
Awan yang hitam pekat bergulung-gulung di langit Desa Sekarjati, bagian dari Kadipaten Pati ditambah asap hitam yang berasal dari beberapa titik serta bau amis darah menambah suasana mencekam di Desa Sekar Jati.
Seluruh Desa terlihat hancur porak poranda akibat serbuan tentara VOC. Pasukan VOC terlihat puas telah menbantai dan menghancurkan Desa tersebut setelah mendapat laporan bahwa Ki Ageng Sekar Jati, kepala Desa tersebut adalah pendukung salah satu Pangeran tersebut.
Sebetulnya laporan tersebut tidak berdasar, karena Ki Ageng Sekar Jati selama ini menjauhkan diri dari intrik-intrik Keraton, tetapi rupanya Ki Jogoboyo Desa Sekarjati, yaitu Ki Gandrik menginginkan kekuasaan sebagai kepala desa, sehingga dibuatlah fitnah terhadap Ki Ageng Sekarjati.
Pasukan VOC melancarkan serangan ke Desa Sekarjati membantai para penduduk desa dan mulai membakar rumah-rumah.
Terdengar suara bedil menyalak, desingan peluru, serta jeritan dan erangan para penduduk desa yang ketakutan dan meregang nyawa.
Darah tumpah seolah membanjiri tanah desa yang biasanya tenang dan bersahaja. Mayat-mayat bergelimpangan dimana mana, bau amis darah menyeruak memenuhi udara menambah kelam suasana di Desa Sekarjati.
Di kediaman Ki Ageng Sekarjati…
Ki Ageng Sekarjati melawan mati-matian pasukan VOC yang dipimpin Ki Gandrik. Sekujur tubuhnya dipenuhi darah yang mengalir melalui luka-lukanya.
“Terkutuk kau Gandrik, setelah segala kebaikan yang kuberikan padamu, ternyata kau melakukan kekejian terhadap kami semua!” teriak Ki Ageng Sekarjati sambil terus melawan keroyokan pasukan VOC.
“Hahahaha…setelah kematianmu, aku akan menggantikan kedudukanmu sebagai kepala desa sekaligus kedudukanmu sebagai suami Nyai Laras.”Ki Gandrik tertawa mengejek.
“Aku mengadu nyawa denganmu Gandrik! Nyai, mundurlah…lari dan bawalah putra kita sejauh mungkin, aku akan menahan para durjana ini.”kata Ki Ageng Sekarjati pada istrinya.
__ADS_1
“Kakang…aku tidak akan meninggalkanmu.”tangis Nyai Laras.
“Nyai, kuatkan hatimu dan dengarkanlah…inilah titahku sebagai suami padamu, lari dan selamatkan anak kita dari sini.”kata Ki Ageng sambil tersenyum pada istrinya.
Sejenak kemudian, Ki Ageng melompat menyerang pasukan VOC di hadapannya. Tombaknya menderu dan merobohkan beberapa lawannya.
Dooor....Tiba-tiba terdengar suara bedil menyalak dan Ki Ageng Sekarjati tersungkur roboh. Peluru menembus perutnya, darah langsung merembes membasahi pakaiannya.
“Duh Gusti Allah, ampunilah hamba dan mohon selamatkanlah anak istri hamba.”batin Ki Ageng sambil mencoba berdiri dengan tangannya bertumpu pada tombaknya.
Belum lagi sempat berdiri, suara bedil kembali terdengar menyalak dua kali. Kali ini Ki Ageng Sekarjati roboh.
“Kakaaang…” jeritan tangis Nyai Laras menggema seantero desa. Ia menghambur kearah suaminya sambil menggendong seorang bocah.
Dengan cekatan, Ki Gandrik mengambil kesempatan merebut bocah dalam gendongan Nyai Laras. Tubuh Nyai Laras terjerembab disamping mayat Ki Ageng Sekarjati.
Setelah menewaskan Ki Ageng Sekarjati dengan menggunakan bedil, Ki Gandrik menawan seorang bocah laki-laki berusia sekitar 3 tahun dan membujuk supaya istri Ki Ageng mau menyerah dan diperistri olehnya.
Bocah itu terlihat tidak sadarkan diri dalam gendongan seorang pasukan VOC yang dipimpin Ki Gandrik.
“Hahahaha, menyerahlah Nyai Laras, dampingi aku sebagai istri kepala desa Sekarjati, keselamatan anakmu satu-satunya berada di tanganku”.
__ADS_1
“Lepaskan anakku”, jerit Nyai Laras sambil menangis.
“Pasukan, bantu aku menangkap perempuan itu!”perintah Ki Gandrik sambil menerjang kearah Nyai Laras.
Nyai Laras berupaya melawan sambil membabatkan cundrik miliknya. Tiba-tiba sebuah bayangan berkelebat secepat angin dan menjatuhkan beberapa pasukan serta merebut bocah tersebut.
Kaget melihat keadaan membuat Ki Gandrik kehilangan kewaspadaan dan tergores oleh cundrik Nyai Laras di wajahnya.
“Jangkrik! Kuhajar kau perempuan busuk!”, seru Ki Gandrik sambil melepaskan pukulan kearah wajah Nyai Laras.
Sebagai perempuan biasa yang tidak memiliki ilmu kanuragan, Nyai Laras tidak sanggup mengelak, pukulan itu telak menghantam wajahnya hingga tubuhnya terpental beberapa tombak dan tersungkur hingga menghembuskan nafas terakhirnya.
Ki Gandrik terkesiap dan terkejut serta menyesal telah kalap mengeluarkan pukulan mengandung tenaga dalam tersebut hingga menewaskan Nyai Laras, karena sudah lama ia begitu menginginkan istri Ki Ageng Sekarjati yang sangat cantik dan halus dalam bersikap itu.
Menyadari keadaan sudah terlanjur, Ki Gandrik tidak mau berlarut-larut dalam penyesalan dan segera menotok beberapa titik darahnya untuk mencegah racun menjalar masuk kedalam tubuhnya. Ia segera menelan beberapa butir obat penangkal racun dan menyalurkan tenaga dalamnya untuk mengeluarkan racun cundrik tersebut.
Setelah beberapa saat, ia melihat keadaan sekelilingnya dan mendapati bocah tersebut sudah tidak ada di tempatnya, hanya terlihat beberapa pasukan tewas bergelimpangan.
Ki Gandrik menghela nafas sambil berpikir, “Siapa sebenarnya sosok bayangan yang menyelamatkan anak itu?”
Kemudian Ki Gandrik menoleh kearah jenazah Nyai Laras, “Sungguh sangat disayangkan perempuan itu sudah tidak bernyawa...tapi sudahlah, setidaknya aku berhasil mengambil kekuasaan atas desa yang sangat kaya ini” guman Ki Gandrik.
__ADS_1