
Tanpa petunjuk yang jelas, Kay tertatih mengumpulkan berbagai macam hal dan informasi yang terserak. Detik bergeser ke menit dan berlari ke jam ketika ia terus berusaha mencari ke berbagai sudut di rumah kecil itu, berbagai pengetahuan yang akan bisa mencerahkan pikirannya. Seiring jam yang berlalu menuju akhir hari, Arborite benar-benar terlihat makin lemah. Pendar cahaya yang mengelilingi badannya nampak semakin tipis dan samar, dan Kay tak ingin kehilangannya. Meski setan tua itu selalu memiliki kecenderungan untuk terus bersikap sinis dan menyebalkan, Kay tahu kalau sebenarnya itu cuma ia lakukan untuk menutupi dirinya sendiri. Tindakannya menyelamatkan Rayna beberapa waktu lalu benar-benar memberikan gambaran yang jelas tentang sifat aslinya...
Ray?
Ray, kamu dimana sih??!
Kay mendesah lembut ketika panggilan mentalnya menggantung di kesepian tanpa jawaban dalam waktu yang lama. Entah apa yang dilakukan gadis konyol itu sekarang. Sejak menghilangkan keberadaannya, ia tak lagi menjawab apapun. Padahal Kay benar-benar membutuhkan sosok lain untuk bertukar pikiran untuk saat ini. Terlalu banyak hal yang berkembang jauh melampaui apa yang ia perkirakan sebelumnya. Ketika ia akhirnya mampu mengumpulkan tekad dan keinginan untuk membebaskan arwah kedua orang tuanya, ia sama sekali tak memiliki bayangan tentang bagaimana situasi akan dapat berkembang ke arah ini. Isi surat peninggalan ayah, yang sekarang selalu menghuni sakunya itu benar-benar mencengangkan, dan nampaknya, setelah nyaris menjungkir-balikkan seluruh sudut rumah kecil ini, nampaknya pilihan terakhir hanyalah membuka pintu tingkap yang ada di bawah meja di ruang kerja ayah dan mencari tahu lebih jauh. Ia hanya berharap kalau apapun itu, yang terjadi dalam prosesnya tak membuatnya merasakan penyesalan lebih jauh...
...----------------...
Dunia terus bergerak dalam dinamika konstan alur kehidupan tanpa menunggu. Menampilkan berbagai lakon yang berkembang sesuai pilihan setiap entitas yang menjalani, yang akhirnya menghasilkan beragam kisah tanpa jeda. Sebagaimana awan yang terus bertransformasi di langit, bentuk yang muncul tak pernah mampu diramalkan. Seperti halnya berbagai kejadian yang muncul, demikian pula kisah berkembang dalam panggung sandiwara kehidupan manusia.
Topan terus menghela nafas berat. Ia masih tak mampu menerima kenyataan bahwa ia tersesat ke dunia arwah selama hampir 10 hari. Berbagai kilasan kenangan tentang interaksinya di sana membekas kuat dan nampaknya akan tercetak dalam-dalam di ingatannya. Siapa yang akan mengira kalau sosok elegan yang ia temui dan berinteraksi selama hampir lebih dari 10 hari itu arwah orang mati?
Pemuda gondrong itu kembali menyandarkan badannya dengan perlahan. Kelelahan nampaknya tak berhenti menggelayuti fisik dan mentalnya. Membuatnya seakan terisolasi rapat dari dunia manusia ketika bahkan rokok menyala yang terjepit di antara jari-jarinya hanya mengepulkan asapnya untuk dibawa oleh angin sore, persembahan untuk pohon-pohon yang menaungi area taman kota saat ini. Sinar lembut matahari yang menghangatkan suasana riuh taman kota, celoteh dan canda beberapa pemuda yang tengah asyik dengan aktivitas mereka, atau bahkan sejoli yang tengah mesra dalam pandangan berlumur cinta yang tengah bercengkrama di pinggir air mancur taman tak mampu mengusir rasa dingin yang terus melanda hatinya.
Apa bedanya tempat ini dengan rumah Pak Budi kemarin?
Mematikan rokok yang habis tanpa ia sadari, Topan hanya bergerak untuk menyalakan batang lain untuk ia acuhkan kembali.
Tanpa Ronald yang menuntunnya, ia tahu kalau selamanya, tubuhnya akan terperangkap di tempat itu dalam waktu yang lama. Kalau tak ada Ronald, pria indigo yang kebetulan kawan baik arwah Pak Budi semasa dia masih hidup, Topan bahkan tak tahu apa akhir baginya di tempat itu.
