Kisah Perjalanan

Kisah Perjalanan
Relakan aku, Ai...


__ADS_3

Dunia seakan memiliki ribuan jenis warna dan aroma baru ketika maba cantik yang memiliki badan mungil itu membalas kata "I love u" yang Reva bisikkan dengan dengan senyum malu dan mengangkat 2 jarinya.


"Ehm, kok jawabnya gitu sih?"


"Emang ini bahasa Inggrisnya apa, Kak?" sahut gadis itu sambil mengerlingkan matanya.


"Ehm... Finger??!"


Yaelah, ganteng dan full bloon, pikir Arimbi kesal.


"Jumlah finger-nya, Kak..." sahut Arimbi lagi sambil menepuk jidatnya. Agak **** juga ini kakak tingkat.


"Owhhh, two... tapi.. Ah??"


Dan Arimbi bergegas melarikan diri dari tempat itu secepat ia mampu ketika ia melihat bagaimana cara Reva mengekspresikan kebahagiaanya, yang mungkin lebih condong ke kampungan daripada norak.


Duh, salah kali kuterima cowok aneh ini jadi pacar kayaknya, batin Arimbi sambil ngeloyor pergi sejauh mungkin sambil sedikit berharap tak ada yang memperhatikan tingkah norak Reva yang berjingkrak sambil mulai menyanyikan berbagai lagu cinta tak jelas dengan suara sekencang mungkin. Harapan yang ia sadari tak mungkin. Reva menyatakan perasaannya di lokasi Makrab, dimana seluruh angkatan mahasiswa baru berada di sana.


Yah, Reva, Adrianus Reva Sagilaar, cowok ganteng dengan seabreg prestasi dan penggiat kegiatan outdoor sejati dengan hobby utama panjat tebing itu memang menawan.


Belum lagi prestasi akademis yang hebat, jiwa solidaritas mengakar kuat dalam dirinya. Menjadikan ia sosok mendekati sempurna yang bikin banyak mahluk cantik di kampus tak mampu melepaskan pandangan mata, meski sebelumnya, ia lebih memilih menghabiskan waktu dan pikiran untuk organisasi pecinta alamnya, tanpa berusaha menjalin hubungan romantis dengan siapapun. Dan itu sedikit berubah sejak Arimbi menjadi sosok yang ia idamkan.


"Emang kenapa sih Va milih Ai' jadi pacar?" selidik Arimbi pada suatu ketika. Nama itu yang disematkan Reva, sebuah panggilan sayang, menurutnya.


Reva, yang saat itu masih sibuk dengan berbagai kegiatan persiapan untuk pelatihan panjat dinding untuk juniornya menoleh dan tersenyum manis.


"Ai tahu nggak kalau Ai' tu asyik? Ai' baik, pinter, nggak posesif kalo Va mau jalan, dan Ai' enak diajak ngobrol kesana kemari, meski mungkin obrolanku nggak jelas kemana arahnya," sahut Reva sambil tergelak.


"Ih, Va serius dong..."


"Lho, Va serius lho. Kata Kakungku, selama hati seseorang itu nyaman ketika berdekatan dengan lawan jenis, maka mereka harus jadi pasangan abadi, Beb..." ujarnya.


"Dan itu yang kurasakan ketika aku bersamamu, Ai.. Nyaman, ringan, ngalir dan tenang. Va sayang banget sama kamu, Ai..."

__ADS_1


"Gombaaaalll!" gelak Arimbi, meski tak urung perkataan itu membuat hatinya menjadi hangat dan pipinya bersemu merah..


"Mbak? Mbak e?"


Arimbi tersadar ketika tangan dingin yang menyentuh bahunya mengembalikan suasana kesini, Basecamp terakhir di kaki gunung yang merengut Reva darinya. Badai masih mengganas dan seakan melemparkan setiap butiran air hujan yang dibawanya ke atap bangunan, membawa riuh suara yang mengiris perasaan dalam balutan cemas yang makin menebal.


"Minum teh, mumpung masih anget..." kata Topan sambil mengulurkan gelas yang masih mengepulkan uap tipis. Arimbi menyambut gelas itu dan memeluknya dengan kedua telapak tangannya yang terbungkus sarung tangan tebal. Senyum yang nampaknya ia paksakan dengan sekuat tenaga, tak mampu menyembunyikan kesedihan yang terpetakan di matanya.


