Kisah Perjalanan

Kisah Perjalanan
Andai saja bila


__ADS_3

Perjalanan mereka berdua tak memakan waktu terlalu lama. Tapi bahkan untuk Topan yang terbiasa dengan berbagai pendakian malam minim cahaya, jalan setapak ini lumayan menyulitkan. Semak belukar dan berbagai jenis tanaman rambat tumbuh bagai membentuk lorong yang seakan dirancang khusus untuk jalan bagi seorang dengan ukuran badan serupa Andini. Ketika Topan terus berkutat dengan berbagai ranting yang menyangkut di berbagai tempat, gadis kecil itu melenggang bagai ikan di dalam sungai. Suaranya yang berdenting jernih bagai genta angin itu nampak semakin ceria seiring langkah membawa mereka semakin dekat dengan tempat yang ia tinggali selama ini. Harapannya membumbung tinggi. Kakak bersuara lembut itu bilang kalau ia bisa ilmu pengobatan, dan yang lebih menyenangkan lagi, tadi ia memaksa untuk membeli makanan untuk mereka bertiga. Nenek pasti akan senang...


Dan tiba-tiba saja, langit cerah penuh bintang muncul di atas kepala Topan.


"Ini rumah Andin, Kak." jelas gadis kecil itu riang. Tangan kecilnya terangkat, menunjuk sebuah gubuk yang terbuat dari bambu, yang seakan-akan muncul dari tengah jalinan semak belukar. Tumbuhan merambat berjalin sempurna di atap rumbia, membentuk atap baru bagi bangunan reyot itu. Gadis itu segera melangkah, mendorong pagar bambu reyot dan suara kecilnya segera berdering, memanggil-manggil Nenek yang disayanginya.


"Hebat juga kau. Tempat ini sudah seperti tempat tinggal peri hutan saja layaknya. Kau yang membentuknya?"


Namun hanya dengus lelah yang menjawab pertanyaannya. Arwah nenek itu berhenti berinteraksi ketika ia selesai menceritakan kisah Andini. Tapi Topan tahu, ia tak akan bisa kemana-mana. Segel yang ia gunakan, bahkan mampu menjebak entitas yang ratusan kali lebih kuat dari arwah kecil ini.


Topan memang tidak hanya sekedar berbasa-basi. Tempat ini memang mempesona. Jalur di jalan setapak tadi memang mengesalkan, tapi dengan sedikit penyesuaian, itu pasti akan bisa berubah jadi patio dengan canopi alami. Dan tempat ini?


Semak belukar yang terjalin rapat membentuk dinding yang membentengi rumah utama, sebuah gubug bambu reyot, yang setiap bagiannya, ditambal dan diperkuat oleh berbagai jenis sulur tanaman. Sementara itu, di halaman di depan gubug itu adalah halaman dengan rumput yang rapi, sementara pagar bambu sederhana, yang nampaknya tak akan bisa bertahan jika tak diperkuat oleh berbagai jenis sulur tanaman yang sama, tegak berdiri dan memberikan kesan asri dan alami.


"Sungguh, kau hebat."


"Jika kau mengijinkan, biarkan aku merawat anak itu lebih lama, Anak Muda. Dia hanya akan membebani langkahmu. Biarkan dia bersamaku disini. Kau sudah melihat bahkan aku tak memiliki maksud buruk untuknya..."


Topan menghela nafas. Kisah bocah kecil itu jauh lebih menyedihkan darinya. Ditinggalkan ditempat seperti seperti ini, di sebuah gubuk reyot ditengah rimbunan semak tanpa ada kemungkinan ditemukan oleh manusia lain. Siapa yang akan mengira kalau tempat terbengkalai ini memiliki roh pohon yang mengembangkan perasaan iba pada mahluk Tuhan tak berdaya yang ditinggalkan untuk mati itu.


"Maafkan aku, tapi aku tak bisa. Siluman dan manusia tak bisa hidup bersama. Seandainya saja kau tak memilih berwujud dan tetap menjadi roh pohon seperti sebelumnya, mungkin masih akan ada kesempatan. Tapi tidak sekarang..." desah Topan perlahan. Pandangannya terus mengikuti sosok kecil yang nampak memasuki gubuk reyot itu tanpa ragu. Rasa iba berkembang memenuhi diri ketika melihat gadis kecil itu terus berusaha mencari satu-satunya sosok yang ia kenal dan perdulikan itu.


"Tapi, kau bisa melihat ini semua, bahkan dengan matamu, Nak... Apakah kau tak punya hati?" balas suara itu lagi dalam benak Topan. Nada mendesak dan kesedihan kuat yang terkandung dalam kalimat itu sejenak menggoyahkan niatnya untuk menghentikan ini semua.


