Kisah Perjalanan

Kisah Perjalanan
Dunia Ini Tidak Baik-Baik Saja


__ADS_3

Senja perlahan menggelap, menenggelamkan warna merah matahari yang temaram dengan cepat, terhalang oleh berbagai struktur bangunan tinggi yang menjulang. Malam yang menjelang mulai memunculkan berbagai cahaya neon, meski pucat, terus berusaha menggantikan kemegahan siang dalam siraman cahaya buatan. Meski deru bising kota tak nampak hendak berhenti, namun terasa melambat, mengajak penghuninya turut serta melambatkan pergerakannya sendiri setelah berbagai aktivitas tanpa henti mereka di siang hari. Meski nampaknya hal itu tak berlaku untuknya.


Perempuan itu terlihat sangat gelisah. Berkali-kali, ia terus menolehkan kepala, seakan berusaha mencari seseorang atau sesuatu yang menimbulkan keresahan di hatinya. Suasana hangat malam yang masih muda tak mampu meredakan rasa gelisah yang terus berkembang. Ia terus berjalan, sementara tangannya nampak makin kuat mencengkeram tas tangan yang nampak masih berkilap. Seakan mencoba mendapatkan rasa tenang dari tas tangan ber-merk luar negeri, yang harganya tak akan mampu ia bayar bahkan dengan setahun gaji, yang diberikan oleh atasannya beberapa hari lalu, yang sebelumnya membuatnya sangat bahagia karena banyak teman jadi iri dengan keberuntungannya ini. Tapi hanya rasa gelisah yang tumbuh semakin kuat dalam diri ketika akhirnya ia memilih untuk duduk di salah satu bangku yang banyak terpasang di sepanjang trotoar jalan arteri ini. Seklumit rasa heran muncul ketika ia kembali menyadari bahwa saat ini, ia berada di lokasi kota yang ramai dengan berbagai jenis kehidupan dan keaktifannya, namun tak tahu kenapa, ia merasa sangat takut. Sejenak terpikir untuk menelpon sahabat karibnya tentang apa yang ia rasakan saat ini, tapi sedetik kemudian, ia mengurungkan niatnya.


Ia masih belum lupa olok-olok yang justru ia terima ketika kemarin menceritakan tentang bagaimana ia merasa diikuti oleh seseorang setiap waktu.


"Owh??! Kau yakin kalau itu bukan si bos yang stalking kamu, Tin?"


"Yah, wajar sih kalau jomblo suka begitu. Makanya buruan cari pasangan..."


Dll, dst, dsb...


Olok-olok dan candaan berbau sindiran pedih yang bikin ia jadi merasa malas. Wajar juga sebenarnya, wanita mana yang nggak pengen aksesori yang lagi booming, apalagi yang berharga selangit??


Jadi Tina merasa baik-baik saja dengan semua olok-olok itu, mereka cuma iri...


Ah, sudahlah... akan lebih baik kalau aku segera pulang sebelum malam benar-benar datang...


Perempuan itu bergegas berdiri dan kembali melanjutkan langkah. Kosnya tak seberapa jauh lagi. Ia hanya perlu menyeberang jalan arteri ini lewat jembatan penyeberangan di depan, dan tak jauh dari situ, ia akan sampai...


"Sore, Mbak."


Tina tersentak, namun Ia hanya melirik tanpa menjawab ketika entah sejak kapan, sesosok pemuda menyapa dan mencoba membarengi langkahnya.


"Duuh, nggak cantik aja sombong banget. Nggak tahu gimana kalau cantik, mungkin kepalanya ngeliat ke atas saking angkuhnya..." ucapnya lagi sambil terkekeh.


Tapi Tina tak menggubrisnya. Perasaannya berkembang makin tak nyaman. Sosok pemuda atletis yang mengenakan baju jumper dengan kerudung menutupi kepalanya itu makin mengintensifkan rasa was-was dalam hatinya. Rasa panik yang mulai muncul memaksanya untuk berjalan sedikit lebih cepat, tapi nampaknya pemuda itu makin berusaha untuk membarengi. Samar, Tina bahkan seakan bisa melihat seringai kejam yang muncul di bawah kerudung.


