
Mug yang berisi minuman hangat itu terlepas dari tangan Kay tanpa sadar ketika benaknya penuh dengan suara teriakan seseorang yang mulai ia rindukan tanpa sadar. Rasa takut yang kuat, kekhawatiran dan keinginan untuk bertahan yang terpancar dari suara itu dilapisi dengan kesedihan dan rasa enggan untuk pergi..
Rayna!!!
Pemuda itu bahkan tak berpikir. Gelas yang melayang jatuh bahkan belum menyentuh tanah ketika ia memeras setiap tenaga yang ia miliki untuk berlari. Tanpa berhenti untuk menggunakan alas kaki, Kay bergegas untuk bergerak secepat ia bisa. Kilasan visi mental yang terbawa oleh suara Rayna menunjukkan sepotong wajah mengerikan yang ia tahu akan berada di mana, dan tempat itu berjarak lebih dari 10 menit dari tempat ini...
Hantu tolol! Semoga aku tak terlambat. Apa yang ia cari disana???
Berbagai pikiran penuh kata "kenapa" terus berkilasan dalam otaknya ketika pemuda itu terus memaksa setiap sel dalam tubuhnya untuk bergerak lebih cepat. Rasa khawatir bahkan mendorongnya untuk mengucapkan berbagai macam mantra, berharap kekuatan itu akan mampu membuatnya berlari lebih cepat, atau bahkan terbang, yang tentu saja, tidak akan pernah terjadi.
"RAY!!! RAYNAAAA!!!"
"RAYNA, ANSWER ME, GOD DAMN IT!!!"
Sialan, sialan, sialan!!! kalau sampai terjadi sesuatu dengannya, aku harus bagaimana???
Kay terus berlari tanpa menghiraukan apapun. Ia hanya terus memeras semua tenaganya untuk mencapai tempat terkutuk itu. Ketakutan dan rasa khawatir berkembang makin kuat ketika detik terus terbuang meski ia berlari bagai kesetanan, tanpa perduli bahkan jika ia harus menerima berbagai jenis umpatan dan makian dari banyak orang yang ia tabrak. Matanya terus liar mencari, meski terpaku pada satu titik, tiang traffic light di seberang jalan, berharap tak ada hal buruk yang sempat terjadi, dan disanalah dia...
Tepat di seberang tiang traffic itu, jauh di pinggir jalan, sosoknya terduduk dengan tangan memeluk lututnya kuat-kuat. Nampaknya ketakutan yang sangat hebat nyaris melumpuhnya.
Ragu-ragu, Kay melangkah mendekati sosok yang saat ini tengah membenamkan wajahnya kuat-kuat itu, sementara pendar cahaya yang mengelilingi tubuhnya terus menipis dan berfluktuasi.
"Ray?"
Namun reaksi gadis itu sedemikian kuat ketika tangan Kay menyentuh bahunya.
"TIDAAK! PERGI!!!" tangkisnya histeris, sekuat tenaga mencoba menepis tangan Kay.
"Ray, Ray, tenang... Ini aku!" desak Kay sembari menahan dan akhirnya memeluk gadis itu erat-erat, namun meski ada hal yang kemudian membuat Kay mengerutkan dahi, reaksi Rayna ketika menyadari bahwa Kay yang ada dihadapannya, membuatnya tak terlalu memikirkan hal itu.
"Kaaaay.. hiks, Pemakan Dendam mau memakanku...!" isaknya sambil memeluk Kay erat-erat.
__ADS_1
"Shhh, shhh, dia sudah pergi... dia sudah pergi..."
Tapi gadis itu terus menangis dan memeluk Kay erat-erat, membuatnya enggan menanyakan kenapa hantu konyol ini ada disini. Kay hanya membiarkannya melepaskan perasaannya.
"Shhhh, sudah. Ayo pulang." ujar Kay lembut setelah beberapa waktu. Perlahan, ia menarik Rayna dan beranjak meninggalkan tempat itu. Namun, belum jauh ia melangkah, suara pedas itu keras dan memaksanya berhenti.
"Bocah, kau sudah bosan hidup ya???"
Tiga orang pemuda menghadang langkah Kay. Satu di antara mereka memiliki lebam pada salah satu matanya, dan samar, ingatan datang ke dalam kepala Kay. Ia memang menabrak pemuda itu dalam kepanikannya, dan ketika pemuda itu hendak menghentikannya, ia meninjunya...
"Aaahhh, maaf, maaf. Sorry, aku benar-benar tergesa tadi..." sahut Kay pelan sambil mengangkat kedua tangannya, membuat isyarat minta maaf ke arah tiga orang pemuda ini.
"Ehmm, Kay? mereka ini kenapa?"
Kay menghela nafas ketika mendengar komunikasi mental ini. Nampaknya hantu centil ini sudah terlalu lelah mempertahankan bentuk fisiknya.
"*Tadi waktu aku lari kesini mencarimu, aku menabrak salah satunya, dan karena ia hendak menghentikanku, aku meninjunya... A little help, perhaps? aku pasti babak belur kalau musuh 3 orang..."
Kay tersenyum kecut. Hantu konyol itu berpindah lokasi langsung ke rumah, bahkan tanpa menunggunya...
"Maaf??! NIH MAAF!" balas si pemuda yang matanya lebam sambil mengayunkan tinjunya dengan cepat.
