
Pengalaman mendekati kematian yang baru saja berlalu memberikan pandangan baru tentang dunia seperti apa yang coba kupahami saat ini. Nampaknya aku terlalu meremehkan banyak hal dari tulisan-tulisan di kitab kuno yang diberikan Arborite. Tak lagi punya keinginan selain mendapat penjelasan, aku mulai mencoba berkonsentrasi sekuat tenaga, mencoba menemukan rasa spiritual yang akrab dari Arborite, dan perasaanku nampaknya berniat untuk bekerja sama sepenuhnya.
Sebuah pemandangan baru terbentang luas dalam bentuk alam yang sama sekali tak pernah kukenali, tercetak jelas dalam pikiran, yang kurasakan, mengalir dari bagian belakang kepalaku.
Eh?!
Apa ini artinya???
Visi ini bagai terproyeksi ke setiap sel, bahkan sayup-sayup, aku seperti mendengar suara Arborite yang terkesan sedang memarahi seseorang, sementara yang lain juga membalas omelannya dengan tajam.
"Rayna?"
"Kaaayy!!!"
Aku tersenyum ketika teriakan mental Rayna bergema, memberikanku sekilas lokasi keberadaan mereka berdua saat ini. Segera kututup kemampuan aneh yang baru ini dan bergegas melangkah. Tak nyaman ketika memiliki dua visi penglihatan yang berbeda seperti ini. Aku lebih memilih sesuatu yang lebih pasti, mata fisikku...
**********
Wajah-wajah yang berlalu terasa asing, dingin dan acuh, meski berbagai pemandangan yang ada memunculkan berbagai kilasan kenangan yang terpatri kuat dalam ingatan. Malam semakin tua, perlahan menyelimutkan pesona dingin yang akrab. Kota ini sama sekali tidak pernah berubah. Walau banyak bangunan baru menghiasi sudut-sudutnya, aroma, kehangatan dan keakraban yang ia timbulkan tak pernah berkurang. Demikian pula rumah ini...
Meski rumput dan berbagai jenis tanaman meliar di halaman, atau pagar besi tempa setinggi dada yang sudah terlihat seperti jalinan besi tua berkarat menyamarkan bentuk rumah kecil itu, rasa yang terpancar tetap sama. Atapnya yang mengambil bentuk campuran antara rumah adat Jawa dan arsitektural modern sebagian tertutup dalam rimbun pohon mangga, tempat dulu aku sering 'tersangkut' di salah satu cabangnya, dan terpaksa membuat Ayah pulang di tengah jam perkuliahan yang sedang ia bawakan untuk melepaskan dan menurunkanku. Atau bangku ayunan yang nampak tua dan reot, yang terletak di sampingnya, tempat Ibu sering terlelap kelelahan setelah 'bermain' di kebunnya. Meski hanya cahaya dari lampu jalan yang saat ini berupaya untuk memberi penerangan tanpa banyak hasil, dan meski hanya bentuk samar siluet dari apa yang terpatri dalam-dalam di ingatan, tempat ini adalah satu-satunya yang menjadi akarku.
Ini rumahku..
Tempat dimana semua pengetahuan, indahnya dunia, hangatnya kasih sayang dan besarnya rasa kehilangan berkumpul menjadi satu dan menjadi dinding sekaligus magnet bagiku untuk datang dan memasukinya lagi. Tapi ini semua harus berhenti. Peringatan Arborite sangat jelas, dan meski samar, sedikit pengetahuan muncul dari kedalaman pikiran tentang bahaya yang bisa muncul ketika arwah penasaran berdiam terlalu lama di alam manusia. Dan aku tak ingin jika hal ini sampai terjadi pada siapapun, termasuk kedua orang tuaku.
Maka, tak perduli seberat apa, ini harus dilakukan...
Menguatkan diri, kudorong pintu pagar yang tak terkunci dan bersiap dengan berbagai hantaman mental dari kenangan, baik yang manis ataupun pahit di rumah ini, meski praktis sekarang sama saja rasanya. Rasa tak percaya, sebal, jengkel, marah dan benci akan semua kondisi ini benar-benar mulai mengancam dan mendorong kesadaran ke arah kegilaan. Kelebatan demi kelebatan bayangan yang akrab memaksa masuk, meski sekuat tenaga coba kutahan. Setiap bagian tubuhku enggan bekerja sama, ketika rasa sedih yang sangat kuat muncul dan menguasai setiap inchi pikiran dan membuatku mematung di depan pintu masuk rumah.
"Kkkaaaayyy!!!"
