
Rayna menyapa kalian semua, Guys, please hit the like button and comment if you like ❤️
Suara guntur mungkin bahkan tak bisa mengalahkan efek dari nada pertanyaan pelan yang diutarakan Prameswara bagi Anton. Pertanyaan yang sontak membuat Anton menatap nyalang ke berbagai arah ketika keringat dingin mulai mengalir. Ia belum lagi menceritakan apapun, tapi bocah aneh ini sudah menyebutkan nama Debora?
"Sementara dia kukurung, Mas. Mas Bardi sedang mencari ubo rampe supaya aku bisa membuat jimat penangkal untukmu, biar dia tak bisa mengganggumu."
Tapi mendengar nada lembut yang dilontarkan pemuda itu, Anton malah makin merasa pahit. Kesedihan menghantamnya dengan kuat. Sebelumnya, ia masih menyimpan sedikit harapan dalam hatinya, tapi tampaknya memang benar Debora yang dimakan oleh mahluk iblis itu.
"Dia kau pegang di tangan kananmu itu, Mes?"
Ketika pemuda itu mengiyakan pertanyaannya dengan anggukan, Anton menghela nafas berat. Sungguh, saat ini, ia merasa seakan dadanya diikat erat-erat dengan tali baja, menyesakkan dan sakit mengiris. Anton mengeluarkan handphone dan memutar pesan video yang dikirim oleh Terry dan mebuarkan Prameswara melihatnya.
"Lepaskanlah dia. Aku pantas menerimanya..." lanjut Anton lemah ketika tampaknya, tenaga meninggalkan tubuhnya saat ia menyenderkan badan ke kursi dengan lunglai.
Prameswara terpana ketika melihat adegan yang ada dalam pesan video itu, tapi kemudian mulutnya kembali menggumamkan kata-kata aneh ketika tangan kanannya yang terkepal, ia satukan dengan tangan kirinya. Entah kenapa, wajahnya seakan menghadirkan rasa tenang yang menyebar di udara. Perlahan, turut mengurai beban berat yang menindih Anton kuat-kuat. Kemudian, pemuda itu melepaskan genggaman tangannya, seperti tengah melepaskan burung yang terikat untuk terbang. Sejenak, senyum yang terbalut rasa sedih muncul di bibirnya.
"Sejak awal masa, selalu manusia yang menghancurkan manusia lain..." desah Prameswara pelan tanpa mampu menyembunyikan kesedihan dalam suaranya.
__ADS_1
Mendengar ini, Anton tak mampu menahan perasaan lebih lama. Isaknya membuncah dalam rasa bersalah yang kuat. Demi kesembuhan Pops, ia ikut ambil bagian dalam kematian Debora dan Terry, dan ini menyiksa nuraninya dengan sangat kejam. Badannya terguncang dalam isak yang menguat, mengancam untuk menghancurkan mentalnya menjadi debu.
"Mas, gadis itu sudah memulai jalannya untuk kembali kepada Sang Pencipta. Tenangkan dirimu dan doakan dia. Rasa bersalahmu akan menghalangi dia untuk pulang..." kata Prameswara lembut ketika tangannya menepuk bahu Anton pelan, yang rupanya mampu mebuat dokter hebat itu kembali menemukan dirinya sendiri.
"Lagipula, tampaknya pengawal itu belum dimangsa. Kalau Bogang yang kukenal masih ada didalam bocah cengeng didepanku ini, semoga ia bisa bangun dan mengantarku kesana secepatnya." lanjut Prameswara lagi, yang segera membuat Anton terkesiap.
Meski menemukan wajah penuh canda menyambut matanya, Anton tahu kalau pemuda ini serius dalam setiap perkataannya. Percik harapan mulai muncul dalam hatinya.
"Lokasi tempat itu di daerah Kediri, Mes. Kita berangkat sekarang!"
"Hoooo, tenang dulu, Kawan. Minumlah kopimu dulu. Aku mengerti kekhawatiranmu, Mas, tapi ada beberapa hal yang perlu kusiapkan sebelum berangkat." tukas Pameswara sambil sedikit tertawa. Entah kenapa, ia tak tampak khawatir atau tegang sedikitpun.
"Tenang. Mas ada barang milik dia mungkin?" potongnya.
"Kau kira dia pacarku apa? Gimana caranya aku punya barang milik dia, Mes? Aku terima pesan ini ketika pesawat transit di Singapura, dan aku langsung terbang kembali kesini. Mana aku ngerti soal beginian dan mempersiapkan barang milik dia coba?!" sentak Anton kesal, yang dibalas dengan gelak tawa.
"Ini Bogang yang kukenal. Nangis, macam banci lupa dibayar aja. Foto deh, masak nggak ada foto?" jawabnya sambil tertawa.
__ADS_1
Sialan bocah ini! Ini masalah nyawa orang, malah cengengesan. Lagian, banci mana yang nangis ketika lupa dibayar coba? yang ada juga malah ngamuk!, rutuk batin Anton ketika ia berusaha mencari foto Terry dalam gallery handphone-nya dan menyerahkannya pada Prameswara yang masih tertawa-tawa melihat muka masam Anton.
"Takahashi-san, anata wa dare ka o sagasu no ga ichibandesu. Kono hito o mitsukete hogo suru no o tetsudatte kuremasen ka" kata pemuda itu sambil menunjukkan foto dalam handphone itu ke udara kosong di sebelahnya.
(Takahasi, kamu yang terbaik dalam mencari seseorang. Bisakah kau membantu menemukan orang ini dan melindunginya?)
Sesaat kemudian, pemuda itu berdiri dan membungkuk hingga tubuhnya membentuk sudut sembilanpuluh derajat dan berkata "Arigato, Takahasi-san."
Okey, this is not weird at all! Andai bocah ini tak mengungkap tentang keberadaan Debora beberapa saat lalu, saat ini aku pasti sudah menelpon rumah sakit terdekat dan memastikan mereka membawa stray-jacket untuk membawanya dalam perawatan.
"Aku tahu kalau kau berpikir dan mengira aku gila ya, Mas?" tanya Prameswara sambil tertawa, ketika ia mendapati sahabatnya itu tengah memandanginya dengan aneh.
"Huh, dengan apa yang baru saja kualami beberapa hari ini, aku bahkan tak mampu menemukan yang mana yang nyata sebenarnya. Tampaknya aku tak akan terkejut bahkan jika tiba-tiba saja ada drakula muncul disini." dengusnya, meski sedikit getar masih muncul dalam suaranya.
"Mas, ini pesanannya!"
"For the God shake! Have you ever knock?! You make me scared to death!!!" salak Anton galak dengan wajah pucat pias. Kedatangan Bardi yang tiba-tiba, telah mengejutkannya hingga ia nyaris terjatuh dari kursi yang ia duduki. Meninggalkan Bardi yang bengong, dan Prameswara yang terbahak-bahak tanpa kendali.
__ADS_1
Sialan, harga diriku terluka parah. Belum ada dua jam aku disini, cobaan mental datang bertubi-tubi macam begini. Sialan!!!
......................