Kisah Perjalanan

Kisah Perjalanan
There (will) always be a new dawn


__ADS_3

Sudah hampir satu jam, namun Kay masih terpekur disitu, seakan tak lagi mempunyai kekuatan untuk sekedar berdiri dan melanjutkan niatnya. Halaman dan teras serta berbagai bagian luar dari rumah itu sudah tertata rapi dan bersih. Bahkan berbagai sampah sisa hasil pembersihan sudah tertumpuk rapi di luar pagar.


"Kay, Ray tahu ini semua tidak mudah. Tapi kamu sudah sejauh ini... Menundanya hanya akan membuat semua ini menjadi semakin berat..."


Kay menghela nafas berat. Meski enggan, ia tak mampu menyangkal perkataan Rayna yang bergema di dalam pikirannya.


"*Sudahlah, Ray. Biarkan bocah hijau itu sendiri dulu sampai ia menemukan hatinya..."


"Tapi mereka sudah menunggu sedemikian lama, Bo, dan.."


"Sudah. Diam. Jangan banyak omong!"


"Huft, dasar Abo! udah tua, jelek, masih jadi setan juga. Pantas*..."


Dan mereka berdua semakin aktif saling mengatai satu sama lain, tapi untuk kali ini, Kay hanya terus nanar memandang pintu di depan. Suka tak suka, ia toh harus menghadapinya. Ia tahu bahwa memang hanya dia yang akan bisa mengirim arwah kedua orang tuanya 'pulang'. Kay hanya belum mempunyai kekuatan hati untuk melakukannya. Ia hanya mampu duduk di lantai teras, memeluk lututnya sekuat tenaga ketika kesedihan semakin berkembang dalam hatinya. Ia bahkan tak menyadari sosok lain yang hadir dan melihat ke padanya.


...----------------...

__ADS_1


Perlahan, awan berarak dan merebak, menyebar dalam formasi sempurna, bergerak menyelimuti bulan yang pucat dan meniadakan sedikit sinarnya yang tersisa. Memberikan keleluasaan bagi para hewan penguasa malam untuk semakin jumawa dalam keliaran mereka. Tanpa tata krama, menghilangkan semua strategi yang biasa mereka lakukan, asyik berkeliaran dan menyerbu tempat sampah yang bahkan tak mampu menampung sebagian kecil darinya dan mengonggokkan semuanya di pinggiran, menguarkan berbagai macam bau yang menyengat.


Tapi gadis kecil dengan rambut terkepang dua itu nampak tak terganggu. Gelap malam yang menyelimuti berbagai bentuk bangunan dan menyamarkan mereka ke dalam berbagai bentuk menyeramkan yang menghadirkan rasa takut ke hati bahkan orang yang paling berani sama sekali tak mengganggunya. Langkahnya mantap menyusuri jalan ber cor semen yang berlubang di banyak tempat. Tangan kecilnya sesekali menyentuh berbagai dinding bangunan di sepanjang jalan. Mulut kecilnya terkadang mendendangkan nada tak jelas, potongan nada dari berbagai jenis lagu yang entah apa judulnya ketika langkahnya semakin menjauh ke dalam kegelapan yang berkuasa, seiring dengan semakin jarangnya rumah dan berbagai bangunan...


...----------------...


Sekuat tenaga Kay berusaha menahan isak yang membuncah keluar, menekan dada hingga sakit rasanya. Sosok wanita setengah baya yang tengah berdiri di hadapannya itu takkan pernah bisa ia lupakan. Senyum lembutnya masih sama seperti yang Kay ingat selama ini.


"Ibu...?!"


Wanita itu tersenyum makin lebar. Setetes air mata mengalir turun tanpa mampu tertahan ketika tangannya terkembang dan menarik Kay ke dalam pelukannya. Tangannya lembut mengelus punggung Kay yang bergetar dalam isak tangis yang tumpah.


Tangis Kay tak terbendung. Suara lembut penuh teguran namun berlumur cinta itu meledakkan berbagai kenangan dan perlahan mampu menentramkan hatinya. Kay tak mampu berbicara, ia hanya menumpahkan semua hal yang ia alami dan rasakan selama ini lewat tangisan.


Perlahan, sosok wanita itu mendorong Kay menjauh. Senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya sedikit melebar.


"Aku tak ingat pernah membesarkan anak cengeng seperti ini lho kayaknya..." godanya sambil berusaha membuat Kay melihat matanya.

__ADS_1


Kay tertawa kecil dalam tangisnya. Hatinya menghangat dan dengan lembut, ia mengambil tangan wanita yang ia rindukan dan sesali sejak kepergiannya itu, dan menciumnya.


"Kay sudah pulang, Ibu. Kay minta maaf, sudah pergi terlalu lama..."


Wanita itu tersenyum makin lebar. Wajahnya yang nampak baik hati penuh dengan rasa pengertian.


"Kamu sudah tidak marah pada Ibu?"


"Kay minta maaf, Bu. Kay tidak bisa menerima semua yang terjadi pada keluarga kita waktu itu. Tapi sekarang Kay mengerti..."


Wanita itu tertawa lembut dan kembali memeluk Kay erat, kemudian perlahan mencium jidatnya ketika perlahan, tubuhnya seakan terurai dan menghilang bersama udara.


Sudah waktunya kamu lanjutkan langkahmu, Nak...


Suara itu berdering jauh di dalam pikiran, menyadarkan Kay dari mimpi yang barusan menyergap. Ray dan Abo masih asyik saling memaki satu sama lain, dan ternyata, ia masih terduduk sambil memeluk kedua lututnya sambil memandangi pintu rumah yang tak berani ia buka. Tapi sekarang ia sudah siap...


Akhirnya, setelah sekian lama, Kay memahami apa maksud perkataan Bapak dulu, hal yang paling suka beliau ucapkan ketika berusaha menenangkan anak semata wayangnya yang kadang bengal dan terpaksa harus memghadapi masalah berat.

__ADS_1


"Ingat, Kay, meski matahari akan tenggelam di akhir hari, ia pasti akan terbit lagi besok. Apapun yang terjadi, malam pasti akan terhapus pagi, Nak..."


Yah, meski omongan bapak kadang aneh, tapi Kay bisa mengerti itu sekarang. Dan apapun yang terjadi, ia harus menghadapi "malam" sebelum pagi bisa datang. Dan perlahan, bibirnya mulai melantunkan mantra. Hatinya mulai menjadi sejernih kristal ketika pengertian dan penerimaan menguasai diri. Kekuatan yang mengundang badai mulai bergerak dari kedalaman dirinya, namun entah kenapa, kali ini alam tidak menggila. Angin yang datang meniupkan berbagai aroma bunga dan sehangat angin awal musim panas, lembut dan nyaman membelai malam dalam kelembutan yang melenakan. Mendorong Kay untuk berjalan dan menerima setiap hal yang terjadi sebelumnya. Meninggalkan Ray dan Arborite yang ternganga, Kay memasuki rumah...


__ADS_2