
Gadis itu sungguh sangat cantik. Kulitnya yang kecoklatan, sempurna membungkus badan semampai yang ia miliki. Rambutnya yang seakan mengembang ringan dalam angin, malah menghadirkan pesona mematikan bagi setiap lelaki yang kebetulan melihatnya. Dengan balutan kain longgar yang hanya menutupi tubuhnya hingga atas lutut, amat sangat mudah untuk mengiranya sebagai model kelas internasional yang tengah dalam proses pengambilan foto untuk koleksi gaun pantai milik designer ternama dunia. Ditambah dengan wajah dengan kecantikan lembut ala timur kuno, sungguh, bukan tak mungkin kalau dikira ia adalah salah satu malaikat Tuhan yang tengah menikmati waktu di dunia manusia.
Langkahnya ringan, meninggalkan jejak kaki tak bersepatu di atas pasir pantai yang lembut, dalam siraman cahaya bulan yang terang menyapa pantai Dreamland.
Ia sama sekali tak memperdulikan ombak yang bergulung dan menderas ke arah pantai, tempat ia terus berjalan dan menikmati dirinya sendiri. Meski nampaknya, bahkan lautpun enggan mengganggunya ketika entah sebesar apapun gulungan ombak yang mendekat, air yang garang itu berubah selembut anak kucing yang mengelus kaki telanjangnya dengan santun, sebelum kembali ke tengah.
Ia bahkan tak menyadari empat pasang mata yang nyalang, yang tak henti memperhatikan setiap gerak-geriknya dari sudut gelap di bawah tebing dekat jalur masuk ke arah pantai. Wanita cantik itu terus melangkah dan menikmati dirinya sendiri di tengah sunyinya pantai di malam hari tanpa menyadari kalau setiap hal yang ia lakukan, tak lepas dari perhatian beberapa sosok itu, hingga semuanya terlambat.
Dalam hitungan detik, keempat sosok itu bergerak. Merangkul dan membekap mulut gadis itu, membatasi pergerakannya dengan tubuh mereka yang kuat, lalu menyeretnya kedalam gelap...
......................
Kay termenung ketika pikirannya terus tersesat dalam labirin rasa bersalah, memaksanya terus menghela nafas panjang, mencoba menenangkan dirinya sendiri supaya jiwa tetap tak terganggu karenanya.
Bukan suatu hal yang mudah untuk menjadi sebab dari hilangnya ribuan nyawa, bahkan jika saat kejadian itu terjadi, ia bahkan baru berumur beberapa tahun, tapi kenyataan bahwa banyak nyawa itu hilang karena kakek?
Kay terus terpekur sendirian disana. Gelas berisi kopi yang masih mengepulkan asap terbengkalai di atas meja, bersama dengan telepon genggam yang terus berkedip, menunjukkan kalau Topan terus berusaha menghubunginya. Hanya rokok di tangannya yang terus mengepul tanpa henti.
Kay berhenti perduli akan segala sesuatu.
Akan ramainya jalan antar provinsi yang membentang di depan supermarket tempat ia mendamparkan diri saat ini. Atau beragam pandangan aneh yang terarah padanya, pemuda suntuk yang terlihat seperti seperti kehilangan sukma itu. Ia bahkan tak memperhatikan sosok tegap dengan celana jeans belel penuh robekan yang mengambil tempat duduk di sebelahnya. Kay baru tersadar ketika pemuda itu mengangsurkan gelas kertas berisi cairan berwarna coklat kepadanya.
"Minum, Kay. Cuma di Bali, surga bagi para peminum minuman beralkohol, dimana bahkan Red label dijual di supermarket." ucapnya sambil terkekeh pelan.
"Ah, aku nggak minum alkohol, Bang." jawab Kay ketika menyadari siapa sosok di sampingnya itu. Bang Pangky, yang saat ini tersenyum sambil menatapnya dalam, tetap saja terkekeh dan memaksa Kay untuk meminum isi gelas itu.