Aku sungguh tak tahu apakah harus tertawa atau menangis ketika sosok lembut yang dingin milik Rayna, yang saat ini nampak sedemikian terguncang dan frustasi, muncul entah dari mana dan memelukku erat. Menangis dan gemetar dengan hebat, dan secara otomatis, menarikku dari kegilaanku sendiri. Hantu cantik itu merajuk dan terus berbicara dengan panik di tengah isak tangis yang sama sekali tak ia coba tahan sedikitpun.
Dalam riak udara beberapa langkah di belakangnya, muncul sosok Arborite dalam wujud anak mudanya yang mempesona, lengkap dengan tatapan mata setengah jijik setengah geli ketika ia melihat adegan di depannya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum ejekan kecil sambil mengangkat jari, menyilangkan di depan dahinya lalu memutar jari itu di pelipisnya.
"Bocah perempuan gila!"
"Rite, sekarang aku sudah bisa menggunakan api penyucian jiwa lho, mungkin kamu kedinginan dan ingin kuhangatkan dengannya?" batinku sebal membalas proyeksi pikirannya.
"Simpan itu untuk yang lain, kau masih belum mampu mengirimku pulang." balasnya tanpa sedikitpun berusaha menahan dan menyembunyikan rasa gelinya
"Bagaimana kalau dicoba dulu?"
Arborite terbahak dan memilih untuk diam dan dengan santai, memilih kursi di teras untuk duduk.
"Abo bilang kalau aku ini cuma arwah, Kay..."
Ehh, Abo???
"Ehm, Abo itu siapa, Ray?" sahutku pelan ketika salah satu ocehan panik Rayna di tengah tangisnya, yang akhirnya ada yang bisa ku tangkap maksudnya. Sebenarnya, ketika melihat reaksi masam yang muncul di wajah Arborite, aku sudah bisa menduga siapa 'Abo' yang dimaksud ini, tapi aku takkan mau melewatkan kesempatan ini.
Kapan lagi bisa ngerjain arwah yang dikutuk oleh Tuhan sendiri untuk berjalan seumur bumi dan menjadi gembala arwah tersesat-Nya?
"Abo! Abo! *****! Jahat!!!" dengus Rayna sengit sambil menoleh ke arah Arborite yang terduduk di kursi, dengan wajah ternganga melihat reaksi Rayna.
Wajah Arborite makin tak enak dilihat ketika melihat aku sudah tergeletak di lantai, tertawa terbahak-bahak dengan tangan di perut, sekuat tenaga mencoba menahan tawa liarku yang menggema tak terkendali, memecah kesepian dan entah kenapa, sedikit meringankan pikiranku.
"Terus, terus, terusin aja Bocah!" sembur Arborite kesal sambil memandangku dan Rayna tajam.
"Namamu susah, Bo, aku panggilnya susah tau!"
__ADS_1
Dering jernih argumen balasan dari Rayna makin membuatku tak mampu bertahan lebih lama ketika aku mulai berguling-guling dalam tawa, dan cek cok antar mereka berdua berlanjut.
Ditengah tawa, secercah pikiran yang menenangkan hati menyeruak dan entah bagaimana, membuatku sedikit banyak, mulai menerima berkah sekaligus kutukan ini. Melihat bagaimana Arborite, meski masam dan selalu sinis dalam segala hal yang ia lakukan, terlihat menikmati berbagai pertengkaran dan interaksinya. Kesadaran yang datang sungguh-sungguh menghantam dengan sangat keras. Melihat keduanya seakan bercanda dalam pertengkaran mulut itu, aku menyadari perasaan yang coba mereka sangkal.
Huft, melihat berbagai hal tanpa mampu menyentuh atau bahkan terlihat pasti sangat melelahkan ya, Bo?
Tawaku sudah berhenti, namun senyum yang tersisa penuh rasa penerimaan sekarang. Sekarang aku mengerti apa yang harus kulakukan dan aku siap sekarang...
"Sudah, berhenti." ucapku sambil berdiri, perlahan menepuk setiap bagian tubuhku yang penuh debu hasil dari bergulingan di lantai teras dalam euphoria tawaku sebelumnya.
"Terima kasih, Bo, sekarang aku siap dan aku paham maksud perkataanmu sebelumnya. Maaf, aku butuh waktu terlalu lama untuk sampai disini..."
Arborite memandangku dengan pandangan penuh antisipasi sekarang.
"Kau yakin, Bocah? Ini bukan salah satu waktu dimana kau akan bilang 'tapi Bo'ong' di kalimat selanjutnya kan?"
"Kau... setan... gaul!" balasku di tengah semburan tawa yang tak mampu kutahan.
"Kay? ini apaan sih? Ray kok ngerasa nggak nyaman ya? ini bercandaan kan?"
Nada khawatir yang muncul dari pertanyaan Rayna sedikit mencubit hati dan menimbulkan rasa sedih yang kuat, tapi hatiku sekarang sudah sedikit lebih kuat. Sesepi apapun jalanku di depan, Rayna tak boleh menderita terlalu lama di alam manusia hidup seperti ini.
