
Pemuda itu duduk sendirian dan larut dalam lamunan. Ia bahkan tak memperdulikan sisa-sisa keganasan badai yang baru saja berhenti, yang membuat sebagian sepatunya basah. Rambut gondrongnya yang terikat karet rambut, terkesan kusam dan acak-acakan. Pandangan matanya jauh menerawang, bahkan tak memperdulikan rombongan pemuda dan pemudi yang terkadang melempar pandangan geram padanya dari dalam rumah. Ia hanya terus menghisap rokok di tangan tanpa menyadari apapun yang tengah ia lakukan.
"Pan, terima kasih... Sekarang gua bisa beneran tenang..."
Pemuda itu hanya mendengus dingin dan menghela nafas berat. Rasa hatinya bergejolak dengan berbagai macam hal. Dering suara yang perlahan menghilang dari kedalaman batin, sekilas bayangan wajah seseorang yang memudar menuju ketiadaan dalam balutan senyum puas dan berbagai kilasan kenangan tak jelas yang sama sekali bukan miliknya pribadi ini sangat melelahkan.
'Sialan, andai aku tahu kalau aki-aki itu bicara hal yang sebenernya, aku bener-bener nggak mau belajar segala *** kucing ini...' batin Topan sedih.
Sekuat tenaga, ia jentikkan puntung rokok di tangannya dan melihatnya dihanyutkan aliran air di halaman.
"Mas, terima kasih ya..."
Seraut wajah cantik yang masih berkilau dengan air mata itu sungguh mengagetkan.
"Mbak sudah bangun?" balas Topan, tanpa berusaha menjawab pernyataan gadis itu.
__ADS_1
Arimbi hanya tersenyum, meski kesedihan masih tergambar kuat, namun matanya menyorotkan penerimaan akan apa yang sudah terjadi. Ia hanya mengangsurkan secangkir teh yang masih mengepul ke arah Topan, dan duduk di sampingnya.
"Andai Mas nggak disini, mungkin Reva tidak akan pernah bisa pulang karena aku.." ucapnya pelan.
"Sudah, Mbak.. Mbak sudah tau perasaan dia, dan minimal, Mbak sudah mengucapkan perpisahan. Ijinkan dia untuk pergi, oke?" sahut Topan cepat. Getar yang tersembunyi dalam kata-kata Arimbi barusan sungguh membuat pemuda itu tak nyaman.
"Iya, aku tahu kok... By the way, namaku Arimbi, Reva biasa panggil aku Ai, yang mungkin Mas juga udah tahu. Boleh saya tahu nama Mas?"
"Saya Topan, Mbak..."
"Ma kasih ya, Pan. Kesempatan ini benar-benar tak akan ada kalau kita nggak ketemu..." ucap Arimbi lagi.
'Ibu, Topan kangen...'
****************
__ADS_1
Entah kenapa, Matahari nampaknya tengah merasa harus bekerja dengan sungguh-sungguh hari ini. Jam masih menunjukkan pukul 11.00, tapi Kay sudah tergeletak di teras dalam balutan singlet dan basah kuyup oleh keringat. Sejak subuh, ia sudah mengambil keputusan untuk kembali membuat rumah ini layak ditinggali manusia. Meski itu berarti menggunakan setiap percik tenaga yang ia punya, Kay tak perduli. Ia terus larut dan mencurahkan semua. Dan meski belum seperti gambaran yang pernah tertinggal dalam pikirannya, rumah mungil itu mulai menampakkan wajah cantiknya lagi. Dan dengan beberapa sentuhan cat, dan beberapa jam kerja keras yang lain, rumah ini akan siap ditinggali kembali...
"Kay, maaf ya. Tadi aku cuma berusaha bantu..."
"Berisik. Elu tuh hantu, Ray.. Jangan suka seenak jidat muncul di depan orang."
"Hiks... Ray udah minta maaf lho..."
Huh, hantu bengal satu itu mulai merajuk lagi...
Selepas peristiwa yang sudah membuat Arborite terguling-guling dalam tawa sebelumnya, Rayna mulai menguasai banyak 'kemampuan hantu' baru-nya. Ia mulai bisa 'menyeberang' dimensi dan muncul seperti manusia biasa, atau mewujudkan dirinya sendiri di alam manusia, meski belum mampu mengendalikan kemampuan itu dengan sempurna dan seringkali, ia tak mampu menahannya lebih dari 5 menit setiap kali. Menurut Arborite, tak banyak mahluk seperti mereka yang bisa melakukan itu. Selubung pemisah alam yang diciptakan oleh Sang Pencipta terlalu hebat untuk ditembus...
Dan susahnya, kegembiraan hantu konyol itu keterlaluan. Dengan keinginannya yang hebat untuk bisa berinteraksi dengan manusia lain, ia memutuskan untuk menerima tamu yang datang karena penasaran dengan aktivitas yang terjadi di rumah yang sudah lama kosong itu. Dan hasilnya, Pak RT dan beberapa orang lain meninggalkan rumah dengan muka pucat dan bibir yang bergetar karena sosok wanita cantik yang membuka pagar dan menyambut mereka, berubah menjadi transparant dan menghilang seiring waktu...
"Lain kali, panggil aku aja. Jangan temuin sendiri!"
__ADS_1
"Iya, Kay... Maaf..."
Yah, tapi mesti bagaimana lagi, Rayna terikat di dunia ini karena kesalahanku. Jadi sampai nanti akhirnya bisa kutemukan cara membenahi ini semua, aku harus menahankan diri dengan berbagai ulah dan kelakuannya yang seringkali bisa membuat bahkan manusia yang paling sabar naik darah.