Topan tak khawatir tentang apa yang ia makan atau minum selama ia terjebak di tempat itu. Ia tahu pasti kalau hal itu tak akan menimbulkan sebab apapun baginya. Ia bahkan pernah berbelanja di sebuah pasar gaib di sebuah gunung paling aktif di Jawa Tengah dan menikmati berbagai jenis jajan pasar yang ia beli di puncak gunung itu, dan buktinya ia tetap sehat sampai saat ini. Daripada itu, ia lebih berpikir pada bagaimana jika suatu ketika, ia melangkah masuk ke dunia yang serupa tanpa ada orang seperti Pak Ronald yang menyadarkan dan membantunya keluar seperti kemarin...
Sialan, makin dipikir kok efek samping ilmu ini makin mengerikan ya?!
Mau tak mau, makian dan rutukan tak jelas makin kuat bersliweran dalam pikiran ketika ia sadar kalau semua ini disebabkan oleh ilmu pengobatan yang diajarkan sensei-nya dulu. Tapi marah dan jengkel serta sebal-pun percuma. Kakek itu sudah menyampaikan kalau ilmu itu memiliki efek samping yang mengerikan, dan bahkan melarangnya untuk belajar ketika ia terus berusaha untuk nekat mencuri dan mempelajari kitab tua yang terbuat dari sejenis daun kering itu. Jadi, apapun yang terjadi saat ini, Topan hanya mampu memaki dirinya sendiri atas berbagai hal bodoh yang ia lakukan dulu.
"Ehm, Kak, anu.. Maaf, apa Kakak punya recehan yang bisa dibagi?"
Eh??!
Suara jernih bocah perempuan itu terdengar merdu, meski nada takut dan ragu yang terbalut dalam suaranya muncul tanpa terbendung, suara itu mirip denting genta angin yang jernih dan murni, menyelusup dan menarik Topan kembali ke dalam kenyataan..
Atau benarkah ini dunia manusia hidup??! Sialan, lama-lama aku bisa gila kalau begini caranya...
Sosok gadis kecil itu kurus meski nampaknya ia terpelihara dengan baik, sebaik yang diijinkan oleh kemiskinan yang jelas mencekik kehidupan bocah itu kuat-kuat. Tapi minimal baju sederhana yang ia gunakan nampak bersih meski tambalan bisa terlihat di beberapa tempat. Rambutnya yang hitam dan tebal juga nampak bersih dalam ikatan kuncir dua yang rapi. Senyum berbalut rasa takut terkembang dari bibir mungil yang menampilkan deretan gigi putih itupun terjaga kebersihannya. Tas anyaman besar yang nampak aneh yang ia sandangpun terlihat jauh dari debu. Namun meski keseluruhan penampilan gadis kecil ini enak dipandang, Topan merasa ada yang salah dengannya.
"Adik ini dari mana?" balas Topan perlahan sambil menegakkan duduknya. Matanya yang tajam lebih memperhatikan keseluruhan penampilan gadis kecil yang nampaknya saat ini, setengah menyesal telah mendatanginya.
Bocah yang nampaknya baru berusia sekitar tujuh tahun itu kelihatan semakin gelisah, tapi entah kenapa ia seperti tak melihat ke arah Topan yang duduk di kursi tak jauh di hadapannya.
"A.. a. Anu, saya tinggal di dekat sini bersama Nenek saya, Kak." sahutnya lagi gugup.
Melihat bagaimana gadis kecil itu bersikap, ragu, Topan mengangkat salah satu tangan dan melambaikannya di depan wajah gadis itu perlahan. Dan ketika tak ada reaksi dari gadis itu, Topan menghela nafas berat.
Gusti Pangeran, dunia macam apa yang Kau ciptakan ini??!
Pikirannya menderu dalam kesedihan yang membengkak tanpa terkendali. Bocah perempuan sekecil ini, tak mampu melihat dan kenyataan bahwa ia mesti meminta recehan seperti ini ketika bahkan gerombolan pemuda di sisi sana itu asyik saling membandingkan gadget yang tengah mereka pegang??!
Damn!!!
"Namaku Topan, Nduk. Kamu sudah makan?" ujarnya lembut tanpa mampu mengurai ikatan yang tiba-tiba seakan menekan tubuhnya, menghalangi aliran udara yang ia paksa hirup ke dalam dada.
