Kisah Perjalanan

Kisah Perjalanan
Sang Pemakan Dendam (III)


__ADS_3

Reva sudah bisa menduga apa yang akan terjadi ketika Antok berjalan mendekati tebing tempat Edelweiss primadona itu tumbuh. Ketika Arimbi meminta bunga itu, ia sudah menjelaskan kalau tanaman itu tumbuh di tempat yang terlalu berbahaya, namun nampaknya ia mengira kalau Reva tak mau menuruti keinginan itu dan meminta Antok, cowok yang juga menyukainya untuk membuat Reva cemburu.


Ai... Andai kau tahu betapa manis rasanya menjadi pacarmu...


Reva bergegas, bergerak secepat ia mampu mengejar Antok ketika tebing yang diinjak cowok itu mulai retak. Reva tak berpikir ketika ia meraih tangan Antok yang mulai bergerak panik ketika batu di bawah kakinya longsor dan mengancam untuk membawanya serta. Dengan sentakan kuat, Antok terselamatkan, namun nampaknya tidak demikian dengan Reva. Daya dorong tubuhnya ketika ia bergegas, membuat Reva tak mampu menghentikan diri dengan baik, dan terperosok ke jurang...


"Revaaa...!!!"


Jeritan histeris Arimbi segera membuat seluruh anggota kelompok pendakian menoleh dan memecahkan keributan dalam rasa panik yang menguat. Suara samar batu yang jatuh dari bibir tebing dan menghantam dasar jurang semakin meningkatkan ketakutan setiap anggota kelompok.


"Arimbi! Berhentii..!"


Nampaknya gadis itu sudah hilang akal. Sontak, dalam rasa takut dan bersalah yang mengembang kuat, ia mencoba berlari ke sisi tebing. Namun untungnya, salah satu anggota kelompok berhasil menghentikannya.


"Lepasin. REVAAAAA...!!!"


"ARIMBI! DIAM!"


Selama beberapa waktu, gadis itu memberontak sekuat ia mampu. Air mata yang berleleran di wajahnya nampak sangat menyedihkan. Namun teriakan dari bawah tebing segera menghentikan perjuangannya.


"Aiiii, diem disitu. Jangan mendekat ke tebing. Va baik, bentar lagi naik!"


Antok, yang masih tertegun dan berbaring di pinggir tebing, segera menelungkupkan badannya dan melihat ke bawah. Ia tertawa keras, meski tak mampu menyembunyikan getar lega.

__ADS_1


"Cuuuk, macam cicak aja lu! Dasar kambing tebing!"


Wajah Reva yang pucat, mendongak ke atas, terbalut cengiran jail yang sedikit berselaput rasa horor. Tangannya mencengkeram seutas akar tanaman kuat-kuat, dan memulai mencari pijakan untuk perjalanannya kembali ke bibir tebing. Kakinya mantap dan ia mulai percaya diri meski tak menggunakan tali pengaman. Ia mulai melihat harapan setelah pengalaman nyaris mati sebelumnya, samar, ia sudah bisa membayangkan betapa indah pengalamannya ketika cerita tersebar kalau ia, selamat dengan heboh setelah aksi heroik penyelamatan, yang bikin ia sampai jatuh ke jurang. Dan ia bahkan sudah membayangkan wajah penuh air mata yang akan memeluknya dengan penuh rasa syukur ketika ia sampai di puncak nanti. Wajah gadis yang ia cintai, yang akan memujanya dengan sepenuh hati, ketika pahlawannya sampai, selamat dan membawa bunga yang diinginkannya.


Senyum tercetak kuat di bibirnya, ketika Reva makin mendekat ke arah tempat dimana bunga itu tumbuh. Sedikit usaha lagi, dan ia akan bisa menggapainya. Satu poin batu yang menonjol di antara retakan, sangat mudah untuk dipegang, dan akan memberikan akses ke bunga itu. Reva meraih poin dan mulai memberikan tekanan lebih pada batu itu ketika semua berjalan tak seperti yang ia harapkan.


Poin itu memang bertahan, tapi ternyata, ada sesuatu yang tinggal di antara retakan di sekitar poin batu itu, dan rupanya mahluk ini merasa terancam dengan tekanan dan aktivitas yang terjadi di sekitar ia tinggal. Tangan Reva yang menggeser dinding sekitar retakan ia anggap sebagai ancaman dan langsung menyerang dari dalam lubang retakan tempat ia tinggal.


Reva tak mengira kalau ada hewan yang tinggal di sekitar poin itu. Rasa seperti tusukan yang membawa sensasi panas menggigit menyambar telapak tangannya, dan reflek, ia melepaskan pegangan dan untuk sesaat, ia merasa sebebas burung di langit ketika tubuhnya melayang turun dengan kecepatan yang menghancurkan...


