
Namaku Topan, cuma Topan. Nggak ada kepanjangan or nama belakang. Hanya Topan saja. Aku tak pernah mengenal kedua orangtuaku. Menurut ibu yang membesarkanku, aku ditemukannya di emperan sebuah toko, tempat dia biasa berjualan setiap malam. Dan tanpa ijin Dinas Sosial, Ibu yang memang merindukan seorang anak, memungut dan merawatku. Dinamailah aku Topan, karena hari di waktu aku ditemukan, angin ** beliung ganas datang dan menghumbalangkan setiap lapak yang ada di sepanjang deretan toko. Menghancurkan sedemikian banyak hal dengan menyisakan sebuah kardus berisi bayi merah dalam balutan selendang kumal, aku.
"Kau adalah anak istimewa, Pan. Bahkan kekuatan alam enggan menyentuhmu"
Itu adalah kalimat favorit Ibu, yang selalu berkumandang jika aku pulang bermain sambil menangis.
"Jika kau mau jadi hebat, balas mereka. Jangan pernah mau ditindas oleh ketidakadilan, Pan. Ibu tahu, suatu saat, kau pasti akan jadi orang."
Itu adalah lanjutan kata-katanya. Andai kau ingin mengenalnya, Ibu adalah wanita yang hebat, kuat dan sangat tangguh. Sendirian, ia terus saja berusaha memberikan yang terbaik bagiku. Gairah hidupnya sedemikian kuat, yang seringkali itu berarti secepat kilat membereskan dagangannya dan melarikan diri dari Kamtibmas yang garang, untuk kemudian kembali menggelarnya setelah penertiban berlalu. Meski hasilnya seringkali tak seberapa, tapi nasi dan lauk dengan berbagai menu yang takkan pernah bisa kau temui atau rasakan di restoran bintang tujuh sekalipun. Sekuat tenaga, ia selalu menyisihkan hasil pendapatan berjualan kopi seduh, gorengan titipan tetangga dan rokok ketengan di lapaknya yang sederhana itu untuk biaya sekolahku. Baginya, pendidikan adalah jalan menuju hidup yang lebih layak, dan hal ini sungguh tak terbantahkan.
"Sekolah, Pan. Cuma pendidikan tinggi yang bisa mengubah hidupmu. Segala macam Karate, Pencak dan hiat-hiat itu tak berguna jika kau mau berhasil dan menjadi lebih besar lagi." tandasnya ketika ketika aku enggan bersekolah dengan sedemikian sedemikian banyaknya ejekan dari anak-anak lain.
"Kenapa, kamu malu pakai baju bekas? atau karena sepatumu butut? atau jangan-jangan kamu malu punya ibu ini?"
Aku hanya terdiam merajuk dengan air mata mengalir meski suara isakan tak mampu keluar dari tenggorokanku. Jangan menghakimi, aku masih kelas 1 SD ketika pembicaraan ini terjadi. Dan memang semua barang yang kupakai berasal dari barang bekas pakai yang dibeli Ibu dari berbagai pasar loak sekitar, termasuk buku pelajaran, sepatu, tas dan seragam yang kupakai. Ini seringkali membuatku jadi bahan ejekan teman sekelas, bahkan satu sekolah.
"Coba kau lihat Ibu, Nak." sahutnya lembut sambil berjongkok di depanku. Aroma campuran antara sisa kopi, keringat dan kerasnya hidup itu selalu menenangkanku. Tangan kukuhnya yang tak pernah surut sedikitpun dari tantangan hidup itu lembut meraihku.
"Baju dan semua hal yang kau pakai boleh butut, Nak, tapi perbuatan dan pikiranmu tak boleh jadi barang bekas. Kamu punya otak terang yang bisa kau pakai dengan baik. Bungkam ejekan teman-temanmu dengan otakmu. Jadilah orang yang pintar, kuat dan jangan pernah lagi permalukan dirimu dengan menyesali apa yang tak kau punyai. Jadilah hebat seperti namamu!"
Itulah ibu. Dengan kepribadiannya yang kuat ia mendidikku, mengajariku bahwa hidup sama sekali tidaklah mudah, apalagi jika tidak mengenyam pendidikan tinggi. Ia terus mengingatkanku bahwa segala sesuatu memiliki konsekuensi, dan hidup adalah tentang seberapa besar kemauanmu untuk menantang resiko demi hasil yang diinginkan. Dan setiap perkataannya ia buktikan dalam perbuatan setiap hari, tak perduli bahkan jika ia harus bertemu kepala sekolahku setiap beberapa minggu sekali karena aku berkelahi dengan anak lain.