Aduuuh, kenapa sih orang ini...

__ADS_1


"Huuu, susah kalo orang kaya mah... Disapa aja ngacir. Kayak langsung jadi miskin kalo balas sapaan orang." lanjutnya lagi sambil terkikik dan makin mempercepat langkahnya.


Rasa was-was itu sudah berkembang jadi ketakutan sekarang. Tanpa memperdulikan apapun, Tina mulai mempercepat langkah hingga setengah berlari ketika ia sadar, pemuda itu semakin dekat dengannya. Ia bahkan tak memperdulikan tatapan bertanya banyak orang lain yang melihatnya bertingkah seperti itu. Ia mulai berlari menuju jembatan penyeberangan ketika pemuda itu tertawa dan berkata lagi, "Kau milikku, manis, dan pasti akan kunikmati pelan-pelan..."


Orang ini gila!!!


"Pergi!!! Jangan ganggu aku!!!"


Perempuan itu berlari secepat ia bisa, menuju jembatan penyeberangan dan segera bergegas menyeberanginya tanpa menggubris apapun, meski gerutuan dan makian banyak orang yang tertabrak mengiringi setiap dentam langkahnya. Rasa takut yang tak masuk akal mencengkeram erat hati, mengancam setiap tetes kewarasan yang ia miliki. Ia hanya berpikir untuk secepat mungkin menjauhkan diri dari pemuda aneh itu. Tapi langkahnya terhenti ketika ia berada di tengah jembatan. Sosok pemuda berjumper gelap itu menghadang didepannya. Seringai yang muncul di wajah di balik kerudung itu menghadirkan rasa jijik yang menakutkan ketika samar, nampaknya bahkan liur meleleh dari sudut bibir itu.


Dari.. darimana orang ini? Bagaimana ia bisa disana??!


Namun ketika Tina hendak berbalik, sosok yang sama muncul dibelakangnya...


"Lari lagi, Manis... Ayo lari lagi..."


Tapi kedua sosok pemuda itu tak menjawab. Mereka hanya terus menyeringai dan berjalan mendekat.


Tapi rasa takut seakan memberikan tenaga bagi perempuan itu. Sontak, ia berlari ke pinggir, mencoba melewati sosok pemuda itu.


Sedikit lagi, kumohon... Sedikit lagi...


Secercah harapan muncul ketika dilihatnya pemuda itu tak bereaksi pada waktunya, namun tiba-tiba saja, ia merasa tubuhnya kehilangan bobot dan melayang melewati pagar pembatas jembatan penyeberangan, langsung menuju jalan arteri yang penuh dengan mobil-mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi. Seakan dalam gerakan lambat, Tina sempat melihat pemuda ber-jumper gelap itu tertawa dan melambaikan tangan, kemudian dia meleletkan lidahnya.


Tunggu, lidahnya bercabang??!


Pikiran itu yang terlintas ketika tubuhnya dihantam oleh truk box berkecepatan tinggi, yang melambungkannya lagi untuk dihantam oleh kendaraan lain, menghancurkan dan mengeringkan setiap tetes kehidupan dalam tubuhnya dalam waktu singkat...


......................

__ADS_1


'Seorang karyawati sebuah perusahaan swasta meninggal karena meloncat dari sebuah jembatan penyeberangan di jalan Jenderal Soedirman, Jakarta Pusat, hari ini. Wanita berusia sekitar 24 tahun itu diduga mengalami depresi berat dan memutuskan untuk melakukan bunuh diri. Menurut keterangan saksi mata, sebelum akhirnya meloncat, korban berteriak-teriak dan berlari liar sebelum akhirnya meloncat. Hingga saat berita ini..."


