
Gambar-gambar yang lumayan mengganggu. Isi gambar-gambar itu tampaknya hampir sama dengan isi jurnal ayah, meski tingkat detail termasuk informasi tambahan lain tampaknya jauh lebih lengkap. Apalagi ketika Kay mengeluarkan kaca mata hitam dengan bentuk retro itu dari sakunya. Sejak ia mencoba menggunakan benda itu di dalam ruang bawah tanah, ia tak pernah mencobanya lagi. Lagian tak ada apapun yang layak untuk diperhatikan. Tak ada hal aneh yang terjadi ketika ia menggunakan benda itu.
Tapi catatan dalam jurnal ayah, dan bahkan gambar yang dibuat Andini memasukkan item antik ini. Perhatian pemuda itu tampak sepenuhnya terserap ke benda di tangannya ketika akhirnya ia memutuskan untuk menggunakan lagi benda itu. Hanya saja, ketika benda itu ia pakai dan akhirnya mendongak, pemandangan yang muncul membuatnya terperangah dan sontak melepaskannya kembali.
"Ray, coba kau berjalanlah kemari. Usahakan tidak membuat adik-adik yang tengah kau jahili itu berada di belakangmu."
Rayna, yang tengah asyik "bermain", segera mengalihkan pandangannya pada pemuda yang tengah duduk di bawah naungan pohon besar itu, dan tubuhnya menghilang dari pandangan Kay.
"Ada apa Kay, kok kayak yang panik gitu?" jawabnya ketika sosoknya yang seksi muncul kembali di depan gerbang sekolah.
"Ga usah sok cantik gitu deh, bukan mau difoto juga. Coba kau jalan dari situ kearahku pelan-pelan." gerutu Kay dalam komunikasi mental mereka ketika melihat gadis cantik itu berdiri sambil memegang pinggiran pintu gerbang besi dalam pose yang mencuri nafasnya, sementara Rayna hanya terkikik bahagia sambil mulai berjalan menuju Kay.
"Emang aku lho cantik, Kay. Nggak usah ngapain juga tetep aja cantik." jawabnya centil sambil menuruti permintaan Kay sambil melenggak-lenggokkan pinggulnya.
"Mirip bebek yang..."
Jagad dewa bathara!!!
Usai mengenakan kacamata, Kay yang kembali melihat sosok cantik itu, terperanjat dan sontak melepaskan kembali benda itu. Sayangnya, apa yang barusan ia lihat melalui benda itu terlanjur menempel dalam pikirannya.
Sosok Rayna yang biasanya cantik nampak sedemikian mengerikan. Luka besar yang terlihat di kepalanya mengeluarkan darah kental, yang turun membasahi kemeja kotak-kotak yang ia kenakan. Wajahnya pucat, membiru dan mati, menghilangkan semua kesan senyum ceria yang biasanya ada disana. Sementara kancing bajunya rusak di beberapa tempat, meninggalkan area pribadinya terbuka. Tak terlalu jauh berbeda dengan ketika awal mereka bertemu waktu itu. Saat ketika semua hal aneh ini belum terjadi.
Sialan!
Kay mendengus dalam hati sambil mengusap keringat dingin yang mengalir tanpa mampu ia tahan. Meski bisa melihat dan berkomunikasi dengan berbagai entitas tak beraga, hal yang muncul di depan matanya adalah wujud mereka yang biasa, tak berbeda dengan manusia pada umumnya. Tampilan mengerikan tadi lumayan agak menggetarkan hatinya.
__ADS_1
"Kamu kenapa Kay?"
Pemuda itu tak bergeming untuk menanggapinya. Ia tengah berusaha untuk menetapkan hati untuk kembali memakai benda itu. Pikirannya mengatakan kalau tak mungkin cuma itu saja kemampuan yang dimiliki benda terkutuk ini.
Mengacuhkan Rayna yang mulai cemas dengan kelakuannya, pemuda itu menarik nafas dalam untuk menenangkan diri, dan kembali mengenakan kacamata itu, untuk kembali terperangah.
"Kay... Kay.. Kay!!!" desak Rayna yang mulai cemas ketika melihat Kay tampaknya terserap dalam apa yang ia lihat saat ini. Tapi bahkan ketika Ray mengguncang tangannya, pemuda itu tampaknya tak memberikan respon sama sekali.
......................
Anak-anak kecil yang berlarian sambil tertawa, beberapa yang tengah duduk di pagar depan kelas mereka sambil bercanda, atau siapapun yang tengah ia lihat saat ini, sama sekali tak mengenakan baju!
Dalam kondisi telanjang bulat, mereka semua seakan tak menyadari kalau mereka telanjang, terus saja melakukan berbagai kegiatan yang mereka lakukan. Tak perduli bocah atau dewasa, mereka semua telanjang bulat!
