
Setelah tahu dengan pasti kalau tak ada hal buruk yang terjadi pada Rayna, Kay mulai merasakan akibat kepanikan yang melanda sebelumnya. Telapak kakinya mendapat beberapa luka akibat gesekan langsung dengan aspal dalam akselerasi tinggi ketika ia berlari kencang tanpa alas kaki. Beberapa benjolan berisi air di dalamnya muncul dan menyiksa dalam setiap langkah yang ia ambil. Belum lagi ditambah dengan kemarahan beberapa pemuda yang temannya tertabrak dan malah mendapat tinju di mata, memutuskan untuk melampiaskan kemarahan mereka dalam bentuk hujan tinju dan tendangan, yang menghasilkan beberapa lebam dan luka memar di sekujur tubuh.
Bener-bener itu cewek, nggak ada manis-manisnya. Langsung main ngilang aja sesuka hati...
Terus dan tanpa henti, berbagai gerutuan dan omelan penuh kejengkelan terus melesat secepat kilat dalam otak Kay. Akibat dari rasa sakit yang tersebar di seluruh bagian tubuhnya, pemuda itu benar-benar jengkel, meski perlahan, seklumit pikiran tentang hal yang ia rasakan ketika tangannya menyentuh gadis itu, tidak seperti biasanya. Nampak solid dan terasa sangat nyata...
Entah apa lagi yang dilakukan gadis konyol itu selama ia menghilang.. Semoga bukan sesuatu yang berbahaya, bisik batin Kay lesu.
Entah kenapa, setiap hal yang berkaitan dengan Rayna, nampaknya mampu membuatnya tak karuan. Dengan berbagai macam pertimbangan dan pemikiran aneh yang dimilikinya, gadis itu bagai magnet yang menarik berbagai macam masalah yang kadang berpotensi mengerikan.
Kay mendesah pelan dalam ketidakberdayaan dan mulai mempercepat langkah meski kakinya terus menyiksa dengan menghadirkan rasa perih tak terkira dalam setiap langkah yang ia ambil. Siluet atap rumah kecilnya sudah nampak dari balik sela berbagai jenis bangunan yang nampaknya juga terlelap dalam selimut kelelahan hari. Tertatih, pemuda itu terus menyeret langkah menuju rumah yang menyimpan berbagai masalah lama yang belum terpecah, dan ditambah banyak masalah baru yang lebih memusingkan. Langkah yang seakan terbebani oleh berbagai warisan misterius dan dunia ketidaktahuan itu tertatih sendirian menuju selimut ketidakperdulian malam yang terlelap dalam buai kelelahan.
......................
Detik terus mengalir tanpa henti, bergerak stabil tanpa perasaan, menyeret dan menggilas berbagai hal tanpa terhentikan. Dengan paksa, menarik matahari yang enggan dari balik selubung malam untuk kembali tampil di panggung bumi.
Semburat malu warna merahnya mulai mewarnai langit meski sosoknya sendiri belum terlihat ketika Kay terjaga dari tidurnya. Rasa lelah dan sakit yang memancar dari setiap jengkal tubuh, memaksanya untuk terlelap di kursi gantung di halaman tanpa ada kemampuan lebih jauh untuk pindah ke dalam rumah. Sedikit rasa hangat muncul di hati ketika ia menemukan selembar selimut yang menutupi tubuhnya.
__ADS_1
Hmmm, gadis konyol. Hantu konyol...
Ketika tak mendapatkan respon dari panggilannya, Kay beranjak. Ia tak khawatir meski hantu cantik itu tak merespon panggilan mentalnya. Selimut di tubuhnya adalah bukti terbaik kalau Rayna baik-baik saja. Beriring dengan datangnya matahari, perasaannya menguat dalam kebulatan tekad untuk melanjutkan setiap langkah ke dalam dunia ketidaktahuan yang menunggu di depan. Kedatangan selimut hangat dari sinar matahari yang jatuh di badan, memberinya kemauan untuk terus berjalan sampai akhir.
Ah, minimal aku memiliki mereka berdua. Mungkin akan lebih baik jika bersiap untuk memasuki jalan penuh batu ini daripada terus berkeluh kesah ketika terpaksa melewatinya. Tak maupun, jalan itu harus dilewati.
Seiring matahari yang mulai menampakkan wujudnya, perasaan Kay membaik dalam resolusi tekad tak tergoyahkan, untuk secara sukarela berjalan memasuki takdirnya.
......................
"Kak?"
"Sudah bangun?" tanya Topan lembut.