*****


Deru badai di luar semakin melemah, seakan angin mulai kehabisan tenaga setelah mengamuk selama beberapa waktu tanpa jeda. Hujanpun seakan letih, hanya menyisakan beberapa titik air yang lemah menghantam atap ketika akhirnya, Topan mampu menarik diri dari banjir kenangan milik Reva. Meski kilasan berbagai kejadian tentang bagaimana cowok itu terus berusaha tersenyum dan bercanda di atas tandu sederhana yang dibuat anggota kelompok untuk mengevakuasinya, tentang bagaimana ia tahu kalau nyawanya takkan bertahan lama, karena ada tulangnya yang patah dan merobek paru-parunya, atau bagaimana cowok kasmaran itu sudah pasrah dan tetap merasa menjadi cowok paling berbahagia di muka bumi karena sekarat di gunung dan ditunggui oleh wanita yang ia cintai, masih silih berganti muncul dan menggoda kesadaran Topan. Namun ia bergeming. Sekuat tenaga, Topan menekan berbagai rasa dan kenangan itu.


Ia hanya mampu menghela nafas berat, berusaha menenangkan diri dan ketika pandangan matanya melihat senyum kecil berbalut kesedihan di wajah Arimbi, Topan beranjak menjauh dan kembali ke sudut tempat ia berada sebelumnya.


Diambilnya sebatang rokok dari saku celana dan menyalakannya dalam satu gerakan, lalu menaruh rokok itu di asbak diatas meja ketika doa mulai terangkai dalam hatinya.


Semoga kau mampu berjalan kembali pada Sang Maha Pencipta, Bro. Hanya ini yang bisa kulakukan untuk mengantarmu pergi...


******


Semilir angin pagi yang menggoyangkan berbagai tanaman yang membangunkan pemuda itu. Sesaat, ia nampak bingung ketika melihat dimana ia terbaring ketika kemudian, nampaknya kesadarannya terkumpul. Ia mulai merapikan rambutnya yang panjang dan berdiri sambil menepuk debu yang menempel di pakaiannya.

__ADS_1


"Ray? Abo?"


"Guys, kalian dimana?"


Kay menghela nafas dan memilih untuk duduk di salah satu kursi di teras. Meski sekarang ia sudah kembali ke rumah inj, Kay masih belum memiliki cukup keberanian untuk menghadapi apa yang harus ia selesaikan.


Ah, mungkin mendingan aku ke Pak RT saja dulu. Paling enggak biar nggak ada yang bertanya-tanya soal gelak tawa semalam..


Perlahan, Kay mulai menyeret langkah dan membasuh muka dengan menggunakan sisa air dari botol minuman di tasnya, dan melangkah keluar.


Paling tidak, aku akan membuat rumah ini kembali layak untuk ditinggali, pikirnya.


Pembicaraan yang menyusul berbagai kejadian menyeramkan semalam sudah membuat Kay berpikir ulang tentang berbagai keputusan yang ia buat sebelumnya. Suka tidak suka, ia harus menghadapinya.


Penjelasan Arborite tentang dunia roh benar-benar memberikan sudut pandang yang sangat memaksakan. Salah satu jenis arwah yang berbahaya bagi manusia hidup adalah dia yang sudah Kay temui semalam, Sang Pemakan Dendam.


Roh jahat yang terbentuk oleh arwah yang disiksa oleh rasa bersalah dan tenggelam dalam berbagai emosi negatif ini sangat berbahaya. Roh ini sangat terikat dengan dunia manusia dan memangsa jiwa dengan tujuan supaya ia bisa kembali merasakan apa yang pernah ia hilangkan sebelumnya, terutama jiwa manusia hidup yang memiliki beban kesedihan dan berbagai penyesalan yang sangat kuat. Dan sayangnya, arwah kedua orangtuanya memiliki setiap kondisi ini. Kay tak bisa lagi menunggu lebih lama...


Tapi paling tidak, aku perlu merapikan rumah itu dulu. Minimal Ibu dan Ayah akan dapat tersenyum ketika rumah yang sangat mereka cintai tidak terlalu berantakan, pikir Kay.


Langkahnya menguat ketika harapan mulai mengisi lubang gelap dalam hatinya. Minimal dua hantu jelek itu bisa diajak ngobrol dan hidupnya tak lagi terlalu sepi, pikirnya lagi ketika senyum mulai membayang dalam hatinya.


Seiring kehangatan yang datang bersama matahari, pemuda itu mulai menerima berbagai hal yang terjadi dalam hidupnya, mengurai berbagai simpul yang terus mengikat perasaan dab hati sejak kedua orang tuanya meninggal.

__ADS_1


Huh, apa yang akan terjadi, terjadilah. Biar bagaimanapun, aku masih anak ayahku yang hebat!


Dan kali ini, Kay benar-benar bisa tersenyum....


__ADS_2