"Ekspedisi kami berkembang jadi tragedi, Bang..." bisik Arimbi lemah. Pandangan matanya yang penuh kesedihan tak terfokus pada apapun, seakan bahkan ia mulai terpisah dari keberadaannya sendiri. Ia bahkan tak mengindahkan apapun, termasuk perkataan Topan tentang minuman yang keburu dingin. Arimbi hanya terus bercerita.


Tentang bagaimana ia memaksa Reva untuk ikut pendakian itu meski sebelumnya ia bahkan tak pernah jogging.


Tentang bagaimana ia terus merajuk, merayu dan memaksa hingga menjadi sosok yang sangat menyebalkan selama perjalanan.


Tentang bagaimana ia akhirnya harus dipapah dan digendong ketika lelah menghampiri dan ia terus tak ingin berhenti...


"Reva hanya tertawa, Bang, dan ia gendong Ai sampai ke puncak. Cuma gara-gara Ai sebel karena Reva juga bikin minuman anget buat teman cewek lain, Ai marah..."


"Arimbi, itu kecelakaan. Nggak ada yang salahkan kamu kok..." sahut Bram lembut dan meletakkan tangannya ke bahu Arimbi, namun tatapan mata penuh amarah tajam terhunjam ke arah Topan, yang mulai nampak tak nyaman.


Topan menghela nafas berat. Gadis kecil yang sekarang duduk di depannya itu sudah nampak sedemikian terguncang. Gelas teh yang berada digenggamannya sudah gemetar tak terkendali dan nyaris menumpahkan isinya. Tangis sudah menghilangkan dan menghalangi seluruh kemampuannya untuk berkomunikasi.


'Gua tahu lu bisa dengar gua, Bro... Dan gua tahu elu bisa bantu gua. Gua nggak tega liat pacar gua begini terus...'


Suara itu akrab dan Topan tahu siapa dia. Kata Kakek yang mengajarinya dulu, siapapun yang mempelajari ilmu yang Topan kuasai saat ini, ada kemungkinan untuk memiliki kemampuan berkomunikasi dengan mahluk gaib, namun sebelumnya, Topan hanya mengira itu cuma karena caranya bercanda jelek dan supaya ia nggak pengen mau belajar ilmu yang katanya ilmu pengobatan dengan tingkatan paling tinggi ini.


'Terus, menurut elu, gua bantu gimana tepatnya, Va? Setan lu, bikin gua susah aja...' maki Topan dalam pikirannya, yang dengan cepat disambut dengan tawa.


'Elu yang punya begituan, malah elu nanya gua ya? gua cuma hantu, Bro, Setan mah ada sendiri' kekeh suara itu lagi.


Namun Topan tahu kenyataannya. Kesedihan yang sangat kuat, yang berkembang jauh dalam pikirannya itu bukan miliknya. Rasa itu mulai berkembang hingga membuat dada terasa sesak..


'Gua coba bantu. Gua cuma bisa bantu supaya elu bisa ketemu dia dalam mimpi. Tolong buat itu berarti ya, Va...'

__ADS_1


Topan berdiri dan meraih gelas yang terus bergetar di tangan Arimbi, dan menaruhnya di meja. Tangannya kembali singgah di pangkal leher Arimbi sementara tangannya yang satu, lembut mendorong Bram yang berdiri di belakang Arimbi.


Dan ketika gadis itu mulai lemas dan memejamkan matanya, rangkaian doa yang muncul dari kedalaman jiwanya mengalun perlahan dalam balutan kesedihan Reva yang mulai menyatu dalam diri Topan. Alunan doa terus mengalir perlahan mengiringi Arimbi yang tertidur lelap dalam kelelahan jiwanya sendiri...


"Sorry ya, Mas, aku beneran nggak tahu..." sahut Topan pelan. Ia bahkan tak mampu membalas tatapan mata Bram yang penuh dengan tuduhan. Ia mengangkat tubuh lelap Arimbi dan kembali membaringkannya di Amben bambu di belakang.


"Semoga ini cukup dan bisa menentramkan hati adikmu. Aku bener-bener minta maaf, Mas. Kalau Mas mau pukul, saya nggak akan ngelawan, Mas" lanjut Topan lemah ketika Bram menyusul langkahnya.


"Reva jatuh dari tebing ketika mencoba menyelamatkan orang yang hendak mengambil bunga itu, Pan. Beberapa tulang rusuknya patah dan paru-parunya terluka, namun ia bertahan." kata Bram perlahan sambil merapikan sleeping bag yang menyelimuti tubuh Arimbi.


