
Sebagaimana badai yang terus mengamuk di luar basecamp, ingatan Reva mengalir masuk ke dalam pikiran dan membanjirinya dengan berbagai pengalaman, cerita dan perasaan, yang seakan menggulung perasaan.
Topan hanya mampu bertahan sekuat tenaga supaya tak terhanyut dalam alur perasaan yang sangat kuat ini ketika ia tertatih dan berusaha mencari tempat untuk sejenak, mengistirahatkan mentalnya yang terus tergerus...
****
"Bodo, pokoknya Ai' ikut!"
Reva cuma mampu menghela nafas berat dan mulai mengisi Carriernya dengan logistik dan berbagai peralatan keselamatan untuk 2 orang. Ketika Arimbi sudah meradang seperti sekarang, serasional apapun penjelasan yang dimunculkan, hanya akan berbalas kata "Bodo!" dan ia akan tetap menempel kemanapun Reva pergi.
Bahkan ucapan dan larangan Bram, kakaknya, yang juga rekan Reva di Mapala, sama sekali tak akan bisa menyurutkan langkahnya sedikitpun.
"Sorry yo, Bro. Nampaknya perjalanan ini akan sangat traumatis untukmu." sahut Bram sambil tergelak-gelak dan pergi.
"Bahagia amat lu, DEMIT!!!" balas Reva sambil berusaha melemparkan sepatunya ke arah Bram yang sudah berlari membawa tawanya.
Meski sebenarnya, perjalanan ini pasti akan sangat seru. Meski di permukaan ia bersungut-sungut, Reva bahagia.
Akhirnya ia menemukan sosok yang ia cari. Seseorang yang rela untuk berusaha mengerti kecintaannya akan gunung dan berbagai kegiatan luar ruangan yang ia perjuangkan. Ia tahu kalau bahkan Arimbi bahkan malas untuk berjalan keluar dari kos untuk beli makan. Cewek itu lebih memilih untuk mengeluarkan motor meski warung langganannya hanya berjarak sekitar 100 meter dari kosnya, dan cewek ini nekat untuk menyertai pendakian.
Meski ia sadar, ekspedisi ini akan sangat melelahkan, tapi tanpa sadar, Reva bersenandung bahagia dalam persiapannya.
Tapi hal yang tak ia perhitungkan adalah bagaimana kondisi bisa berkembang menjadi sedemikian buruk.
Hampir 3/4 perjalanan harus ia lalui dengan menggendong Carrier dengan 2 kali bobot yang biasa ia bawa di bagian depan dan menggendong Arimbi di belakang, tapi ini masih bisa Reva nikmati.
Kapan lagi punya kesempatan jadi hero sekaligus ditempelin badan cewek yang disuka dengan kakaknya memperhatikan? batin Reva senang.
"Istirahat dulu, Va. Fisik kamu juga berbatas lho..."
Dan kalimat inilah awal mula kekacauan yang terjadi.
Perhatian yang wajar diberikan dari seorang rekan, yang kebetulan cewek, yang kebetulan pernah menyatakan suka dengan Reva dan ditolak, yang kebetulan juga lumayan benci dengan Arimbi yang dia anggap memberikan beban yang tak perlu ini yang menjadikan perjalanan menjadi mulai tak menyenangkan.
Arimbi mulai melakukan berbagai hal yang tak masuk akal.
Dengan fisiknya yang memang tak terlatih, ia memaksa untuk berjalan sendiri. Sekuat tenaga, ia berusaha mencoba membuktikan kalau ia bukanlah beban yang tak perlu.
"Udah, kalian duluan aja. Biar Ai' bareng aku. Bram, kamu leader ya..." sahut Reva santai, masih dengan senyum sabar yang terkembang lebar ketika anggota rombongan yang lain mulai mengeluh karena perjalanan mereka terhambat oleh Arimbi yang kelelahan dan sering minta istirahat.
Kebahagiaannya tak terbendung ketika melihat bunga kecil pujaannya mencoba untuk menjadi sosok yang tak bisa diremehkan.
"Va, kamu yakin?"
"Udah, duluan. Nanti aku nyusul. Tenang, kalau Ai' capek, biar nanti kami nge-camp aja di bawah Pestan" sahut Reva.
"Enggak! Aku lanjut puncak!" tandas Arimbi pelan di tengah nafas yang masih belum teratur.
"Tuh, Ai' aja mampu kok. Udah, kalian duluan. Kami pasti sampai puncak kok." sahut Reva cepat sambil melambaikan tangannya.
