Kisah Perjalanan

Kisah Perjalanan
Warisan


__ADS_3

Seiring matahari yang beranjak, tekad Kay tumbuh. Nampaknya ia sudah mengambil keputusan. Terlalu banyak hal yang samar terkait masa lalunya, dan ia tak akan mampu melangkah ke masa depan tanpa kejelasan. Isi surat dari Ayah terlalu singkat dan nyaris tak menjelaskan apapun. Sementara ia sama sekali tak memiliki garis start, bagaimana ia bisa tahu di mana finishnya?


Ia tahu kalau informasi lebih jelas mungkin akan bisa ditemukan di jurnal yang selalu mendiang ayahnya bawa kemana-mana. Buku tua yang nyaris bisa dibilang compang-camping itu adalah harta yang tak boleh disentuh orang lain bagi mendiang ayah, tapi Kay tak bisa menemukan buku itu dimanapun. Namun ia masih belum mencarinya disana, di meja kerja ayah, atau ruang tersembunyi dibawahnya. Dan kali ini, mau tak mau, nampaknya ia harus mengambil resiko...


"Lakukan saja, Bocah. Kau hanya menunda sesuatu yang tak terhindarkan. Aku lelah..." ujar Arborite ketika Kay mengemukakan usulnya tentang membuka ruang dibawah meja kerja itu. Arborite tumbuh semakin lemah dari waktu ke waktu. Penghalang dunia manusia menggerus kekuatannya terlalu banyak..


"Semoga saja ini akhirku..." lanjutnya lemah.


"Kau jangan berbicara yang aneh-aneh, Setan Tua." sergah Kay sengit.


"Jangan bilang kau takut kehilangan aku, Nak?" ejeknya sinis.


"Ada baiknya kau tutup mulut dan berbicara dengan nada yang lebih pelan, Bo. Kau tahu apa yang akan terjadi kalau Rayna mendengar tentang ini?"


Arborite menyipitkan mata ketika sejenak ia nampak bergidik dan mendesis berbahaya, "Jangan sebut aku dengan nama itu, Bocah!"


Kay terkekeh pelan. Rayna adalah satu-satunya mahluk yang terus menunda dan memaksa supaya tidak ada siapapun menganggu apapun di dalam lingkaran itu. Ia terus merengek dan mengganggu ketika Kay berencana memasuki tempat itu. Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi ketika hal itu dilakukan, dan kenyataan bahwa tak ada seorangpun yang tahu, menurutnya akan lebih aman jika hal itu tak dilakukan.


"Cepatlah, Nak. Sebelum hantu centil itu datang dan mengganggu, lakukan apa yang harus kau lakukan. Minimal, aku tak harus melihat wajah konyol berurai air mata kalau ternyata simbol sialan ini menghancurkan keberadaanku." desaknya lebih jauh.


Kay menghela nafas, mencoba menguatkan hati dan perlahan memasuki lingkaran. Tapi ketika tak ada yang terjadi, langkahnya menguat. Ia segera menuju ke meja kerja tua itu. Dan tak lama, wajahnya bersinar dengan harapan ketika sampul buku usang yang selalu ia ingat tak pernah lepas dari mendiang ayahnya itu menyapa penglihatannya. Ia segera mengeluarkan buku itu dari laci dan selembar kertas kuning melayang jatuh darinya. Tulisan dalam huruf kawi dan berbagai simbol dalam tatanan yang mirip dengan lantai yang ia injak segera menarik perhatiannya, tapi ketika Kay hendak mengambil dan mengangkat lembar itu, teriakan Arborite menghentikannya.


"Kenapa, Bo?"


"Tunggu, Nak. Jangan kau hadapkan lembar busuk itu kearahku. Aku akan lebih buruk dari mati lagi kalau kau lakukan itu..."


"Sial, lalu aku mesti bagaimana?" sergah Kay frustasi. Ruangan tempat mereka berada saat ini tidak luas. Jika kertas itu punya kemampuan yang bisa membuat Arborite itu ketakutan, kertas itu pasti bukan sesuatu yang bisa dijadikan bahan untuk bercanda, sementara disini tak ada tempat untuknya bersembunyi.


*Lho, bukannya selama ini lembar ini berada disini dan tak ada yang terjadi pada Arborite?


Apa mungkin meja ini bisa menahan kemampuan kertas ini*?


"Sementara kau disitu, kau lepas saja lacinya, Kay. Tutup lembar itu dengan buku ditanganmu, dan masukkan ke laci, lalu keluar dari sini..."

__ADS_1


"Sebentar, emang kau tau ini apa, Bo?"


"Aku tak perlu tahu itu apa, Bocah! Aku merasakan tekanan dan tarikan yang amat kuat ketika kertas itu jatuh..." desaknya lebih jauh.


"Tunggu, nampaknya meja ini bisa menutupi efek kertas ini terhadapmu, Bo. Aku akan menariknya ke balik penghalang meja untuk melihatnya."


"Kau tak tahu itu dengan pasti, Bocah!"


