
Ketika mereka sampai di warung, perhatian 3 orang pemuda bar-bar itu segera terserap pada coverall yang tercabik dan buff yang tampaknya basah oleh cairan gelap. Beragam pertanyaan segera bermunculan dari ketiganya, dan jawaban yang muncul dari pemuda itu makin membuat kepala Topan menekuk dalam.
"Topan atraksi!" sahut Pangky sambil tertawa terbahak-bahak, dan tak butuh waktu lama, perhatian ketiganya segera bergeser ketika canda kembali menguasai team bar-bar ini. Seakan Pangky ini sengaja menggeser perhatian semua orang dan menutupi kejadian yang sebenarnya terjadi. Ia hanya bercanda tentang bagaimana Topan mengguyur dirinya sendiri dengan cat, atau bagaimana ia menggencet ember cat sampai pecah, dan hal lain, yang membuat anggota team terbahak-bahak. Pandangan mata yang kadang tertuju kepadanya dari pemuda itu tak bisa Topan sangkal, yang seakan membisikkan kata "bekerja samalah denganku" terlontar dari waktu ke waktu, mencegahnya untuk bercerita kondisi yang sebenarnya terjadi. Meski tak ingin, Topan menekan perasaan malu dalam hatinya dan memutuskan untuk bergabung dalam kesenangan. Diiringi pandangan mata repect dari Pangky, Topan mendesah kecut dalam batin.
Ternyata aku masih over-judge my self. Ada juga manusia macam Bang Pangky ini di bumi. Malu hati aku...
......................
Sore di pulau Bali adalah sebuah perwujudan keindahan hasil mahakarya Sang Pencipta. Jika musim kemarau adalah koleksi beragam warna keemasan yang terbias dari cakrawala ketika sinar terakhir matahari menyentuhnya, maka musim penghujan adalah kumpulan beragam kombinasi warna lembayung yang lembut, meraih dan menghangatkan hati setiap insan yang menyaksikannya.
Hampir setiap sore, ketika hujan tak datang, bibir pantai dan bukit di belakangnya, serta tempat-tempat VIP seperti kolam dan restaurant yang menempati tempat tinggi di belakang pantai Dreamland ini, akan dipenuhi oleh sedemikian banyak orang yang memiliki keinginan yang sama. Menjadi saksi akan keindahan seperti apa yang akan mewujud ketika matahari terbenam di hari itu. Tak jauh berbeda dengan apa yang tengah dilakukan oleh pemuda-pemuda berbaju terusan warna merah yang belepotan cat itu. Menghadapi gelas-gelas yang isinya masih mengepulkan uap, mereka tersebar di berbagai titik di samping bangunan berbentuk piramid itu. Lombo, Gudel dan Eko tetap ribut dengan cara bercanda mereka yang terkadang vulgar, sambil mengagumi pemandangan yang ada di depan mereka, termasuk mengkomentari pengunjung pantai yang rata-rata memang hanya mengenakan baju dengan kain yang teramat minim. Sementara pangky, pemuda berbadan kekar yang lembut hati itu tetap berada di tempat ia biasa berada di waktu-waktu seperti ini. Duduk sendirian dengan dua gelas di sampingnya. Kadang, ia akan tersenyum sendiri, meski matanya tak lepas menikmati pemandangan alam yang muncul. Namun kali ini, tak lagi ada rasa penghinaan yang muncul di hati dan pikiran Topan ketika ia mendatangi pemuda itu.
"Aku boleh duduk di sebelah mana, Bang?"
Pemuda itu menoleh dan tertawa ketika dilihatnya Topan, yang berdiri dengan gelas yang sama, tampaknya bingung hendak duduk dimana.
"Sembarang ae, Pan. Duduk sesukamu. Tempat juga luas kok." jawabnya geli, sementara Topan, memilih untuk duduk di seberang salah satu gelas yang isinya masih penuh. Meski tak melihat atau merasakan apapun, ia tak lagi punya pikiran untuk meremehkan pemuda ini sekarang. Interaksinya dengan sosok garang yang nyaris membuatnya terluka parah atau bahkan mati tadi siang benar-benar mengubah pendapatnya tentang pemuda ini.