"Aku juga tak suruh kamu minum alkohol, Kay. Alkohol itu untuk membersihkan luka. Ini Red label, enak." jawab pemuda itu sekenanya, sementara Kay tersenyum kecut mendengarnya. Tak urung, diraihnya gelas itu dan menumpahkan isinya ke dalam perutnya. Berdebat dengan orang ini, sama sekali tak berguna. Akan lebih mudah jika mengikuti apa kata dia saja. Hanya saja, sudah lumayan lama sejak kali terakhir ia meminum minuman beralkohol seperti ini. Wajah Kay memerah ketika minuman itu seakan berubah menjadi api yang bergerak melewati tenggorokannya dengan semena-mena.
Melihat Kay yang tengah megap-megap berusaha bernafas akibat terlalu cepat menelan minuman berkadar alkohol tinggi itu, Pangky malah terbahak-bahak.
"Nha, begitu. If live is giving you Lemon, just bite it like a man!" ujarnya di tengah gelak tawanya yang membahana.
"Wow, what a words." sahut seorang pengunjung wanita asing yang rupanya turut memperhatikan mereka berdua, yang kebetulan juga tengah menikmati waktunya di teras supermarket itu, sambil tersenyum lebar.
Dan rupanya, itu sudah cukup untuk Pangky.
Dengan caranya sendiri, entah bagaimana ceritanya, wanita itu, bersama dua orang kawannya yang lain, segera menggabungkan kursi mereka dan sebelum disadari, obrolan mereka sudah berkembang dari ujung ke ujung. Bahkan Kay, yang sebelumnya enggan untuk bahkan sekedar memperhatikan apapun, sudah larut dalam percakapan dan tertawa tanpa ia sadari. Pemuda itu seakan sudah melupakan apapun yang memberati hatinya beberapa waktu lalu. Ia bahkan tak menyadari senyum lembut yang muncul di bibir pemuda di sampingnya ketika Pangky meliriknya. Kay benar-benar larut dalam tawa.
......................
__ADS_1
"Huh, tau begini nggak kuajak minum kau ini, Kay. Ampun bener, malu-maluin aja." gerutu Pangky pelan, meski senyum geli tak pernah lepas dari bibirnya.
"Uuh, aku udah lama nggak minum, Bang." sahut Kay sambil mencoba tertawa, meski hasilnya lebih seperti kucing yang sedang makan sambil mengeong.
Obrolan seru mereka dengan gadis-gadis negeri seberang tadi terpaksa bubar. Kay tak mampu menahan isi perutnya tetap berada ditempatnya. Seiring dengan gelas demi gelas yang ia tandaskan, akhirnya Kay memuntahkan seluruh isi perutnya di selokan depan supermarket dengan diiringi gelak tawa dan candaan teman-teman barunya. Bersama dengan janji untuk ketemu di waktu lain, mereka berpisah. Dan kini, Kay duduk setengah miring di sadel belakang motor ketika Pangky masih terus mengomel panjang pendek dalam perjalanan untuk kembali ke hotel Kay yang hanya terletak sekitar 50 meter jauhnya dari lokasi kerja Pangky.
Tapi nampaknya angin dingin mampu membuat Kay mengumpulkan dirinya sendiri. Perlahan, muka penuh cengiran mabuk yang sebelumnya muncul bersamaan dengan ocehan tak jelas dari mulutnya itu menghilang perlahan. Kesadaran Kay kembali muncul dalam lipatan-lipatan kegelapan. Helaan nafas berat kembali muncul darinya.
Merasakan kalau ocehan mabuk dan kikik miring yang sebelumnya tanpa henti menghilang dari pemuda yang ia boncengkan, Pangky turut menghela nafas. Tak lama, ia meminggirkan motor dan menghentikannya di pinggir jalan. Di malam selarut ini, jalan aspal luas yang membelah Pecatu Resort memang sangat sepi. Dengan santai, pemuda itu memarkir motor, turun dan duduk di pinggir trotoar.
"Aku siap mendengarkan keluhanmu, Bocah..." ujarnya sambil terkekeh.
"Maaf Bang, aku bingung mesti ngomong apa. Kayaknya mending aku diantar pulang saja." sahut Kay lemah.
Pangky tertawa terbahak-bahak. Entah kenapa, hanya saja, ia malah menyandarkan dirinya ke salah satu tiang lampu penerangan yang berjajar rapi di sepanjang jalan itu.
"Kalau kau tak ingin cerita, kau dengarkan ceritaku, Kay." tukasnya sambil mengambil rokok dari saku bajunya dan menyalakannya dengan cepat.
