay. Tapi Kay hanya tertawa sambil mendorong bahu Topan. Suasana pagi ini terlalu indah untuk dirusakkan dengan berbagai perdebatan rumit.
"Tapi aku mengerti apa yang kau maksud, Kay, dan aku bisa menerima itu. Kuakui, pemahamanku yang terlalu dangkal." lanjutnya.
"Bagaimana kalau kalian berdua tinggal disini? Andini akan butuh sekolah, dan bukan hal yang baik untuknya jika mesti berkelana dan hidup di jalan, sementara kau bisa juga melanjutkan pendidikanmu, memenuhi keinginan terakhir Emak?"
Mendengar ini, Topan terpana, meski kemudian senyum sedih sedikit terkembang di bibirnya.
"Aku setuju. Andini membutuhkan itu, dan tampaknya, bahkan ia menikmati cara hidup seperti ini. Hanya saja, aku akan cari tempat kos, dan bekerja saja. Aku akan sering main kesini." ujarnya menjawab permintaan Kay.
"Huh, kau dan idealisme konyolmu! Dengan formasi sihir perluasan yang ada dirumah ini, kau pikir aku bisa mengurusnya sendiri? Belum lagi, aku butuh rekan untuk menjalankan usaha almarhum bapak. Bukannya aku nyuruh kamu tinggal disini gratis juga kali."
__ADS_1
"Aaah, kukira..."
"Bukan. Kau salah kira. Kau bukan istriku tau, enak aja mau tinggal gratis!" sembur Kay sambil terbahak-bahak ketika melihat wajah Topan yang merah padam, tanpa mampu membalas.
"Eh, Andin boleh tinggal disini, Kay? Beneran??!" seru Rayna tiba-tiba. Badannya bergerak menembus sofa dan memeluk lengan Kay dengan pandangan mata penuh harap.
"Kalau Andini nggak keberatan, Ray. Lagian, kenapa malah kamu yang super semangat begini sih?" sahut Kay sedikit agak memerah dengan kelakuan hantu centil ini. Entah kenapa, setiap kali, badan Rayna seakan terasa semakin solid.
"Kalau Kak Kay boleh, dan Kak Topan ngijinin, Andin..." sahut gadis kecil itu takut-takut. Rasa gugup tampaknya kembali datang dan menguasai gadis kecil itu ketika matanya melirik pada Topan.
Duh, Gustiku... Kawula pasrah. Kau benar-benar oke dalam membuat naskah dan skenario, ujar batin Topan.
Meski ia masih merasa kurang nyaman, tapi Andini memang membutuhkan semua ini. Daripada menawarkan kehidupan lontang-lantung bersamanya, akan lebih baik jika mereka bisa menetap. Lagipula, Kay benar. Ia bisa saja ikut bekerja sebagai pembayaran atas semua yang akan mereka dapatkan. So, nothing to waste after all.
Setelah mengambil keputusan, Topan menghampiri gadis kecil itu dan kemudian berjongkok di depannya.
"Adek mau tinggal disini?"
"Kakak gimana?" balasnya tanpa menjawab pertanyaan Topan sama sekali. Karena baginya, tak perduli seindah apapun, tanpa kakaknya, ia tak akan pernah berharap apapun.
"Tapi nanti Kak Kay repot nggak ya Kak?" tanyanya dengan nada khawatir, yang mau tak mau, sedikit menorehkan rasa pahit dalam hati Topan.
Kamu itu, Nduk, hidupmu setragis ini. Dan masih sempat mikir apakah akan merepotkan orang yang hendak menolongmu, batin Topan perih. Tapi pemuda itu segera menutupi pikirannya dengan tertawa.
"Enggaklah. Kak Kay tak bisa masak, nggak bisa ngurusin rumah, masih harus dibantuin sama Kakak nantinya. Yang ada kita yang repot sebenernya, Nduk." candanya, yang segera disambut gelak tawa Kay dan Rayna.
"Yah, nanti juga Andin bantu ngurusin rumah ya Kak." balas Andini dengan ceria. Tampaknya ia benar-benar merasa nyaman dengan kenyataan ia bisa tinggal di tempat ini.
