Kisah Perjalanan

Kisah Perjalanan
Kehampaan Yang Utuh


__ADS_3

"Kay, setiap awal pasti diakhiri..."


Aku tak ingin merubah posisi. Suara lembut bernada bujukan yang mirip dengan suaraku itu takkan bisa memaksanya.


"Sebagaimana yang hidup pasti akan mati, kesedihan dan kemarahan pasti akan ada berhentinya. Kami ada sebagai bagian darimu, Kay, dan ketika kau menyangkal perasaan dan nafsumu, kau menolak dirimu sendiri..."


"DIAAAM!!!"


Kubenamkan kepala semakin dalam ke dalam lindungan kaki yang terlipat. Aku tak mendengarkan apapun. Pengetahuan dari Aluamah memberikan pencerahan yang sangat menyakitkan.


"Sekuat apapun kau menolaknya, semua perasaan itu takkan pernah bisa pergi, Kay. Pengetahuan ini adalah milikmu. Kami hanya menunjukkan apa yang kau sangkal selama ini..."


Rasa sakit di pikiran sudah tak mampu lagi kutahan ketika menyadari semua perkataannya benar, dan jauh di dasar hati, aku memang menyadari kalau masih tersimpan sedemikian banyak penolakan atas kepergian kedua orang tuaku.


Kemarahan yang tak bisa kuredam pada Bapak yang menghukum diri sedemikian rupa hingga ajal menjemput, rasa takut kehilangan Ibu yang tak kunjung bisa mereda, ketakutan dalam menjalani hidup sendiri berkecamuk dan tak mampu kuhilangkan.


Kesadaran yang terpercik keluar dari dasar sanubari itu sangat menyakitkan...


"Cobalah angkat kepalamu, Kay... Hidup selalu menyisakan keindahan kepada mereka yang mencarinya..."


Sekuat tenaga kucoba redakan sedu yang terus mengguncang. Aku sadar, sesakit apapun, kenyataan yang ada tak akan pernah berubah. Bukan rasa bersalah Ibu atau kesedihan Bapak yang menahan dan mengikat roh mereka di bumi manusia, tapi aku, dengan berbagai kekerdilan pola pikir, keegoisan dan ketakutan yang kumiliki.

__ADS_1


"Cinta dan kasih sayang adalah perasaan yang sangat kuat, Kay. Namun ketika kau tak mampu mengendalikannya, mereka akan memangsamu bahkan ketika kau masih bernafas. Namaku Supiah, Kay. Carilah dan sebut namaku ketika cinta membingungkanmu..."


*****************


Cahaya membias masuk melalui sela-sela atap rumbia yang tersibak dengan paksa, menyadarkanku dari kondisi trance yang kualami. Rupanya pondok inipun tak mampu bertahan dengan baik ketika pesta pora kekuatan alam berpesta selama aku tenggelam dalam meditasi. Meja dan kursi yang terletak di tengah ruangan seakan diporak-porandakan oleh gajah yang mengamuk dan hampir seluruh bagian dari dinding papan pondok yang sebelumnya asri dan apik, terlihat sedemikian menyedihkan.


Lunglai dan tak bertenaga, kupaksakan langkah untuk melihat sekacau apa kondisi di luar. Teringat kejadian sebelumnya, sejenak langkahku terhenti di depan pintu pondok, setengah berharap ada suara yang menghentikanku seperti sebelumnya, namun hanya desau angin yang terdengar, bergumam pelan dalam nada yang risau.


"Hmmm, kau tak disini rupanya, Rite?"


Sepi, pertanyaan yang terlontar dalam batinku berlalu dalam keheningan. Nampaknya tidak ada masalah jika keluar dari pondok ini sekarang. Dan pemandangan yang menyambutku sungguh sangat mengejutkan.


Semua keindahan landscape yang tertata rapi, yang sebelumnya sempat membuatku tertawa dan ingin tinggal lebih lama, berubah menjadi semak belukar. Kolam berdasar pasir yang sebelumnya melengkapi keindahan itu, ternyata hanyalah sebuah kolam buruk dengan batu berlumut yang tak terawat. Dadaku terangkat dalam helaan nafas yang berat.


Aku bahkan tidak merasa perlu untuk melihat nama yang terukir pada kepala nisan tua itu. Nampaknya aku sudah bisa menebak siapa yang terbaring ditempat ini.


Kembali kuhela nafas berat sambil perlahan mulai mengambil setiap barang yang terserak di makam itu, dan beranjak pergi. Berbagai pikiran dan dugaan muncul bagai benang kusut, memaksa dan menuntut jawaban, yang tak kuketahui apa penjelasannya.


*Apakah semua kejadian ini hanya mimpi???


Apakah selama ini aku sebenarnya terdampar di tempat seperti ini?

__ADS_1


Siapa sebenarnya Arborite?


Apa guna kesakitan dan kekacauan perasaan yang kualami beberapa waktu belakangan ini?


Apa yang harus kulakukan*???


Tak kuhiraukan lagi semua pertanyaan yang semakin lama semakin keras dan menuntut dalam pikiran. Aku hanya melangkah mengikuti perasaan dan apa kata hatiku, bahkan tanpa berusaha untuk berpikir. Hanya saja, perlahan, sebuah keutuhan dan kemantapan baru muncul dalam diri, seakan terus membisikkan kata-kata yang menghibur dan menenangkan..


"Hidup tidaklah semengenaskan seperti apa yang kau kira selama ini, Kay. Semua akan baik-baik saja mulai sekarang..


Kami akan selalu bersamamu hingga akhir waktu..."


Dan tanpa kusadari, perlahan senyumku terkembang.


"Terima kasih, Arborite, dimanapun kau berada saat ini. Pelajaran dan pengetahuan yang kau berikan, akan kugunakan dengain baik. Jika hanya itu yang menahanmu disini, pulanglah sekarang. Aku akan berusaha hingga nafas berhenti mengguncang dadaku..."


Dan entah darimana datangnya, sebentuk wajah seseorang sepuh muncul di balik pikiran, membayang dalam bentuk delusi yang terdistorsi. Wajahnya yang nampak sedemikian lelah, tersenyum dalam suka cita yang terlihat jelas.


"Jangan sombong, Bocah... Kita lihat kecoak tak berguna macam dirimu itu akan mampu bertahan berapa lama. Jangan mati terlalu cepat, aku tak ingin kembali ke tempat ini cuma dalam waktu 3 hari setelah diijinkan pulang seperti ini..."


Aku tertawa keras. Tak kutemukan nada ketus dan defensif seperti biasanya. Nampaknya Arborite cuma bahagia karena bisa pulang, akhirnya. Sebait doa kuucapkan dalam hati mengiringi keberadaannya yang seakan terurai perlahan, lebur dalam keindahan cahaya pagi dan desau angin yang membelai alam, ketika bisikan itu terdengar perlahan, seakan berasal dari tempat yang sangat jauh.

__ADS_1


"Bawa gadis itu bersamamu, Kay, takdir kalian terjalin dalam ikatan yang rumit... Dan terima kasih, semoga kita tak perlu bertemu dalam waktu dekat. Terima kasih, Kay..."


Selamat jalan, Arborite...


__ADS_2