"Aku lahir 24 tahun yang lalu, Kay. Tumbuh di daerah dengan tingkat kejahatan tertinggi di pulau Jawa, masa kecilku penuh petualangan yang melibatkan copet, tukang palak, calo dan kawan-kawannya dalam bentuk yang paling tidak sehat untuk pertumbuhan karakter seorang bocah. Ditambah keluarga super liberal, aku makin tak terkendali, yang akhirnya, di usia 12 tahun, perkelahian besar di terminal itu membuatku terusir dari rumah dengan pisau penuh darah dan korbanku tergeletak menunggu mati. Owh, iya, rumahku memang berada di belakang terminal, Kay." tambahnya sambil terkikik.
Meski tak paham apa maksudnya, Kay hanya diam. Ia bahkan tak bersuara ketika dilihatnya pemuda itu membuka jok motor dan mengeluarkan botol berisi minuman beralkohol lainnya dan mulai menenggaknya sendiri sebelum melanjutkan ceritanya.
Entah kenapa, mendengar pemuda itu bercerita, seakan Kay diajak untuk melihat sosok bocah pemberontak yang marah terhadap keadaan pada saat itu. Yang meradang dan menentang segala sesuatu.
"Masih lagi, ternyata aku mewarisi kutukan dari garis darah leluhurku, yang karena tuntutan keadaan waktu itu, mendorong dirinya sendiri hingga melewati batas. Bertapa di berbagai tempat angker, berkelahi dengan banyak penguasa alam gain hingga berteman dengan salah satunya hanyalah sedikit diantara prestasi leluhurku, Kay. Dan yang paling oke, semua petualangannya itu meninggalkan cap dalam darah keturunannya. Meski terkadang tak muncul dalam satu generasi, sialnya, itu muncul padaku!"
????!
*Kenapa ceritanya hampir mirip?
Kami bukan saudara kan*?
Mau tak mau, Kay sedikit bergidik mendengar kisah Pangky. Terlalu banyak kesamaan yang muncul dari kisah yang ia ceritakan.
"Dan kakekku? Beliau adalah sosok paling hebat yang pernah kutahu. Daripada aku berkembang ke arah yang tak jelas, pria tua itu memilih untuk membimbing dan menggemblengku sampai aku benar-benar menguasainya. Hanya saja, pengetahuannya terlalu sederhana untuk jiwaku." keluhnya tanpa mampu menahan seklumit kesedihan yang muncul dalam suaranya.
"Pendidikan agama yang pernah kuterima, dicampur dengan kenyataan bahwa aku bisa melihat hantu, setan, demit dan semacamnya itu sejelas aku melihat mukamu saat ini, membuatku mulai meragukan Tuhan. Entah mereka bicara benar atau tidak, hampir semua arwah yang kutemui tak bisa menjawab dimana surga dan neraka berada."
"Ah, lalu gimana Bang?"
__ADS_1
"Belum lagi kenyataan bahwa aku melihat banyak tipu muslihat yang dilakukan dengan selimut kebaikan, seakan bertebaran tanpa punya malu, makin membuatku lepas kendali." lanjutnya tanpa menggubris pertanyaan Kay sama sekali.
"Aku mulai menjadi oportunis Tuhan. Aku berkelana kemanapun kakiku bisa pergi, menyambangi setiap orang yang disebut orang pintar ini dan mengajak mereka berduel. Dan sasaran utamaku adalah mereka yang menggunakan ilmu agama, Kay."
"Meski sekarang aku tahu jauh lebih baik, pada saat itu, sayangnya tidak. Aku berkelana bahkan hingga ke keraton penguasa laut selatan, tempat asal mula barang yang mendiami ruang di dadaku ini. Dan di tengah seluruh arogansi yang makin parah berkuasa ini, Papaku meninggal, dan Kakek menyusul 3 bulan kemudian. Bisa kau bayangkan indahnya?"
Tanpa sadar Kay mengangguk. Pada dasarnya ia memang bisa memahami rasa hati Bang Pangky. Hanya saja...
"Kalau itu masih belum cukup, Mamaku sakit parah, hingga seakan sudah mencelupkan setengah kakinya ke sumur kematian. 4 bocah usia remaja, tanpa penghasilan, dan diharapkan kami bisa bertahan tanpa mati kelaparan." lanjutnya sambil tertawa kecil.