"Nggak boleh. Andin harus sekolah, belajar yang rajin biar pinter. Nanti rumah biar Kakak dan Kak Topan aja yang urus." sahut Kay sambil tertawa, sementara Ray sudah menandak-nandak macam kuda ketika ia tahu kalau Andini tinggal disini sekarang. Yah, gadis kecil itu lucu, dan entah kenapa, Rayna merasa sangat nyaman saat berdekatan dengannya.
"Tapi..."
"Adek cantik, sekarang punya tambahan 2 kakak lagi selain Kak Topan. Ada Kak Rayna dan Kak Kay. Mau ya?" potong Rayna dengan ceria.
"Ehm, lalu Kak Abo?" tanya Andini penuh antisipasi. Menurutnya, Arborite agak menakutkan.
__ADS_1
"Huh, itu Kakek Abo. Kakek tua jelek Abo, bukan kakak. Dia itu tua banget, nggak boleh dipanggil kakak." balas Rayna sambil mencebikkan bibirnya, yang langsung disambut gelak tawa dari semua. Memang, tampaknya dua hantu ini tak akan pernah akur...
Melihat interaksi Andini dengan Rayna yang sedemikian hangat, Kay tersenyum. Ia bahkan tak mempermasalahkan berbagai perkara tentang bagaimana Andini tampaknya tidak memperdulikan kalau Rayna dan Arborite adalah mahluk bukan manusia sedikitpun. Yah, cuma orang bodoh yang tidak akan memperhatikan keanehan dua mahluk itu, dan tampaknya, Rayna dan Arborite sendiri tak berusaha untuk menyembunyikan apapun. Mereka tetap bertingkah laku seperti layaknya ketika hanya ada Kay di tempat itu. Jadi Kay sendiri yakin kalau Andini juga tahu kalau mereka bukanlah manusia.
Hmmm, beginipun bagus. Semakin banyak orang, semakin hangat dan indah. Agak repot kalau cuma bertiga dengan 2 yang lain punya kebiasaan ngilang sesuka hati, pikir Kay senang.
"Bocah, tampaknya kau punya sekutu baru yang kuat, hehehe..."
Dering komunikasi mental terngiang dalam benak Kay, Arborite, tampaknya tak ingin yang lain mendengar pembicaraan ini.
"Bocah laki-laki itu memiliki kemampuan. Dia bahkan bisa menetralkan api jiwa arwahmu, sementara gadis kecil itu, ehmm, diapun tidak sederhana sama sekali."
"Maksudmu Andini, Rite?"
"Iya. Tampaknya, jiwanya terkontaminasi oleh sesuatu sejak lama, yang membuatnya memiliki ketajaman dan sensitifitas kuat pada mahluk-mahluk gaib." jawab Arborite lagi.
"*Kukira tadinya ada sosok lain yang menggunakan tubuhnya ketika tiba-tiba ia berbicara tentang salah satu item terkutuk milik kakekku. Tapi tak ada apapun yang bisa kulihat darinya."
"Hahaha, tentu saja tak ada yang bisa kau lihat, Bocah. Itu adalah jiwanya sendiri. Tak ada yang lain. Dulu, ada juga raja Jawa yang memiliki kemampuan seperti bocah ini, mungkin kau pernah dengar namanya. Dia disebut Jayabaya*..."
Dan rasa kehadiran Arborite menghilang bersama keterkejutan hebat yang muncul dalam hatinya akibat obrolan Arborite.
*Jayabaya? What the...
...****************...
Pagi hari di kamar kerja penulis.
Arborite sedikit merasa aneh ketika dilihatnya, hantu bucin itu tampak sedang melambai-lambaikan tangannya. Penasaran, ia segera menghampirinya.
"Oi, lu lagi ngapain, Ray?"
"Owh, Kakek. Lagi nyapa pembaca, Kek, biar dapet like."
"Hilih, Kakek jempolmu itu. Kakanda Prabu! Lagian, nyapa kok cuma minta like. Minta vote dan share, dong!"
__ADS_1
"Ih, Kakanda Prabu itu Dewata Cengkar, mau? lagian, minta kok nawar." cibir hantu cantik sambil berlalu, meninggalkan Arborite yang mencak-mencak sendiri*.