Sialan. RAYNAAAA!!!
...----------------...
Semilir angin membelai rambutnya pelan ketika perlahan, embun mulai membasahi dedaunan. Beberapa tetes yang mengalir, turun dan jatuh ke wajahnya, perlahan mengembalikan kesadaran yang sempat hilang beberapa waktu sebelumnya. Topan tersentak bangun dari posisinya hingga terduduk, matanya liar menyapu sekitar, dan ketika ditemukan apa yang ia cari, ia bergegas untuk menghampiri.
"Tenanglah dulu, Anak muda. Dia hanya tidur. Aku sudah berjanji untuk tidak menyakitnya, jika kau lupa..."
"Apa yang sebelumnya kau lakukan, Siluman??!"
__ADS_1
"Tolonglah, Nak, pelankan suaramu. Seperti yang kubilang sebelumnya, aku hanya ingin mengucapkan selamat tinggal. Meski kau memandangku rendah, aku masih mampu memegang janjiku." ucapnya pelan. Sosok yang ia gunakan masih sosok yang sama, nenek tua ringkih yang nampak baik hati dan mengundang rasa iba.
Topan hanya mendengus dengan nada mencela ketika perlahan, ia mendatangi Andini yang terbaring di atas alas tebal yang tersusun dari rumput-rumput halus yang terjalin rapat. Wajah yang tertidur lelap itu menyunggingkan senyum, meski garis bekas air mata terlihat di samping matanya.
"Sungguh suatu ironi, Nak. Bukan aku yang membuang keturunan mereka untuk mati, itu adalah kaummu, Nak, manusia. Dan di sepanjang keberadaanku, yang aku yakin itu menyedihkan untukmu, kebusukan apa yang kulakukan, yang tak tertandingi oleh kaummu?"
Sayangnya Topan tak mampu menjawab itu. Ia kenyang dengan berbagai jenis kebusukan yang bisa dilakukan oleh manusia...
"Aku tak menyangkal apa yang kulakukan, dan aku jelas tak akan menarik janjiku sendiri, Nak. Kau bisa tenang, dan kuharap, kau bisa menemukan tempat untuk gadisku" lanjutnya lagi.
Topan tak mampu bicara. Pada saat ini, ia sungguh merasa apapun yang hendak ia katakan tidak akan mampu ia benarkan. Semua perkataan Siluman ini sungguh membuat ia merasa tak nyaman. Ia hanya terus memandang gadis yang tengah terlelap itu.
"Ah, sudahlah. Aku sudah melakukan apapun yang aku bisa untuknya. Kau bisa mulai, Nak.. Owh, sebelum itu, ada hantu kecil yang bisa menggunakan segel berhawa sama seperti yang kau gunakan, Nak, dan bahkan ia menanyakan tentang bagaimana menghancurkan segel Makutha Sutra Rama yang kau bentuk untukku. Mungkin kau perlu tahu itu."
Tapi ucapan dalam nada pelan hingga nyaris berbisik itu, sungguh mengejutkan bagi Topan. Sudah mengerikan bahwa Siluman ini tahu tentang nama segel rajah yang ia gunakan, dan bahkan ada hantu lain yang mengetahui dan hendak menghancurkannya?
Segel ini berkemampuan untuk mengurung entitas kuat yang berbahaya, dan apapun yang ada didalamnya, akan lebih baik jika tetap berada disana, sampai akhir masa kalau perlu.
Apa maksudnya ini???
"Jangan berlama-lama, Nak. Selesaikan apapun yang hendak kau lakukan. Aku lelah..."
Ah, sudahlah. Akan kutemukan keberadaannya dan pasti akan kucegah apapun yang hendak hantu itu lakukan.
Tak mau lagi berpikir terlalu banyak, Topan memaksa keinginannya yang sempat goyah. Perlahan, tangannya bergerak dalam sikap mudra ketika mantra terbentuk dalam aliran mistis, menelusup ke dalam misteri alam dan menungganginya, menghadirkan fluktuasi energi kuat di sekeliling sosok nenek tua itu. Garis sinar di tanah terbentuk dan mulai berkembang menjadi tirai dalam spektrum warna merah dan hitam yang berpusar dan terus menyempit, hingga akhirnya menelan dan perlahan mengurai sosok perwujudan itu menuju ketiadaan.
Topan menghela nafas berat. Ia tak mampu menentukan apa yang ia lakukan saat ini benar atau salah. Melihat rasa sekuat itu, rasa yang mampu mendorong sesuatu semurni Roh pohon untuk menjadi Siluman Jahat demi merawat kehidupan tak berdaya lainnya ini, membuatnya merasa tak nyaman dan tak berdaya. Sungguh, hari ini memang sungguh-sungguh menguras perasaan.
Aku bahkan tak yakin berapa lama aku bertahan untuk tetap waras. Dunia Tuhan semakin aneh aja...
Batin Topan terus berdering dengan berbagai hal tanpa ujung. Ia bahkan tak mampu untuk kembali memejamkan mata meski malam belum akan berakhir dalam 6 jam ke depan. Hanya wajah mungil yang menyunggingkan senyum kecil itu yang sedikit menghadirkan perasaan hangat baginya saat ini. Topan berdiri, mengambil jaket dari dalam ransel dan menyelimuti gadis kecil itu dengannya.
__ADS_1
Ah, aku lelah berpikir...