
Dari tempatnya berdiri, Anton nyaris bisa melihat semuanya. Ketika ia melihat ke bawah, aspal hitam yang berliku, tersulam masuk keluar dari selimut pepohonan yang menghijau hingga selimut coklat perkotaan jauh di bawah. Hawa pegunungan yang dingin, udara yang memiliki kapasitas jauh lebih premium dari yang pernah ia miliki di kehidupan super sibuknya dulu, sungguh sebuah subtitusi kehidupan yang indah. Belum lagi pemandangan matahari terbit dan tenggelam yang selalu menghadirkan beragam pesona baru tiap hari, membuat pria itu sama sekali tak menyesali apapun yang ia tinggalkan dari kehidupan lamanya.
Sejak kejadian mengerikan yang mereka alami sebelumnya, Anton dan Terry memilih untuk tak kembali. Anton, yang merasa dunianya jungkir balik, memilih untuk tinggal dan mempelajari banyak hal terkait "dunia gaib" dan berjuang untuk menerimanya meski dengan sangat terpaksa. Sementara Terry, memilih untuk melatih mentalnya lebih jauh. Kejadian yang ia alami berubah menjadi pendorong baginya untuk mengenal, memahami dan mengetahui bagaimana cara berurusan dengan mahluk-mahluk jahat ini.
Pria itu berniat membalas dendam!
Akibatnya, selain kegiatan pelatihan yang ia susun untuk setiap anggota keamanan King's Residence, kebanyakan waktunya akan ia habiskan untuk menjelajahi hutan dan gunung bersama Prameswara. Belum lagi beragam puasa dan meditasi yang ia nekad pelajari dari pemuda itu, meski seringkali, kalimat-kalimat bernada ejekan akan terlontar dari Anton ketika mereka berkumpul.
"Terry, seumur-umur, yang aku tahu, manusia macam Prames itu yang puasa dan lelaku. Lha kamu ini, bule kok puasa mutih dan senin-kemis."
"Huuu, puasa itu cross-nation and Race. Bukan monopolimu saja!" cibir bule yang mulai mengenal bahasa Indonesia meski belum terlalu fasih menggunakannya itu, sementara Anton akan tertawa terbahak-bahak.
"It is better be me, who anxious to learn meskipun ehmm, what it said, susah! Kamu, bisa lihat hantu, tapi takut melulu." balas Terry lagi sambil tertawa terbahak-bahak.
Balasan telak itu akan selalu membuat Anton tak mampu bicara.
Sejak Prameswara membuka titik langitnya, Anton memang bisa melihat berbagai mahluk gaib, meski seringkali samar, yang memang kebanyakan membuatnya terlihat mirip pasien penderita scizoprenia yang mengalami halusinasi akut. Hanya saja, untuk melatihnya lebih jauh, pria itu masih merasa belum bisa berdamai dengan dirinya sendiri. Ia masih merasa kalau dunia klenik ini tidak scientifik. Sayangnya, semangat Terry dalam mempelajari berbagai jenis pengetahuan baru ini seringkali menyeretnya dalam berbagai kerumitan. Apalagi kalau Prameswara dan Bardi, anak buah kesayangan Terry yang baru, bergabung dalam kekacauan. Maka hampir bisa dipastikan, ia tak akan mampu bangun dari tempat tidur keesokan harinya.
"Mas, jadi Parogo itu bisa banyak membantu orang lho. Bayangkan, ada keluarga pasien yang meninggal, lalu si pasien yang meninggal ini dimasukkan ke badan Mas Anton, terus kan jadi bisa pamitan sama keluarganya dengan baik to? atau bisa juga ditanyain nomer togel, wah cepat kaya, Mas!" tukas Bardi pada suatu ketika, saat Anton bersikeras menolak kegiatan konyol dua berandal tua ini.
"My God, Di! Jangan ditanya nomor togel, kasihan. Coba cari jiwa yang tua dan mantan pendekar saja! Kali aja dia punya ilmu buat dibagi gitu!!!" sambar Terry dengan tampang serius, ketika ia mendorong bahu Bardi, penekanan penolakan atas permintaan konyol pemuda itu.
Yang tentu saja, kalimat-kalimat ini segera menuai pemukulan dari Prameswara.
__ADS_1
"Kalian berdua ini sama saja. Jiwa manusia kok buat mainan. Lagipula, Mas Anton harus menguatkan fisiknya dulu kalau memang pengen belajar ini lebih jauh. Beban yang diterima tubuh manusia ketika bersinggungan dengan entitas ber-hawa negatif ini tidak ringan." tukasnya galak.
Yah, meski terbilang berusia paling muda, tak ada diantara dua berandal ini yang akan membantah Prameswara. Pemuda itu terlalu aneh sampai terasa mengerikan.
"Mendingan kita suruh Dipo saja masuk ke badannya Mas Anton, biar Mas Anton bisa dapat pacar." sambungnya sambil terkikik. Pandangan jahilnya segera mendapat reaksi antusias dari kedua berandal tak terkendali beda ras ini.
Sial amat aku ini...