"Ehm, Topan boleh tanya sesuatu nggak Bang?"
"Yap. Kenapa emang, Bro?"
__ADS_1
"Maaf sebelumnya, Bang, tapi ada hal yang aku nggak ngerti." sahut Topan, meski tampaknya, pemuda di sampingnya itu masih tetap diam dan menunggu.
"Aku pernah belajar semacam ilmu dan seringkali, aku jadi bisa melihat mahluk gaib, atau minimal, mampu merasakan keberadaan mereka. Cuma, disini, sebelum kejadian tadi siang, Topan nggak ngerasain apapun. Jadi maaf kalau aku agak sedikit kurang percaya ada mahluk gaib disini, Bang. Hanya saja, kok Abang bisa tahu kalau disini ada penghuninya?" lanjutnya, yang langsung dijawab dengan tawa kecil Pangky.
"Itu yang bikin kamu nekat untuk lanjut kerja tadi siang ya?" jawabnya sambil terkekeh. Yang dijawab dengan anggukan oleh pemuda itu.
Pangky tersenyum maklum. Ia sudah menemui banyak orang seperti pemuda ini, yang merasa sudah mengerti semuanya meski baru belajar mungkin belum seujung kecil ukuran nano tentang dunia.
"Kalau kau bisa melihat mereka, berarti kau sudah tahu kalau mereka ada kan ya, Pan?" tanyanya, yang kembali dijawab dengan anggukan oleh Topan.
"Lalu menurutmu, dunia mereka dan dunia kita, manusia hidup, berbeda tempat atau tidak?" lanjutnya.
"Ehm, menurutku sih beda, Bang. Kan ada alam kematian, ada surga, ada neraka itu?"
Topan, yang menyadari perilaku aneh pemuda di depannya ini, tak mengeluarkan reaksi khusus atas hal ini. Ia hanya melirik sebentar dan kembali bertanya, "Aku nggak paham, Bang. Maksudnya gimana itu?"
"Ini hanya menurutku, lho. Bukan berarti kamu harus percaya omonganku juga." balasnya sambil tertawa, tapi Topan berkeras. Sekilas, apa yang barusan ia sampaikan, sedikit memiliki kesamaan dengan pendapat Kay.
"Pendapatku agak aneh kalau terkait hal seperti ini, Pan. Karena menurutku, Surga, Neraka dan dunia manusia berada di tempat sama, disini. Tuhan itu terlalu baik untuk menciptakan tempat mengerikan penuh siksaan kayak yang disebut Neraka itu. Dan jika tempat semacam Neraka tidak diciptakan, tentu saja tempat penuh keindahan macam Surga juga tak akan perlu diciptakan." ujarnya sambil tersenyum.
"Eh, lha tadi katanya ada Neraka dan Surga?"
__ADS_1
"Ya disinilah Neraka dan Surga berada, Pan. Terserah kamu mau bikin dunia tempat kita hidup sekarang ini sebagai Surga atau Neraka bagimu. Kurang jauh dari definisi surga seperti apa kondisi saat ini? Keindahan ada disana untuk dinikmati. Ketika kau lelah seperti sekarang, angin tak henti bertiup dan membuatmu nyaman. Ada minuman hangat, ada rokok, belum lagi teman-teman yang bahkan bisa kau percayai dengan nyawa seperti begundal-begundal mesum disana itu?" jawabnya sambil tertawa ketika jarinya terarah ke kawan-kawan yang tengah asyik mengomentari gadis-gadis berbikini yang berlalu lalang di bawahnya.
"Dan kurang sama dengan Neraka yang seperti apa dunia kita ini?" sergahnya cepat sebelum Topan sempat bicara.
