
Melihat pemuda gondrong berbadan liat, yang mencoba berdiri meski alkohol mengaburkan langkahnya itu, mau tak mau Kay merasa sangat tidak berdamai.
Pembicaraannya dengan orang ini, atau pengalaman hidupnya, dan bahkan interaksinya dengan almarhum Ayah, menimbulkan rasa iri dalam hati Ray. Tapi entah bagaimana, berbicara dengannya juga menghadirkan rasa nyaman. Seolah berbicara dengan manusia yang bisa menerima apapun, setidak masuk akal apapun kondisinya. Dan Kay menyukai orang ini, sesableng apapun dia.
Perlahan, Kay menghela nafas ketika keputusan terbina dalam hatinya. Tampaknya memang ia perlu belajar bagaimana cara menjadi orang hidup sebelum berbicara tentang dunia kematian, dan tampaknya, orang ini dapat mengajarinya lebih jauh.!
"Udahan yuk, Bang. Balik. Besok kerja lagi lho..." ujar Kay ketika dilihatnya Pangky masih bergoyang, berusaha untuk tetap berdiri tegak sambil menuntaskan kebutuhannya. Rupanya pemuda sableng itu tengah buang air kecil tanpa perduli dimana dia berada saat ini.
"Ga bisa kerja besok. Pantai pasti ditutup." jawabnya sambil meendengus kecil.
"Et, emang kenapa kok ditutup, Bang? Ada acara po?" balas Kay sambil mengerutkan kening. Seingatnya tidak ada pemberitahuan apapun terkait penutupan pantai.
Namun jawaban setengah melayang yang muncul dari mulut pemuda itu membuatnya tersentak.
"Ada 2 mayat menggeletak di tangga akses jalur pantai, 1 ketakutan setengah mati sambil garuk-garuk badan sekuat ia bisa, 1 orang ketakutan, burungnya bengkak sebesar bebek. Apa menurutmu pantai bakal dibuka kalau ada yang seperti itu?"
??!
"Eh, maksudmu apa, Bang?" balas Kay tanpa mampu menyembunyikan getar dalam suaranya.
"Sekelompok orang tolol, mencoba memperkosa mahluk hebat bernama Kumala Ratri, sosok yang kamu cari-cari itu. Wajar kalau mati." jawab Pangky ringan sambil tertawa kecil.
Wtf??!
"Dan Abang tau ini dari?"
"Kau tanya saja gadis yang duduk disampingmu itu." jawabnya lagi sambil tertawa kecil.
...****************...
Tak jelas bagaimana Kay berakhir terkapar di kamar hotel saat goyangan keras mengguncangnya dari mimpi kabur yang mengisi tidurnya. Wajah pucat Topan menyapa ketika Kay membuka mata.
"Wooi, bangun, Cempedak Hutan! Semua orang panik, kau ngorok kayak gergaji mesin. Pake empati dikit dong!' sergahnya gusar sambil terus berusaha membuat Kay menarik dirinya sendiri dari alam mimpi.
"Kamu ni ngapain aja sih? Kepalaku masih sakit, Pan!"
"Aku.."
"Nggak"
"Perduli."
"BANGUN!!!"
Mau tak mau, Kay tersentak duduk. Kekuatan tangan Topan bukanlah hal yang ringan untuk ditanggung.
__ADS_1
Sambil menahan jengkel yang menguat, Kay berusaha bangun dari tempat tidurnya, terus berupaya untuk mengumpulkan kesadaran yang masih tercecer akibat minuman berkadar alkohol tinggi semalam.
"Ada 2 orang Pecalang menunggu di bawah. Mereka mau bertanya kemana aja kau semalam." desis Topan pelan.
"Sebenarnya ada apa sih ini? Pagi-pagi ribut tak karuan. Dan apa juga masalah Pecalang ini?" dengus Kay parau sambil menggeleng-gelengkan kepala, mencoba menghilangkan denyut yang belum ingin melepaskan siksaan pada otaknya.
