
*April, 23 1978
Kalau kau pengen tahu pendapatku?
Ini GILA!
Orang tua kok kasih anak ke setan cuma karena pengen kaya! Isi kepala orang-orang ini apa???
Kalau pengen kaya itu KERJA, KERJA DAN KERJA!!! Bukannya bawa kain mori dan bunga tabur untuk cari perewangan!
Sungguh tak bisa dimengerti...
......................
April, 25 1978
Mereka berkepala babi, berkepala monyet, menggendong bocah bajang, berlumur air mani dan bermuka hitam dalam balutan baju bagus, naik mobil mewah, tertawa tanpa beban.
Sungguh kasihan...
Andai saja mereka tahu harta itu milik anak cucu mereka dan akibat yang akan datang akan sangat mengerikan bagi mereka dan keturunannya, apakah mereka masih akan melakukan ini semua?
Gebleg!
...----------------...
Mei, 01 1978
Mereka bilang aku tidak waras...
Yah, tak apa, karena menurutku, mereka lebih nggak waras. Aku gila karena mataku tak melihat hal yang sama dengan orang lain, tapi minimal hati dan pikiranku masih berada ditempatnya... Sayangnya, meski mata mereka melihat hal yang tak jauh beda dengan orang kebanyakan, hati dan pikirannya terkaburkan nafsu.
Kerja sama kok sama setan.
__ADS_1
Dan aku yang gila menurut mereka...
Aku sampai bingung mesti tertawa atau menangis..
...----------------...
Hampir keseluruhan lembar-lembar awal buku itu berisi berbagai curahan rasa kesal ayah. Nampaknya ia memiliki kemampuan yang sama denganku*, batin Kay sambil terus membaca isi buku yang makin lama jadi terasa seperti omelan seseorang yang sedemikian jengkel terhadap kondisi yang tak mampu ia ubah.
Tapi isi lembar-lembar berikutnya menangkap perhatian Kay, melembutkan wajahnya dalam senyum berbalut kesedihan, ketika isi buku itu mulai bercerita tentang bagaimana kedua orangtuanya bertemu, saling jatuh cinta hingga akhirnya menikah.
Ayah memang selalu rapi dan teliti. Bahkan setelah menikahpun, ia masih rutin mengisi jurnal ini
......................
Seiring waktu yang berlalu, pemuda itu tertawa sambil terkadang meneteskan air mata membaca isi bagian-bagian awal buku itu.
Melalui tulisan ayahnya, ia merasa mengenal kedua orangtuanya dengan jauh lebih baik. Berbagai perasaan dan kejadian yang tertuang dalam buku itu membuatnya merasa jauh lebih baik, meski belum menemukan apapun yang ingin ia cari. Kay baru menemukan beberapa hal yang ingin ia ketahui setelah Jurnal itu memasuki tanggal-tanggal setelah tahun kelahirannya sendiri, dan ternyata, ia sama sekali tak menyukai apa yang ia baca...
Mei, 03 1998
Apa belum cukup nyawa-nyawa manusia yang sudah ia hilangkan sebelumnya, hingga ia harus melakukan ini?
Tak perduli bagaimana caranya, aku harus menghentikan orang tua itu, apapun akibatnya!
Semoga aku bisa selamat melewati ini semua.. Kay belum lagi berusia satu tahun...
......................
Juni, 03 1998
Aku tetap terlambat...
Berapa nyawa yang hilang sudah???
__ADS_1
Duh, Gusti...
......................
Mei tahun 1998?
Bukankah waktu itu negara ini tengah dilanda kekacauan yang menelan banyak korban jiwa? Tapi apa hubungannya dengan ayah???
Kay makin merasa aneh dengan isi buku itu, tapi lembar itu adalah lembar terakhir yang berisi catatan harian ayah. Setelah beberapa lembar kosong, sampul baru yang dijilidkan ke buku jurnal itu menyapanya.
Jika tulisan ini kaubaca, berarti aku sudah tak mampu lagi melindungimu lebih jauh, Kay...
Jika masih tersisa maaf dihatimu untuk ayah tak bergunamu ini, kumohon maafkanlah aku. Kemampuanmu tak terbendung, yang sudah kukira, meski tak kuharapkan.
Mungkin kau akan bertanya tentang kenapa aku selalu berusaha seakan tak perduli dan mengecilkan semua hal yang kau lihat dan dengar, mencoba menggantikannya dengan berbagai penjelasan ilmiah yang kredibel, yang kuharap, itu akan mampu membuatmu tak mempercayai keberadaan dunia itu. Dengan harapan supaya kekuatan itu, entah bagaimana caranya, akan tertidur tanpa pernah terbangun lagi, tapi nampaknya hal itu cuma impian kosong, dan dengan keberadaan buku ini sampai di tanganmu, sudah bisa dipastikan kalau semua perencanaanku gagal total.
Kakekmu menjalin perjanjian dengan Setan di masa mudanya. Keinginannya untuk menjadi sosok linuwih, membawanya jauh ke alam yang tak seharusnya ia datangi. Kay terkekeh mendengar omelan sinis Arborite yang mengisi kesadarannya. Tak apa ia mengomel sesukanya, selama ia tak menghilang. Meski enggan, Kay menikmati kebersamaan ini.
Pengetahuan yang melemparkan otak ke dalam perkelahian dan saling adu teriak tanpa henti, dengan hati nurani sebagai musuhnya.
"Ha..ha..ha... Sungguh sebuah humor yang jauh dari kata lucu..." desah Kay lesu tanpa mampu menyembunyikan getaran dalam suaranya. Lelah melanda jiwa ketika dengan gundah, ia melemparkan buku tua itu ke meja didepannya. Rumah kecil yang sudah menghadirkan rasa nyaman selama beberapa hari belakangan ini seakan menghimpitnya kuat-kuat.
Sungguh sebuah kenyataan yang hebat... Aku bisa mengerti dengan Tuyul, Buta ijo, Babi ngepet dan banyak lainnya, lha tapi ini Setan lho??!
Apa yang Kakek pikirkan waktu itu sih???
Bukan sekedar arwah, perewangan, jin, atau hantu-hantu kecil, INI SETAN!!!
Sialan*!!
Berbagai pikiran dengan muatan negatif bertabrakan kuat-kuat dalam otaknya. Seiring pengetahuannya dari Kitab Kuno yang ia pelajari dari Arborite, Kay tahu kalau mahluk astral juga memiliki peringkat, atau status, atau kasta, atau sebut apa saja sesuai keinginan, tapi Setan adalah hal yang benar-benar berbeda. Yang satu ini benar-benar berada di luar semua keberadaan itu...
Sialan. Sialan. Sialan!!!
__ADS_1
Kay merutuk dalam hati sambil memukulkan tinju kekepalanya. Ia nampak sedemikian frustasi dengan kenyataan yang ada, kebenaran yang sungguh membuatnya tak mampu mengatakan apapun selain memaki dengan pasrah.
Warisan kok begini sih???