Wtf, Grandpa?!!
Cabul amat sih??!
Menyadari kemampuan benda itu, mau tak mau, godaan untuk menggunakan benda itu muncul dalam hati Kay. Biar bagaimanapun, bisa melihat tembus baju, merupakan sebuah daya tarik tak tertahankan. Yah, pemuda normal mana yang tak pengen memiliki hal seperti ini, meski mungkin pemandangan yang ada didepannya saat ini agak kurang menarik.
Meski telanjang bulat, yah, mereka bocah-bocah...
Sayangnya, komunikasi mental yang aneh, mendesak masuk dalam kesadarannya dan kehadiran yang kuat seakan mengisolasi setiap keberadaan lain. Sementara itu, pandangan Kay seakan terpisah dari kesadaran pikirannya sendiri. Samar-samar, di dasar kesadarannya, sosok mempesona lain muncul serupa bayangan. Meski tak terlihat jelas, bayangan ini menghadirkan pesona wanita dewasa yang tak tertahankan, menimbulkan bangkitnya gejolak keinginan primitif manusia. Setiap gerakan sosok samar itu seakan menghadirkan gejolak nafsu yang seakan membengkak dan mengisi setiap sel dalam tubuh Kay. Dan dorongan itu makin menguat ketika suara renyah penuh rayuan terdengar dalam benak Kay.
"Akhirnya ada tuan baru... Apa yang bisa kulakukan untukmu, Tuan? Aku bisa memenuhi apa yang kau inginkan. Harta sebanyak yang kau mau, dan aku yakin bisa memuaskan semua fantasi liar dalam hatimu akan wanita. Tunjuk saja imbalanku, dan kau pasti tak akan kecewa..."
__ADS_1
Seakan terhipnotis, tangan Kay mulai terangkat, memilih sosok yang diinginkan oleh bayangan dalam benaknya itu. Pemuda itu bahkan seakan tidak mampu merasakan badannya yang diguncang keras-keras oleh Rayna. Tangannya terus terangkat perlahan.
"Pelan, Kay... Ingat apa yang kubilang tentang nafsu dan keinginan?"
Bisikan kecil itu pelan, perlahan menelusup masuk kedalam hati dan sedikit, memberikan celah dalam ilusi kuat nafsu yang menguasai pikiran Kay.
"Supiah? Tunggu..."
Perlahan, sosok kabur Supiah mewujud dalam bayangan Kay. Senyumnya yang lembut, perlahan mengembalikan kesadaran Kay. Sontak, pemuda itu segera melepas benda terkutuk itu dari wajahnya dan reflek membuangnya.
"Benar seperti itu, Kay. Ingatlah untuk memanggilku ketika nafsu menguasai hatimu..." bisik sosok serupa dirinya itu ketika perlahan, bayangannya mengabur dan menghilang dari benak Kay.
Baru pada saat ini, Kay mampu merasakan kepanikan yang melanda Rayna, yang terus saja mengguncang badannya keras-keras disertai teriakan-teriakan mental yang bergema di benaknya. Seiring dengan rasa takut yang menggetarkan, Kay kembali mengusap keringat dingin yang membasahi dirinya.
"I'm alright now, Ray. Hentikan mengguncang badanku..."
Sambil menghela nafas berkali-kali, pemuda itu mencoba menenangkan dirinya. Rasa takut masih terus mencengkeram hatinya. Entah apa yang akan terjadi jika Supiah tak mengganggu dan menyebabkan pemuda itu meraih kembali kesadarannya. Tak menghiraukan kicauan panik dari hantu cantik yang melayang di sisinya, pemuda itu meraih benda laknat itu meski dengan perasaan ngeri.
Sialan, benar-benar tak bisa dianggap remeh ternyata. Siapa juga yang akan bisa menolak pesona barang macam beginian?
Mau tak mau, batin Kay berdering dengan kutukan dan makian tanpa henti. Tanpa bantuan Supiah, bahkan ia tak akan mampu melepaskan diri dari godaan benda itu. Tanpa mampu ia tahan, badannya bergidik akan akibat yang akan terjadi jika Supiah tak muncul dan membantunya.
"Ayo pulang, Ray. This should be end as fast as possible. Sialan, warisan kok begini amat..." rutuk Kay sambil beranjak meninggalkan tempat itu. Sebelumnya, ia berencana menunggu waktu Andini pulang supaya mereka bisa pulang bareng, tapi tampaknya ia tak mampu menahan diri untuk segera menjauhkan benda terkutuk yang sekarang tersimpan dalam tasnya itu. Buru-buru, Kay meninggalkan tempat itu.
......................
__ADS_1