......................
Deru ombak yang berkejaran menuju pantai itu memang indah, meski sama sekali tak menyimpan kelembutan sama sekali. Bagai barisan tentara yang kejam, membantingkan diri ke gugus karang yang biasa digunakan untuk foto pre-wedding ketika sore menjelang, menyemburkan dirinya tinggi dalam baris yang terberai, membasahi apapun yang terjangkau olehnya. Sementara di area yang bersentuhan dengan jalinan pasir putih, gulungan-gulungan air bercampur buih menyapu dalam ritme yang lembut dan menghanyutkan. Mengajak setiap insan yang disana untuk bermain bersamanya. Termasuk diantaranya seorang gadis kecil yang terus bersorak kegirangan bercampur takut sambil berlari mengejar dan menghindari ombak semampunya. Mengenakan baju renang yang menutupi tubuh kecilnya, gadis itu terlihat sedemikian ceria. Rambut hitamnya yang dipotong pendek, penuh pasir putih dan basah kuyup. Tanpa memperdulikan seorang pemuda gondrong dalam balutan jeans belel, kemeja dan sepatu safety bersol tebal yang terus saja berusaha menariknya dari air meski sambil berjingkat supaya sepatunya tak basah. Muka pemuda itu sudah merah akibat panas matahari yang menerpanya. Wajar saja, pantai dreamland di siang hari sangatlah panas, dan ia justru mengenakan baju serba panjang, yang benar-benar aneh dipakai untuk ke pantai. Tapi tetap, gadis kecil itu terus saja mengelak sambil tertawa-tawa.
"Kakak, Andin belum pernah ke pantai. Biarin Andin main dulu." rajuknya ketika akhirnya pemuda itu memutuskan untuk meraih dan menggendongnya.
Tak menggubris komunikasi mental yang berdering di benaknya, pemuda itu mendengus dan terus melanjutkan usahanya.
"Adek, hari masih siang. Mainnya nanti lagi. Kalau Andin masih pengen berenang, kita berenang di kolam saja ya?" keluh pemuda itu lelah. Ia benar-benar tak menyangka kalau menemani bocah usia 9 tahun bermain bisa sedemikian melelahkan.
"Hiks, tapi Andin pengen main di pantai, Kak..." keluh gadis itu lagi. Tatapan mata penuh permohonan itu benar-benar hampir meluluhkan hati, tapi Kay berkeras.
"*Kay, ih, aku nggak diperhatiin!"
"Ray, kamu itu hantu, bagaimana mau jagain Andini coba? Ayolah, nanti kita kesini lagi*."
__ADS_1
Meski enggan, melihat wajah cantik transparan itu mulai cemberut, Kay tetap saja memberikan jawaban. Ia masih tak ingin menimbulkan masalah setelah apa yang terjadi beberapa waktu lalu sebelum keberangkatan mereka ke tempat ini.
"Nanti, kita main sini lagi bareng sama Om Pangky, dan Kak Topan ya. Sekarang ke kolam dulu aja." lanjut Kay, coba menenangkan gadis itu. Mendengar janji Kay, wajah sedih gadis itu kembali ceria.
"Beneran ya Kak. Andin kangen Kak Topan..."
Kay hanya tersenyum dan mengelus rambut basah gadis kecil itu lalu mengajaknya naik ke area kolam renang. Cuaca benar-benar terlalu panas untuk berkeliaran di pantai sekarang.
"Ray cantik, jangan ngambeg mulu dong... Panas ini. Kalau di kolam atas kan ada restorannya..." desah Kay menanggapi omelan Rayna yang tampaknya masih tak rela untuk turut naik ke area kolam.
"*Ya lagian, udah tahu mau ke pantai, malah dandan macam mau kondangan begitu!"
"Yaelah, barang-barang juga belum dibongkarin, Ray, masih tergeletak di kamar. Kamu yang ribut aja ngajakin Andin ke pantai, mana sempat aku ganti baju*?!" keluh Kay sedikit jengkel. Mereka memang baru saja sampai, dan segera setelah check-in, Rayna segera membujuk Andini untuk turun ke pantai, dan ini akhirnya yang terjadi.
"*Bodo! Nanti aku mau bilang Abo, Kay jahat."
"Ehm, iya. Sesukamu saja*." dengus Kay lagi. Langkahnya segera melayang menuju sebuah konter minuman dan beranjak menuju area yang teduh.
Sejenak kemudian, suara gembira Andini sudah kembali terdengar di tengah kecipak dan debur ombak yang mengalun bersama deru angin pantai. Dari tempatnya duduk, pemuda itu tersenyum meski sedikit merasa masam dalam hati ketika melihat Andini asyik bermain di kolam anak itu.
"Astaga, Ray... Meski tak semua orang bisa melihatmu, bukan berarti terus kamu semena-mena ikut main disitu juga kali, Ray?!!"
Sosok Rayna yang turut bermain, dan menggendong Andini menuju bagian kolam yang dalam, menoleh ke arah Kay dan menjulurkan lidahnya.
__ADS_1
"Bodo!"