Kisah Perjalanan

Kisah Perjalanan
Dia Memang Suka Garing Ketika Bercanda


__ADS_3

Entah bagaimana caranya, tiba-tiba saja Kay kembali ke tempat ini. Hal terakhir yang ia ingat adalah sosok lembut Rayna yang memaksa untuk menenangkan gejolak amarah yang ia rasakan dan tiba-tiba saja, ketika ia membuka mata, padang rumput luas yang indah inilah yang menyambutnya. Mau tak mau, Kay teringat pengalaman terakhir yang ia alami di tempat ini. Tempat dimana ia akhirnya berusaha untuk menerima dirinya sendiri.


Membentang seluas dan sejauh pandangan, rumput hijau berbalut warna keemasan bergoyang harmonis dalam belaian lembut angin, menimbulkan ilusi seakan batang-batang rumput ini tengah berlarian dan bermain dengan riang. Sementara bunga rumput yang menjulang, terlihat seperti penari-penari balet yang tengah membawakan karya seni kolosal yang agung, bergerak bersama simfoni manis gubahan alam semesta. Meski matahari tak terlihat dimanapun, padang yang luas ini terang dan hangat, sungguh memberikan ingatan akan rasa hangat dari pelukan seorang ibu, yang nyaris menghilang dari bidang rasa Kay.


"Tawaranku masih tak berubah, Kay. Kau boleh tinggal disini selama yang engkau suka..."


Mendengar suara ini, Kay terkekeh pelan. Bahkan tanpa melihatnya, ia tahu siapa yang memiliki suara lembut mendayu penuh rayuan itu. Salah satu dari 'saudara' yang lahir bersama dengannya, Supiah, the tricky master alias si tukang tipu-tipu itu sudah muncul.


"Terima kasih atas tawaranmu, Bro, tapi jawabanku masih akan tetap sama seperti sebelumnya." sahut Kay sambil terkekeh. Ia sadar dan sepenuhnya mengerti, meski dunia itu menyakitkan dan berisi bermacam ragam siksaan berbalut madu duniawi, lari bukanlah sebuah jawaban.


"Aku juga berbagi segalanya denganmu lho, Kay. Aku dan semua saudara yang lain turut merasakan apapun yang kau rasakan. Kau yakin tak ingin aku atau Angkara menggantikan tempatmu?" ucap sosok yang entah sejak kapan sudah duduk disampingnya itu lembut, tapi Kay kembali terkekeh, meski selimut kesedihan tak berhasil ia sembunyikan dengan sempurna.


"Sungguh, aku berterima kasih atas niat baik kalian, tapi aku yakin, semua akan baik-baik saja." balas Kay pelan.

__ADS_1


Dan memang sebenarnya, memang ini yang ia rasakan. Ledakan emosi akibat obrolannya dengan Topan membantunya untuk memahami kenyataan dengan lebih baik. Membantunya untuk menjadi yakin dengan jalan dan takdir apa yang menantinya. Menyadarkannya akan tanggung jawab yang ada dibahunya untuk dipikul. Akhirnya ia bisa menerima dan memahami akan kemungkinan kenapa ada anomali aneh seperti dirinya muncul di dunia manusia ini, akan kenapa Tuhan mengijinkan mahluk aneh seperti dirinya sendiri ini muncul. Kay merebahkan dirinya di tanah, menikmati sesaat rasa nyaman yang jarang ia rasakan.


Melihat rasa tenang yang muncul di wajah penuh senyum lembut itu, Supiah turut tersenyum. Sosoknya mulai memudar ketika sebagian dari dirinya melebur dengan tubuh yang terbaring tenang di tanah itu.


"Aku berbahagia untukmu, Kay. Sering-seringlah main kesini. Kau belum lagi bertemu kakak dan adikmu. Ketika nanti kau bisa menguasai dirimu sendiri, mereka pasti akan muncul..."


Suara Supiah serupa bisikan lembut angin yang sayup sampai, bereaksi seperti kidung lembut yang melelapkan dan menenangkan pikiran Kay. Mengirimnya kembali ke dunia nyata dari sepenggal tanah berbalut keindahan ini.


......................


Sialan memang orang-orang ini, apa sih susahnya mindahin ke kamar apa gimana gitu. Orang pingsan malah ditinggal di teras, rutuk Kay dalam hati, meski suara lain dalam dirinya muncul dan segera menyangkal pikiran konyol ini, membuatnya sedikit geli.


