Kisah Perjalanan

Kisah Perjalanan
Setannya Yang Mana?


__ADS_3

Kay tak bisa menemukan siapapun yang bisa disewa jasanya untuk menjaga Andini, dan keputusan akhirnya adalah, menunggu waktu libur sekolah gadis kecil itu, dan mengajaknya serta. Meski Andini sendiri tak berkeberatan ditinggal sendiri, karena menurutnya, keberadaan Rayna sudah cukup untuknya, tapi kedua kakak laki-lakinya sama sekali tak sependapat. Meski Kay dan Topan terbilang tak pernah akur, ternyata dalam hal ini mereka berdua sepakat.


Hantu konyol itu bukan sesuatu yang cukup bisa dipercaya dengan tanggung jawab sekecil apapun!


Pendapat ini yang membuat rumah kecil itu jarang rapi beberapa waktu belakangan ini. Rayna yang ngambeg berat, membuat berbagai aksi protes yang membuat Kay frustasi dengan beragam cara. Mulai dari memindah-mindahkan pot, hingga membuat anjing tetangga melolong-lolong tanpa henti. Beragam kejadian inilah yang terutama membuat Kay kurang lebih sama bersemangatnya dengan Andini ketika hari libur sekolah itu akhirnya tiba, meski dengan alasan yang berbeda. Menata rumah sehabis diberantakin arwah konyol yang ngambeg bukanlah sesuatu hal yang menyenangkan, apalagi ketika ia memutuskan untuk menjadi tak terlihat. Yah, walau ketika akhirnya mereka selesai mengepak barang, tampaknya mood hantu cantik itu membaik ketika Kay akhirnya berinisiatif untuk meminta maaf sebelum mereka pergi.


Yah, paling tidak, selama beberapa waktu ke depan, Kay tak perlu harus berteriak-teriak frustasi akan apapun. Keberadaan Topan akan cukup membuat Rayna sedikit terkontrol. Hantu centil itu agak takut dengan Topan. Meski sedikit bayangan gelap akan apa yang akan menyambutnya disana tetap menggantung di sudut pikirannya, pemuda itu memilih untuk menghadapinya ketika semuanya muncul. Percuma dipikirkan ketika ia bahkan tak tahu apa yang akan muncul nantinya.


Perlahan, pikirannya menjadi semakin tenang. Mengikuti langkah bersemangat gadis kecil yang tak henti berceloteh demi menutupi rasa gugupnya itu, Kay melangkah menuju entah masalah apa yang menantinya


......................


Topan mengusap keringat dari keningnya. Tempat ini benar-benar layak mendapatkan predikat pantai terpanas. Saat ini baru pukul 10 pagi, tapi sinar yang dipancarkan bola panas di langit itu terasa bagai seterika menyengat coveral parasit yang ia gunakan, apalagi di tempatnya berada saat ini, di puncak bangunan berbentuk piramid setinggi hampir 12 meter yang terletak di atas bukit, membuatnya hampir hilang kesadaran saking panasnya. Untung saja, pemandangan pantai Dreamland dengan ombaknya yang garang, dan birunya laut dibelakangnya, ditambah dengan angin yang jarang berhenti bertiup, menjadikan itu semua tertanggungkan dengan mudah. Meski sebenarnya, mulut longgar anggota team Avatar, yang benar-benar mampu mengeluarkan beragam ejekan, sindiran dan candaan kejam itu juga yang membuatnya harus bertahan. Pemuda itu tak ingin mengulangi peristiwa ketika ia pertama kali berkeras untuk mencoba dan ikut bekerja bersama para pecinta ketinggian ini, dan berakhir dengan ia memutahkan seluruh isi perutnya setelah bekerja selama 45 menit.


Yah, maklumlah. Mereka latihan tiap hari, lha aku kan baru ngerti beginian juga barusan?, batin Topan sambil berusaha membesarkan perasaannya sendiri, ketika ia melihat ke sebelahnya, ke arah sosok lain dengan baju kerja parasit berwarna merah seperti yang ia pakai, yang tampak sedemikian santai melakukan pekerjaannya, meski berada di ketinggian dengan hanya tali khusus menahan tubuhnya.


Tepatnya hal ini juga yang menarik minat pemuda pecinta kegiatan outdoor itu.


Sebelumnya, Topan hanya berpikir bahwa pekerjaan yang akan dilaksanakan hanya sama seperti yang biasa ia lihat, tapi ternyata, ketika team yang hanya terdiri dari 4 orang pemuda, yang 2 diantaranya bahkan berusia sama dengan dirinya itu muncul dalam setelan berbagai outfit outdoor gear yang mungkin bahkan akan membuat para anggota-anggota Mapala minder melihatnya, lengkap dengan carrier-carrier yang tampaknya berat.


*Lha, masak tukang bangunan tampilannya begini amat?

__ADS_1


Dimana perancah-nya?


Gimana cara mereka bekerja*?


Belum lagi ketika setelah pihak pemilik gedung memberikan ijin pelaksanaan kerja, mereka mulai mengeluarkan berbagai peralatan yang akrab digunakan untuk ekpedisi penelusuran gua, lengkap dengan tali khusus pendaki gunung dan memulai persiapan pekerjaan. Kemudian, dua orang diantaranya, menggunakan tolakan tali untuk memanjat bangunan itu, seakan-akan papan wall, yang biasa digunakan untuk lomba wall climbing!


