
Sedikit dongkol dengan sikap Pangky, Topan mulai merasa sedikit menyesal telah tergoda untuk ikut mengagumi pemuda itu sebelumnya. Tak disangkal, ia memang punya kemampuan, hanya saja, kelakuan sok ngatur-nya itu nggak ketulungan. Mengacuhkan beragam komentar yang menyuruhnya untuk menunda apapun yang hendak ia lakukan dari sekawan bar-bar itu, Topan segera menyalakan mesin motor dan bergerak.
Jarak yang harus ditempuh sebenarnya tidak terlalu jauh, meski tak bisa dibilang dekat juga. Hanya saja, jalan aspal halus yang membelah area luas milik Pecatu Resort itu dibingkai oleh deretan rimbun pepohonan yang menghadirkan suasana segar dan asrinya lahan tersebut, yang sayangnya, dalam balutan gelap malam dan lolongan anjing yang terus bersahutan, menghadirkan sedikit rasa tak nyaman dalam hati. Hanya saja suasana sepi ini lumayan menenangkan, andai saja lolongan anjing-anjing yang makin lama terasa seperti menyayat perasaan itu bisa berhenti.
Topan terus menjalankan motornya. Meski lampunya tak terlalu terang, di tengah kehadiran lampu-lampu jalan yang berderet tanpa henti, hal itu tak mengganggunya sama sekali. Dan tak berapa lama, tak seperti ketika itu dimulai, lolongan anjing yang bersahutan itu tiba-tiba saja berhenti. Seakan ada sesuatu yang mengkomando mereka untuk diam di waktu yang sama.
Nha, begitu dong. Sekarang, ini benar-benar nyaman. Jalan aspal halus yang luas, rerimbunan pohon di kiri dan kanan yang terselaput kabut tipis dalam pendaran sinar neon, dan kesunyian. Kombinasi yang menyenangkan untuk menikmati malam sambil berkendara sendirian, batin Topan sambil tersenyum. Pemuda itu sudah lupa peringatan Pangky sebelumnya, atau enggan menggubris peringatan itu lebih tepatnya.
Motor yang dikendarai Topan sudah melewati gapura penanda batas areal Pecatu Resort dan jalan raya yang sangat sepi menyambutnya, tapi pemuda itu tak perduli. Kos yang ia sewa hanya terletak 5 menit dari jalan raya. Setelah melewati hutan lindung yang miskin penerangan itu, ia akan sampai. Beragam ejekan dan hinaan akan ketidakmasuk-akalan Pangky sedikit muncul dalam hatinya. Beragam pikiran berputar dalam otak Topan saat senyum berbalur ejekan kembali muncul saat ia memikirkan pemuda aneh itu. Hanya saja, tiba-tiba mesin motornya mati seakan tak ada lagi bensin di dalam tangkinya. Untung saja, meski mesin motornya mati pas di tengah jalur hutan lindung, kebetulan ia berhenti di bawah satu-satunya penerangan jalan di tempat itu.
Sialan, masak pakai motor nggak diisi lagi bensinnya sih? gerutu Topan sambil membuka jok, memastikan kalau memang tak ada lagi bensin di sana, hanya untuk kecewa. Tangki bahan bakar terisi penuh...
Waduh, bensin penuh? kenapa lagi ini motor? Mana jauh lagi kalau mau balik kanan...
__ADS_1
Menyadari kondisinya, Topan mengeluarkan handphone dan menelpon Lombo. Ia berharap untuk dijemput supaya motor ini bisa ditaruh di bengkel besok pagi. Seusai mengkonfirmasi penjemputan, pemuda itu terduduk lesu di jok motor. Tapi ketika ia hendak menyalakan rokok, bayangan yang berkelebat dengan cepat menangkap perhatiannya. Dalam sinar lampu yang hanya mampu menerangi sedikit petak jalan sepi, bayangan gelap itu melintas tanpa mampu ditentukan bentuknya, membuat Topan segera berdiri dari motornya. Pandangan waspada yang ia edarkan tak mampu menangkap apapun. Rasa gentar perlahan naik dan mulai mengisi setiap ruang dalam hati Topan. Pertemuannya dengan sosok raksasa bertaring penunggu daerah dekat piramid masih melekat dalam pikirannya. Spontan, tangan Topan membentuk mudra ketika mantera mendaras perlahan dalam batin. Debar jantungnya mulai berakselarasi dalam lompatan-lompatan hingga terasa menyakitkan. Tapi tetap tak ada yang terjadi. Tak ada bayangan, tak ada orang selain dirinya, tak ada suara anjing, tak ada angin dan bahkan serangga malam memutuskan untuk bungkam. Kesunyian menjadi terasa mencekik ketika pemuda itu memaksa untuk menelan ludah untuk membasahi tenggorokan yang tiba-tiba sangat kering.
Kemudian, dari arah samping kanan, sosok itu muncul...
