Kisah Perjalanan

Kisah Perjalanan
Sialan, Kok Serumit Ini Sih?


__ADS_3

Desir angin lembut membelai dedaunan, membawa serta aroma beragam bunga yang tersusun rapi di taman kecil, yang baru seminggu lalu selesai diremajakan oleh Kay, meski banyak tanaman baru menggantikan yang lama, minimal taman itu mampu memberikan warna bagi rumah yang sempat terjebak dalam suram kesedihan ini. Sementara suara gemericik air yang jatuh dari pancuran yang terpasang di tengah kolam ikan, satu-satunya hasil karya almarhum Bapak semasa beliau masih hidup, seakan riang bersenandung bersama kecipak ikan mas dan koi yang baru saja menikmati rumah baru mereka. Baru seminggu berlalu sejak rumah ini layak dihuni manusia.


Tapi bahkan tata cahaya yang berasal dari rangkaian lampu gantung, yang berasal dari ide Rayna, yang menyempurnakan tampilan malam landscape rumah kecil ini tak mampu membuat perasaan Topan menjadi ringan sedikitpun. Kejadian barusan menyentak inti keberadaannya kuat-kuat. Berbagai pemikiran yang ia yakini sebelumnya terancam runtuh dan membawa kewarasannya bersama dengan keruntuhan itu. Pemuda berambut gondrong itu bahkan tak menyadari kehadiran Kay, yang mendatanginya dengan dua cangkir kopi yang masih mengepul ditangannya.


"Ngrokok kok nggak ngopi. Kopi, Bro, cuma maaf kalau kurang manis, kopilu tanpa gula." celetuk Kay ringan sambil mengangsurkan cangkir ke pemuda yang nampak sangat tertekan itu.


Topan sedikit terkejut, namun ia cepat menguasai dirinya sendiri ketika tangannya terulur menerima cangkir berisi cairan pekat yang harum itu.


"Nampaknya hidupmu sudah sedemikian manis, Kay, sampai perlu diingatkan kopi bahwa ada pahit dan asam di dunia ini?"


Tak mampu menahan, Kay tergelak ketika mendengar sindiran tanpa selubung ini. Tapi ia tak terpancing oleh provokasi pemuda itu. Kay bisa mengerti apa yang tengah dialami oleh Topan saat ini. Ia tahu pasti bagaimana rasanya.


"Tuhan tidak menciptakan mereka untuk tinggal bersama manusia, itu yang kuyakini. Dan Dia, akan selalu memastikan manusia, kita, akan selalu memiliki kekuatan untuk membuat mereka kembali ke alam mereka sendiri!" ucapnya lagi ketika Kay tampaknya tak berniat untuk melayani provokasinya. Amarah Topan mulai naik lagi ke permukaan ketika dilihatnya Kay bahkan hanya tersenyum sambil menyeruput kopinya dengan santai. Topan mengertakkan giginya dan melanjutkan dengan penuh emosi.


"Aku tahu, susah melepaskan keinginan untuk menahan sosok secantik itu, tapi itu bukan berarti memberimu hak untuk mengacaukan hukum Tuhan, Kay!"


"Kita ngobrolnya santai saja, Pan. Ini sudah malam. Andini baru saja tidur dan bukan tak mungkin, Pak RT mendatangi kita bersama warga kampung kalau kita terlalu berisik." sahut Kay sambil tertawa kecil


"Tolong sedikit kau menghormati orang lain, Kay. Aku tak segan mati disini!" desis Topan berbahaya. Nampaknya ia sudah benar-benar murka.


Tapi Kay masih tersenyum. Ia mengeluarkan batang korek dari wadahnya dan menyusun sebuah angka dengan batang-batang itu.


"Menurutmu, ini angka berapa, Pan?"


"Aku tahu apa yang sedang kau coba lakukan, Kay. Benar, di sisiku, ini adalah sembilan, sementara di sisimu itu adalah enam. Tapi sayangnya, ini bukan masalah perspektif lagi. Ada aturan baku, yang sama dengan, merubah posisi angka ini menjadi nilai yang 'harusnya" sama untuk kita!" tukas Topan galak.


Sontak, jawaban ini membuat Kay tertawa terbahak-bahak. Hal yang membuat Topan sedikit terpana melihatnya.


"Aku suka berbicara dengan orang pintar," sahut Kay di tengah tawa. Tapi ketika melihat wajah Topan makin tak enak dilihat, Kay buru-buru melanjutkan.

