
Muka Prameswara semakin gelap. Teriakan-teriakan komunikasi mental dari Takahasi terus berdenging dalam kepalanya, memaksanya untuk bergegas. Menurut Anton, jarak mereka tak lagi jauh, tapi kondisi jalan yang mengerikan membuat si sopir, yang sekaligus pemilik mobil rental itu, keberatan jika kecepatan ditambah lebih dari seharusnya, yang kecepatannya malah lebih pelan daripada orang berjalan.
Sebenarnya, jika ia tak harus mempersiapkan berbagai macam hal untuk memastikan mahluk itu benar-benar bisa dihilangkan keberadaannya dari muka bumi manusia, Prameswara bisa saja mencapai lokasi Terry berada lebih cepat dengan berlari. Hubungan mentalnya dengan Takahasi telah memberikan lokasi keberadaan mereka berdua berada. Prameswara bingung.
"Mes, kau ini pintar, cuma terkadang suka dungu ketika bingung."
Sosok berambut keriting dengan outfit khas pendaki tiba-tiba saja muncul. Senyum jahil yang muncul di bibirnya tampak tak terkendali. Wajah Prameswara menggelap ketika arwah ini muncul. Mahluk ini memperkenalkan dirinya sendiri sebagai Dipo, seorang pendaki yang mati di Gunung Lawu bertahun-tahun yang lalu. Sifatnya yang serampangan ini pula sebenarnya, yang menjadi penyebab utama ia jadi arwah gentayangan begini.
"Mungkin jika kau punya solusi, lebih baik langsung dimuntahkan saja, ***. Kalau tidak, tutup mulut saja!" desis Prameswara kesal dengan batinnya. Arwah satu ini selalu bikin perkara!
"Kenapa tidak kau buka saja gerbang Tian-xuan orang ini?" ujarnya sambil menunjuk ke arah Anton, sementara yang ditunjuk tengah berdebat dengan sopir mobil. "*Dengan begitu, aku bisa menggunakan raganya dan mencari Takahasi?"
"Aih, tumben pikiranmu berjalan, Po? Tapi, sekali seorang jadi Parogo, tak akan ada jalan kembali. Aku nggak tega kalau..."
"Tinggal kau tanyakan saja padanya. Apa dia mau ambil resiko untuk sebuah kemungkinan selamatkan nyawa temannya. Gitu aja kok repot*." potongnya.
Prameswara tak membuang waktu. Ia segera bergerak dan menarik Anton untuk kembali duduk di kursinya, sementara ia berbicara dengan sopir mobil yang memaksa berjalan dengan menghindari berbagai lubang demi menjaga mobilnya supaya tidak rusak itu.
"Mas, tolong kau gas sekuatnya. Mobilmu kubeli. Nanti sampai di King's Residence, kutukar dengan yang baru. Bisa?" ucapnya, yang segera disambut anggukan bersemangat dari si sopir.
"Bisa, Mas, bisa. Tolong silahkan pegangan." jawabnya dengan bersemangat, tapi pemuda itu sudah tak memperdulikannya. Prameswara sudah berpaling pada Anton.
"Ada kemungkinan untuk memperbesar kesempatan menyelamatkan temanmu, Mas, tapi apa kau bersedia mengambil resiko? Ak, pikirkan baik-baik." sergah Prameswara cepat ketika melihat Anton hendak langsung menyetujui usulannya.
__ADS_1
"Aku akan membuka titik langit di tubuhmu, yang akan memungkinkan jiwa lain masuk dan menggunakan tubuhmu untuk kepentingan ini. Hanya saja, sekali dibuka, aku tak yakin bisa menutupnya lagi dengan sempurna, jadi kedepannya, bukan tak mungkin ada jiwa lain yang akan mencoba merasuki badanmu." lanjutnya.
Meski sebenarnya tidak sesederhana itu, Prameswara tak memiliki waktu untuk menjelaskan semuanya secara detail. Hanya ini satu-satunya jalan yang tersisa. Dalam mobil yang terguncang-guncang dengan hebat itu, Prameswara terus mencoba mencari keraguan yang mungkin muncul di wajah pria yang sedemikian mencintai Science itu. Tapi Anton hanya menampakkan keteguhan hati ketika ia menjawab.
"Lakukan sekarang, Mes!"