"Anu, kalau boleh saya dikasih receh aja, Kak. Nenek belum makan sejak tadi pagi..." cicitnya pelan, seolah takut menimbulkan kemarahan orang yang nampaknya berkeinginan untuk membantunya ini.
"Duduklah dulu. Aku mengerti sedikit ilmu pengobatan, kalau kau mau, aku bisa melihat Nenekmu nanti..."
"Ehmm, tapi..."
"Aku tak akan melakukan hal jahat padamu, biar Tuhan mengutuk dan mengambil nyawaku pada saat itu juga kalau aku berniat buruk padamu. Duduklah dulu..." sahut Topan lembut sambil menyingkirkan ranselnya, memberikan tempat untuk gadis itu.
"Sebentar, aku punya roti di sini, nampaknya bukan hanya Nenekmu yang belum makan sejak pagi." kekeh Topan segera menggagapi ransel ketika gemuruh perut kecil yang akhirnya memutuskan untuk bersedia duduk di sampingnya itu menyapa telinganya.
__ADS_1
"Maaf ya, Kak..." jawab gadis itu pelan. Penyesalan bercampur rasa malu yang kuat nampak muncul dalam bentuk rona merah di pipinya yang mungil ketika tangan mungilnya nampak sibuk meremas ujung kaosnya. Pemandangan yang sejenak membuat pemuda berhati keras itu mematung dalam pesona kemurnian dunia.
Huft, bumi manusia yang menyedihkan. Gusti Pangeran, jika benar mereka pemilik kerajaan surga, surga macam apa yang memaksa salah satu pemiliknya bahkan harus kelaparan seperti ini??!
Batin Topan terus menderu dengan berbagai macam hal negatif tanpa terkendali. Perasaannya yang memang sudah buruk karena baru saja lolos dari jebakan maut alam arwah, makin parah dengan kondisi dunia nyata yang ada di depan matanya saat ini.
"Dan kenapa kok tidak kau selesaikan makanmu, Nduk?" tanya Topan lembut ketika melihat gadis itu merapatkan lagi plastik pembungkus roti yang baru ia makan separuh dan berusaha memasukkannya ke dalam tas.
"Saya sudah kenyang kok, Kak. Nenek belum pernah makan roti enak seperti ini juga..." ucapnya. Sedikit senyum muncul di bibirnya. Seklumit rasa syukur yang membayang dari wajah kecil itu benar-benar terasa bagai pisau silet yang ditekan kuat dan diseret pelan-pelan di jantung Topan.
Duh, Nduk, hanya roti seperti itu saja cukup menghadirkan rasa syukur sampai terlihat di mukamu begini, lha aku selama ini ngapain saja??!
"Habiskan, Nduk. Kakak masih punya untuk Nenekmu..." sahut Topan pelan ketika tanpa sadar, air mengalir dari matanya tanpa mampu ia tahan. Pemandangan sederhana ini benar-benar membuat hatinya yang keras berantakan. Memandang rasa kaget penuh kegembiraan bercampur terima kasih yang terpancar dari wajah bocah kecil atas sebuah roti dan air ini benar-benar mampu membuatnya mempertanyakan dirinya sendiri..
Jika aku yang berada di posisinya, akankah aku bisa seperti bocah ini???
Akankah aku bisa tak mengeluh, sementara sekarang saja, aku sering mengutuk karena aku merasa hidupku sedemikian menyedihkan??!
Dibanding bocah ini, apa yang bisa kuhitung???
Memandangi bocah yang nampaknya sedemikian menikmati makanan sederhana itu, pemuda gondrong itu makin tenggelam dalam berbagai pemikiran mencela diri. Ia bahkan tak bisa berhenti untuk terus mengutuk dan memaki ketika menyadari bahwa selama beberapa waktu, ia terjebak di dunia arwah. Padahal, setelah kepergian Ronald, ia menemukan beberapa lembar uang dengan jumlah lumayan, senilai jumlah yang dijanjikan Pak Budi ketika ia datang meminta pekerjaan. Belum lagi semua pengetahuan yang ia dapatkan??
Nampaknya memang aku masih berwujud sampah yang sama, yang memilih untuk menyakiti dibanding menyembuhkan, keluh batin Topan kelu.
......................
Rayna tak mampu menahan perasaannya sendiri. Mendengar ucapan Abo, melihatnya dalam kondisi yang makin melemah setiap kali ia berusaha keluar dari lingkaran, dan akhirnya tahu kalau Abo berusaha memberikan kesempatan untuknya tanpa memikirkan keselamatan dirinya sendiri itu sungguh menyedihkan, dan ia tak mampu melihat atau mendengarnya lebih lama lagi. Jadi ia memilih untuk menutup dirinya sendiri dan pergi dari rumah itu.
