
“Singgih Kyai, semoga ini bisa menjawab semua dan menjadi bukti atas keterangan hamba”ucap Danang sambil menjura bekti, lalu ia mengeluarkan kitab-kitab serta pusaka Kudi Kyai Nogo Samudro dan keris Kyai Nogo Bledeg serta membuka bajunya untuk memperlihatkan pusaka kotang Kyai Nogo Bumi yang dikenakan di balik pakaiannya, serta bekas luka akibat terkenah panah di dadanya setelah melepas kotang Kyai Nogo Bumi.
Terkagum dengan pusaka yang dimiliki oleh Danang, Kyai Surawisesa merasa penasaran dan berkata "Bolehkah aku melihat lebih jelas pusaka-pusakamu nakmas?”ucap Kyai Surawisesa.
“Silahkan Kyai.”ucap Danang lalu menghaturkan sembah bekti dan menjulurkan keris dan kudi miliknya dengan cara yang sangat santun.
Kyai Surawisesa menerima dan mengeluarkan keris Kyai Nogo Bledeg dari warangkanya, tiba-tiba di luar halaman terdengar suara petir menyambar bersahut-sahutan.
Terperangah Kyai Surawisesa dan Kyai Ageng Banyu Urip melihat keris tersebut. Keris Kyai Nogo Bledeg berdapur Nogososro, memiliki sebelas luk, dengan pamor Udan Mas terlihat sangat indah dan angker dengan aura kemerahan berpendar di sekelilingnya. Setelah mengamati keris Kyai Nogo Bledeg sejenak, ia kembali memasukkan keris itu kedalam warangkanya.
“Sungguh pusaka yang indah dan menggetarkan, bahkan petir menyambar bersahutan diluar ketika keris ini dikeluarkan dari warangkanya.”batin Kyai Surawisesa.
“Baiklah nakmas, aku minta kau tunggu disini. Aku dan Romo mu akan bicara berdua di dalam. Jangan kemana mana nakmas.”ucap Kyai Surawisesa.
“Singgih Kyai, hamba akan menunggu saja disini.”ucap Danang sambil menjura bekti.
Kyai Surawisesa lalu mengajak sahabatnya masuk kedalam untuk berbicara tentang dugaannya. “Mari dimas, kurasa kita perlu bicara sejenak.”ucapnya, lalu keduanya beranjak masuk ke dalam kediaman Kyai Ageng Banyu Urip.
Di dalam rumah, Kyai Surawisesa mengutarakan pendapatnya pada Kyai Ageng Banyu Urip.
“Dimas, menurutku anak itu tidak bersalah, ia hanya terkena fitnah yang entah dilancarkan oleh siapa, sehingga terlihat seolah ialah pelakunya.”ucap Kyai Surawisesa.
“Menurut pengamatanku bahkan tanpa pusaka yang dimilikinya, anak itu telah mengunggulimu dan aku dalam hal kanuragan. Jurus-jurus yang digunakan anak itupun rasanya bukan merupakan jurusmu yang kukenal sebelumnya, bahkan tingkat kesaktian dan tenaga dalamnya kurasa telah berada diatas kita berdua."ujarnya
"Jika saja ia menginginkan, ia bisa saja mengalahkan dan membunuh kita berdua dengan kesaktiannya. Tapi nyatanya bahkan anak itu tetap menghaturkan sembah bekti hingga pasrah bersedia menyerahkan nyawanya padamu dimas.”tambah Kyai Surawisesa.
“Lagipula menurutku jika ia telah berhasil mengambil kitab dan keris pusakamu, untuk apa ia kembali kesini?”ujar Kyai Surawisesa.
“Berdasarkan pengamatanku itulah maka aku memutuskan untuk menengahi kalian berdua sebelum kau menjatuhkan tangan pada anak itu, sehingga tidak ada penyesalan di kemudian hari nantinya.”ucap Kyai Surawisesa.
__ADS_1
Menghela nafas, kemudian Kyai Ageng Banyu Urip berkata, "Setelah kau jelaskan rasanya aku mengerti kakang. Sesungguhnya akupun terkejut dengan perkembangan kanuragannya, bahkan kecepatanku yang telah mengerahkan ajian Saipi Angin tidak mampu menyentuhnya sedikitpun.”ucap Kyai Ageng Banyu Urip.
“Rasanya anak itu melayang laksana menunggang angin saking cepatnya ia bergerak.”tambah Kyai Ageng Banyu Urip.
“Nah, lalu apa keputusanmu terhadap anak itu dimas?”tanya Kyai Surawisesa.
“Aku masih ingin membuktikan satu hal kakang, yaitu mengenai kuburan Bagas di halaman belakang. Rasanya belum tuntas jika belum membuktikan itu.”ucap Kyai Ageng Banyu Urip.
“Bagaimana caramu membuktikannya dimas?”tanya Kyai Surawisesa.
“Tunggulah kakang.”ucap Kyai Ageng seraya memanggil Danang.
Danang bergegas masuk dan menghaturkan bektinya. “Singgih Kanjeng Romo, ada apa gerangan hamba dipanggil?”tanya Danang pada Kyai Ageng Banyu Urip.
“Di halaman belakang ada sebuah kuburan dengan nisan bertuliskan nama kakangmu. Mari kita buktikan bersama dengan membongkar kuburan itu.”ucap Kyai Ageng Banyu Urip.
Akhirnya mereka bertiga bergegas menuju halaman belakang dan mulai membongkar kuburan itu dengan menggunakan cangkul yang biasa digunakan untuk menggarap ladang di sekitar kediaman Kyai Ageng Banyu Urip.