"Kami mencoba sekuat tenaga untuk memastikan Reva bisa dievakuasi, tapi Arimbi sudah sedemikian histeris dan ia bersikeras untuk terus berada di dekat Reva. Kau tahu, Pan, bocah ***** itu bahkan masih berusaha menghibur dan bercanda dengan Arimbi, hanya supaya agar Arimbi tidak membahayakan dirinya sendiri dalam kepanikannya.." lanjut Bram lirih.


"Tapi nampaknya kesialan belum berhenti, Pan. Badai seperti ini, lengkap dan spesial persis seperti saat ini, datang dan menghantam kami sekuat tenaga. Badan yang belum sempat beristirahat, ditambah beban Arimbi yang makin histeris dan tandu Reva beserta barang-barang makin membuat kami kepayahan. Salah satu pembawa tandu terpeleset dan jatuh..."


Topan sudah tak mampu lagi mendengarkan cerita itu lebih jauh lagi. Suara Bram yang mulai tercampur tangis tak lagi bermakna.


'Terima kasih, Brother. U r Best of all...'


Bisikan sayup yang muncul di kedalaman pikirannya itu suara Reva, namun entah kenapa rasa sedih yang sebelumnya mengikat Topan sedemikian kuat agak terurai.


'Ingatan mereka bias, Bro. Kutinggalkan untukmu kejadian sebenarnya ya, sekarang aku bisa pulang dengan tenang. Dan tolong kau jitak cowok cengeng di depanmu itu...' ujarnya lagi dalam kikik kecil ketika berbagai ingatan tentang kejadian pendakian itu menghantam Topan keras, mengisinya dengan berbagai perasaan yang sama sekali berbeda dengan reaksi Bram dan Arimbi...


****


Nada yang terangkai dalam petikan dawai gitar membahana dalam balutan aroma nasi goreng yang harum mengudara dalam hangat petang yang menggelap. Suaraku menggantung bersama deru kendaraan yang terkadang melintas, sebuah doa yang terangkai dalam susunan tangga nada yang tercampur dengan kerinduan dan makian yang kuciptakan untuk menggambarkan berbagai perasaan dalam diri, hampir seperti curahan hati yang kuharap, tak ada yang menyadarinya. Tentang betapa tak adilnya dunia, betapa hidup tak menyenangkan berbalutkan keindahan semu yang diakhiri dengan jebakan akhir berupa kematian yang menyebalkan. Dan nampaknya, banyak pengunjung warung tenda yang tengah menunggu hidangan mereka ini menikmatinya, entah karena tak ada hal lain atau memang mungkin karena lagu yang kubawakan menyentuh perasaan mereka.


Bahkan Arborite, yang selalu mengomel tentang berbagai hal yang tak ia suka tentang manusia hidup hanya termenung, entah karena ia mendengarkan lirik lagu atau karena ia masih merasakan denyut tak menyenangkan di kepalanya akibat pukulanku, dan Raina?


Matanya yang cantik seakan berkaca oleh air mata, tak mampu bergerak dan bicara. Mulut indah yang biasanya tak berhenti mengalirkan berbagai macam jenis kata itu cuma terkatup rapat, seakan ia mencoba menahan perasaan dan air mata yang hendak mengalir keluar.


"Terima kasih atas apresiasi Bapak, Ibu, Mas dan Mbak semua. Hanya ini yang bisa saya hadirkan untuk menemani santap malam anda sekalian, dan saya akan amat sangat berbahagia jika apresiasi itu bisa diwujudkan dalam rupiah..." salamku sambil mengeluarkan kantong untuk kuedarkan ke pengunjung warung makan itu, yang disambut oleh beberapa suara tawa para pengunjung, meringankan sedikit atmosfer berat yang sebelumnya menekan perasaan, termasuk perasaanku sendiri.


Aku rindu kalian...

__ADS_1


Entah kenapa, seiring dengan menguatnya penguasaanku terhadap isi kitab kuno yang diberikan oleh Arborite, perasaan rindu pada kedua orang tuaku semakin kuat, sedikit membuatku tak rela melepas mereka pergi. Sama seperti yang terjadi pada Rayna. Nampaknya aku merasa sayang melepasnya. Kesepian ini sangat menakutkan untuk dijalani...


__ADS_2