Ia mungkin perlu mencari tahu lebih jauh tentang lingkaran itu. Kalau bahkan Abo yang tahu segalanya itu sampai bingung, dan tak ada petunjuk tentangnya bisa ditemukan di rumah itu, mungkin saja ia bisa menemukan jawaban dari tempat lain.
Dan berbekal pikiran mulia tanpa pertimbangan matang inilah Rayna mulai berpindah dari satu tempat ke tempat lain, dengan harapan akan ada petunjuk meski sedikit tentang hal itu. Namun sudah hampir seharian ia berpindah dari berbagai tempat tanpa mendapatkan apapun. Yang sebenarnya sangatlah wajar. Jika Arborite saja tak tahu, bagaimana mungkin orang lain akan bisa mengerti tentang hal setua itu dengan mudah?
Tapi hantu cantik itu tak menyerah. Setiap tempat yang menurutnya akan bisa menyimpan petunjuk, ia datangi. Dan rasa frustasilah yang akhirnya menuntun langkahnya kembali ke tempat ini.
Persimpangan utama jalan kota ini lengang, tapi seharusnya, suasana meriah dari berbagai lampu toko dan keramaian kota haruslah bisa sedikit memberikan warna, tapi tidak.
Hmmm, nampaknya si pemakan dendam ini habis makan rupanya. Semoga ia bisa diajak bicara ketika tak lapar lagi, batin Rayna.
Perlahan, ia berkonsentrasi sekuat ia bisa. Gadis itu mulai mewujud ketika tangannya menggapai kerikil dan mulai menggoreskan beberapa simbol di tanah, dan ketika selesai, dengan gagah ia kembali berdiri.
"Pemakan Dendam, keluar!!! Aku tahu kau disini!"
Kesiuran angin sontak bergerak liar, mengancam dan menimbulkan rasa ngeri ketika desirnya seakan membawa ribuan jarum tipis yang beracun.
"Hmmm, meski aku tak terlalu lapar, tapi menolak rejeki yang datang sendiri tidak baik, hiks hiks hiks..."
Suara itu terdengar sayup, tapi tak seperti komunikasi mental, suara itu bagai dibawa oleh angin dari tempat yang jauh. Sementara di luar lingkaran berbagai simbol yang digambar Rayna, angin seakan berusaha untuk merusak garis dan gambar namun tak mampu menerobos masuk.
"Owh, rupanya arwah kecil ini bisa bermain-main... Kita lihat, sampai berapa lama kau bisa bertahan, gadis kecil..."
Meski ketakutan, sosok hantu cantik itu berusaha tegar ketika ia membalas, "Aku tak takut padamu, Nenek tua. Kau takkan bisa masuk tanpa kuijinkan. Jawab pertanyaanku, dan ketika jawabanmu memuaskanku, kuijinkan kau masuk."
"Owh, tuan putri yang berani. Baik, aku bisa bermain denganmu sedikit lebih lama. Apa yang perlu kau ketahui, hantu kecil?" desah bayangan gelap yang bagaikan mewujud dari angin dan hawa dingin itu pelan.
"Apa yang kau tahu tentang simbol-simbol seperti ini? Aku perlu menghancurkannya..."
Sungguh khas Rayna. Jika dia sudah tahu kalau bahkan Pemakan dendam membutuhkan ijinnya hanya untuk menembus perisainya, bagaimana ia bisa tahu tentang menembus sesuatu yang bahkan jauh lebih hebat dari apa yang melindunginya saat ini?
Bayangan perwujudan nenek tua ringkih itu terkikik panjang. Nampaknya ia akan mampu bertahan jauh lebih lama ketika bisa menyantap jiwa hantu bodoh ini. Bibirnya membentuk seringai keji ketika tangannya yang penuh keriput melambai dalam pola yang rumit, dan perlahan, desau angin seakan berkumpul dan membentuk tornado-tornado kecil yang bergerak bersama, meniup berbagai debu dan tanah untuk merusak simbol yang dibuat Rayna.
"Bocah konyol, rajah mainan anak-anak kau tunjukkan didepanku... Nampaknya kau sudah lelah." ucapnya di tengah kekeh keji yang terlontar.