__ADS_1
Bram hanya mampu memberikan tatapan memohon maaf ke arah Reva sejenak sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan. Arimbi adiknya, dan ia tahu bagaimana perasaan anggota rombongan yang lain terhadapnya.
"Va duluan aja. Kak Reni kayaknya pengen banget tuh ditemenin!" tandas Arimbi sengit di tengah nafas yang dengan susah payah ia coba dapatkan.
"Eeeeh, pacarku cemburu to?" sahut Reva sambil tertawa terbahak-bahak.
"Apaan sih?!" potong Arimbi sambil membuang muka, berusaha menyembunyikan rasa malu yang nampaknya terbakar di pipinya.
Reva masih tertawa ketika ia melepaskan Carriernya dan duduk di samping Arimbi, lalu merangkulkan tangannya.
"Ternyata dicemburui itu rasanya kayak gini ya? Asyik juga." sahut Reva dengan sisa tawa yang masih terpetakan jelas di wajahnya.
"Huft. Sombong! Udah sana duluan aja. Ai' disini juga nggak papa kok!"
Dan tawa Reva berkumandang semakin keras mendengar jawaban Arimbi yang ia rasa, makin menguatkan dugaannya.
"Ai' tahu nggak kalau Va tu sayaaaaaannng banget sama kamu?" ujar Reva dengan wajahnya yang masih menyisakan tawa. Hatinya sungguh bahagia.
"Va nggak pengen yang lain. Meski kadang Ai' tu egois, suka sesukanya sendiri, sewenang-wenang macam penjajah, terus.."
"Terusss...!" potong Arimbi kesal.
"Ha.. ha, I love u, Beb." sahut Reva cepat sambil mendaratkan kecupan singkat di pipi Arimbi.
"Ih, jahat lho." sahut Arimbi sambil mendorong wajah Reva menjauh, meski debar di hatinya sudah seperti ombak besar yang tak henti menabrak karang.
Reva cuma tertawa terbahak-bahak dan berdiri. Dengan santai, ia kembali memakai Carrier itu dan tangannya terulur. Hatinya sedemikian penuh dengan kebahagiaan. Keputusannya untuk nekat mengajak Arimbi berbuah sangat manis.
******
Sudut kecil yang kotor di depan sebuah mall di pusat kota ini sedikit sepi dari lalu lalang manusia yang tengah asyik menikmati malam. Deretan toko-toko sederhana nampak sudah menutup gerbangnya, meski malam belum terlalu tua. Di salah satu undakan di depan toko yang sudah tutup ini, Kay memilih untuk beristirahat. Sekuat tenaga ia mencoba menahan berbagai perasaan buruk yang muncul dari dasar hatinya.
Langkah telah membawanya ke tempat ini, kota yang menyimpan sedemikian banyak kenangan dan ingatan manis tentang hidupnya yang sempurna. Orang tua yang menyayanginya dengan seluruh hidup mereka, kawan dan teman yang selalu berusaha meringankan perasaan sedih selepas kepergian kedua orang tuanya, berbagai kenakalan dan kehidupannya tersimpan di banyak sudut kota ini.
Meskipun sebenarnya tempat ini menyimpan cerita mengerikan, namun Kay tak perduli. Bukannya ia tak takut pada berbagai cerita aneh tentang penunggu Simpang Kota yang seringkali memikat pejalan kaki hingga menemui kematian di tempat ini karena kecelakaan.
Namun Kay masih belum mampu melangkahkan kakinya untuk pulang. Tak perduli berbagai omelan, bujukan dan makian yang dilemparkan Arborite padanya. Hatinya belum mampu untuk melakukannya. Menurut orang-orang, banyak dari korban kecelakaan ini tiba-tiba saja muncul di depan sebuah kendaraan yang tengah melaju sehingga kecelakaan tak bisa dihindarkan dan tak ada dari korban ini yang pernah selamat meski bahkan jika kendaraan yang menabraknya tidak berkecepatan tinggi. Tapi masalah dalam pikirannya lebih mengganggu daripada berbagai cerita mitos tak jelas ini.