Baru kemudian Topan mengerti. Yang disebut team ini adalah awalnya adalah sekelompok anggota pecinta alam yang berasal dari beberapa organisasi. Keterbatasan dana membuat mereka mengaplikasikan keahlian teknik tali yang biasanya digunakan dalam kegiatan susur gua vertikal dan panjat tebing ini sebagai jalur usaha dana, dan ketika Ayah Kay, yang notabene adalah kepala jurusan dan Pembina UKM mengetahui polah anak didiknya, ia justru mengarahkan dan menjadikan mereka profesional sejati. Bahkan hingga membuatkan perusahaan untuk wadah team-team ini. Mas Tekêk, pimpinan perusahaan sekaligus senior team-team ini, bahkan tak sekali dua kali mengunjungi berbagai gedung di luar negeri, hanya untuk menjadi seorang konsultan safety.


Okey, that is doesn't sound scary at all...


Mau tak mau, Topan merasa harus meninjau ulang seluruh pemahamannya terkait masalah bekerja, bermain, atau menghasilkan uang, dan banyak lainnya.


Setiap anggota team ini muda, serampangan dan terlihat sangat riang. Sama sekali tak nampak beban apapun di wajah mereka ketika mereka saling ejek satu sama lain. Ketika bekerjapun, mereka terlihat sangat santai meski efisiensi mereka mengerikan, tapi bisa dibilang, ini terasa bagaikan taman bermain bagi mereka. Tapi ketika Topan menyatakan keinginan untuk belajar dan ikut bekerja, semuanya tertawa terbahak-bahak.


"Ho'o, nanti ganteng-nya ilang lho, Mas, jadi item kayak Lombo itu." sahut yang lain sambil menunjuk kawannya, yang kebetulan memang berkulit gelap.


"Dulu Lombo itu putih, Mas, kayak Mas gini. Setelah jadi Avatar, jadi kayak pantat kuali begitu, meski kalau wajah sih memang dari awalnya udah gitu." lanjutnya lagi, yang disambut ledakan tawa dari yang lain. Sementara yang pemuda bernama Lombo itu hanya tertawa kecil sambil membalas tak kalah garang.


"Lha mending aku, item pantat kuali, beras tak ada aku tak jadi nasi. Dia ini, Mas, sama kasusnya. Cuma sayang, itemnya item tiang listrik, bagian dipipisi anjing dan senderan pas mabuk tinggi."


"Ha ha ha, Asu!"

__ADS_1


Tawa terus meledak dari 4 orang ini tanpa sedikitpun ada rasa marah, jengkel, atau apapun. Tak perduli sekejam apa omongan yang muncul, masing-masing dari mereka tampaknya punya keahlian khusus untuk membuatnya menjadi lelucon yang menggelitik. Mau tak mau, Topan sungguh iri dengan hal itu. Ia terbiasa dengan kehidupan yang mengerikan, dimana tragedi dan kebusukan manusia ditampilkan hampir setiap hari didepan mata dan telinganya. Pemuda itu bahkan menganggap hinaan cuma wajar dibalas dengan rasa sakit yang kuat. Tapi bersama Avatars ini, bahkan kata makian bisa berubah menjadi bumbu lelucon yang paling sedap. Sungguh orang-orang yang unik.


Tapi entah kenapa, tiba-tiba saja salah satu diantara mereka menolehkan kepalanya dengan cepat, kemudian ia berdiri dan berbalik. Setelah terdiam beberapa saat, ia menghela nafas dan menyuruh kawan-kawannya untuk pergi sebentar.


"Rek, do makan dulu sana. Aku tak disini sebentar, nanti gek aku nyusul." ujarnya, yang langsung dituruti oleh ketiga temannya. Lombo bahkan menarik Topan untuk turut dengan mereka.


"Ayo, Mas. Makan dulu."


"Lho, lha Mas Pangky nggak ikut kenapa?"


Menjawab pertanyaan Topan, Lombo hanya tersenyum penuh misteri dan menggelengkan kepalanya pelan.


"Wes ayo, Pan. Biarin saja Pangky itu. Nanti lak yo nyusul bocah e." ujar Eko, yang rupanya satu angkatan dan cukup mengenal pemuda itu dengan baik.


Meski sedikit penasaran, Topan memutuskan beranjak mengikuti 3 orang lain yang sudah mulai berjalan menuju warung makan yang terletak agak jauh dari tempat itu sambil tertawa-tawa. Sementara pemuda yang disebut Pangky itu masih berdiri membelakangi bangunan, seakan ia tengah berbicara dengan seseorang.


??!


Lha dia bicara dengan siapa, kok aku nggak lihat apapun sih?!


Topan, yang terbiasa dengan hal-hal seperti ini, mau tak mau bertanya-tanya. Dengan kemampuan yang ia sendiri miliki, ia bahkan tak merasakan apapun.

__ADS_1


Lha setannya mana to ini?


__ADS_2