"Bo, kenapa teriak-teriak gitu sih? Kay dimana?"


Sontak, suara seperti genta angin milik Rayna yang berdenting merdu itu membuat mereka berdua terperanjat. Lembar kertas menguning yang telah berada ditangan Kay memancarkan pendar cahaya kuat, yang langsung dipantulkan oleh kaca bagua* yang tersusun rapi di langit-langit ruangan, tepat diatas Kay yang bersembunyi di balik meja. Cahaya itu memandikan ruangan kecil itu dalam siraman kuat, ketika samar, denyut nampak muncul dari ketiadaan.


"RAYNAA, PERGI DARI SINI!!!"


Tapi semuanya sudah terlambat...


Dimulai dari tengah lingkaran, dinding cahaya berwarna putih mengembang dan meluas dengan kecepatan tinggi. Seakan seperti ledakan meriam elektromagnetik, ledakan senyap terjadi dan tiba-tiba, mendorong dinding cahaya itu keluar, menggusur setiap entitas yang berada di area itu. Dan secepat kedatangannya, cahaya itu menghilang, menyisakan hanya Kay sendiri di ruangan kecil itu dalam nafas yang memburu, masih dalam posisi yang sama.


"Ray? Bo?"


This is can't be happening, this must not be happening.


Rasa khawatir menyergap Kay. Ruangan itu kosong!


"RAYYYY!!! ARBORITEE!!!"


Sialan!!!


Kay terduduk lesu ketika pikirannya tersapu oleh kesedihan akut hingga terasa menghadirkan rasa dingin yang tak terperikan di hatinya. Tepat disaat ia mulai meyakini bahwa semua akan baik-baik saja, semua ini terjadi berturut-turut.


*Lalu, setelah ini, bagaimana lagi aku harus menjalani semua ini???


Tuhan, jika Kau memang ada, katakan padaku... Aku mesti gimana???

__ADS_1


Cara-Mu sungguh aneh dalam menuliskan takdir seseorang*!


"Tuhan, ..."


"Jangan kau lanjutkan mengutuk Dia yang maha hebat, Bocah. Kau tak pantas!"


"Abo!!!"


"Sudah kubilang kalau hantu centil itu pembawa masalah! Untung saja kali ini ia jadi pemecah masalah, meski murni karena keberuntungan. Sialan, Bocah, aku benar-benar berharap bisa mengenal ayahmu, dan hentikanlah teriakan-teriakanmu itu."


"Eh, Bo, tapi Rayna gimana?"


"Huh, cuma Rayna saja isi kepalamu itu. Entah keberuntungan apa lagi yang akan menyapanya. Ia terlempar agak jauh, dan nampaknya efek simbol itu baik untuknya. Keluar dari tempat itu, Nak. Aku tak mau mendekat kesitu!"


Kay terkekeh mendengar omelan sinis Arborite yang mengisi kesadarannya. Tak apa ia mengomel sesukanya, selama ia tak menghilang. Meski enggan, Kay menikmati kebersamaan ini. Ia bergegas memasukkan lembar konyol itu kembali ke dalam laci meja dan menutupnya. Ia hanya membawa buku tua ayahnya dan keluar dari ruang kerja. Dengan apa yang baru saja terjadi, ia makin penasaran dengan masa lalu macam apa yang melibatkan hal super aneh seperti ini. Simbol, koleksi rajah, pusaka-pusaka tua yang bahkan membuat entitas macam Arborite berdecak kagum, dan bahkan cermin Bagua???


Nampaknya semua ini makin aneh saja...


......................


Jurnal ini yang selalu menemani hari-hari ayahnya. Kay seakan bahkan bisa merasakan kehadiran ayahnya masih tertinggal disini, meski hanya dalam bentuk tulisan tangan yang dulu selalu ia coba tiru tanpa sedikitpun mendekati tingkat keindahannya. Sejenak, Kay terseret dalam kenangan yang saling berkejaran dalam otaknya, yang secara bertahap, memancing rasa panas muncul di kedua matanya..


"Kaaaayyyy, Aboooo, kalian ngapain aja sih?!!"


Teriakan mental yang mengisi kesadarannya ternyata mampu menghadirkan senyum kecil di bibir Kay.


*Ehm, nampaknya ia tak papa...


"Hei, Centil, ikut aku! Disini berbahaya!"


"Abo? Kau bisa keluar?"


"BERISIK! Ikut aku!"

__ADS_1


"Kaaay, Abo jahat!!! Kaaaaay*!!!"


Tapi pemuda itu hanya terkekeh pelan. Batinnya tak lagi memiliki privasi sekarang. Nampaknya ia telah lama menerima kalau hidupnya tak akan bisa "normal" seperti manusia lain. Seiring pertengkaran dua entitas tak beraga itu semakin sayup, Kay memutuskan untuk memulai perjalanannya. Ia menghempaskan badan ke salah satu kursi sofa di ruang tamu dan mulai membuka jurnal itu, berharap, semoga bisa sedikit menemukan jalan untuk mengurai keruwetan ini akhirnya...


__ADS_2