Kasih sayang Ibu yang sedemikian kuat, membuat aku enggan terlihat lemah di matanya. Aku yang memang menyukai beragam jenis bela diri, mulai belajar dengan sangat serius. Dan ketika mulai mahir, kutepiskan semua ejekan teman sekampung dan sekolah dengan jotosan dan tendangan. Setiap tantangan yang muncul dari musuh sebesar apapun, tak surutkan langkahku. Meski cubitan dan pukulan Ibu akan menanti di rumah nanti, takkan kuiijinkan seorangpun mencela dia sedikitpun. Ibu adalah segala yang kupunya dan semua yang kubela.
Itulah ibu bagiku. Malaikat berhati baja dengan syaraf dari serat titanium terkuat yang mencurahkan setiap tetes kasih sayang dan kehidupannya, membimbing, dan memecutku dengan keras ketika jalan membelokkanku. Hingga akhirnya ia tak lagi mampu berdiri. Usia tua dan pembongkaran paksa lapaknya, membuatnya patah hati. Dan itu diperparah dengan keberandalanku yang menurutnya tidak lagi tahu aturan.
"Kenapa kamu berkelahi lagi, Pan?"
__ADS_1
Getar kesedihan menyentak dan menyumbat tenggorokanku, mencekik jawaban sontak yang tertelan kembali. Suaranya tak pernah selemah ini sebelumnya. Aku hanya mampu menungguinya di amben reyot yang kusam dan renta, serenta tubuh yang terbaring di atasnya. Nafasnya yang berat, jemari yang ringkih, dan tubuh tua yang kucinta dengan sepenuh jiwa itu menakutkanku, lebih dari preman dan Satuan Polisi Pamongpraja sewenang-wenang yang barusan kubikin muntah darah sebelumnya.
"Pan, tak punya keberanianmu menjawab Ibu, Nak?"
"Maaf, Bu. Opan salah. Opan nggak terima lapak Ibu dibongkar - itu!"
Dan air mataku mengalir deras dalam tekanan emosi ketika getar tangan tua itu, melayang pelan dalam usahanya menamparku, seperti yang biasanya ia lakukan saat serapahku meledak. Usaha yang digagalkan oleh rangkaian batuk kering yang mengguncang seluruh keberadaannya.
"Ibu, Opan minta ampun. Ibu istirahat saja. Opan janji takkan berkelahi lagi. Ibu sembuh ya..." isakku sambil bersimpuh di kaki amben reyot itu. Hilang sudah semua keganasan dan kekejaman yang muncul ketika aku menghadapi mulut rombeng anggota Kamtibmas yang nekat merusak lapak seorang ibu tua dalam usaha untuk menertibkan pedagang yang menurutnya tak tahu bahasa manusia itu. Hilang semua tenaga yang sebelumnya kugunakan untuk mematahkan 3 tulang di tubuhnya dengan mudah ketika 3 sodokan Bashai-dai yang kukuasai menghantamnya. Aku lunglai melihat dia, sedemikian lemah seperti ini.
Derik nafasnya yang memburu selepas batuk yang membinasakan itu menyedot semua perhatianku. Tak kuperdulikan tas berisi uang yang terburai dari pangkuanku. Uang yang kukumpulkan dari hasil keringat jujurku untuk menebus dagangan Ibu yang mereka sita.
"Duduklah, Nak."
"Ibu, Opan takkan me.."
"Iya, Ibu. Tapi.."
"Berhenti bantah Ibumu!"
Permohonan yang sudah nyaris terlompat dari bibir, terpaksa tertelan lagi. Pijar api kehidupan yang kukenal darinya muncul dan membungkamku, seperti saat kenakalanku memuncak dan mengkeret di depan jari bajanya.
"Dengarkan wanita tua ini sekarang. Nyawaku takkan lama. Sshhh, dengarkan" desisnya memotong rengekanku.
"Nyawaku takkan lama lagi. Dan aku ingin kau pergi dari sini. Lihatlah dunia, dan taklukkan dia. Jadilah sebesar mungkin, sehingga mungkin kau bisa permalukan kedua orang tua yang tinggalkanmu untuk mati, dulu. Dan jangan pernah berpangku tangan, jika kau lihat ketidakadilan di depan matamu..."