Tapi entah kenapa, meski terkesan mengomel, Bang Pangky tak menampakkan sedikitpun rasa sesal atau sedih atau marah sedikitpun. Seakan seluruh rangkaian kisah yang ia ceritakan itu tak menghadirkan rasa tak nyaman baginya.
Sambil terus menyesap botol di tangannya, pandangannya menerawang ketika bahkan senyum kecil muncul di bibirnya dari waktu ke waktu.
"Dan ketika aku ketemu Bapakmu, sedikit perkataannya menghantam pikiranku dengan keras."
"Ah, Abang kenal ayahku?" sahut Kay cepat tanpa mampu menyembunyikan semangat dalam suaranya, sementara pemuda di sampingnya itu tertawa lepas.
"Ayahmu mengajariku cara hidup, Kay. Dari dia, aku bisa berdamai dengan diriku sendiri. Padahal, dia sendiri berkutat untuk berdamai dengan dirinya sendiri waktu itu." sembur Pangky sambil tertawa terbahak-bahak.
"Maksud Abang?"
"Dia bilang padaku, manusia berhak memilih, satu-satunya hal paling mulia yang diberikan oleh Tuhan pada kita. Kebebasan untuk memilih. Kau boleh saja memilih untuk tidak percaya pada apapun, cuma silahkan tanggung sendiri konsekuensinya. Itu nasehat yang diberikan Bapakmu padaku, tanpa penjelasan lebih lanjut. Sableng memang dia itu." sambungnya lagi dengan nada penuh kekaguman yang tak tersamar.
"Aku kok nggak paham sih Bang?" balas Kay sambil menggaruk kepalanya bingung.
"Tak perduli apa, kau cuma perlu memilih, Kay. Aku dulu bejat, rusak dan tak bermoral, tapi kemudian aku memilih untuk tidak lagi jadi seperti itu. Dan kau pun sama. Kau boleh memilih untuk hidup berkubang rasa bersalah, suram dan menyebalkan tanpa peluang menikmati indahnya hidup, atau kau akan memilih menjadikan kesalahan dan masa lalu sebagai cermin supaya kau jadi figur yang lebih baik, itu benar-benar hakmu."
"Ah, maksudnya begitu rupanya... Tapi bagaimana jika kita terpaksa memilih jalan karena kesalahan orang lain, Bang? Dan karena itu, kita terpaksa memilih jalan yang tidak kita inginkan?" sahut Kay cepat.
"Sama seperti kau menghitung kesalahan ibu Hawa yang digoda ular untuk memakan buah baik dan buruk, hingga manusia harus terusir dari Surga?" balas Pangky sambil tersenyum kecil.
"Kalau sejauh itu sih, ya susah ngobrolnya, Bang..."
"Kita tak bisa merubah masa lalu, Kay. Disangkal seperti apapun, memang benar Indonesia dijajah bangsa lain karena kebodohan. Yang bisa diubah adalah masa depan dan pilihan kita yang bisa merubahnya. Akankah kau, Topan, Andin, dan hantu cantik yang selalu ngekor kemana-mana itu akan belajar keras demi mencerdaskan Indonesia supaya tidak dijajah lagi? Atau kalian cuma akan peluk-pelukan sambil menangis bombay di tangga teras helipad setiap hari?" jawabnya ngawur tanpa berusaha untuk menyembunyikan tawa penuh ejekan dalam mata jahil yang mulai terpengaruh oleh minuman beralkohol itu.
"Sialan lu, Bang!" gerutu Kay pelan ketika gelak tawa kembali membahana dari pemuda itu.
Yah, caranya ngomong dan ngajarin orang sih emang sableng, tapi tak satupun yang ia bicarakan ringan, batin Kay perlahan ketika melihat pemuda tegap yang berusaha untuk berdiri di tengah mabuknya itu.
__ADS_1
Tampaknya aku masih perlu banyak belajar dari orang ini, desis batin Kay ketika perlahan, seiring tawa dan canda miring Pangky, beban yang menghimpitnya teruari perlahan, larut bersama terang cahaya bulan yanh menyinari sudut gelap jalan menuju Dreamland beach ini