"Beragam jenis penyakit ada, hewan berbisa, tumbuhan beracun, lalu hawa panas yang indah ini, bukankah akan jadi neraka ketika kau berjemur terlalu lama di bawahnya?"
"Ya kalau lihatnya seperti itu sih, ya iya. Cuma kan harusnya nggak sesederhana itu, Bang? Lagian, apa hubungannya dengan pertanyaan awalku tadi coba?" protes Topan, yang lagi-lagi membuat Pangky terbahak-bahak.
"Kalau menurut pendapatku, ini akan bisa menjawab pertanyaanmu tadi, cuma emang harus bahas dari awal. Lha pengertian besarnya belum ketemu kok, kan nggak mungkin mengerucutkan masalah to?" jawabnya dengan wajah penuh canda, yang membuat Topan makin menampilkan wajah sebal.
Manusia satu ini, susah amat diajak ngobrol serius!
Hanya setelah beberapa waktu kemudian, Pangky berhenti tertawa. Ia mengambil tanah, menaruhnya di telapak tangannya, lalu meminta Topan untuk meludahinya. Meski agak ragu, pemuda itu menuruti permintaan itu. Hanya saja, setelah beberapa waktu, Pangky menggosokkan kedua telapak tangannya dan meraupkannya ke wajah Topan. Tak menyangka pemuda itu akan melakukan hal ini, Topan sudah hampir berteriak memaki, hanya saja, sosok lain menyapa pandangan ketika ia membuka matanya lagi.
"Wanita ini tinggal disini sejak lama. Ia bahkan tak ingat siapa namanya. Ia menceritakan berbagai hal menyedihkan yang terjadi di area yang indah ini dulu. Bagaimana orang-orang diculik di tengah malam dan hilang begitu saja, bagaimana banyak manusia bertingkah macam hewan dengan kawin sembarangan disini, atau siapa saja yang memilih untuk terjun dari tebing di sana itu."
Topan tak mampu menahan rasa terkejut. Ada sosok wanita duduk di sebelah Bang Pangky!
Mengenakan baju terusan berwarna hitam dengan bahu terbuka dan menutup tubuhnya sepanjang lutut, wanita itu memiliki rambut panjang yang hampir seluruhnya berwarna putih. Meski wajahnya tidak terlalu kelihatan jelas, sosoknya yang seksi menghadirkan perasaan khusus yang membuat setiap lelaki normal memiliki keinginan jahat dalam hatinya. Entah bagaimana caranya, wanita ini bahkan mampu menghadirkan gejolak nafsu yang kuat di dalam hati Topan, dan tampaknya, meski ia sendiri tak menyadarinya, Topan berinisiatif untuk melakukan sesuatu. Untung saja Pangky mencegahnya dengan kembali meraupkan tangannya ke wajah Topan, menghilangkan semua pemandangan yang ditunjukkan kemampuan itu sebelumnya dan turut menghilangkan gejolak nafsu dalam hati pemuda itu.
"Jangan kau ciptakan neraka untuk dirimu sendiri, Nak. Sudah banyak yang menjadi korban wanita ini sebelumnya. Mereka bertingkah seperti dirimu saat ini sebelum mereka mati..." desah pemuda itu sambil kembali membuang pandangannya ke arah matahari yang mulai mendekati garis cakrawala. Meninggalkan Topan sendiri dalam getar rasa gentar dan keringat dingin yang terus mengucur deras.
__ADS_1
Sialan, bahaya banget orang ini! dua kali interaksi, dua kali hampir mati!!!
Menatap sosok pemuda yang perhatiannya terserap oleh keindahan perubahan warna langit yang dibawa oleh akhir kinerja sinar matahari itu, Topan benar-benar kehilangan setiap kemampuan yang ia miliki untuk merespon apapun. Orang ini sungguh berbeda dari banyak orang yang pernah ia temui sebelumnya. Ia sungguh tak tahu harus berbuat apa, atau bahkan mesti gimana untuk menghadapinya...