Yah, minimal masih dikasih selimut, kikik pikiran Kay sambil berdiri, melipat selimut lalu beranjak memasuki rumah. Ketetapan tekad yang tercermin dari langkah itu tak pernah ada sebelumnya Nampaknya, bukan hanya sekedar pemahaman yang Kay dapatkan dari Supiah. Sosok yang sebelumnya tampak suram dan seakan menarik diri dari dunia itu tak lagi nampak padanya. Seakan sebagian dari sifat dan kapasitas Supiah telah menyatu dan melengkapi sosok Kay. Meski tampaknya, bahkan Kay sendiri tidak menyadarinya. Pemuda itu melenggang tenang, bersiap menghadapi hari dengan semua yang ia miliki...

__ADS_1


...****************...


Segera setelah pesawat mendarat, Anton segera mengaktifkan telpon genggamnya. Meski selama beberapa waktu ini ia sudah absen dari berbagai kegiatan dunia kedokteran, hanya supaya ia bisa fokus merawat Pops, reputasinya tak pernah mengijinkan ia untuk benar-benar meninggalkan dunia kedokteran profesional. Dan memang, tak lama menunggu, getar notifikasi berbagai pesan dan email berdesakan masuk.


Anton menghela nafas. Sebenarnya ia enggan untuk segera terlibat dengan pekerjaan, tapi nuansa perayaan atas kesembuhan Pops ternyata menyisakan rasa tak nyaman di sudut hatinya. Adegan dimana dukun itu menarik keluar daging tumor ganas dari tubuh Pops terus membayanginya. Meski jika dilihat dari sudut pandang sebagai seorang dokter, tehnik yang ia lihat sungguh tak tertandingi. Hanya saja, ia adalah orang Indonesia. Ia pernah hidup dan tumbuh dalam cerita berbagai budaya mistik yang tak kalah mengerikan dari apa yang ia saksikan kemarin. Dan sayangnya, setiap cerita yang pernah ia dengar dulu itu selalu memiliki akhir yang serupa, akhir yang mengenaskan bagi banyak orang yang terlibat di dalamnya. Dan sungguh, ia berharap bahwa saat ini, Pops tak berada dalam salah satu kisah ini.


Tapi Anton tak ingin menjadi seorang Party Ruins. Ia memilih untuk ikut berbahagia untuk Pops. Memeluknya hangat dan menjauhkan diri untuk sejenak membenamkan diri dalam apa yang ada dalam ponselnya, dunia yang sudah ia kenal isinya. Tapi sayang, tampaknya Anton mesti kecewa sekali lagi.


Sebuah pesan berisi video berdurasi sekitar 2 menit dan pesan audio yang menyertainya, membuat Anton tak mampu bahkan untuk sekedar menarik nafas. Jemarinya gemetar menutup mulut, menghalangi jeritan histeris yang mungkin keluar darinya ketika video berkualitas tinggi itu ia putar.


Anton mengenali lokasi dimana video itu diambil. Mereka baru saja meninggalkan tempat itu kemarin. Hanya saja, mahluk berbadan ular dengan kepala sosok pria setengah baya, yang sebelumnya terlihat ramah ketika ia mengobati Pops itu tengah berpesta. Darah kental belepotan di mulut ketika ia merobek daging dari tubuh setengah gepeng, yang tampaknya masih mengenakan seragam putih perawat. Dan yang lebih mengerikan, tampaknya sosok itu masih hidup ketika dagingnya dirobek dari tubuh rusak itu. Getaran-getaran kecil terlihat dari tubuh rusak itu, dan Anton cukup terlatih untuk menentukan bahwa korban tengah dimakan hidup-hidup. Sesaat kemudian, video itu bergoyang keras, dan rekaman itu mati. Namun, pesan suara itu semakin membuat badannya semakin gemetar tanpa kendali ketika menyadari suara penuh teror Terry.


'Please taking care of my family, bos. I don't think that i will survive this. It ATE DEBORA alive, for God shake... No! No! Nooooooo...!!!"

__ADS_1


Dan pesan itu berakhir, meninggalkan teror tanpa akhir di hati Anton. Tampaknya, firasatnya tak keliru. Ia berada dalam salah satu cerita mistik yang pernah ia dengar di masa kecilnya...


__ADS_2