Ia berdiri dan menghampiri Andini, yang masih terduduk di alas tempat tidur dari rumput yang sebagian mulai kehilangan bentuk hidupnya setelah ditindas semalaman. Ketika Topan duduk di depannya, mata Andini tak bisa lepas dari liontin yang tergantung di leher sosok pemuda berwajah rupawan ini. Berambut gondrong yang serampangan terikat, tubuhnya menimbulkan peringatan akan bahaya. Namun mata pemuda itu bagaikan sumur tua yang dalam, membawa rasa tenang dan perasaan bahwa semua akan baik-baik saja. Dan ketika gadis kecil itu melihat liontin di tangannya, tangisnya pecah dalam isak yang berkepanjangan. Pikirannya mulai berkumpul dan nampaknya kenyataan menghantam gadis itu sedemikian keras. Ketika ia menyadari kalau ia sudah bangun dari mimpi dan ia masih bisa melihat segala sesuatu yang ada di depan matanya membuatnya mengerti.
"Kakak... N. N. Nenek sudah pergi!" sengalnya dalam isak yang makin kuat menggenggam hati. Tangan kecilnya menggenggam erat liontin, menempelkannya kedada kuat-kuat, seakan berharap menemukan sedikit ketenangan darinya.
__ADS_1
Topan menghela nafas lemah dan merangkul gadis kecil itu, seakan berusaha melindunginya dari semua hal buruk di dunia. Hatinya terus berdering dengan rasa tak karuan yang menyiksa. Pikiran pemuda itu berkelana dalam berbagai pertanyaan sinis akan permainan takdir yang menurutnya tidak masuk akal.
*Sungguh, lelucon-Mu ini tak lucu. Takdir-Mu aneh! Apa yang ingin Kau lihat dari drama ini sebenarnya? Kenapa Kau ijinkan mahluk semurni ini bertahan ketika akhirnya hatinya harus hancur seperti ini?
Duh, Pangeran semua mahluk, cara-Mu bercanda sungguh sangat keterlaluan*!!!
"Sudah... Andini sama Kakak saja ya. Ada Kakak sekarang..." ucapnya sambil terus berusaha menenangkan Andini. Tubuh kecilnya yang bergetar oleh isak, terasa sangat rapuh dalam pelukan Topan. Membawa gelombang rasa tak berdaya yang menyedihkan.
Nampaknya, mau tak mau, akan ada mulut dan perut baru yang perlu dipikirkan kesejahteraannya, dan itu akan jadi tanggung jawabnya untuk diurus. Tapi seberat apapun itu, jika di masa depan ia dihadapkan pada pilihan yang sama, Topan tetap tidak akan memilih hal yang berbeda. Gadis kecil ini tak meminta dilahirkan, dan ketika bahkan Roh pohon saja bersedia menjadi Siluman untuk merawatnya, Topan akan sangat malu jika ia tak mampu melakukan yang lebih baik dari keberadaan macam Roh pohon.
Topan yakin, meski sinar lembut matahari yang menyembul di timur sana itu akan menguat dan berusaha sekuat tenaga untuk memanaskan jalan yang hendak ia lewati, di penghujung hari, angin sore akan selalu bisa mendinginkannya. Kebulatan tekad muncul darinya.
Jika Kau ingin mempergunakanku sebagai perpanjangan tangan-Mu untuk merawatnya, mak jadilah itu. Kuserahkan semua ke pengaturan-Mu...
Doa teriring dalam hati pemuda keras itu. Seiring tangis yang mereda, tekad membara dalam hati Topan untuk tak membawa air mata ke wajah kecil itu lagi.
"Adek ikut Kakak saja ya...Sekarang Kakak yang menggantikan Nenek. Andini mau ikut Kakak kan?" desahnya lembut sambil mengusap air mata yang masih mengalir dari wajah itu.
__ADS_1
Andini perlahan menganggukkan kepalanya. Kesedihan yang kuat masih mengelayuti mata kecil yang indah dan bersinar dengan cahaya kepolosan itu.
"Kutemani mengemasi barangmu, Nduk... kita pindah dari sini." lanjut Topan lagi. Hatinya bergolak dalam perasaan tak menentu yang mengancam untuk menenggelamkan kewarasannya dalam kesedihan. Ia cuma berharap untuk secepatnya meninggalkan tempat ini. Gubug reyot dalam balutan keindahan sempurna karya alam ini menghadirkan terlalu banyak kesedihan yang terjadi akibat nafsu tak terbendung dari manusia tak berakal budi. Ia cuma tak tahan berada disini lebih lama lagi...