Belum lagi masalah tentang Rayna yang semakin lama semakin menyita pikiran. Arwah gadis ini semakin bertingkah seperti layaknya orang hidup yang dikucilkan dunia. Ia sering berteriak-teriak histeris di depan banyak orang, yang tentunya tak akan pernah bisa melihat atau mendengarnya sedikitpun. Ia akan berjuang untuk melakukan berbagai macam hal yang semakin lama terlihat semakin menyedihkan dan berakhir dengan ia yang merajuk selama sisa hari yang berlalu. Berbagai keluhan, ratapan dan raungan tangis akan muncul darinya selama beberapa waktu. Dan malam ini, nampaknya semua mencapai puncaknya ketika ia muncul dan menyeberang jalan dengan cepat ketika lampu merah menyala. Wajahnya sudah menunjukkan perasaan buruk yang muncul dan ia mendekat dekat cepat.
"Kay!"
"Sendiko dawuh, Njeng Ratu Rayna..."
"Jangan bercanda, Ratu sedang tak ada keinginan bercanda!" balasnya sengit sambil mengarahkan pandangannya ke arah Mall yang baru saja ia tinggalkan, tanpa menyadari kalau Kay berusaha keras menahan gelitik tawa yang memaksa muncul.
"Ray itu sebenernya cantik nggak sih? Nggak seksi apa kali ya? Atau orang-orang ini sudah buta semua matanya???" semburnya geram.
Hmmph, here we go again, batinku sedih.
__ADS_1
Tapi sama sekali tak ada keinginan untuk menginterupsi apapun yang tengah ia ocehkan saat ini. Terlalu banyak yang mengganggu perasaan untuk saat ini, hingga Rayna melakukan hal yang sama sekali tak pernah kukira akan dia lakukan. Ia mengangkat kemeja yang ia pakai, menghadap ke arah jalan raya dan mulai melompat-lompat sambil berteriak-teriak!
Mungkin jika ia manusia, mungkin banyak orang akan berpaling dan menikmati pemandangan indah ini. Aku hanya mampu tersenyum sedih dan berusaha bangkit untuk membuat Rayna menghentikan hal yang ia lakukan ketika sesuatu menghentikanku.
Tanpa kusadari, malam menggelap dalam aroma amis yang menekan kesadaran. Angin yang sebelumnya nyaris bisu ditengah riuh kendaraan yang melintas, memunculkan intensitas yang mengancam dalam keheningannya. Detak jantungku meliar dalam balutan rasa takut yang berkembang cepat dari ketiadaan. Entah bagaimana, namun setiap sel dalam tubuhku bagai berteriak dalam satu kata yang sama, LARI!!!
Tapi badanku serasa lumpuh. Aku bahkan tak merasakan Rayna yang mendekat dan memeluk tanganku dengan kuat. Nampaknya ia merasakan ketakutan yang sama, meski dalam takaran yang jauh berbeda dariku.
"Kay, ayo pergi.. Ray takut..." keluhnya lirih tanpa mampu menyembunyikan getar dalam suaranya.
Mataku liar mencari sebab kenapa hal ini terjadi tanpa mampu mengerti apapun. Riuh kendaraan dan orang yang berlalu-lalang masih tetap sama, namun entah kenapa, malam terasa lebih gelap dari sebelumnya. Udara yang pengap dan berat seperti menghadirkan perasaan akan datangnya badai yang sangat besar dan berbahaya, meski sama sekali tak ada yang berbeda. Hanya ada tambahan seorang nenek tua dalam balutan kebaya dan jarit, berjalan dengan pelan dan mencoba untuk menyeberang jalan. Kondisi badan yang kepayahan karena usia nampak membuatnya kesulitan dan ragu untuk menyeberang. Langkahnya terlihat sedemikian penuh kesulitan ketika ia berusaha untuk turun dari pembatas jalan sambil berpegangan pada tiang traffic light, yang tak mampu ia pegang dengan mantap. Persimpangan ini sangat berbahaya untuk seorang lanjut usia seperti itu, namun ketika aku hendak mulai beranjak untuk menolongnya, bentakan garang meledak dalam benakku.
"Jangan coba meneruskan apapun yang kau niatkan untuk kau lakukan, Bocah!"
"Arborite?"
Arborite tiba-tiba saja muncul dari ketiadaan dan dengan kasar menarik Rayna dariku.
"Kau ikut aku." geramnya cepat dan terus menarik Rayna menjauh tanpa memperdulikan apapun yang gadis itu lakukan dan menghilang lagi dengan membawa Rayna bersamanya. Namun aku bisa merasakan ketergesaannya dalam melakukan berbagai hal ini.
"Kau harus pulang, Kay. Selesaikan urusanmu dan kita akan bicara lagi nanti. MINGGAT DARI SITU! Roh pemakan jiwa itu jahat dan sangat berbahaya!!!"