"Ada 2 orang mati di pantai. 1 lagi mati dalam perjalanan ke rumah sakit karena bersikeras merobek daging dari badannya sendiri dengan tangan dan kuku, dan 1 lagi meratap-ratap karena burungnya bengkak. Sementara, nyaris seluruh petugas shift malam hotel melihat kau pergi malam dan pulang hampir pagi. Menurutmu, apa yang perlu kujelaskan?"
Kay terperangah. Samar, ingatan mulai muncul dari alam bawah sadarnya...
Kumala Ratri!
Ketika kesadaran mulai muncul dan menyusun cerita yang lengkap, Kay tergopoh-gopoh menuju kamar mandi tanpa menghiraukan Topan yang tak henti merepet tanpa kendali.
Benda terkutuk itu harus segera diambil dan disegel sebelum menelan lebih banyak korban!
......................
Dreamland beach disegel!
Kejadian mengerikan itu dikunci rapat-rapat, ketika berbagai petugas adat mengambil setiap langkah cepat, dan meminimalkan setiap efek negatif yang mungkin muncul.
Pecalang nampak terlihat di berbagai sudut, menjaga lokasi dalam bentuk radius, dan memastikan tidak ada pihak yang tidak berkepentingan mendekat. Sementara beberapa Pendande nampak memulai ritual penyucian, mencoba untuk mencari sebab dan memastikan hal buruk ini tidak terjadi lagi kedepannya.
Hampir sepanjang pagi, kedua Pecalang berbadan kekar itu terus menanyakan berbagai hal yang sama tanpa jeda. Hanya ketika Pak Wayan, seorang Pedande di situ menghentikan kedua orang itu dan menyuruh mereka untuk pergi.
Hanya kemudian Pak Wayan berkata pelan.
"Saya mengerti kenapa Anak disini. Meski kejadian ini tidak bisa disalahkan padamu, tapi saya yakin pasti ini ada hubungannya denganmu. Jika memungkinkan, tolong selesaikan secepat mungkin."
Dan ia pergi begitu saja.
Banyak waktu berlalu sebelum kemudian tangan kuat menepuk bahu Kay ringan. Rupanya Pangky kembali muncul dengan gelas dan botol air mineral yang isinya tentu saja sangat jauh berbeda dengan yang seharusnya.
Pemuda itu segera menarik kursi dan duduk dengan santai, untuk kemudian mengisi kedua gelas yang ia bawa lalu menyerahkan salah satunya pada Kay.
"Kumala Ratri-kekuatan negatif yang memiliki kemampuan pesona bagi manusia yang menaklukkannya."
Kay melongo mendengar ini. Orang ini ngomong apa?
"Ketika itu muncul, kekuatan itu, yang sebelumnya tak memiliki wujud, konon mengambil dendam keinginan seorang wanita yang diperkosa sampai mati di tempat dimana mayat kemarin di temukan." lanjutnya setelah mengangkat botol itu ke mulutnya dan menenggak isinya.
Kay semakin tak mengerti. Jika itu benar kekuatan dari benda terkutuk koleksi kakek, lalu siapa pula Kumala Ratri ini sebenarnya?
"Anu, maaf, Bang. Kemarin Abang bilang kalau Kumala Ratri ini adalah yang kucari. Tapi dari cerita Abanh, kayaknya kita ngomong tentang hal yang berbeda deh." jawab Kay setelah berusaha melicinkan tenggorokan akibat menyesap minuman keras yang diserahkan Pangky padanya.
__ADS_1
"Jika yang kamu cari ini adalah mutiara seukuran kelingking dengan emban dari emas tua dalam bentuk ular yang melingkarinya, maka berarti kita membicarakan hal yang sama."
Kay semakin melongo. Cincin itu memang salah satu benda terkutuk milik kakek!
"Aku tak tahu apa yang mendorongmu dan aku bisa melihat keterpaksaanmu dalam melakukan ini, tapi tampaknya aku perlu membuka pikiranmu sedikit lebih jauh, Kay." lanjutnya lagi seakan ia bisa membaca pikiran Kay.