Senyum di wajah Prameswara menguat. Bogang memang masih Bogang yang sama seperti yang ia ingat. Sosok yang rela membuang dirinya sendiri demi membela temannya. Mulutnya mulai bergumam dalam daras mantera kuno ketika tangannya mulai membentuk mudra, menarik kekuatan dari dalam dirinya dan membimbingnya menuju ke tengah-tengah alis di wajah temannya itu.
"Waktumu untuk menjadi berguna, Po. Pergilah!"
Sosok ber-outfit pendaki itu seakan tertarik dan memasuki tubuh Anton melalui titik cahaya yang entah bagaimana muncul dari pertengahan alis Anton, dan tiba-tiba saja, postur badan dan tampilan wajah Anton seakan berubah. Bahkan suara yang muncul darinya berbeda dari sebelumnya.
"Sepatu ini tak enak untuk lari. Pinjam punyamu!" ucapnya dengan nada yang getas, ketika ia menjauhkan diri dari jari Prameswara yang masih menempel di dahinya, kemudian melepas dan membuang sepatu yang dipakainya dengan sembarangan. Dengan cepat, ia merebut sandal gunung yang dipakai Prameswara dan mengencangkan setiap strap pada sandal itu.
"Bos, pelan sebentar." teriaknya pada sopir mobil yang menekan pedal gasnya dalam-dalam di jalanan hancur itu.
"Woooi Setan, itu badan kakakku yang kau pakai! ati-ati dikit kenapa sih?!"
Tapi sosok itu tak menjawab. Hanya tangannya yang melambai dan mengacungkan jari tengah yang tertinggal ketika sosoknya memasuki lebatnya hutan dengan sangat cepat.
......................
Keadaan Terry sudah benar-benar mengkhawatirkan. Sosok bertubuh ular itu murka ketika ia tak lagi bisa melihat tubuh Terry, meski ia masih bisa mencium aroma darah yang tertumpah darinya. Mahluk itu mengamuk dengan dahsyat. Ia mengibaskan ekornya dengan liar, menghantam dan menghancurkan banyak tanaman serta pohon di sekitarnya. Entah kenapa, mahluk itu tak bisa melihat keberadaan Takahasi yang berdiri didepannya.
__ADS_1
"Puramesuwara, nagatsudzuki shimasen. Itsu tsukimashita ka"
(Prameswara, aku tak bisa bertahan terlalu lama. Kapan kau sampai)
Tapi tak ada yang menjawab komunikasi batinnya. Hanya saja, tiba-tiba, sosok manusia melesat cepat dari samping mahluk itu, dan menabraknya kuat-kuat.
"Aih, ada makanan lain yang datang!" desis mahluk itu ketika dilihatnya Dipo yang cengar-cengir, memandang ke arah dimana bau darah sebelumnya sedemikian kuat.
"Prames di sarang mahluk jelek ini. Manusia itu sudah setengah mati, harusnya tak ada masalah bagimu menggunakannya kan ya, Taka?" ujar Dipo tanpa memperdulikan desis dan geraman yang muncul dari mahluk yang ia lemparkan sebelumnya.
"Semut bangsat, kau mengacuhkanku!" bentak mahluk itu dalam kemarahan dan langsung mengibaskan ekornya kuat-kuat ke arah Dipo.
Reflek, Dipo menghindar, meski kemeja yang digunakan badan yang ia tempati terkoyak bagi diiris pisau.Ia mengerutkan kening dalam-dalam. Mahluk ini bukan sesuatu yang bisa diremehkan sama sekali. Tapi ketika ia menyadari kalau Terry sudah menghilang dari tempat itu, tugasnya hanya memancing mahluk ini kembali pada Prameswara. Hanya dia yang bisa menghancurkan perwujudan kejahatan sekuat ini.
"Ular tua, mulutmu kotor. Sebentar, kucarikan pasta dan sikat gigi untukmu!" ejek Dipo, dan ia berbalik lalu melarikan diri dari tempat itu.
"Jangan kira kau bisa pergi dengan badan itu, Parogo sialan!" desis mahluk itu dengan kemarahan yang hebat.
Sosoknya mulai bergetar dan badannya menyusut hingga kembali ke wujud manusia, kemudian ia mulai berlari mengejar.
...****************...
"Kaaaay, kopinya habis!!!"
__ADS_1
"Minta duit ama pembaca, Pan! Job yang kemarin payment belum cair!"
huft sial!!!