Melihat hal ini, kengerian muncul di wajah cantik Rayna. Seiring bagian bagian simbol di tanah mulai rusak, hawa dingin berbau busuk seakan memadatkan udara, menghalangi kemampuannya untuk berpindah dan melarikan diri. Ketakutan mulai membuncah dan menguasai pikirannya. Setiap jalan keluar yang mampu ia pikirkan, tak memberikan hasil yang nyata. Nenek ringkih itu beranjak semakin mendekat, jemarinya yang kurus dan penuh dengan keriput mulai memanjang dan menampakkan kuku-kuku yang kelihatannya sangat tajam. Bibirnya seakan terobek sampai ke telinga dalam seringai keji, menampakkan gigi tajam yang mengerikan.
__ADS_1
Sial, kalau begini caranya, aku mesti gimana???
"Tidak.. tidak. Pergi! KAAAYYYY!!!"
......................
Nama gadis kecil itu Andini. Seiring waktu, nampaknya ia akhirnya menerima kalau pemuda bersuara lembut itu ingin membantunya. Perlahan, sikap ceria yang sebelumnya tak terlihat, mulai muncul. Berbagai pertanyaan dan canda terhambur keluar dari bibirnya. Bahkan ketika ia bercerita kalau ia cuma mengenal Nenek selama ini tanpa ada orang lain yang merawatnya-pun, ia menceritakan itu seakan itu adalah hal yang sangat baik. Tak ada penyesalan akan ketidaktahuannya akan kedua orang tua yang mungkin meninggalkannya untuk mati atau entah seperti apa cerita yang mungkin terjadi. Ia pun nampaknya bahkan tidak memikirkan sedikitpun hal buruk tentang itu. Sungguh membuat Topan sangat malu akan dirinya sendiri.
Sepanjang waktu, pemuda itu hanya mengikuti langkah kecil yang berderap di sampingnya. Jika Topan tak tahu kalau Andini tak bisa melihat, mungkin ia akan berpikir kalau gadis ini baik-baik saja, melihat bagaimana ketidakmampuan penglihatan ini seperti tak memberikan halangan berarti baginya. Tapi seiring langkah yang makin menjauh dari pemukiman, perasaan ancaman mulai muncul dalam hatinya. Suasana temaram senja yang menembus rimbun pagar belukar ini bukanlah apa-apa bagi Topan, tapi ada hawa kehadiran pekat ini jelas artinya.
Sialan, kalau yang begini ini bisa repot urusan.. Jangan-jangan bocah ini setan juga apa ya?
Batin Topan penuh dengan berbagai pikiran ketika hawa udara mulai terasa menjadi padat, menekan dan menyesakkan. Samar bau apek tanah yang bercampur bau busuk belerang melayang terbawa angin senja yang resah, seakan ingin beranjak menjauh dari lokasi itu secepat ia bisa.
"Nduk, berhenti sebentar. Kita ini mau kemana?" tanya Topan pelan. Meski prasangka memenuhi hatinya, ia tak mau gegabah. Hawa dan bau yang dibawa oleh kehadiran entitas ini bukan sesuatu yang bisa dianggap main-main.
Andini ikut berhenti mendengar pertanyaan ini. Meski tak bisa melihat, ia menoleh ke arah suara Topan.
"Rumah tempatku dan Nenek tinggal ada di ujung jalan ini, Kak." jawabnya.
Topan menghela nafas berat mendengar jawaban ini. Rasa sedih muncul dari dasar hatinya. Memusnahkan entitas yang mampu menampilkan kemurnian seperti bocah kecil ini sungguh tak enak rasanya. Tapi ia sadar, jika ia membiarkan kehadiran seperti ini tetap ada, manusia tanpa kemampuan dan pengetahuan tentang dunia seperti yang ditinggali bocah ini bisa mengalami kematian mengerikan.
Maafkan aku, Nduk.. Semoga Sang Pencipta berkenan menerimamu di surga-Nya, seperti yang selalu Ia janjikan...
Batin Topan berdering dengan penyesalan ketika rangkaian mantra penghancur keberadaan jahat terangkai. Singkat, kedua tangannya membentuk sikap mudra ketika kekuatan murni melonjak dari kedalaman dirinya, yang seakan juga menekan tombol panik alam ketika itu. Sapuan angin kuat datang tiba-tiba, menghantam bagai truk berkecepatan tinggi, mengibarkan berbagai semak dan rimbun pohon yang menaungi jalan setapak kecil itu. Membawa serta hawa dingin membekukan tulang bersama bau busuk belerang yang kuat.