"Menurutmu, minum alkohol ini baik tidak Kay?"
"Huh, ya jelas enggak, Bang. Apalagi yang sekeras ini." tandas Kay cepat.
"Disini kau salah lagi. Harusnya kau balik bertanya, seberapa banyak minumnya." sahut Pangky sambil terkekeh dan kembali mengangkat botolnya.
"Pemabuk berbicara. Kalau semua maling ngaku, ya penjara penuh, Bang." balas Kay lagi sambil bersungut ketika dilihatnya pemuda itu terus mengangkat botol tanpa jeda.
"Maksudku adalah, semua hal itu tidak baik jika berlebihan, Kay. Sama seperti alkohol untukku dan kebencian dihatimu."
Mendengar ini, Kay terhenyak. Pandangan pemuda berambut gondrong itu tenang, seakan mengandung danau tanpa riak yang tak terukur dalamnya. Didepannya, seakan semua rahasia Kay terlihat sangat jelas.
"Terkutuk atau tidak, kakekmu pasti memiliki alasannya sendiri. Ya, aku juga tahu tentang hal itu. Aku pernah mengikuti ayahmu mengambil kembali sajadah dan kopiah kakekmu dari seorang yang mengaku ustad di daerah Jawa Timur." sahutnya ketika melihat pandangan penuh tanya dari Kay.
"Benda itu mendorong orang untuk taat dan menjalankan perintah agama dengan ekstrim dengan menunjukkan berbagai fenomena dan keajaiban, dan kemudian mendorong orang untuk berbuat hal jahat untuk terus menikmati keajaiban ini."
Kay terdiam mendengar ini. Informasi yang benar-benar mengerikan!
"Orang itu menghilangkan nyawa 4 orang, membuat beberapa wanita kehilangan masa depan dan 8 orang anak laki-laki mengalami gangguan jiwa karena kelakuannya. Dan dia nyaris berubah menjadi Iblis itu sendiri ketika kami mengambil barang itu darinya."
"Lalu, apa hubungannya dengan masalah alkohol tadi Bang?"
"Lucunya adalah, orang itu bahkan tidak perlu melakukan segala hal buruk yang ia lakukan saat itu jika ia memiliki keteguhan hati yang dibutuhkan untuk menggunakan benda-benda itu. Sama seperti aku, yang rela bekerja keras sekuat tenaga hanya supaya aku bisa memiliki cukup uang untuk membeli merk minuman keras yang kuinginkan." lanjutnya sambil sedikit tersenyum.
"Jadi maksud Abang adalah?"
"Bukan barangnya yang jahat, Kay. Manusianya yang nggak bisa pakai... Jadi kau tak boleh menghakimi siapapun terkait hal ini. Khususnya kakekmu."
Kay menghela nafas berat. Penjelasan ini terasa sedikit berat untuk ia terima. Kenyataan bahwa ada sedemikian banyak barang di dalam daftar menyurutkan setiap niatan baik dalam pikirannya.
"Hal yang jelas adalah kau bertanggung jawab untuk menjauhkan barang itu dari manusia lain yang nggak ngerti bahayanya. Kakekmu tahu bahayanya, maka aku yakin, dia tak akan menggunakan benda-benda itu dengan tak wajar."
"Tapi bagaimana Abang yakin?" ujar Kay sangai.
"Seorang yang mampu mendidik manusia sebaik Ayahmu tidak mungkin jahat, Kay..." balasnya pelan sebelum kemudian berdiri dan beranjak pergi dengan sedikit gontai, meninggalkan Kay dalam perasaan menyesakkan yang tiba-tiba saja membuat air matanya ingin menetes keluar.
Siang mulai beranjak menuju senja ketika angin terus bermain dengan alam, membawa rasa rindu yang perlahan mendesak dari kedalaman pikiran Kay tentang sosok baik hati yang seringkali mengenakan kacamata hitam berbingkai kawat dan mengenakan peci yang warna hitamnya mulai memudar itu.
Kakek, Kay bingung mesti berpikir seperti apa....
__ADS_1