Arborite sama sekali tak meluangkan waktu untuk memberikan penjelasan lebih. Tanpa memikirkan kebingungan yang terus muncul dan membesar, ia pergi dan menghilang tanpa meninggalkan rasa keberadaannya sedikitpun. Tapi ketergesaan dan rasa khawatir yang sangat kuat itu tak terbantahkan...
"Hmmm, aroma yang sangat memikat..."
Suara yang cuma sekeras bisikan sayup itu nyata sangat menakutkan. Tubuhku gemetar hebat tanpa mampu ditahan ketika tanpa tahu bagaimana caranya, nenek tua yang sebelumnya ada diseberang jalan itu sudah berada di depan mataku.
Tubuhnya yang ringkih seakan mengeluarkan aroma apek yang tercampur sedikit bau belerang yang menimbulkan rasa mengancam yang sangat kuat. Wajahnya nampak seperti sedang menghadapi hidangan yang sangat lezat dan menelengkan kepalanya. Telapak tangan yang nampak keriput itu terangkat perlahan. Aku tak mampu menggerakkan apapun ketika jari-jari kurus itu mengelus wajahku, mengirimkan rasa membekukan yang sangat mengerikan, lalu perlahan mengarah ke leherku. Ketakutanku memuncak hingga rasanya seperti kebas saat deburan jantung semakin melonjak tak terkendali.Sebuah pemahaman muncul dari ketakutan ini..
"Jiwamu akan mengenyangkan perutku untuk waktu yang lama, Bocah. Dan nampaknya, kau memiliki dendam yang kuat dalam dirimu. Kau pasti akan sangat enak, dan pasti akan kunikmati pelan-pelan untuk waktu yang lama..."
Bisikan sayup ini bagai datang dari kejauhan terbawa oleh angin dingin yang terus menyanyikan lagu kematian dalam keheningan yang menelan suara riuh manusia hidup yang mulai redup tertutup bayangan gelap, memudarkan setiap harapan yang ada dalam hatiku.
Aku pasti mati...
Pasrah, ketika ketakutan membuatku menutup mata, seutas doa pemurnian jiwa yang tertulis dalam kitab dari Arborite terlafal dalam batin, berharap, semoga saja Yang Maha Kuasa mau menerima jiwaku, meski sedikit penyesalan karena arwah kedua orangtuaku masih akan terperangkap di bumi ini mulai mengisi hati dengan kesedihan. Detik demi detik menunggu kematian datang ini ternyata sangatlah menyiksa...
Tapi kematian yang aku tahu akan datang tak segera muncul meski waktu telah berlalu.
Apakah aku sudah mati?
Namun ketika aku membuka mata, sosok nenek yang menimbulkan ketakutan yang mengerikan itu sudah menghilang. Meski perasaan kebas dan takut belum sepenuhnya hilang, malam seakan kembali mendapatkan suara dan kehidupannya. Beberapa orang yang lewat dalam perjalanan mereka nampak memandangku dengan heran, mungkin merasa aneh dengan orang yang berdiri dan nampak ketakutan disitu. Namun ketika aku menganggukkan kepala untuk menyapa, mereka membalasnya dan meneruskan langkah tanpa memperdulikanku lebih jauh.
Sial, nampaknya aku sudah hampir mati barusan...
Pikiranku bergerak dengan panik ketika hela nafas lega yang kuhirup membawa rasa lemas ke seluruh tubuh dan memaksaku untuk sejenak duduk kembali. Keringat dingin masih terasa mengalir dari leher membasahi kaos kumal yang kupakai. Berbagai pertanyaan tanpa jawaban berkeliaran dengan cepat.
Nampaknya cuma Arborit yang bisa menjawab semua ini, dan ia pasti takkan muncul di sini tak perduli apapun yang kulakukan, pikirku lagi sambil berusaha mengatur nafas yang memburu dalam sisa ketakutan yang masih berkelindan di tubuhku.
__ADS_1
Secepat mungkin aku mengumpulkan tenaga dan mengemasi setiap barang yang kumiliki lalu meninggalkan tempat ini.
Aku yakin Arborite pasti akan muncul ketika kondisi tidak menimbulkan ancaman baginya, batinku masam sambil beranjak meninggalkan tempat itu tanpa menyadari sesosok bayangan yang samar membayang dari tiang traffic light di seberang jalan. Sosok samar yang lama kemudian kembali mengambil bentuk nenek tua yang berusaha menyeberang jalan dan memikat manusia lain untuk membantunya menyeberangi jalan raya kota itu dan membuatnya celaka.