Tapi Topan berdiri dengan kukuh. Bibirnya terus bergetar dalam darasan mantra, mendorong kekuatan murni menuju kedua tangannya yang masih terus membentuk mudra. Langkahnya tegap tak tergoyah ketika persiapannya mencapai puncak. Alam seakan menggila dalam jeritan histeris angin yang menampar dan mencakar bumi dengan seluruh kekuatan mereka ketika tangan Topan terulur menuju Andini, yang nampaknya bahkan tak tersentuh oleh angin sedikitpun. Senyum manis masih tersungging di bibirnya, meski kerutan kecil di dahinya sedikit menunjukkan tanya, kenapa kakak bersuara lembut ini nampaknya bingung dan takut ketika mereka sudah hampir sampai di rumah.
Maafkan kakak, Nduk...
"BERHENTI, ANAK MUDA!"
Tapi dering teriakan seorang wanita tua meledak dalam benak Topan, menghalangi dan membekukan pergerakan tangannya. Hawa dingin yang pekat muncul dan menguat dari ujung jalan setapak di depannya.
"Biarkan bocah itu pergi, kalau tidak, kuhancurkan keberadaanmu yang menyedihkan itu."
Topan mendengus meningkahi ancaman yang berdering dalam benaknya itu. Matanya yang penuh dengan sinar lembut sebelumnya mulai mengeras dalam pancaran tekad.
"Kalau kau pikir kau bisa, lakukanlah. Keberadaan kalian bukan lagi disini. Pergi, kembali ke alammu, dan aku takkan mengejar semua ini.."
"Sombong!"
Kesiur angin nampaknya benar-benar memadat dalam bentuk pisau-pisau yang menderas ke arah Topan, membawa hawa dingin yang mengerikan, tapi nampaknya pemuda itu sama sekali tak menghiraukannya. Ia hanya membanting kaki kirinya ke tanah tiga kali saat mantera terbetik dalam pikirannya. Jemarinya terus bergerak dalam bentuk yang rumit, membentuk berbagai mudra ketika kekuatan angin mulai mendarat dan mencabik dagingnya di beberapa tempat. Namun tak butuh waktu lama ketika tiba-tiba, secepat datangnya, angin menghilang begitu saja, meninggalkan Topan dengan beberapa luka dangkal yang masih mengalirkan darah.
Namun seluruh rangkaian kejadian yang singkat namun mengerikan ini nampaknya tak melibatkan Andini sedikitpun. Gadis kecil itu masih terdiam menunggu jawaban dari Topan, yang saat ini, mulai dihinggapi kebingungan akan hal ini.
"Tapi kalau Kakak nggak mau ya nggak papa. Besok saja kalau terang ya Kak? Andin suka lupa kalau dunia orang lain punya gelap dan terang..." tukasnya pelan, yang justru lebih melukai Topan jauh lebih menyakitkan daripada kehadiran arwah jahat sialan sebelumnya.
Ah, sudahlah.. Suka tak suka, ini konsekuensi yang harus kutanggung, keluh batin Topan sedih
Tapi ketika tenaga mulai terbentuk dan melapisi kedua tangannya dalam cahaya merah hitam yang kuat, dering suara ringkih itu kembali terdengar di benaknya
"Kumohon hentikan itu, Anak Muda... Kumohon..."
"Huh, sekarang kau memohon?" geram Topan dalam benaknya. Ia memang tak menghancurkan arwah jahat itu, belum. Ia hanya memenjarakannya dalam segel khusus, segel yang mampu memenjarakan dan menghilangkan kemampuan berbagai arwah jahat dari menyakiti manusia, bahkan segel itu mampu menghancurkan keberadaan mereka. Dan baginya, meskipun mahluk seperti ini bisa melukainya, tapi kemampuannya tak cukup untuk membahayakan jiwa sedikitpun.
"Anak itu tak mempunyai siapapun yang menjaganya selain aku..."
"Apa maksudmu??!"
"Anak itu masih manusia..."
Eh??!
__ADS_1
"Kak?"
"Ehm, ayo kita jalan lagi, Nduk. Maaf, tadi kakak agak bingung..." jawab Topan. Akhirnya ia kembali mengikuti langkah gadis kecil itu ketika suara ringkih wanita tua terus berdering dalam benaknya. Menceritakan kisah tragedi lain yang serupa, tragedi yang nyaris terjadi di setiap era dan waktu. Tragedi yang terjadi karena manusia tak mampu menafan nafsu dan enggan menerima konsekuensi perbuatan mereka sendiri. Tragedi yang sangat Topan harapkan, bukan sama seperti miliknya...