Bergerak dengan perlahan, setara dengan kecepatan seorang yang berjalan, sosok itu adalah seorang wanita dengan rambut hitam yang panjang. Wajahnya cantik, meski terlihat pucat di bawah siraman miskin lampu neon, dan perlahan, wajah cantik itu menoleh ke arah Topan dan tersenyum.
Badan Topan gemetar ketika rasa takutnya meledak. Wajah yang tersenyum kepadanya itu memang cantik, sangat cantik malah. Hanya saja, hanya kepala hingga batas pertengahan leher dari wajah itu yang nampak layak dilihat. Selebihnya hanyalah organ-organ dalam tubuh yang berdenyut hidup dan kadang meneteskan cairan yang berbau anyir, melayang di udara.
"Wah, ada tambahan makanan. Sayang cuma satu..." ujarnya sambil tersenyum makin lebar. Matanya yang merah terpaku pada Topan yang bahkan tak mampu lagi bergerak.
Suara mahluk menjijikkan itu sungguh merdu dan menimbulkan gejolak, tapi bagi Topan, suara itu tak kalah mengerikan dengan tampilannya. Dan entah kenapa, Topan bahkan tak mampu memaksa untuk bergerak sedikitpun, seakan badannya diikat kuat dengan tali tanpa ada kemungkinan untuk terlepas. Mahluk itu bahkan tak terpengaruh oleh rangkaian segel gaib yang ia ciptakan. Ia terus saja mendekat sambil tertawa-tawa.
Asu, tempat apa sih sebenarnya ini? Apa aku bener-bener digariskan untuk mati disini? Sial!!!
__ADS_1
Topan tak mampu berhenti memaki dan mengutuk dalam pikirannya. Meski rasa takut dalam hati sudah mulai mereda, tapi badannya tak mau merespon. Samar, ia bisa melihat rangkaian simbol-simbol kecil muncul dalam urutan yang tampaknya, menyegel setiap pergerakannya. Perlahan, pemuda itu mulai merasa sangat lelah. Seiring mahluk itu mendekat, Topan mulai kehilangan kesadarannya. Namun, tiba-tiba saja, sosok itu muncul di hadapannya.
Punggung lebar itu akrab dengan pandangannya beberapa hari belakangan ini. Hanya saja, alih-alih coverall merah dengan lobang di bahu kanan akibat cabikan tali karnmantel beberapa hari lalu, sosok itu sepenuhnya terbalut dalam baju mirip sisik berwarna merah gelap. Dari sambungan siku, muncul taji panjang yang ujungnya tajam, sementara pelindung tangannya memiliki sedemikian banyak duri kecil yang pasti mengakibatkan luka yang mengerikan bagi mereka yang menerima pukulannya. Meski sosok itu tak melakukan apapun kecuali berdiri didepannya, entah kenapa, tiba-tiba saja Topan merasakan ikatan yang di tubuhnya terurai.
"Kamu menantangku, Anak Muda?"
"Tidak. Tapi anak ini dalam perlindunganku. Aku tak perduli dengan kalian dan perkelahian kalian. Aku dan temanku hanya pendatang, bekerja dan pergi setelah selesai. Tapi aku tak akan mundur jika kau masih ingin lanjutkan ini..." balas sosok itu tenang ketika samar-samar lapisan api berwarna merah gelap mulai membara di kedua tangannya. Seiring kemunculan api ini, alam seakan turut dibebaskan. Perlahan angin mulai bertiup dalam desisan dingin, mengajak pohon-pohon rimbun di kiri dan kanan jalan untuk bergoyang, seakan berusaha untuk menjadi supporter bagi dua keberadaan yang sama-sama mengerikan ini.
"Rupanya Penguasa lima unsur dari tanah Jawa... Baik, aku mundur. Tepati omonganmu untuk pergi setelah apapun yang perlu kau lakukan selesai.. " balas suara merdu mendayu itu dan tiba-tiba saja, kesunyian yang mencekam itu menghilang, ditelan suara serangga malam yang kembali berlomba. Angin kembali bertiup dengan manis meski membawa aroma anyir sampah yang tertumpuk di sudut jalan. Dan tanpa diketahui bagaimana caranya, sosok akrab di depannya itu sudah kembali mengenakan baju kebangsaannya yang robek di bahu kanan itu.
Pangky membalikkan badannya. Senyum lembut yang biasa muncul di wajahnya.
"Motor e kenapa, Pan?" tanyanya lembut, seakan apa yang baru saja terjadi itu hanya sebuah imajinasi palsu. Tatapan mata maklum penuh pengertian yang sama seperti ketika Topan hampir mati karena penunggu Piramid kembali muncul darinya, membuat Topan benar-benar merasa ingin menemukan pohon terdekat dan gantung diri.
__ADS_1
Kay, kapan kamu sampai? Bisa mati beneran aku kalau dekat dengan orang berbahaya ini...