
Berkas cahaya matahari yang menembus sela-sela kanopi daun, perlahan memaksaku bangun dan melepaskan dunia mimpi. Kupaksa badan yang terasa bagai remuk untuk duduk ketika ingatan mulai memberikan informasi keberadaanku saat ini. Rupanya semalam, aku terlanjur pingsan sebelum mampu mencapai pintu pondok dan memasukinya, dan rupanya, suasana seram semalam tak lagi nampak di tengah siraman cahaya matahari pagi ini.
Pondok yang terbuat dari kayu itu, meski kecil, namun kuat dan terawat, menghuni sebidang tanah lapang dengan pagar tanaman dan semak belukar. Sebatang pohon besar menjulang di sampingnya, memberikan perlindungan dari sinar matahari dan memberikan kenyamanan tak terkira pada tempat itu, selain menjadi rumah bagi beberapa jenis burung yang sama sekali tak kuketahui apa jenisnya. Hamparan rumput yang terpotong rapi menutupi beberapa bagian dari halaman, termasuk membingkai ruang terbuka berbentuk persegi empat, yang di tengahnya terdapat sebuah batu dengan permukaan rata. Sementara kolam bening itu, sungguh sebuah maha karya landscape yang sempurna, dengan dasar kolam tertutup pasir dan batu putih, dengan pinggiran kolam yang dibatasi dengan batu alam dalam bentuknya yang tak terasah. Sebatang bambu yang terbelah, ditata sedemikian rupa dan mengalirkan air kolam itu menuju sebuah pancuran kecil di dekat ruang terbuka, dan jatuh ke dalam sebuah hulu kali kecil yang mengalir hingga menghilang di bawah semak belukar.
Sial, apakah hantu dan arwah juga menata kebun dan butuh rumah ya??
Tanpa mampu kutahan, dengusan kecil meletup dalam balutan geli ketika pikiran itu terlintas.
Jaga pikiranmu, Bocah!
Kaget, kucari sosoknya dengan sia-sia, ketika pemahaman menyambar secepat petir di hari hujan. Dia berbicara melalui pikiranku!
"Bro? Kamu disitu?"
Kucoba mengucapkan perkataan itu dalam pikiran, dan berharap dengan sia-sia ketika jeda yang lama mengambang.
"Arborite? Kau mendengarku?"
Ok, sekarang aku merasa tolol. Nampaknya, jika ibuku masih hidup dan ada disini, mungkin dia juga akan menyuruhku merangkul kegilaan baru ini dan menyebutnya anugrah juga.
"*Ada baiknya kau belajar sabar, Bocah..."
"Aku bertahan dan belum minggat dari sini, justru karena kesabaranku, Lek. Kau, Setan tolol yang membawaku kesini, menyakiti dan membuatku nyaris mati, lalu dengan entah apa yang kau lakukan, memunculkan tattoo di beberapa bagian badanku, dan minggat tanpa kata... dan kau nekat menasehatiku untuk BERSABAR??!"
Entah darimana asalnya, kemarahanku bergolak bagai badai di lautan. Kelam, kejam dan tak terkendali. Deru nafas berpacu seiring derap jantung yang meningkat semakin cepat. Otot-otot ditubuhku seakan menegang dalam persiapan kontak fisik dan nampaknya, bahkan aku bisa merasakan aliran darah dalam pembuluh-pembuluh di dalam tubuh bergerak dalam desiran yang nyata...
"Kau tahu, Kay, tempat ini adalah imitasi dari secuil tanah yang pernah diberkahi oleh Sang Pencipta?"
Eh?!
"Aku adalah Sang Pembawa Kutukan, Kay... Mahluk yang dihukum oleh-Nya, untuk berjalan di muka bumi manusia..."
__ADS_1
Sejenak, udara bagai terdistorsi. Bagai riak pada kolam air tenang setelah kerikil kecil dilemparkan dan mengganggu permukaannya yang selicin kaca, dalam balutan warna-warni indah yang meski samar, tetap mempesona mataku. Setan gondrong itu muncul dari ketiadaan, seakan memaksa masuk melalui selubung tipis namun sangat kuat yang menaungi tempatku berdiri.
"Dan sebagai seorang pembawa kutukan Yang Maha Kuasa, nampaknya kau menyesuaikan diri dengan baik" ucapku sengit sambil melangkah menuju pinggir pondok.
"Penampilanku?"
"Jeans straigt belel dengan beberapa sobekan artistik, t-shirt hitam polos dengan body size, pas menempel badan yang terlihat seperti pemuda yang tak kurang makan... Sneaker ala anak muda, lengkap dengan aksesoris bermacam gelang etnis yang membuat gesper di tangan kirimu itu kelihatan layak di tangan model manapun." lanjutku lagi.
Pemuda itu nampaknya terlihat agak geli mendengarnya dan dengan provokatif, mengangkat kedua tangannya, memperhatikan setiap bagian yang disebut dan berputar di tempat.
"Belum lagi muka yang diatas rata-rata, dengan rambut gondrong yang terlihat modis dan terawat selayaknya manusia yang ke salon setiap minggu untuk perawatan berharga ratusan rib..."
