
"Aaaaaaaaaaaah!"
Teriakan Topan menggema keras dan lugas di pinggiran puncak tebing yang barusan ia taklukkan. Posturnya yang liat dan kuat nampak terengah, namun kedua tangannya mengepal ketika teriakannya meledak. Seakan ingin menunjukkan bahwa ia akan mampu menundukkan apapun yamg menghadang jalan dengan seluruh kemampuan yang dimilikinya. Dan memang, tebing itu tak mudah untuk dilalui. Topan nyaris jatuh beberapa kali dalam perjalanannya ke atas.
'Kalau tak ada tali ini, mungkin nyawaku sudah melayang berkali-kali...' batin Topan sambil menatap tali panjat yang barusan menyelamatkan nyawanya sekali lagi.
Saran pemuda yang meminjamkannya tali ini sedikit terlupa ketika Topan sudah hampir mencapai puncak. Retakan di dinding tebing itu nampak sedemikian kokoh, tapi ternyata sama sekali tak mampu menahan beban tubuhnya. Retakan itu segera hancur setelah badannya bertumpu disana.
Namun jarak sudah terlalu jauh bagi Topan untuk sekedar berterima kasih pada pemuda itu sekarang, dan nampaknya, pemuda itupun tak terlihat batang hidungnya.
'Ah, yang penting puncak dulu. Balik baru cari tu bocah' pikir Topan lagi sambil mengemasi tali itu dan melingkarkannya pada badannya.
Gelap mulai menyapa bumi dengan membawa hawa dingin yang makin menusuk, tapi Topan tak perduli. Langkahnya ringan menuju Puncak. Setiap peringatan hari meninggalnya Ibu, hanya ini yang bisa ia lakukan. Perkelahian yang menghilangkan nyawa beberapa orang selepas pemakaman Ibu telah benar-benar menghalangi langkahnya untuk pulang...
****
Aku mengira kalau ia takkan mengikuti. Marah, terluka, sedih, atau apapun yang ia rasakan karena kata-kataku saat itu dan akhirnya, duniaku akan kembali tenang tanpa ocehannya yang tak kenal waktu dan tempat itu. Tapi ternyata dugaanku salah.
Rayna ternyata tetap mengekor di belakang. Meski ada perkembangan baru dari setiap sikapnya, namun ia tak nampak hendak pergi dariku. Agak geli sebenarnya ketika melihat ia berlagak seolah berjalan tak tentu arah supaya tak terlihat seperti sedang mengikuti, meski ketika aku berhenti, ia juga akan berhenti meski berjarak agak jauh. Sudah 2 hari berlalu dari peristiwa kemarin, dan nampaknya, ia masih bersikeras untuk mempertahankan sikapnya.
'Dasar hantu *****!' pikirku sambil menyandarkan badan ke pohon.
"KAU ITU YANG *****!!!"
Eh?!
"*Arborite???"
"Masih ingat suaraku rupanya*..."
Tanpa sadar, tawaku memecah keluar tanpa mampu ditahan. Kepala ini sudah jadi semacam telepon saja rupanya...
"Kamu harus bantu gadis itu, Kay. Jika kau biarkan seperti itu, jiwanya akan hancur. Dunia tempatmu hidup bukanlah tempat yang pas untuknya."
Eh?!
"Akankah kau jelaskan maksud perkataanmu lebih jauh atau aku harus googling, Rite?"
Seakan menanggapi gurauanku, riak-riak terbentuk di udara ketika sosok pemuda gondrong itu muncul dari ketiadaan dan langsung menjitak kepalaku.
__ADS_1
"Kira-kira dong, Orang Tua!" sergahku sambil mengelus puncak kepala yang berdenyut nyeri karena tangannya barusan.
Wajah tampan itu berselaput kejengkelan yang jelas-jelas terpatri di kedua mata tajam itu.
"Kamu kira ini gurauan ya, Kay? Kamu pikir, hal tentang alam hidup dan mati itu sekedar lawakan konyol???"
Namun entah kenapa aura kemarahan Arborite saat ini sama sekali tidak menghadirkan perasaan takut seperti sebelumnya.
Aku hanya merasa lelah dengan semua ini...
q
"Bukan, Rite. Aku cuma tak tahu harus bagaimana dalam hal ini. Selama hampir sepanjang usiaku, aku hidup dengan bayangan, bisikan dan berbagai hal yang cuma aku yang bisa melihat dan mendengarnya..."
Batinku kelu dan aku tahu kalau jiwaku sedemikian lelah, namun sebanyak apapun beban yang kurasakan, tak ada orang lain yang pernah akan bisa mengerti. Seringkali mereka hanya tersenyum maklum atau bahkan menyingkir ketakutan ketika melihatku tengah berbicara dengan udara. Mereka takut kalau aku gila dan mungkin saja menyerang atau bahkan melukai mereka.