Nafas beratnya melemah seiring setiap kata nasihat yang mengalir dari bibir keringnya yang renta. Air mataku yang bercucuran tak mampu hentikan setiap kata yang mengalir, perlahan dan menghunjam jauh ke inti keberadaanku. Kurasakan kehidupan yang semakin tipis, mengalir dari tangan ringkihnya.
__ADS_1
"Aku tahu, kau akan menjadi seorang yang hebat, Nak... Dan semoga Dia selalu menerangi jalanmu.."
Seiring doa yang terucap, tangisku meledak dalam kesedihan yang menyakitkan. Dada ringkihnya melembut dalam sisa nafas yang terhembus. Wajah lelah Ibu melelap dalam senyum abadi. Sisakan perih yang menoreh, dalam dan sakit.
Ibu telah pergi dariku, dan itu gara-gara preman berseragam itu, pikirku dalam kemurkaan kesedihan.
Dan akan kupastikan mereka membayarnya lengkap dengan setiap sen bunganya...
Mendung bergulung dalam warna kelabu hitam yang pekat menaungi langit. Bersamaan dengan selimut gerimis lembut yang santun mencium bumi, Ibu diantar menuju peristirahatan terakhirnya. Tetangga yang bersimpati, langganan lapaknya, bahkan hingga anak-anak terlantar, mereka yang seringkali menganggapku sebagai Kakak Besar, menunggu hingga timbunan tanah merah yang basah itu menutup sempurna. Hanya sebuah upacara sederhana, hanya sebuah kisah yang berakhir dari seorang wanita tua yang tak punya apa-apa, dengan peninggalan seorang berandal jago berkelahi dan pembuat onar.
Namun kakiku tak mampu untuk pergi meninggalkan tempat ini. Ketika pelayat terakhir menepuk bahu dan mengucapkan gumaman hal klise dalam bisikan, aku masih tersedu dan menyamarkan air mata di tengah gerimis yang menderas.
Aku ingin menghabiskan seluruh air mataku saat ini. Karena setelah ini, tak akan lagi aku menangis...
Senja sudah menggelap dalam pekat ketika air mataku berhenti mengalir, tergantikan oleh nafsu pembalasan dan keinginan untuk pergi dari sini. Rongga dada yang sebelumnya sesak oleh kepedihan mulai bergolak oleh amarah. Dan rupanya, bahkan alampun bersedia mendukungku. Samar kulihat 4 bayangan manusia yang tersamar oleh gelap dan gerimis, berhati-hati di tanah yang becek, berjalan mendekati tempatku berdiri. Aku mengenali satu diantaranya... Cecunguk yang melarikan diri dari pertarungan ketika temannya tergeletak di jalan dengan 3 tulang yang patah.
"Wah wah wah, kok nggak ngabarin kalo ada yang meninggal, Bocah?"
"Kalian datang kesini untuk antar nyawa. Sungguh kuhargai keberanian kalian. Ternyata kecoak punya nyali juga." sahutku dingin.
Ketika keempatnya mulai bergerak mengurungku, sebait doa terucap perlahan dalam hati, yang kembali terajam pedih...
Maafkan Opan yang susah patuh, Bu. Ini terakhir kali Opan nurutin nafsu. Maafin Opan ya Bu, setelah ini, Opan pamit...
Air mata mulai kembali mengalir, mengaburkan pandanganku. Tapi aku tak butuh itu. Kakiku bergerak cepat dalam tatanan segi delapan dan tangan sudah membentuk jurus-jurus dahsyat berbalut tenaga dalam, jurus yang dilarang oleh guruku untuk digunakan pada manusia, apapun kondisinya, tapi aku sudah tak mampu lagi menahan diri...
Tak butuh waktu lama untuk mereka, tersungkur dalam tanah berlumpur, menghadap makam basah ibu. Hujan semakin deras turun dalam balutan kegelapan malam yang makin menua. Aku berbalik dan meninggalkan tanah pemakaman itu dan bersamanya, menguburkan hatiku dalam hujan dan kesedihan meski dengan sekuat tenaga kutahan setiap keinginan untuk menoleh.
__ADS_1
Opan pamit, Bu...