"Ray, I'm sorry, girl. Semua yang dikatakan Abo benar. Kau sudah mati, dan apa yang ada saat ini adalah jiwa yang tersisa dari apa yang ada dulu. Sama seperti Arborite ini, sama seperti kedua orangtuaku yang terperangkap di dalam rumah ini..." ucapku pelan, sambil berusaha menahan kesedihan dari perubahan wajah cantik di depan mata, mengabaikan protes Arborite atas nama yang kupakai. Menahan perasaan takut akan kesepian yang akan datang setelah mereka berdua 'pulang'.
"Kay..."
Tuhan, kuatkanlah hatiku...
Bait demi bait mantera mulai terangkai dalam pikiran dan mendaras keluar dari mulutku, mendorong kekuatan alam unjuk kuasa dalam barisan kuat angin yang menggelorakan rasa gelisah dalam kesiuran yang terdengar bagai ayunan pedang tajam. Dalam diri, bisa kurasakan gelombang rasa panas yang muncul dari dasar pusar dan merambat keluar, memenuhi tubuh dengan tenaga mengerikan yang mengalir menuju telapak tangan kanan, yang kuulurkan pada Rayna. Cahaya ketakutan berkilat di matanya ketika telapak tangan kananku yang mulai memancarkan cahaya putih berselaput kuning terang mendekat ke wajahnya.
Sebut aku konyol, tapi sungguh aku ingin membenamkan setiap inchi wajahnya dalam ingatanku sebelum ia pergi...
"Terima kasih, Kay... Beberapa waktu ini sangat indah. Aku sangat bahagia bisa bertemu denganmu..."
Dering suaranya berdering di kedalaman pikiranku ketika akhirnya Rayna menerima dan mengerti apa tepatnya dirinya, dan bersiap untuk melanjutkan perjalanannya untuk kembali pada sang pencipta.
"Jangan menangis, Kay. Aku tidak sedih lagi kok. Aku sungguh sangat bahagia selama waktu ini. Jika Dia yang maha hebat mengijinkan, aku sungguh ingin bisa bertemu denganmu lagi di kehidupan yang lain." bisiknya perlahan.
Tangannya terangkat dan mengusap air mata yang mengalir di pipiku dengan lembut. Tubuhnya semakin transparan oleh cahaya yang memancar semakin kuat.
Aku tahu hatiku kuat, namun setiap kenangan dan waktu yang sudah kami lewati bersama, sungguh tak memberikan kemudahan padaku untuk menahan kesedihan ini. Aku tahu dengan pasti, karena aku yakin tak cuma aku yang merasakan ini ketika Arborite bahkan memalingkan wajahnya dari pemandangan yang sangat indah namun memilukan ini.
"*Sudah, Kay. Jangan menangis lagi, aku jadi nggak pengen pulang kalau kamu begini..."
"Iya, maaf ya Ray... Selamat jalan Ray, until we meet again*..." balasku pelan, sekuat tenaga mencoba menahan getaran isak yang memaksa keluar dan menggetarkan suaraku.
Udara seakan memadat sekeras tembok dengan gelombang-gelombang bukaan ruang ketika tubuh Rayna yang bercahaya berjalan mundur menjauh dariku.
Senyum penuh pengertian yang muncul di bibirnya sungguh sangat cantik, namun ternyata sungguh membuatku tak mampu menahan perasaan lebih lama lagi. Air mata yang sekuat tenaga kutahan sebelumnya, mengalir deras seiring cahaya yang bersinar semakin kuat, mengaburkan pandangan mata batin dan seluruh keberadaan Rayna. Guntur dan petir berpesta pora bersama barisan angin yang semakin menguat dalam kegilaan alam. Namun aku cuma bisa tertunduk lesu, terpekur menatap lantai kotor seiring cahaya itu menghilang bersamaan dengan meredanya kegilaan alam. Aku bahkan tak mampu menunggu dan melihat sosok yang mulai mengisi hari dengan kecerewetan dan kelakuan anehnya yang tanpa henti itu, yang tanpa kusadari, sangat kunikmati dalam kekacauan perasaanku. Aku tahu, rasa kehilangan ini takkan mudah untuk diatasi lagi...
"Kay?!"
Sentuhan di bahuku terasa sangat akrab, namun aku tak mau lagi terperangkap dalam perasaan penuh kesedihan yang menghancurkan ini lagi.
"Bocah"
"Diamlah, Bo..." balasku sengit, larut dalam kesedihan yang masih kuat melingkupi hatiku dalam kekuatan yang menghancurkan niat.
"Kay, are you really don't want me here?"
Ah, nada suara ini???