Setelah beberapa saat, tampaklah jasad yang telah menjadi tengkorak pada kuburan tersebut. Seluruh pakaian yang dikenakan jasad itu telah hancur walaupun sebagian masih tampak bekas-bekas yang bisa dikenali bahwa itu adalah pakaian yang biasa dikenakan oleh Bagas.
Beberapa saat mengamati, tiba-tiba Danang berseru, “Lihat ini Kanjeng Romo.”ujarnya sambil menunjuk kearah jari kanan tengkorak tersebut.
Tampak sebuah cincin perunggu tersemat pada jari manis tengkorak itu.
“Hmm...lantas jasad siapakah yang dikuburkan disini?” Seingatku Bagas tidak memiliki dan mengenakan cincin.”ujar Kyai Ageng Banyu Urip.
“Apakah tidak mungkin sebelumnya Bagas memiliki cincin tanpa sepengetahuanmu dimas?”tanya Kyai Surawisesa.
“Seandainya begitu pun, aku tetap yakin jasad tengkorak ini bukanlah jasad anak angkatku Bagas. Jika melihat susunan tulangnya, bentuk tulang kakinya agak bengkok dan bukan karena pernah patah, melainkan sudah sejak lahir.”ucap Kyai Ageng Banyu Urip.
__ADS_1
“Aku tahu persis susunan tulang anakku Bagas, karena setiap pagi aku membalurkan ramuan dan memeriksa tulang mereka berdua sebelum mereka berlatih wadag dan kanuragan.”tambah Kyai Ageng Banyu Urip.
“Berarti satu kepingan teka teki sudah terjawab. bahwa nakmas Danang bukanlah pelaku pembunuhan atas jasad ini, siapapun dia, dan jasad tengkorak ini bukanlah Bagas, jika melihat bukti yang ada.”ujar Kyai Surawisesa.
“Ngapunten Kanjeng Romo, lantas jika demikian jasad siapakah ini dan dimana gerangan kakangmas Bagas?”ucap Danang.
“Itulah pertanyaanku saat ini ngger, apakah angger Bagas masih hidup atau sudah meninggal? Jika masih hidup kenapa ia meninggalkan rumahnya, jika sudah meninggal dimana kuburnya? Apa hubungan kejadian ini dengan hilangnya kitab dan keris pusaka milik romo? Kenapa bisa ada kuburan dengan nisan atas nama Bagas disini?”ujar Kyai Ageng Banyu Urip.
“Sebaiknya kita kuburkan kembali jasad tengkorak ini dengan cara yang semestinya, masalah pertanyaanmu kita pikirkan dan mencari jawabannya nanti.”ucap Kyai Surawisesa.
“Baiklah, mari ngger, kita kuburkan dan doakan jasad ini siapapun dia. Aku juga minta maaf karena telah bersangka buruk padamu ngger. Setidaknya aku bersyukur tidak menjatuhkan tangan kepadamu atas bantuan kakang Surawisesa.”ujar Kyai Ageng Banyu Urip.
“Sanes kanjeng romo, menurut hamba rasanya siapapun bisa berprasangka demikian jika melihat keadaan yang ada saat ini. Kanjeng Romo sama sekali tidak memiliki kesalahan atas diri hamba.”ujar Danang.
Lalu mereka bertiga kembali menutup kuburan di halaman belakang dan mendoakan arwah pemilik jasad tersebut dan kembali masuk kedalam rumah untuk membersihkan diri dan bersiap untuk bersantap karena matahari telah berada diatas kepala mereka.
Saat bersantap, suasana agak terasa hening karena di kepala ketiga orang itu berkecamuk pikiran dan berbagai pertanyaan atas yang telah terjadi.
Hingga akhirnya setelah selesai bersantap Kyai Ageng Banyu Urip berkata,”Ngger anakku, mendengar ceritamu tadi, aku inggin agar kau tinggal disini selama beberapa purnama untuk menyelesaikan pelajaran dan pemahamanmu atas kitab-kitab yang kau temukan. Lalu setelah itu aku ingin kau berdharma bakti untuk rakyat dengan memerangi angkara di tanah Jawa."
“Menurut keterangan yang kuperoleh, saat ini bangsa berambut jagung dan para pengkhianat negeri ini semakin kejam dan semena-mena di tanah Jawa. Mereka semakin menindas rakyat kecil dengan pajak tinggi dan merusak tatanan budaya dengan tindakan-tindakan layaknya binatang yang sangat jauh dari aturan dan budaya luhur tanah Jawa.”
“Bahkan para antek pengkhianat itu rela menjual harga dirinya dan bertindak lebih keji dari bangsa berambut jagung itu sendiri, hanya demi kedudukan dan harta. Ketentraman dan keseimbangan di Tanah Jawa telah porak poranda oleh keserakahan ngger”ucap Kyai Ageng Banyu Urip.
“Sendiko dawuh kanjeng romo, hamba mohon petunjuk dari kanjeng romo.”ucap Danang.
“Bagus. Bersiaplah karena mulai besok aku dan kakang Surawisesa akan memberikan pemahaman-pemahaman yang kami ketahui, dan sisanya tergantung pada takdir Gusti Allah dan kemampuanmu dalam menyerap pemahaman yang akan diberikan.”kata Kyai Ageng Banyu Urip sambil tersenyum dan melirik sahabatnya, Kyai Surawisesa.
Yang dilirik hanya tertawa kecil, namun dari gelagatnya sangat terlihat bahwa ia pun sungguh merasa tertarik dengan Danang.
__ADS_1