Topan menggeleng pelan. Ia mengambil rokok dari saku dan menyalakannya tanpa berusaha mendengar apapun lagi. Keputusan ini berat, tapi mau tak mau, ini yang harus dilakukan.


"Sudahlah... Kau memakan jiwa mahluk lain untuk memperkuat dirimu sendiri. Meski itu kau lakukan supaya kau bisa memberikan kehidupan pada mahluk lain, itu salah! Dari jejak kehadiranmu, aku yakin, kau bahkan menyeret manusia hidup ke dalam kematian supaya kau bisa memakan jiwa mereka kan? Sudah. Ini harus berhenti." sergah Topan memotong deru permohonan dan desakan yang terus berdering dalam benaknya itu.


"Kak, aku tak bisa menemukan Nenek..." dering suara penuh kekhawatiran sejenak merengut Topan dari pikirannya.


"Anak muda, kumohon... Jangan ceritakan semua ini pada Andini. Aku rela hilang dari keberadaanku, tapi tolong jangan ceritakan semua ini padanya... Aku tahu kesalahanku, tapi aku memohon padamu, jangan ceritakan ini padanya"


"Kak? Kakak, tolong bantu Andin mencari nenek, Kak... Nenek sedang tidak sehat. Nenek sakit.. Kakak, tolong..." kata gadis kecil itu pelan. Kekhawatiran yang terkandung dalam suaranya yang mulai bergetar dalam isak sungguh menghancurkan hati.

__ADS_1


Melihat gadis kecil itu mulai larut dalam rasa khawatir, Topan cuma bisa menghela nafas berat. Perasaan khawatir ditinggalkan satu-satunya sosok yang dikenal seumur hidup itu sangat mengerikan, dan Topan tahu bagaimana rasanya..


"Aku bisa memberikan kesempatan untuk mengucapkan kata perpisahan... Hanya itu yang bisa kulakukan." desah Topan lelah. Ia kewalahan dengan ingatan ketika hari Ibu meninggal. Matanya penuh air mata tanpa mampu ia tahan ketika tangannya mulai bergerak dalam jalinan mudra pelepasan.


"Itu yang terbaik yang bisa kudapatkan. Terima kasih, Anak muda..." desah suara dalam benak Topan. Kilasan ingatan dan perasaan kuat yang terkandung di benak pemuda itu merambat dan memakukan perasaan penuh kesedihan yang sangat kuat ke benaknya sendiri hingga terasa sangat menyiksa.


"Andin?" bersamaan dengan kehadiran suara itu, kehadiran yang kuat muncul, seakan memunculkan perasaan akan kehadiran binatang buas yang mengintai dan siap untuk menerkam. Namun sesingkat kedatangannya, kehadiran mengerikan itu menghilang dan tergantikan dengan desau lirih angin yang ringan dan membawa aroma hutan yang kuat.


"Neneekkk!" tanpa menunda, gadis kecil itu segera berlari ke arah suara wanita tua itu terdengar. Kegembiraan yang muncul seakan memancar keluar dari dirinya, ketika ia segera memeluk sosok yang ia sayangi itu segera setelah ia menemukannya.


Memandang kejadian itu, Topan hanya bisa tersenyum kecut. Wajar kalau roh pohon ini nekat memilih jadi siluman dan memakan jiwa manusia untuk bertahan. Untuk roh, mampu mewujudkan badan fisik adalah perjuangan yang serupa dengan mengeringkan lautan dengan botol yang bocor, melelahkan dan sia-sia.


Tapi meski kejadiannya tidak seperti itupun, keberadaan mahluk-mahluk seperti ini tidak boleh bercampur dengan manusia. Mereka memiliki alam masing-masing, dan Sang Pencipta memang menciptakan tempat yang berbeda untuk keduanya. Pencampuran hanya akan menimbulkan hal yang tidak baik bagi keduanya.


"Nenek, ini Kak Topan. Dia baik. Katanya dia bisa obatin nenek.. Dan dia beli makanan, Nek..."


Topan tersadar dari pikirannya sendiri. Ketika ia melihat, sedikit perasaan pedih bercampur geram muncul dari hatinya. Sosok nenek tua itu hanya mewujudkan bentuk fisik dimana ia bersentuhan dengan Andini. Untuk berjuang selama ini, bahkan dengan cara yang Siluman ini lakukan, pasti akan sangat berat baginya.


"Tenangkan dirimu, Anak muda. Penglihatannya hanya tertutup. Kau akan bisa membukanya..." balasnya perlahan.


Kurang ajar, dan ternyata bangsa mereka ini juga bisa melakukan hal sejauh ini???


"Tunggu, coba kulihat liontin yang kau pakai itu, Nak..." kata Nenek itu pelan, yang dibalas dengan memutarkan kedua bolanya oleh Topan.


"*Huh, drama yang bagus. Aku membelinya di pasar."