__ADS_1


"Jadi mari kita ubah sedikit. Semut melihat kepala Gajah, dan dia mengatakan itu Gajah. Sementara yang lain melihat kakinya, yang lain lagi melihat pantatnya, dan masing-masing bilang itu Gajah. Menurutmu, siapa yang benar?"


"Kau terlalu berbelit-belit. Tentu saja semua benar!" sahut Topan berang.


"Kau salah, Pan. Masing-masing dari mereka hanya melihat bagian tubuh dari seekor Gajah. Mata mereka tak mampu melihat keseluruhan bagian yang menyusun Gajah itu sendiri, dan karena pengetahuan mereka tak cukup, mereka menganggap bagian tubuh yang mereka lihat itu adalah keseluruhan dari hewan itu sendiri..."


"Tunggu, tapi... Maksudmu..."


"Kita adalah semut-semut itu, Pan. Yang merasa bahwa apa yang kita ketahui tentang Yang Maha Pencipta itu adalah keseluruhan dari rencana-Nya..." desah Kay pelan tanpa mampu menyembunyikan rasa tak berdaya yang memaksa untuk muncul dalam hati dan menggoyangkan setiap pikiran dan keyakinannya.


"Ah.... Tapi..."


"Pernahkah kau berpikir, jika memang Dia tak menginginkan interaksi antar mahluk ciptaan-Nya terjadi, akankah penyimpangan macam aku, kamu, dan Andini, yang bisa melihat berbagai macam mahluk tak beraga perlu ada?" potong Kay.


Pertanyaan Kay ini benar-benar menghantam pemikiran Topan dengan keras. Namun ia tak menyerah ketika cepat, ia membalas pernyataan Kay.


"Kau kira Tuhan itu macam Al-Capone yang membutuhkan asisten dan rencana cadangan, Pan, sampai butuh manusia jadi cadangan penjaga alam milik-Nya dari kebocoran tirai pemisah alam. Menurutku kau terlalu percaya diri sampai keblinger kalau kau nekat berpikir seperti itu." cibir Kay kejam, meninggalkan pemuda kokoh di hadapannya itu nampak salah tingkah.


"Hukum Tuhan itu absolut, Pan, tak terbantahkan adanya. Tapi bukan berarti semuanya sesederhana itu adanya. Kau pikir, mahluk tua konyol macam Abo itu mau tertahan di tempat kotor ini? Andai kau tahu, justru untuk menebus kesalahannya, dia diharuskan tertahan di neraka hidup ini entah sampai kapan dan entah melakukan apa untuk bisa pulang. Kau sudah tahu ini, Semut?"


"Bagian dari Gajah yang mana menurutmu ketika manusia sesat, menggunakan beragam cara untuk mencapai tujuan mereka dengan menangkap berbagai entitas yang tidak seharusnya berada di alam ini, Mut?"


"Atau mungkin arwah-arwah yang tanpa keinginan mereka sendiri, tertahan dan terantai di alam fana ini karena keegoisan manusia, diikat oleh berbagai rasa sedih, takut ditinggalkan, rasa bersalah dari mereka yang masih hidup?"


"Pernahkah kamu berpikir sejauh ini sebelum kau rapal mantera dan menghancurkan keberadaan mereka yang mungkin hanya berharap dan beroleh kesempatan umtuk kembali ke Sang Pencipta??!" cecar Kay tanpa henti, tanpa memberikan sedikitpun kesempatan pada pemuda itu untuk menjawab, meski tampaknya Kay sendiri sudah larut dalam kesedihan yang menyiksa hatinya sendiri. Ia bahkan tak lagi memperhatikan Topan yang tertunduk lesu dengan air yang mengalir turun dari matanya. Kay sudah berdiri dari kursinya, penuh amarah ketika ia terus mencecar Topan dengan berbagai hal yang sebenarnya, pernah dan bahkan mungkin masih mengganggunya hingga saat ini. Nada suara yang sebelumnya pelan dan santun itu mulai menguat dalam amarah yang membakar.


"Aku yakin tidak! Kau terus saja dengan idealisme bengkokmu, merasa tahu apa yang Tuhan inginkan. Kau cuma..."


"Kayyy! Sudah, berhenti. Ray disini. Sudah, jangan seperti ini..." bisikan lembut penuh bujukan itu yang akhirnya menyadarkan Kay dari kegilaannya. Sosok lembut Rayna yang muncul dari ketiadaan dan nekat memeluk Kay, meski badan pemuda itu terselubung api berwarna merah kehitaman, buah kekuatan angkara yang muncul tanpa mampu ia kendalikan.