Topan menghela nafas berat sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Sekilas berita yang berkumandang dari tv milik warung makan yang disinggahinya itu membuatnya merasa sedikit muak. Meski bersimpati, ia tak pernah mampu merasa iba pada model manusia tolol yang memilih bunuh diri seperti ini. Hidup jadi manusia memang tak pernah mudah, tapi lari dari itu bukan suatu jawaban. Apalagi jika 'lari' itu berarti membunuh dirinya sendirinya sendiri...


"Kasihan ya Kak? Masih muda, dan cantik, udah kerja lagi. Malah bunuh diri. Apa putus cinta kali ya, Kak?"


"Hush, omong apa kamu itu, Nduk." sahut Topan sambil terkekeh menjawab pertanyaan polos Andin yang masih menghadapi sepiring nasi yang baru habis separuh.


"Lho, iya lho. Kalau Andin, pilih nangis terus ngadu ke Kakak, biar yang nakalin Andin dihajar. Wong hidup itu indah kok, baru tahu kalau ada kupu, ada gunung, sungai, dan macem-macem kok..." debatnya ketika dilihatnya Topan tak berniat menanggapi pertanyaannya. Sejak mendapatkan penglihatannya kembali, Topan menghabiskan nyaris seluruh waktunya dari tadi pagi sampai saat ini, untuk menjawab berbagai pertanyaan yang muncul dari mulut gadis kecil itu tentang berbagai hal 'baru' yang ia lihat.


"Mungkin lebih bagus kalau makannya dihabisin dulu, Nduk..." sahut Topan di tengah tawa yang pecah.


Yah, aku tak bisa lebih setuju dengan itu, tapi sayang hidup seringkali kejam pada banyak orang, Nduk, dan sayangnya, banyak diantara mereka tak sehebat kamu...


Mau tak mau, secercah rasa kagum muncul dan menguat di hati Topan ketika pandangannya jatuh ke gadis kecil polos yang tengah sibuk dengan piring nasi didepannya itu. Ia menguatkan diri dan menerima semuanya, kenyataan yang diceritakan oleh "nenek" dalam mimpi tentang seluruh rangkaian hidupnya hingga saat ini, dan lebih memilih tersenyum meski air matanya mengalir turun. Kenyataan bahwa ia dibuang orangtuanya untuk mati, sama sekali tak membuatnya hancur. Ia bahkan bisa bersyukur, karena kejadian tak menyenangkan itu, ia bisa bertemu nenek dan akhirnya, Kakak barunya...


Huft, bahkan nampaknya aku masih perlu belajar banyak darimu, Nduk...


......................


Hidup tak pernah berhenti berputar, menyeret setiap individu baik suka atau tidak, melewati berbagai tahapan waktu. Menenggelamkan berbagai peristiwa untuk menggantinya dengan hal sama dengan versi yang berbeda. Sebagaimana manusia yang berjuang untuk mengingat dan tak berhenti lupa hingga bahkan sang waktu tertawa dalam ironi tanpa henti.


Dewi tersenyum riang. Ia tak bisa berhenti mengagumi hadiah yang diberikan oleh atasannya. Atasannya itu memang sering memberikan hadiah pada karyawannya, dan hadiah-hadiah itu tak pernah menjadi barang yang murah. Beberapa waktu lalu, kabarnya teman dari divisi lain diberi hadiah sebuah tas tangan yang bahkan tak mampu ia beli meski menghabiskan satu tahun gajinya.


Perempuan itu terus mengagumi syal berwarna hijau itu ketika pikirannya terus asyik mencari padanan sempurna untuk memberikan tampilan terbaik untuknya besok.


Aku pasti akan terlihat sangat menarik...


Ia bahkan tak menyadari sosok bayangan pemuda yang menyeringai padanya dari sudut gelap di luar kamarnya. Jumper gelapnya menyaru sempurna dalam kegelapan, ketika tanpa sadar, air liur mengalir di sudut bibirnya..

__ADS_1


__ADS_2