"Bantulah aku sedikit, Anak muda. Aku sudah setuju mati ditanganmu, minimal ijinkanlah gadis ini mengingatku dengan cara ini*..."


"Kenapa, Nek?"


"Sebentar yo Nduk, liontin yang dipakai orang ini mirip dengan milikmu." ujar nenek itu perlahan.


Tapi Topan tetap melepas dan menyerahkan kalung yang ia pakai pada nenek itu. Sedikit banyak, ia tahu apa yang akan ia lakukan. Dengan kemampuannya, menciptakan hal seperti itu dari kayu tak akan sulit sama sekali.

__ADS_1


"Kau tunggu sebentar ya, Nduk. Biar kucari benda itu. Nampaknya berada di tumpukan barang lama yang datang bersamamu..."


"Huh, Siluman tua konyol. Mungkin lebih baik kau jadi produser sinetron saja, nampaknya kau berbakat..."


Tapi nenek tua itu cuma mendengus. Ia hanya beranjak beberapa langkah dari Andini, menuju ke sebuah pohon yang berdiri di dekat pagar bambu. Tangannya menjangkau ke tanah ketika akar pohon itu melingkar keluar seperti ular dari dalam tanah mematuhi perintahnya. Tangannya melambai ketika akar itu seakan membelah dan menelan liontin yang ia lemparkan.


"Ehm, maksud nenek apa ya Kak?" tanya Andini pelan.


"Aku tak tahu, Nduk. Yang jelas, liontin itu kudapatkan dari seseorang yang membesarkanku. Menurutnya, liontin itu ada bersamaku ketika aku ditemukan. Kata beliau, mungkin itu tanda yang ditinggalkan orang tuaku..." sahut Anton pelan sambil mengutuk dalam hati.


Kebohongan tolol macam apa ini? mana mungkin orang percaya. Usiaku dan gadis ini terpaut lama, mana ada manusia yang sedemikian tolol membuang bayi sampai dua kali dengan tanda yang sama dengan rentang tahun sedemikian jauh coba??? Plot konyol. Siluman tolol!!!


Batin Topan terus berderu dengan caci maki tanpa henti. Ia bisa menduga apa yang hendak dilakukan oleh Siluman itu, tapi ia ditinggalkan tanpa banyak pilihan. Ragu, malu, jengkel dan berbagai perasaan tanpa daya muncul ketika ia tanpa sadar melirik ke arah gadis kecil yang sekarang duduk di sampingnya itu, tapi pemandangan yang menyambut matanya sungguh jauh dari perkiraan..


Gadis kecil itu melebarkan kedua matanya, meski tanpa ada kemampuan melihat apapun. Tangannya yang kecil bergerak menutupi mulut dalam rasa kaget yang hebat.


"Ah.. ah, mungkinkah itu benar? A.. Ap.. Apa mungkin kau kakakku??"


Bagus... dan dia percaya... Hebat, sungguh hebat...


Topan benar-benar tersenyum kecut tanpa ada kemampuan lain untuk menjelaskan apapun. Entah gadis ini sedemikian bodoh atau polos atau mungkin malah tengah bermain drama sepertinya, ia benar-benar tak mampu mengatakan. Yang bagaimanapun juga, fix, ia punya adik perempuan baru yang harus ia urusi mulai sekarang...


"Sudahilah.. Tak perlu terlalu mirip. Aku menerima dan akan merawat gadis ini dengan seluruh kemampuanku. Kau bisa pergi dengan tenang..." desis Topan lembut. Ia mengerti keinginan Siluman tua itu dengan baik.


"Aku bukan melakukannya untukmu, Nak. Aku menganggap gadis ini lebih dari keberadaanku sendiri. Aku memberikan masa depan baginya..."


Seiring dengan desahan yang muncul dalam benak Topan, tiba-tiba kehadiran yang mengerikan menekannya kuat-kuat. Akar setebal paha bayi muncul dari dalam tanah dan mengikat kedua tangan, kaki dan melingkari tubuhnya dengan kuat, menyegel setiap pergerakan yang mungkin dilakukan. Akar itu bahkan mulai melingkari jari-jari tangannya, menghilangkan kemungkinan untuk membentuk mudra sedikitpun. Dan ketika akar itu berhenti bergerak, Topan sudah terbaring terlentang, dengan jalinan akar memakukan tubuhnya ke tanah.


"Sialan! Apa maksudmu dengan ini semua, Siluman??!"


"Ijinkan aku mengucapkan selamat tinggal pada gadisku dengan tenang tanpa gangguan darimu, Anak muda.. Tenanglah dulu saja disitu..."


Dan cahaya melesat dengan cepat, menghantam dahi Topan dan menghilangkan kesadarannya...

__ADS_1


__ADS_2