__ADS_1


"Bocah, kendalikan dirimu... Kau menyakiti Rayna..." bujuk Arborite pelan tanpa mampu menyembunyikan kekhawatiran yang ia rasakan. Ia cukup mengenal hantu bodoh ini. Meski Arborite sendiri tak terlalu yakin mahluk apa Rayna kini dan apakah api arwah akan berpengaruh padanya atau tidak, akan lebih baik jika meminimalisir resiko. Tapi jika melihat wajah penuh rasa sakit yang coba hantu bucin itu tahan dan sembunyikan, tampaknya hal yang ia hadapi saat ini tidak sederhana. Dan Arborite yakin, Rayna tidak akan melepaskan Kay sebelum ia mengatasi krisisnya...


"Tidak. Jangan dengarkan Abo, Kay. Abo itu jahat, tolol. Kay tidak pernah sakiti Ray. Sudah Kay, jangan marah lagi... Kay hanya sakiti diri sendiri jika kau seperti ini..."


"Huh, bucin tolol! Ogah tolongin deh. Biarin, garing garing deh. Bodo!"


Tapi bahkan Rayna tak menanggapi seruan mental Arborite. Ia hanya memeluk Kay yang masih gemetar menahan amarah. Meski jilatan api arwah yang menyelubungi tubuh Kay tak henti membakar setiap inchi keberadaannya, Rayna tidak perduli. Jika Kay sampai tersesat dalam buaian kekuatan mengerikan ini, tak akan ada jalan kembali baginya, ini yang ia tahu, dan Rayna sama sekali benar-benar tak menginginkan ini terjadi. Tak apa jika akhirnya ia harus menghilang, selama Kay tak menjadi sosok yang tak pernah ia inginkan...


"Maaf, Mbak. Ijinkan saya membantu."


Tapi belum sempat Rayna bereaksi selain menolehkan kepalanya, Topan sudah bergerak dalam kecepatan tinggi. Entah sejak kapan ia mampu mengatasi dirinya sendiri dan bergerak ke belakang Kay. Hanya saja kali ini, tak ada mudra. Tak ada mantera. Pemuda itu hanya menggosokkan kedua tangannya, lalu meraih kepala Kay dengan telapak tangannya, menyentak dan akhirnya membaringkan pemuda itu dalam suksesi yang sangat cepat, sementara ketika badan Kay tertarik ke belakang, telapak tangan yang sebelumnya ia gunakan untuk menutup mata Kay dan meraihnya sudah mendorong Rayna ke belakang dengan lembut. Mencegahnya tertarik oleh Kay yang sudah kehilangan kesadaran dan perlahan, dibaringkan oleh Topan di lantai.


Melihat ini, bahkan Arborite terperangah...


"Woww, kau hebat, Bocah. Bahkan bocah-bocah anggota Bhayangkara itu tak memiliki keanggunan gerakanmu! Kau setan tua darimana?" semburnya dengan bersemangat seperti bocah laki-laki yang menemukan mainan favorit yang sudah lama ia inginkan tergeletak didepannya, yang sontak membuat Topan bengong.


"Ahhh, Abo apa sih?! Mas, Kay kenapa?" sergah Ray ganas, menarik baju Arborite yang bersemangat menghampiri Topan yang masih berusaha membenahi posisi Kay.


Ada apa dengan hantu-hantu ini sebenarnya? Bhayangkara?


Polisi atau apa maksudnya sih???


Tercengang dengan kelakuan dua hantu nyentrik ini, Topan bahkan tak mampu berkomentar sedikitpun. Apalagi ketika dua entitas gaib ini mulai bertengkar sambil saling menarik baju, berusaha menjadi yang lebih dulu mencapai Kay dan Topan.


Sialan, tampaknya memang aku perlu belajar lebih banyak lagi. Pengetahuanku terlalu dangkal, jangankan mencoba mengikuti pola pikir Kay yang sedemikian rumit tadi, melihat dua orang ini saja aku tak mampu melihat ujung pangkalnya, desah Topan dalam hati.


Dengan seluruh rangkaian hal yang terjadi di hari ini, mau tak mau, ia harus berusaha untuk mencoba membuka pola pikirnya sedikit lebih luas lagi, meski sebenarnya ia sedikit merasa enggan. Hal-hal baru selalu menakutkan, meski ada kalanya menarik dan bisa jadi penuh petualangan.


Sialan, kenapa semuanya jadi serumit ini sih? jerit pikiran Topan tanpa daya

__ADS_1


__ADS_2