__ADS_1
Dan wajah cantik yang barusan kutangisi kepergiannya menyambut mataku..
"*Wooow, Kay? kamu menangis untukku??! Ahhh, aku sungguh bahagia sekarang!!!"
What the hell is happening actually*??!
Wajah Rayna sedikit berselaput warna cerah, entah bagaimana itu mungkin, tapi ia dengan lagak centilnya yang biasa, benar-benar berdiri di sana. Masih memiliki lapisan cahaya biru tipis yang berselaput sedikit kuning terang diantaranya, namun ia benar-benar berdiri disana. Lengkap dengan senyumnya yang indah.
"Abo, kau tak ceritakan apapun padanya ya?"
"Sebenarnya pengen, tapi aku jadi pengen ngerjain setelah dia ketawa guling-guling macam **** tadi!" balas setan gondrong itu cepat.
"Abo, bisakah kau jelaskan apa sebenarnya yang terjadi disini?" ucapku pelan sambil berusaha menghapus air mata yang masih nekat terus menetes.
"Eh, elu beneran nangis ya?" sergahnya sambil menganga ketika ia melihatku.
"*******, Abo, Setan! Jelaskan!!!"
Tapi teriakan kemarahanku sudah tertelan oleh suara tawa Arborite, yang dengan sukses, mengimitasi kelakuanku tadi. Tawa liar tak terkendali, lengkap dengan guling-guling seperti ****, yang ia ucapkan sebelumnya tanpa mampu melakukan atau memberikan penjelasan apapun...
"Kesalahan yang kau lakukan dulu ketika hendak menyempurnakan jiwaku menjadi sebab ini semua terjadi, Kay. Alih-alih menyempurnakan jiwaku, kau memberikan *hawa kehidupan pada tubuhku, kau ingat?"
"Iya, tapi untuk kali ini aku tidak melakukan kesalahan, Ray*..." balasku tak mengerti.
*Sialan tawa setan tua konyol ini benar-benar mengganggu!
"Tubuhku dibawa Abo dan disimpan. Penyimpangan yang kau lakukan dulu harus diluruskan dengan memberikan hawa kehidupan yang sama untuk jiwaku, persis seperti yang kau lakukan tadi. Hal itu memperkuat ikatan jiwaku dengan tubuh matiku, supaya tak ada arwah lain yang bisa menggunakannya..."
Okey, that's doesn't sound scarry at all..
"Dan kau tahu ini, lalu sepakat untuk mengerjaiku begitu?" sergahku panas
"Abo menceritakan ini semua tadi. Meski aku bahagia, tapi aku takut itu hanya bualan Abo saja. Aku sedikit lelah dengan harapan, Kay..."
Otakku bergerak dalam kecepatan mengerikan dengan berbagai hal yang semakin lama semakin mengerikan saja isinya.
Ini berarti aku bisa memberikan kemungkinan hidup kembali untuk orang yang sudah mati?
Bercanda kan?
"Jangan berpikir untuk melakukan hal yang sama untuk orang lain, Kay..."
Rayna menatapku dengan sinar mata penuh pengertian yang berselaput rasa kasihan yang amat sangat. Nampaknya ia bisa melihat kemana otakku berjalan.
"Kau hanya memberikan kemungkinan aku hidup kembali dengan jaminan nyawamu sendiri, Kay... Itu kesalahan, penyimpangan. Itu sebabnya si pemakan dendam ingin sekali memakan jiwaku dan kau... Kau dan aku terhubung dengan cara yang tak boleh lagi ada di dunia Tuhan, Kay, dan percayalah, Dia takkan mengijinkan hal seperti ini terjadi untuk kedua kalinya. Lagian, kalau ganti hidupku adalah nyawamu, lebih baik aku seperti sekarang saja." ucapnya cepat, memotong setiap pemikiran liar yang berkembang sebelumnya.
Sial, meski mendengar penjelasan ini, pikiranku tetap sulit untuk dikendalikan. Dunia kedokteran sudah sedemikian canggih, mungkin saja bisa menemukan sebuah jalan, tapi...
"Kau lihat mukanya itu, Ray? Sungguh balas dendam yang bagus" ujar Arborite di tengah gelak tawa yang terus tersembur tanpa mampu ia kendalikan, sementara Rayna, nampak cuma bisa menggeleng pasrah melihat kelakuan Arborite yang masih tergelak-gelak tanpa nampak ada keinginan berhenti.
Setan tua ini benar-benar menjengkelkan... Apa susahnya sih menceritakan hal beginian sebelumnya?
Aku benar-benar merasa sudah membuang-buang air mata dan perasaanku...
*Yah, minimal Ray masih tetap disini, ia tak harus pergi...
"Ehm, Kay, aku bisa mendengar pikiranmu*..."
What??!
Sialan!
__ADS_1