Namun ledakan tawa memotong komentarku. Arborite sudah berbaring di tanah dan berguling sambil memegangi perutnya dengan tawa berkumandang keras. Suaranya yang biasanya terkesan acuh ternyata dalam tawa spontan yang ia lontarkan, menimbulkan rasa geli yang tak bisa kujelaskan dari mana asalnya. Seakan memunculkan berbagai kelucuan di dunia yang tak bisa kumengerti. Bahkan sesaat, kukira burung-burung turut bergembira bersamanya.
"Kau lucu, Kay. Aku suka," sahutnya dalam sisa tawa.
Arborite duduk di tanah, merangkulkan kedua tangan pada kakinya yang tertekuk santai dalam siraman cahaya pagi dengan semilir angin pagi, kicauan berbagai burung dan gemericik kecil suara pancuran. Sungguh bagaikan sebuah lukisan malaikat dalam karya seniman ahli, memerangkapku dalam keindahan yang selama ini menjauh dari pandang dan pikiranku.
"Dunia manusia masih sedemikian sederhana ketika aku meninggalkannya dan menjalani 'kutukan' ini, Kay" ujarnya sambil mencabut sebatang bunga rumput dan memasukkannya ke dalam mulut.
Nada getir yang kental, menguar bagai racun ke udara, menahan jawaban ketus yang sudah terkumpul di mulutku.
"Kesalahan yang harus kutebus dengan cara mencari dan memastikan mereka yang tak bisa pulang pada-Nya menemukan jalannya. Dan berharap, semoga Dia mau mengampuni dan mengijinkanku pulang juga akhirnya..."
Tak salah lagi, meski dibalut nada bicara yang biasa, Arborite terdengar sedemikian lelah, renta dan terkuras oleh semua hal yang harus ia lakukan.
"Emang sudah berapa lama kau begini?"
Sungguh pertanyaan yang aneh, namun aku tak mampu menahan diri untuk tak menanyakannya.
"Aku lupa... Yang jelas, banyak cewek masih banyak yang bertelanjang dada." gelaknya.
__ADS_1
"Tapi lupakan tentangku. Mari kita bicara tentangmu saja." sahutnya lagi sambil tersenyum.
"Kamu tahu apa yang terjadi padaku, Ar?"
"Iya. Kamu itu cecunguk yang beruntung." gerutunya, dan dengan gemas, mencabut bunga rumput di mulutnya dan *** sekuat tenaga lalu melemparkannya menjauh.
"Aku berpuasa mutih selama 41 hari, tapa pendem selama 3 hari weton, dan pati geni cuma untuk menguasai sedikit saja kemampuan yang kamu miliki."
Melihatnya merepet seperti itu, sesungguhnya sungguh sebuah ironi. Arwah dengan kekuatan besar, memiliki kemampuan tinggi dan (katanya) sudah ada sejak masih banyak cewek yang masih bertelanjang dada (?!) itu merajuk di atas hamparan rumput dalam busana modisnya, menggerutu dan bertingkah macam bocah yang gagal dibelikan mainan kesukaannya...
"Kamu pikir aku LELUCON YA??!"
Arborite murka. Nampaknya pikiran yang berkecamuk tentangnya sudah memunculkan senyum di bibir tanpa kusadari. Dan tak bisa kusangkal, kekuatan batin yang sangat kuat bagai mendera. Menekan badanku dan membuatnya tak mampu bergerak dengan kekuatan seribu orang. Menjulang dalam kesempurnaan lekuk badannya, rambut gondrong itu meriap dalam retihan angkara.
"Jangan baper deh. Aku tersenyum karena pikiranku sendiri tahu..." cicitku dalam rasa jerih yang semakin berkembang kuat.
"Ah, dasar kecoak tak berguna." ucapnya sambil membalikkan badannya dariku.
Cepat-cepat aku berdiri. Nampaknya setan ini tak mampu mengontrol emosinya.
"Maaf, bukan tak sopan, tapi kau bilang mau mengajariku menggunakan kekuatan ini.." ucapku lirih.
Arborite tampak seperti menghela nafas ketika mendengarku.
Ah, apakah dia juga bernafas ya, kikik pikiranku lagi.
Namun jika ia bisa mendengar pikiranku-pun, nampaknya ia tak memperdulikannya.
"Masuklah ke dalam pondok itu, Kay. Kau akan menemukan sebuah lontar yang berisi banyak hal yang harus kau ketahui. Tulisannya takkan terbaca oleh orang lain, namun kau akan bisa membacanya. Kunci kitab lontar itu sudah tertoreh di kulitmu." ucapnya datar, bahkan tanpa berusaha berpaling menatapku. Badannya tegak berdiri menatap kejauhan membelakangiku.
"Anu, Ar.."
__ADS_1
"Tutup mulut. Masuk dan pelajarilah semuanya, lalu tinggalkan tempat ini. Bawa hantu cewek dari rel itu. Aku bosan dengan tangisannya." potongnya dingin.
Aku menghela nafas dalam ketika distorsi cahaya mulai bergolak dan mengaburkan sosok Arborite. Nampaknya aku tak punya pilihan lain. Perlahan, langkahku bergerak dan mencoba menguatkan hati untuk menghadapi saja apapun yang akan datang selanjutnya. Jika memang apapun yang dia katakan benar, akan kuambil semua resiko yang datang bersama kemampuan ini. Aku harus bisa menunjukkan jalan kepada kedua orangtuaku untuk pulang...