"Semua hal ini bahkan semakin menguat dan jadi seperti sekarang gara-gara kau pasang tatto ini di badanku. Dan sekarang kau tanya apakah aku menganggap ini lawakan??? Kau masih waras kan, Rite? Terlalu lama hidup sebagai arwah penasaran tidak membuat kau jadi sinting kan??!" tukasku geram.
Amarah sungguh benar-benar bergolak sekarang dan mulai menimbulkan rasa panas yang berpusar di daerah perut kemudian mulai menyebar keseluruh tubuh. Aku benci kondisi ini. Aku merasa dipojokkan ke dalam sebuah situasi yang sangat menggelikan tanpa jalan keluar atau bahkan sedikitpun penjelasan supaya aku tahu apa yang harus dilakukan untuk mengurai semua keruwetan ini.
"Eh, hati-hati dengan apa yang kau lakukan, Kay.." ujar Arborite sambil mundur perlahan menjauhiku. Mungkin diapun berpikir kalau bocah kumal di depannya itu sudah menjadi gila.
Kemarahanku benar-benar bangkit sekarang. Mengabutkan pikiranku dengan selaput awan hitam yang seakan berderak dengan muatan petir yang siap menyambar. Nafas yang terhela terasa semakin berat sekarang ketika badanku menggigil saat sekuat tenaga kucoba menahan diri.
"Eh.. eh.. eh.. Kay, tenang dulu. Aku..."
Tak lagi kuhiraukan perkataan lemah Arborite yang terasa tak masuk akal itu. Aku hanya ingin menyakiti seseorang saat ini.
"Kay.. Kay.. Berhenti, aku minta maaf sudah tampar kamu kemarin. Jangan berkelahi..."
Eh??!
Suara wanita bernada mendesak itu menghentikan langkahku yang garang. Rayna, berlari mendekat dengan raut wajah khawatir. Namun Arborite menghadang langkahnya.
"Jangan sentuh dia, Wanita!"
"Kamu siapa sih?! Kay?"
Melihat Arborite menahan langkah dan menghentikan setiap perjuangan Rayna ketika ia hendak mendekatiku, kembali menyalakan amarah di dada.
__ADS_1
"Lepaskan tanganmu dari dia, Rite...atau aku tak akan segan lagi..."
"Dengarkan dirimu sendiri. Kau bahkan sudah beranj mengancamku sekarang..." balasnya perlahan, namun tetap tak melepaskan tangannya dari Rayna.
"Kamu benar-benar memaksaku, Rite..."
"Memaksa kepalamu! Coba kau lihat badanmu sekarang! Roh gadis ini akan hancur ketika badanmu menyentuhnya!!!"
Teriakan Arborite membuatku berhenti, dan apa yang menyambut pandangan mataku benar-benar menghilangkan semangat.
"Buah kekuatan dari Amarah, berwujud api hitam yang mampu menghancurkan roh, itu yang menyelimuti badanmu sekarang." ucapnya.
Eh?!
Badanku nampak seperti pencuri ayam yang dihakimi massa dengan cara disiram bensin lalu dibakar, cuma bedanya, api yang menyelimuti tubuhku berwarna merah kehitaman.
"Tenangkanlah dirimu terlebih dahulu. Teman wanitamu ini tak bisa melihat api itu, tapi aku yakin kau bisa... Dan itu berbahaya bagi kami berdua."
'Setan, ada apalagi dengan badanku ini'
Berbagai pikiran dan ketakutan yang bersliweran dalam kepala membuat aku makin merasa lelah. Rasa marah tadi menghilang secepat kedatangannya, berganti rasa hampa dan penyesalan yang sedemikian besar...
'Duh Gusti... Kula kedah pripun...' (Duh Gusti... Aku harus bagaimana)
Aku kembali terduduk lesu. Semua hal ini sedemikian tidak masuk akal. Aku bahkan tak bereaksi ketika Rayna berlari mendekat ketika Arborite melepaskannya.
"Kay, Kay? Kamu nggak papa kan?" ucapnya sambil berjongkok di hadapanku. Sentuhan tangannya lembut ketika berusaha mengangkat wajahku yang tertunduk lesu, dan ketika mata kami bertatatapan, memang hanya kekhawatiran yang nampak disana.
"Aku nggak papa, Ray.." ujarku sambil berusaha melepaskan tangannya.
Dan belum lagi aku bisa menentukan apa yang harus dilakukan sekarang, suara Rayna sudah berdentang keras melabrak Arborite.
"Kamu ini siapa sih? Suka banget bully orang!"
Eh?!
Arborite memandangku tak percaya ketika Rayna sudah mengomel panjang pendek padanya dan ketika pandangan mata kami bertemu, tanpa bisa ditahan tawaku meledak.
******
__ADS_1